
Ibu Sasi melamun di sepanjang perjalanan menuju rumah mbah Ageng. Terpaksa berbohong pada Sasi bahwa ia akan ke perkebunan . Semata-mata karena tak mau Sasi kepikiran dan malah marah kalau tahu ia masih berhubungan dengan mbah Ageng.
Ibu masih ingat ketika Sasi mengatakan padanya saat itu " Bu, ibu setuju nggak kalau aku jalan sama Tommy?"
Ibu tersenyum lebar. " Maksudmu jalan tu gimana? Pacaran gitu ? Wah yo setuju banget, sudah ganteng, sopan, terus orangnya kalem gitu...yang lebih penting lagi kamu cinta sama dia nduk. Itu yang nomor satu!"
Sasi tersenyum. Binar cinta tampak begitu jelas di mata anak gadisnya itu.
" Karena Sasi udah punya pacar, janji ya bu...jangan pergi-pergi ke dukun lagi. Ibu sudah percaya kan kalau Sasi normal, biar Sasi sama mas Tommy jalan sewajarnya. Ibu nggak kuatir lagi kan ? Nggak perlu dukun lagi buat bikin Sasi suka sama cowok .Atau bikin cowok suka sama Sasi. Sasi dan mas Tommy sudah saling cinta. Ya bu?"
Saat itu ibu hanya mengangguk. Sasi..sasi...kamu tidak tahu saja, seperti apa perjuangan ibu sampai kamu dan Tommy bisa sejauh ini. Jika memang semudah itu jatuh cinta, kenapa tidak dari dulu kamu sama Tommy. Padahal kamu cerita sudah kerja sama Tommy selama empat tahun.
Ibu sering suka keceplosan mau bicara tentang bagaimana usaha mbah Ageng agar Sasi mau membuka hati, gara-gara hatinya yang tertutup cinta sepihak mahkluk astral. Tapi ibu juga yakin itu tak ada gunanya. Karena itu adalah sesuatu yang tidak mungkin diterima Sasi. Karena itu tidak bisa dijelaskan dengan logika, dengan akal pikiran . Sesuatu yang selalu digunakan Sasi sebagai alasan menolak percaya dunia supranatural.
Hal-hal seperti itu hanya bisa diterima mata hati, mata bathin dan bahasa jiwa. Sesuatu yang bagi Sasi adalah omong kosong, ilusi, khayalan dan halusinasi. Tak akan pernah bertemu jika mata bathin diadu dengan logika.
Kadang ibu juga berharap, andai saja Sasi mau membuka sedikit saja mata hatinya. Sasi pasti akan sadar, Kenapa Tommy tiba-tiba jatuh cinta padanya setelah sekian lama. Pasti ada sesuatu di luar nalar yang terjadi.
Ibu sebenarnya juga tidak tahu, Sasi pun sempat berpikir bahwa sikap Tommy berubah drastis sejak dia selalu minum air mineral darinya. Tapi dasar Sasi, tentu saja pikiran itu segera hilang dari ingatannya. Karena hal-hal seperti itu memang tak pernah ada dalam prinsip hidupnya.
( Masih ingat gak readers, ketika Sasi mulai meragukan logikanya dan berpikir mungkin air mineral yang diminum Tommy bekerja sebagai sihir cinta..?)
Dan lamunan ibu buyar ketika suara Kusno menegurnya" Sudah sampai bu.."
" Oh iya. Kamu boleh nunggu di mobil, tapi kalau mau turun juga ndak papa. Asal jangan pergi jauh-jauh." pesan ibu
" Inggih Bu" Jawab Kusno.
__ADS_1
Seperti biasa, entah kebetulan atau memang mbah Ageng sudah tahu kedatangannya, pintu jati berukir itu sudah dibuka oleh wanita paruh baya pelayan mbah Ageng itu begitu ibu turun dari mobil.
" Monggo, nyonya sudah ditunggu mbah"
Dia memang sudah tahu aku mau datang. Bisik ibu dalam hati. Melangkah pelan menuju ruang tamu dimana mbah Ageng tengah duduk di kursi emas kebesarannya. Kursi berukir indah yang selalu diduduki mbah Ageng saat menemui tamu.
" Sugeng enjing ( selamat pagi) mbah. Nyuwun ngapunten ( maaf) mengganggu pagi-pagi begini. Mungkin mbah sudah tahu, saya khawatir sekali dengan Sasi mbah. Dia mimpi buruk sampai demam begitu. Saya..."
" Mbah sudah tahu nduk. Benar apa yang kamu pikirkan. Dia sudah mulai berani menampakkan diri di depan Sasi. Selama ini dia merasa tenang , merasa Sasi hanya miliknya dan tak pernah berpaling darinya. Dan sekarang ketika hati dan pikiran Sasi mulai terisi pria lain, dia merasa terusik. Dia merasa miliknya terancam direbut orang lain. "
" Saya takut mbah. Baru sekali bertemu saja Sasi sudah demam. Bagaimana kalau dia terus-terusan menemui Sasi?" wajah ibu tampak cemas.
" Anakmu bisa gila." Mbah Ageng bergumam pelan. Namun ibu masih bisa mendengar dengan jelas dan membuat kecemasan di wajahnya kian jelas terlihat.
" Jadi saya harus gimana mbah?"
" Maksud mbah gimana? " ibu berkerut dahi.
" Jadi ada saat Sasi tak sadar dan sendiri. Saat itulah mahkluk itu akan datang dan memasuki alam bawah sadar Sasi."
" Saat tak sadar? Berarti saat Sasi tidur mbah?" tanya ibu makin khawatir.
" Mbah rasa begitu. Karena saat sadar mbah yakin hati Sasi pasti memikirkan kekasihnya. Satu-satunya kesempatan mahkluk itu menemui Sasi adalah saat jiwanya kosong. Saat tidur. Dalam mimpi seperti tadi malam itu."
" Terus bagaimana mbah? Masa Sasi nggak boleh tidur? Ya ndak mungkin to mbah?" ibu Sasi menggeleng.
Mbah Ageng tersenyum. " Sebenarnya ada cara agar mahkluk itu tak lagi mengganggu S'asi. Harus ada yang menemani Sasi tidur."
__ADS_1
" Oh begitu. Biar saya temani mbah. Saya paksa Sasi tidur sama saya daripada nanti lama-lama dia gila" ibu menyela.
" Kamu itu kebiasaan. Mbah belum selesai ngomong sudah nyelo atur ( menyela ucapan). Kalau kamu yang menemani Sasi, dia tidak akan peduli. Dia hanya akan meninggalkan Sasi kalau Sasi sudah menikah. Tidurnya ditemani suaminya. Bukan ibunya." Mbah Ageng menyilangkan tangan di depan dada.
Ibu Sasi mendesah panjang.
" Oohh..begitu..." gumam ibu Sasi pelahan.
Dalam hatinya senang karena ada solusi untuk menghindarkan Sasi dari mahkluk itu. Tapi kok solusinya ternyata adalah masalah baru.
Bagaimana cara bicara pada Sasi tentang ini? Bagaimana agar Sasi bisa secepatnya menikah dengan Tommy. Mereka baru beberapa minggu jadi sepasang kekasih. Sasi saja sudah bilang agar ibu membiarkan hubungan mereka berjalan wajar. Artinya pelan-pelan. Jangan mendesak agar hubungan mereka cepat serius atau diresmikan. Bukan begitu?
Dan sekarang malah ibu ingin Sasi dan Tommy segera menikah? Bagaimana bisa? Belum apa-apa ibu sudah pusing.
" Pusing saya mbah. Mbah tahu anak itu susah diatur. Apa mbah tidak punya cara agar Tommy mau segera menikah dengan Sasi? Emm..maksud saya Tommy dibikin kebelet kawin gitu mbah...hihihi" ibu terkikik geli sendiri setelah mengutarakan isi hatiya.
Mbah Ageng terkekeh-kekeh. " Kamu itu memang sak karepe dewe ( banyak maunya) nduk. Ya Sudah nanti mbah usahakan. Tapi apa Sasi sendiri siap kalau tiba-tiba Tommy melamar? Anakmu itu pengku( keras kepala) semua minta sempurna. Maunya semua pelan-pelan, satu-satu dinikmati. Sekarang mau buru-buru. Apa dia mau?"
" Nanti saya yang ngompori mbah. Kalau perlu saya bohongi saya sakit keras biar dia mau terima kalau Tommy melamar." Otak ibu mulai melenceng...hehe..
" Hush..jangan ngawur kamu. Mbah ndak setuju kalau kamu pura-pura sakit apalagi sakit keras. Memang kamu mau sakit beneran?"
" Amit-amit. Ya jangan lah mbah. Yang jelas saya yang akan usahakan agar Sasi mau menikah mbah."
" Mbah masih bisa sedikit memberi dorongan dari alam bawah sadar Tommy , karena anak itu masih bersih pikirannya. Selain itu dia memang benar-benar jatuh cinta sama Sasi. Kalau Sasi itu , mbah agak susah menembus batinnya. Karena dia sudah diliputi mahkluk itu sejak lama."
Mbah Ageng memejamkan matanya. Wajah Tommy sudah tergambar jelas di depannya.
__ADS_1