
Usai membuat wedang jahe dan bubur untuk Sasi, ibu membawa nampan berisi bubur dan wedang jahe ke kamar Sasi.
" Sas sini makan yuk,ibu suapin bubur.." ibu mengangkat mangkuk bubur didepan Sasi yang masih berbaring.Tapi Sasi menggeleng.
" Nanti dulu bu...Sasi masih ngantuk. Nanti biar Sasi makan sendiri. Lagian masih panas gitu..biar agak dingin dulu."
"Ya sudah kalau gitu. Sas, ibu mau ngidul ( ke selatan) dulu, ada perlu penting di kantor, kamu makan buburnya ya. Wedang jahenya juga diminum dulu mumpung masih panas. Biar perutmu hangat dan masuk anginnya cepet sembuh. Kamu jadi cuti kan?Ini masih agak demam. " Ibu meraba dahi Sasi dengan punggung tangannya.
" Iya jadi bu,Sasi sudah pamit sama Boss. Tapi Sasi udah nggak papa kok. Ibu pergi aja. Salam buat anak-anak ya bu. Titip cium gemes buat dua-duanya." Mata Sasi berbinar membayangkan wajah lucu dua keponakannya.
Ibu memang menyerahkan administrasi kantor perkebunan mereka pada Palupi, adik bungsu Sasi. Tapi ibu sesekali masih menyambangi kantor untuk sekedar mengontrol atau kadang sekedar refreshing di perkebunan yang berhawa sejuk dan berpemandangan indah.
" Iya, kalau mereka ke kantor nanti ibu sampaikan salammu. Adekmu sekarang jarang ngantor. Sibuk sama krucilnya. Ibu berangkat ya.." Ibu mencium kening Sasi, lalu bergegas keluar kamar.
Sampai di halaman, Kusno, sopir keluarga mereka sudah menunggu di mobil. Lelaki muda itu turun dan membuka pintu untuk ibu.
" Makasih Kus, langsung ke mbah Ageng ya.." titah ibu cepat.
" Nggih (ya) bu.." Kusno mengangguk hormat dan segera menjalankan mobil sesuai perintah majikannya.
Saat itulah ibu melihat mobil Tommy berhenti di depan pagar halaman. Tommy memarkirnya agak ke pinggir sehingga tidak menghalangi mobil yang akan keluar masuk halaman.
" Sek( sebentar) Kus, berhenti dulu!" Ibu membuka kaca mobil. Dan mendapati Tommy turun dari mobil lalu menghampirinya.
" Nak Tommy ada apa?" tanya ibu.
" Sasi sakit ya bu, ini saya bawakan obat. Boleh saya jenguk Sasi?" Jawab Tommy sopan.
" Owalah, cuma masuk angin saja kok. Ya monggo(silakan) kalau mau ketemu Sasi." Ibu tersenyum. Calon mantu idaman...batin ibu.
" Ruuum...ini antar pacarnya Sasi , mau lihat Sasi " Ibu memanggil mbak Rumi yang bersiap menutup pintu pagar.
" Buatin minum ya Rum" lagi ibu berbisik saat Rumi sudah didekatnya.
" Nggih bu" jawb Rumi mengangguk
" Saya ada perlu keluar. Maaf saya tinggal ya nak Tommy.." pamit ibu pada Tommy.
" Oh Silakan bu." Sahut Tommy.
Setelah mobil ibu keluar halaman, Rumi menutup pagar lalu mengantar Tommy ke kamar Sasi.
__ADS_1
"Monggo ( Silakan)mas.." Rumi mempersilakan Tommy mengikutinya.
Di kamar Sasi...
Setelah ibu menutup pintu kamar, Sasi menarik selimutnya lagi, lalu bergelung dalam selimut dengan posisi meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Posisi favorit Sasi saat tubuhnya merasa lelah atau tak enak badan.
Ketika matanya hampir terpejam kembali, Sasi mendengar pintu kamarnya diketuk. Pasti mbak Rumi, kalau ibu tak pernah mengetuk pintu kamar Sasi, main nyelonong saja karena kebiasaan sejak anak-anaknya masih kecil. Lagipula ibu tahu kamar Sasi tidak dikunci.
" Masuk aja mbak, ngga dikunci. Lagi males bangun.." Sasi setengah berteriak tapi tak mengubah posisi tubuhnya yang bergelung membelakangi pintu. Suaranya agak serak. Entah mengapa tenggorokannya ikut-ikutan nyeri saat ini.
Terdengar pintu dibuka pelahan.
" Ada apa mbak? " Sasi bertanya tanpa melihat orang yang masuk ke kamarnya.
Tiba-tiba dahinya terasa dingin. Sasi meraba dahinya. Dan tangannya mendapati tangan lain yang sedang meraba dahinya. Aroma maskulin favoritnya menguar di dalam kamarnya.
" Mas Boss??" Sasi terkejut dan langsung membalikkan badannya.
Senyum dan wajah nan menawan itu menyambutnya.
" Sakit beneran kamu sayang? Maaf ya..gara-gara aku kamu jadi sakit" Tommy tampak menyesal sekali. Pria itu menggenggam tangan Sasi yang tadi menyentuhnya saat ia meraba kening Sasi.
" Jenguk pacar aku yang lagi sakit lah.." Tommy tertawa melihat wajah bingung Sasi. Lalu duduk di tepi ranjang karena tak melihat ada kursi atau sofa di dekat ranjang.
" Aduh mas, aku kan nggak sakit parah. Pake dijenguk segala. Tadi di wa kan udah bilang cuma masuk angin aja. " Sasi menutup mukanya hingga cuma terlihat matanya saja. Ia merasa malu sekali dilihat Tommy dalam keadaan berantakan dan...belum mandi..ish!
" Kenapa ditutup gitu sih?" Tommy tertawa melihat tingkah Sasi.
" Lagi jelek. Belum mandi..hehe.." Sasi meringis. Berusaha duduk dan bersandar di kepala ranjang. Selimutnya masih ditarik menutup mukanya.
" Siapa bilang jelek. Cewek tuh justru kelihatan cantik pas bangun tidur." Tommy menarik selimut yang dicengkeram Sasi hingga terlepas dan menampakkan wajah Sasi dan setengah badannya yang mengenakan piyama tidur lengan panjang. Sementara bagian pinggang ke bawah tetap tertutup selimut.
" Ih, mas malu tau, teori dari mana tuh? Di mana-mana kalau belum mandi ya jelek, bau.."Sasi tertawa malu-malu tapi tak lagi berusaha menutupi mukanya. Sudah ketahuan muka bantal juga, sudahlah..
" Tuh kan cantik.." Tommy menatap lembut wajah polos Sasi. Tangannya terulur merapikan rambut Sasi yang berantakan menutup sebagian wajah sasi..Lalu mengusap pipi gadis itu pelahan.
Sasi meremang. Apalagi melihat Tommy makin mendekat ke arahnya.
" Jangan dekat-dekat mas, bau tau!" Sasi beringsut.
" Nggak tuh, masih wangi kok" Tommy tersenyum.
__ADS_1
" Gombal banget sih.." Sasi tersipu-sipu.
Saat itulah Tommy melihat semangkuk bubur yang masih utuh di nakas.
" Loh, kok masih utuh buburnya, belum dimakan ya?"
" Males mas, nanti aja. Masih belum lapar" Sasi menggeleng.
Tommy beranjak mengambil mangkuk bubur dan menyuapkannya ke Sasi.
" Aaaaa...ayo makan dulu Biar bisa minum obat, biar cepat sembuh!" Tommy mengarahkan sendok bubur ke mulut Sasi.
Terpaksa Sasi membuka mulutnya. Disusul suapan-suapan berikutnya hingga bubur di mangkuk habis. Sambil menyuap, Tommy tak henti menatap wajah Sasi mesra. Sementara Sasi cuma bisa tertunduk malu dengan wajah merona.
" Katanya nggak lapar, tapi habis bubur semangkuk. Manja emang minta disuapin dulu sama mas boss kan?" Tommy menyentuh hidung Sasi lembut.
Sasi hampir tersedak minumannya mendengar ucapn Tommy.
" Ish...siapa yang minta disuapin? Kan mas sendiri yang maksa. Udah sana ke kantor. Telat meeting ntar.." Sasi memalingkan wajahnya malu.
" Gitu ya, udah kenyang disuapin, diusir. Gak tau terima kasih kamu Sayang.." Tommy mengambil tisyu dan mengusap pelan bibir Sasi. Lagi-lagi Sasi terbengong menatap pacarnya itu.
Tommy tersenyum lalu mengambil obat dan vitamin yang di bawanya. Memberikan obat dan air putih pada Sasi.
" Minum gih, biar cepet sembuh. Aku tak bisa tanpamu" Bisik Tommy sambil menatap Sasi.
" Apaan sih mas, gaje banget" Sasi tertawa mendengar gombalan Tommy. Diambilnya obat dari tangan Tommy dan meminumnya sekali teguk.
" Pinter" Tommy mengusap -usap kepala Sasi.
" Udah makan, udah minum obat. Mas berangkat gih, jam 9 ada meeting lho," Sasi masih ingat jadwal Tommy hari ini.
" Iya sayang. Ingat kok. Kamu istirahat ya. Malem vitaminnya diminum lagi. Get well soon ya. I love you" Tommy menepuk-nepuk pipi Sasi dan...
Cup...
Bibir Tommy mendarat di kening Sasi sebelum lelaki itu keluar dari kamar Sasi.
Meninggalkan Sasi yang terkejut terlolong sendirian . Meraba keningnya yang masih terasa dingin dan membekas sampai beberapa jam kemudian.
Sorry nih agak telat up.Rumah dijadikan lokasi vaksinasi covid 19 massal. Jadi ikut sibuk...Tetep jaga kesehatan ya...Happy reading...
__ADS_1