Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Membuka Mata Hatimu


__ADS_3

Tommy tiba di rumah Sasi sekitar jam 8. Gadisnya itu sudah menunggu di kursi pendopo.


" Sudah sarapan?" Tanya Sasi sambil menghampiri Tommy yang turun dari mobil.


" Belum ..kesiangan sayang. Ngga papa nanti saja habis meeting, meetnya pagi kan?" Jawab Tommy sambil membukakan pintu belakang mobil. Setelah Sasi masuk, Tommy menyusul duduk di samping gadis itu.


Jono segera melajukan kendaraan saat Sasi dan Tommy sudah duduk.


Saat mobil sudah berjalan, Sasi tersenyum sambil mengangkat sebuah tas bekal di tangannya. " Nih, ibu sudah bawain bekal buat mas. Ibu tuh sayang banget loh sama mas..Makan nih, biar fit saat meeting"


Sasi menyerahkan kotak bekal ke pangkuan Tommy, tapi Tommy mengembalikannya ke Sasi.


" Nggak mau..." kataTommy


Sasi mengeryit bingung. " Kenapa? Meetnya lama loh mas, nanti kamu nggak konsen kalau lapar" Sasi setengah menggerutu.


" Nggak mau makan sendiri. Suapin.." bisik Tommy.


Sasi mendecak " Manja banget sih? Malu sama Jono" Sasi juga berbisik.


" Ya udah, gak mau makan" Tommy pura-pura memejamkan mata dan bersandar di jok.


Sasi kembali mendecak tapi tak urung menuruti menyuapi Tommy yang tampak manja sekali pagi itu.


" Hadeuh...ya sudah sini sayang..aku suapin..." Sasi membuka kotak bekal dan mulai menyendok makanan menyuapi Tommy.


Tommy tersenyum menang lalu menegakkan tubuh. Menikmati makanan yang disuapkan Sasi sambil terus menatap Sasi penuh cinta.


Sasi yang ditatap sedemikian rupa tersenyum malu-malu. Wajahnya sudah merah merona.


" Jangan liatin terus gitu sih...risih tahu" protes Sasi. Tapi Tommy mana mau tahu? Malah senyum-senyum nggak jelas. Hadeuhh!!


Jono menelan ludah melirik Tommy dan Sasi dari Spion. Serasa jadi nyamuk yang tak dianggap. Boss dan pacarnya itu benar-benar tak tahu diri. Sudah suap-suapan, masih ditambah saling tersenyum, saling menatap mesra. Beuhh, jiwa jomblonya meronta-ronta. Ingin rasanya melompat keluar dari mobil ini.


Apalagi bossnya itu seperti sengaja meledeknya. Tangan bossnya itu sudah ke mana-mana. Memeluk pinggang Sasi, kadang mengelus pipi, kadang mengusap rambut gadis itu. Jono mendengus kesal, tapi apa daya?


"Jono...mau di SP?" Suara Tommy mengejutkan Jono. Pria itu buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke depan.


" Nggak boss, maaf nggak sengaja" jawab Jono kecut.


" Nyetir itu hadap ke depan. Fokus ke jalan, bukannya malah melirik terus ke kaca spion " suara dingin Tommy membuat Jono makin mengkerut.


" Iya boss, Siap!!" Suara Jono tercekat.


Sasi tersenyum geli. " Mas , kasihan Jono sampai mengkerut gitu..hahaha.." Sasi tertawa tertahan.

__ADS_1


Tommy tak menjawab, malah asik memeluk bahu Sasi sambil menciumi puncak kepala gadis itu. Tangannya yang satu memainkan jari -jemari Sasi.


Makanan di kotak bekal telah tandas tak bersisa. Sasi memberikan air mineral untuk Tommy. Lalu mengeluarkan tisyu dan mengusap lembut bibir Tommy. Hemmm...kalau manjain pacar, jangan tanggung-tanggung kata Sasi...hehehe....


" Mas kok manja banget pagi ini. Ada apa sih? " tanya Sasi yang merasa sikap Tommy agak aneh pagi ini.


" Ngga ada. Aku tuh sayaaaang banget sama kamu Sasi...cintaaa banget.." Tommy menatap Sasi dalam.


" Tuh kan aneh...kaya yang baper gitu, lagi galau ya?" Sasi menatap Tommy penasaran. Wajah kekasihnya itu tampak sendu.


" Engga ada sayang...I love you " Tommy malah mencium kening Sasi dalam dan lama.


Sasi masih bertanya-tanya dalam hati, namun kemudian tak mau berpikir terlalu jauh. Baginya perhatian dan sikap Tommy adalah perwujudan cinta dan kasih sayang pria itu padanya.


Sasi tak tahu, sejak mengetahui bahwa jiwa Sasi telah dikuasai makhluk alam lain demikian lama, Tommy merasa sangat sedih. Merasa sangat iba pada gadis yang dicintainya itu. Hingga rasanya ingin selalu memeluk gadis itu untuk memberikan perlindungan dan kenyamanan padanya.


" Cantik...kamu pernah nggak mimpi aneh? Maksud mas, mimpi yang berulang-ulang. Atau mimpi sesuatu yang membuatmu tak nyaman, mungkin bahkan membuatmu ketakutan saat bangun?" Tommy bertanya sambil memainkan rambut Sasi.


Sasi mengerutkan dahi. Ini sudah ke dua kali Tomy seakan-akan tahu apa yang dialaminya, padahal dia yakin tak pernah menceritakan hal itu pada Tommy.


Yang pertama saat Sasi begadang nonton drama korea, dan sekarang Tommy sepertinya tahu kalau dia sering mimpi aneh.


" Kok mas tahu?" Tanya Sasi bingung.


Sasi tak habis pikir.. Apakah mungkin Tommy berubah menjadi seperti paranormal yang mengetahui pikiran orang? Mungkinkah ini adalah termasuk ilmu yang dipelajari Tommy dari mbah Ageng?


Tommy akan mengatakan sesuatu ketika mobil tiba-tiba berhenti . Rupanya tanpa sadar mereka telah sampai di pelataran parkir kantor mereka.


Jono bernafas lega. Bisa asma mendadak dia kalau terus-terusan dicekoki tontonan kemesraan bossnya dengan Sasi.


" Sudah sampai sayang. Nanti saja ya mas jawab pertanyaan kamu. Mas perlu bicara banyak denganmu nanti. Sekarang kita meet dulu ya..." Tommy mengusap lembut pipi Sasi lalu membuka pintu mobil dan turun . Diikuti Sasi yang juga turun di belakangnya.


Sebelum turun Tommy masih sempat mengejek Jono. " Cepet cari pacar sana. Hobby kok jomblo.."


Jono mendengus kesal. Tapi menangis dalam hati. " Bukan hobby boss...tapi belum ada yang mau...hiks! Dasar boss gak ada akhlak!" makinya, lagi-lagi cuma dalam hati.


Tommy dan Sasi beriringan menuju ruang rapat. Ruangan itu tampak sudah penuh terisi. Beberapa Klien, semua manajer devisi dan beberapa staf sudah bersiap di tempatnya.


Dengan gagah Tommy masuk ke ruangan meeting. " Selamat pagi!" Sapanya singkat dan penuh ketegasan. Mode bossy on!


"Pagi pak." Semua peserta meet menjawab serempak.


Tommy segera duduk di tempatnya diikuti Sasi di sebelahnya.


"Oke kita mulai!" Tegas Tommy.

__ADS_1


" Sasi silakan presentasikan program kita kemarin. Peserta meet silakan memperhatikan file yang sudah dikirim ke email masing -masing sambil mendengarkan penjelasan Sasi" lanjut Tommy.


Sepanjang meet berlangsung Tommy tak henti memandang Sasi. Seakan tak mau kehilangan sedetikpun momen bersama Sasi. Kadang sambil tersenyum-senyum. Tak jarang menatap dengan tatapan sendu.


Sasi bukannya tak menyadari hal itu . Bahkan Sasi merasa sangat gerah seperti hendak diterkam hidup-hidup oleh Tommy. Boss, what are you doing?


Namun gadis itu berusaha profesional menyelesaikan tugasnya. Hingga akhirnya meeting berakhir saat istirahat makan siang.


Tommy mengajak Sasi makan di kafe dekat kantor. Di kafe Sasi tak tahan lagi untuk protes kepada calon suaminya itu.


" Mas, kamu ada apa sih? Kesambet ya? Emang Mas mau dilihatiiin terus kaya aku tadi?" Sasi mengomel sambil memberengut kesal.


Tommy malah tetawa. " Maaaaf...maaf sayang. Ya sudah, nggak lagi-lagi...hehe.." Tommy meringis. Tak berniat membantah kekesalan Sasi..


" Lagian aneh banget. Ini pasti gara-gara mbah Ageng nih jadi aneh gini." Sasi berasumsi sendiri.


Tommy menggeleng." Bukan..jangan suudzon melulu sama mbah Ageng sayang. Beliau itu orang yang bisa dibilang suci. Tak punya niat jahat. Bahkan tak mau berbuat jahat kepada siapapun. Mas aja pengen banget bisa seperti mbah Ageng. Nggak ngejar nafsu duniawi. Yang dikerjakan hanya kebaikan untuk sesama. Kamu nggak tahu kan?" Tommy tampak sekali membela orang tua yang sekarang sudah jadi guru spiritualnyaa itu.


Sasi cuma menatap Tommy bingung. Apa iya mbah Ageng orang yang seperti itu?


" Tapi aku masih penasaran, mas kok bisa tahu aku sering mimpi aneh. Tadi mas mau jawab kan? todong Sasi.


" Karena mas cinta sama kamu. Jadi kita punya ikatan batin yang kuat. Mas bisa rasakan apa yang kamu rasakan dan alami. Coba kamu cerita ke mas mimpi aneh kamu"


Sasi masih ragu-ragu. " Emm..tapi mas jangan cemburu ya...Aku mimpi cowok lain. Lelaki itu aku nggak kenal. Tapi dia selalu muncul di mimpiku. Dia bilang aku kekasihnya. Aku miliknya. Saat dia menatapku tubuhku rasanya sakit sekali."


Sasi lalu menceritakan semua mimpinya pada Tommy. Juga apa yang dirasakannya. Termasuk demam dan menggigil setelah bermimpi pria aneh itu.


Tommy menatap Sasi lembut. Makin merasa iba pada gadis itu.


" Menurut mas, siapa orang itu? " Apa aku mengenalnya. Rasanya tidak pernah berjumpa di dunia nyata, tapi dalam mimpi aku seperti sudah mengenalnya lama."


Tentu saja, karena dia sudah menyandera jiwamu selama ini tanpa kau sadari. Tommy menjawab pertanyaan Sasi dalam hati.


" Dia bukan manusia Sayang. Apa kau percaya itu? " Tanya Tommy ragu-ragu. Takut Sasi semakin bingung.


" Tentu saja dia bukan manusia. Dia cuma tokoh khayalanku saja dalam mimpi. Begitu kan mas?" Tanya Ssi polos.


Tommy tertawa. Duh gimana sih menjelaskan pada gadis ini.


" Ya..anggap saja begitu. Tapi mulai sekarang jangan takut lagi padanya. Kalau kamu mimpi dia lagi, lawan dia. Katakan jika kamu sakit saat ada dia. Kamu nggak nyaman bersamanya. Jangan lupa katakan kamu mencintaiku. Kamu bahagia bersama mas Boss mu yang ganteng ini. Kamu sudah jadi milik Tommy dan sebentar lagi kita menikah" Tommy bicara panjang lebar.


Sasi mengangguk-angguk. Tapi sesaat kemudian tertawa." Mas..mas..kamu juga lucu. Mana bisa mimpi disetting begitu, aku harus ngomong begini begitu...hahaha..aku kan gak sadar waktu mimpi?"


Tommy lagi-lagi tertawa. Memang kedengarannya tak masuk akal. Memang demikianlah dunia tak kasat mata Sasikuu...semua serba aneh dan tak masuk akal. Bahkan meskipun kamu melihat dan mengalaminya sendiri, jika mata hatimu tak terbuka, semua akan terlihat seperti mimpi dan halusinasi.

__ADS_1


__ADS_2