
" Lyl, kamu ikut ngumpul sama anak- anak yang lulus sidang hari ini nggak?" Rani dan Lily mengobrol setelah makan siang bersama. Mereka bersantai di pinggir danau buatan yang masih termasuk dalam kawasan hotel.
" Ikutlah Ran, kapan lagi kita ngumpul bareng? Habis gini kita pasti sibuk sendiri, kamu juga ikut kan?"
" Kamu bantu aku bilang papa dong...biar diizinin. Kalau aku pamit sendiri, jarang dikasih permit. Kalau ada kamu kan ada jaminan"
" Beres itu sih! Nanti aku yang minta izin pak Dhe buat kamu." Rani dan Lily saling berbalas tos .
Rani sudah punya rencana sendiri. Nanti di tengah acara ngumpul dengan teman kampus, Rani akan mencuri waktu sebentar untuk bertemu Rangga. Hanya ini satu-satunya cara dan kesempatan dapat bertemu Rangga tanpa ketahuan papanya.
Sebenarnya Rani tak ingin main petak umpet begini. Tapi Rani benar-benar takut pada papanya. Kelihatannya om Rangga juga tidak ingin melibatkan papa saat ini. Mereka bersahabat, tapi entah mengapa ini kelihatannya tidak sesederhana itu. Apalagi jika feelingnya benar, Rani tidak tahu apa yang akan papanya lakukan. Jadi Rani merasa ini harus jadi rahasianya, mungkin untuk sementara.
" Pak Dhe, habis ini sekitar jam tiga sore Lily sama Rani ada party kecil-kecilan sama teman-teman sefakultas yang lulus tahun ini. Rani boleh pergi sama aku ya, please biar aku ada teman pak Dhe" Lily memasang wajah sok imut di depan Tommy.
Tommy menatap Rani intens. Putrinya itu juga memasang wajah memohon padanya.
" Dimana acaranya, sampai jam berapa?" mode posesif Tommy on!
" Cuma sebentar pa, sampai jam tujuh malam, di cafe dekat kampus aja kok nggak jauh.." jawab Rani takut-takut
" Cafe kan, bukan bar?" Tommy menyelidik.
" Ya ampun pak Dhe, kita mah anti bar-bar begituan. Nanti aku shareloc siìh ke pak Dhe biar tahu dimana kita berada. Ya pak Dhe...mas gantengkuu...." Lily menggunakan jurus pamungkasnya menggoda Tommy dengan panggilan sayang.
Tommy langsung tergelak mendengar Lily memanggilnya Mas ganteng.... mengacak-acak rambut adik sekaligus keponakannya itu gemas.
" Dasar tukang ngerayu...pak dhe nitip Rani ya...awas jangan bikin ulah macam-macam. Pak dhe percaya pada kalian, tapi pak dhe nggak percaya pada orang-orang di luaran. Kalian ngerti kan maksudnya?" Tommy menatap Rani dan Lily bergantian.
" Iya pa" Jawab Rani.
" Iya..iya Pak Dhe.., kalau gitu sekarang saja kami berangkat , sudah setengah tiga.." Lily mencium tangan Tommy. Keduanya kemudian berpelukan sesaat.
Rani juga mencium tangan papanya. Tommy memeluk dan mencium pipi dan kening putri kesayangannya itu. Rani membalas pelukan papanya erat dan membalas mencium kedua pipi papanya. " Rani berangkat pa..." pamitnya.
Tommy mengangguk" Hati-hati sayang...ingat habis acara langsung pulang. Jangan kemana-mana lagi" menatap sayang putrinya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
Keduanya kemudian berpamitan pada Barata, Palupi , Sasi dan semua keluarga yang hadir disana.
"Kita bawa mobil sendiri-sendiri saja Ran, daripada nanti kamu kejauhan ngantar aku. Lagipula tadi aku bawa mobil sendiri."
" Oke" jawab Rani. Keduanya kemudian menuju tempat pesta mereka dengan mobil masing-masing..
Di tengah jalan, Rani mendapat panggilan dari Rangga. Dengan berdebar Rani menepikan mobilnya dan menjawab panggilan Rangga.
" Halo Om..."
" Kok belum kasih kabar sayang...kamu bisa nggak ketemu om sore ini?" suara bass Rangga terdengar begitu lembut dan merdu di telinga Rani. Matanya terpejam sesaat, meredakan dadanya yang berdesir kuat. Keningnya berkerut sesaat.
__ADS_1
" Emm...bagaimana kalau sekarang saja om, tapi Rani nggak bisa lama-lama, soalnya ada acara di kampus. Dan Rani sudah ditunggu"
Rangga bersorak dalam hati. " Oke, kamu di mana, biar om samperin kamu saja."
Rani mengedarkan pandangan ke sekitar dan melihat sebuah cafe kecil di sudut jalan dekat tempatnya menepikan mobil. Kemudian Rani mengetikkan tempatnya berada dan mengirimkannya ke Rangga.
" Oke, tunggu sepuluh menit. Om dekat sini" balas Rangga cepat.
Rani bergegas mengarahkan kemudi ke cafe itu dan memarkir mobilnya. Memasuki cafe dan dud'uk di sudut dekat jendela.
Seorang waitress menghampirinya. Rani memesan minuman dan kembali duduk menunggu Rangga. Dadanya berdebar tak karuan. Antara berdebar karena akan bertemu lelaki yang menjadi pujaan hatinya sekaligus takut kalau papa akan mengetahui kebohongannya ini, tindakannya yang tanpa izin menemui seorang lelaki dewasa sendirian saja. Meskipun Rangga itu sahabat papanya.
Rangga tiba bersamaan dengan waitress mengantar minuman pesanan Rani.
" Om..?" Rani berdiri. Tanpa diduga, Rangga begitu saja menghambur memeluk Rani. Pelukan yang begitu hangat dirasakan Rani, mengalirkan perasaan damai dan nyaman di hati gadis belia itu. Hingga tanpa sadar tangan Rani terangkat membalas pelukan Rangga. Wajah cantiknya terbenam di dada bidang sang pria tampan yang merengkuhnya.
Mendapat balasan pelukan dari Rani membuat Rangga tersenyum bahagia. Makin dalam merengkuh gadis itu sambil menciumi puncak kepala Rani penuh cinta.
"Ehm...ini pesanannya mbak.." suara waitress menyadarkan kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu.
Refleks keduanya melepaskan pelukan mereka dan tersenyum malu-malu. Baru sadar mereka berada di tempat umum.
" Ah iya, makasih" Rani menundukkan wajahnya.
" Saya pesan kopi hitam saja" sela Rangga pada sang waitress. " Baik pak " jawab waitress sambil berlalu.
" Rani maafin om. Om sudah nggak bisa menahan ini lagi. Rani boleh marah, atau memaki om, tapi tolong jangan membenci om. Jangan menghindar atau menjauh dari om. Om sayang sama Rani, Om cinta sama Rani. Om ingin Rani selalu bersama Om. Apakah Rani juga sayang dan cinta sama om? "
Rani terlolong menatap Rangga. Kata-kata Rangga seperti martir bertalu-talu menimpa kepalanya. Tatapan Rangga seperti belati menusuk-nusuk jantung hatinya. Dan genggaman Rangga seperti arus listrik beribu watt yang meluluh lantakkan tubuhnya. Dia tak kuasa menjawab pertanyaan Rangga.
Rani menatap nanar wajah tampan yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya itu. Dan entah dorongan dari mana, Rani mendekatkan wajahnya ke wajah Rangga dan mengecup pipi lelaki tampan itu lembut dan dalam.
Rangga terpana, sama sekali tak menyangka Rani akan menciumnya.
" Sayang....?" bisiknya lirih menatap Rani. Rani tak menjawab, hanya mengangguk dengan senyum dan mata berkaca-'kaca, tapi bagi Rangga sentuhan bibir Rani di pipinya sudah menjelaskan segalanya.
Bagai mendapat pasokan bahan bakar penuh, Rangga hendak memeluk kembali gadis pujaannya itu, namun tangan Rani yang masih berada di dadanya mendorongnya mundur.
Mata Rani melirik jengah ke sekitar, menggelengkan kepalanya dan tersenyum canggung.
Rangga tertawa lirih. Menarik kembali tangannya yang sudah terulur untuk merengkuh Rani. Dia jadi merasa lebih kekanakan dari Rani sekarang...Ahh cinta membuatnya lupa umur, lupa daratan.... Hingga tak tahu malu dan tak tahu tempat, ingin selalu memeluk sang gadis pujaan dalam rengkuhannya selalu.
" Maaf sayang...om terlalu bahagia" bisiknya malu.
Rani tertawa, membuat hati Rangga semakin membuncah oleh bahagia.
" Om, Rani ngga bisa lama-lama, ini Rani sudah ditunggu. Rani pergi dulu ya. Nanti kita ketemu lagi.." Rani melepaskan genggaman tangannya pada Rangga. Tersenyum manis dan melangkah pergi meninggalkan Rangga sendiri.
__ADS_1
Rangga tergugu menatap gadis itu. Masih tak percaya cintanya bersambut . Masih terasa bagai mimpi ketika pipinya disentuh bibir Rani. Ya Tuhan..inikah rasanya mencintai dan di cintai. Semua terasa terlalu indah hingga seperti dalam mimpi dan ilusi.
" Boss...boss! Rani sudah pergi, mau sampai kapan boss bengong di sini?" Suara kesal Bayu membangunkan Rangga dari euforia kebahagiaannya oleh sambutan cinta Rani padanya.
" Bay, tolong kau tampar aku...tampar aku Bay...katakan aku tidak.mimpi kali ini..cepat bay!" Rangga mencekal tangan Bayu dan mengarahkan ke pipinya.
Bayu yang merasa stress beberapa hari ini akibat kegilaan Rangga mengejar cinta Rani merasa mendapat kesempatan melampiaskan kekesalannya. Kapan lagi punya kesempatan menampar calon raja? Digosok-gosokkannya kedua telapak tangannya sejenak..lalu..PLAK!!
Rangga tersentak ketika tangan Bayu benar-benar menamparnya dengan keras. Pipinya yang putih dan halus itu tampak memerah dengan bekas lima jari tergambar jelas disana.
Rangga menatap Bayu dengan mata memerah marah " Kamu gila ya!?" sentaknya melotot pada asistennya itu.
" Bos sendiri yan minta, banyak saksinya lho boss, mau CCTV juga ada. Malah boss maksa-maksa saya menampar." Bayu tak mau disalahkan.
" Tapi nggak harus sungguh-sungguh juga bambaang...perih tahu. Kamu sengaja ya balas dendam sama saya?" Rangga menggerutu kesal. Bayu menyembunyikan senyuman liciknya. Hahh leganya aku...hahaha...Bayu tertawa jahat dalam hati.
Tapi hanya sebentar saja Rangga tampak kesal, karena selanjutnya sepanjang hari itu Rangga tampak sangat bahagia . Bagai mendapat harta karun tak ternilai. Senyuman terus tersungging di bibirnya. " Rani mencintaiku, Rani milikku seorang!" hatinya berdendang penuh suka.
" Boss jangan senang dulu. Harus mulai memikirkan keluarga gadis itu jika tak ingin kecewa . Tommy sangat menyayangi gadis itu, dan Rani pun sangat mencintai papanya. Kanjeng pangeran bisa saja terpisah karena cinta mereka. Rani pasti akan memilih papanya jika dihadapkan pada dilema. Jadi kanjeng harus menaklukkan hati Tommy dan Sasi jika ingin memiliki Rani seutuhnya."
Bayu memberi pertimbangan panjang lebar yang membuat Rangga yang tadinya begitu bahagia jadi seperti dihempaskan ke dasar jurang.
" Kamu benar-benar jago membuat orang kehilangan semangat hidup Bay...sialan!!" Rangga mengumpat.
" Kanjeng Pangeran dilarang mengumpat sembarangan!" Bayu memgingatkan.
Rangga memukul lengan Bayu keras. " Kamu yang bikin aku jadi ingin berkata kasar!" rutuk Rangga menggertakkan giginya.
Bayu menggeleng jengah. Tugasku mengingatkanmu pangeran. Semata-mata agar kau tak jatuh lagi ke dalam jurang penderitaan patah hati. Bayu berkata sendiri dalam hati. Membiarkan Rangga mulai berpikir , langkah apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan Rani seutuhnya.
Di cafe, Rani yang baru datang dan terlambat hampir satu jam segera ditodong Lily dengan pertanyaan bertubi-tubi.
" Raniii...aku hampir gila nungguin kamu. Bisa digantung aku sama papamu kalau kamu sampai hilang . Kemana saja kamu Ran? Ditelpon ngga diangkat, mana telatnya lama banget lagi...dari mana hehh?" Lily mencubit gemas pipi Rani.
" Aww sakit tahu Lil! Aku ketemu teman papa. Diajak ngobrol lama. Mau ninggalin juga sungkan. Sudah gitu ke sininya macet lagi...Hehehe...sori darling. Yang penting aku sudah disini sekarang. Oke??"
Rani sedikit berbohong. Sedikit saja, bukankah om Rangga memang teman papa? Dan tadi memang agak macet waktu ke sini. Rani menghibur dirinya sendiri,.mencari pembenaran atas kebohongannya.
Dan mengingat nama Om Rangga membuat wajah Rani langsung merah merona. Dia dan om Rangga, mereka saling jatuh cinta dan hari ini mereka saling mengakui perasaan yang telah lama bersemayam di hati mereka itu. Mengakui dan saling menerima. Dengan janji di hati masing-masing untuk menjaga perasaan itu hanya untuk kekasih hatinya.
" Ran, muka kamu merah begitu, kamu demam ya?" Lily meraba kening Rani.
" Apaan sih, aku ngga papa kok" Rani menepis tangan Lily. Ahh wajah om Rangga yang tampan itu terbayang-bayang di mata Rani. Membuat dadanya terasa meledak oleh rasa bahagia tak terkira. Om Rangganya , kekasih khayalannya sejak dia remaja ternyata juga mencintainya. Ingin selalu bersamanya. Kata-kata penuh puja lelaki itu membuat tubuh dan wajahnya panas.
Rani seakan lupa jurang umur antara mereka yang membentang lebar, belum lagi reaksi papanya dan juga keluarganya jika mengetahui hal ini. Hatinya terlalu penuh oleh bunga kebahagiaan. Cinta pertamanya, lelaki pertamanya setelah papa.
Sepanjang pesta kecil itu Rani tersenyum dan tertawa bahagia. Tak ada yang tahu tawa dan senyumnya adalah karena sebuah nama. Seperti juga Rani tak tahu bahwa cintanya mungkin akan menimbulkan masalah dan luka bagi dirinya dan keluarganya.
__ADS_1
Rani sama sekali tak tahu apa yang pernah terjadi antara Tommy, Sasi dan Rangga. Yang Rani tahu hanya cintanya yang begitu besar dan dalam pada Rangga. Cinta yang telah tertanam, terpupuk dan makin tumbuh dari hari ke hari. Hingga rasanya tak mungkin kehilangannya lagi.