Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Takdir


__ADS_3

Usai makan, Tommy mengajak Sasi ke taman yang ada di sekitar tempat itu. Mereka duduk berdua di pinggir danau buatan yang ada di taman.


Tommy memeluk pinggang Sasi , dan gadis itu pun menyandarkan kepalanya di bahu Tommy.


" Ayo lanjutkan ceritamu mas. Ada apa dengan papamu? Kenapa aku harus kaget saat bertemu?" Sasi bergumam pelan namun penuh rasa penasaran.


" Mungkin bukan papa yang bikin kaget . Tapi Istrinya, seumuran Baskara. Sudah tua istrinya ABG " Tommy menggelengkan kepalanya berulang. " Sebenarnya aku malu mengatakan ini sama kamu. Tapi kamu harus tahu keluargaku"


" Papa mas menikah lagi? Mama mas dimana?"Sasi makin tertarik dengan cerita Tommy tentang papanya.


" Mama sudah meninggal karena sakit tujuh tahun lalu" Tommy mendesah. Meski sudah lama berlalu, membicarakan orang terkasih yang telah tiada tetap membuat sesuatu menghilang dari hati.


" Maaf.." Sasi menggengam tangan Tommy yang melingkari pinggangnya.


" Tak apa. Mungkin mama juga sudah tenang di sana." Tommy tersenyum


" Kalau menurutku mas nggak perlu malu punya ibu tiri lebih muda. Kita gak bisa memilih pada siapa kita akan jatuh cinta. Yang penting papa mas bahagia"


Tommy mendesah. " Kamu benar sayang, papa kelihatan bahagia. Dan aku menyesal sudah negative thinking selama empat tahun ini ,"


" Maksud Mas negatif thinking gimana?"


" Aku pikir istri papa itu semacam sugar baby gitu. Tukang morotin om-om. Bayangin Sasi, dia bahkan lebih muda dari kamu dan suka sama papa yang lebih pantas jadi bapaknya. Apa kamu bisa percaya dia cinta sama papa dan bukan hartanya?"


" Mas juga ngga salah, tapi harusnya mas gak langsung nuduh, tapi selidiki dulu" Sasi mengusap lengan Tommy.


" Iya, setelah empat tahun aku baru sadar kalau aku salah. Dia ternyata benar-benar mencintai papa. Padahal selama empat tahun ini aku terlanjur memusuhi papa dan istrinya itu. Bahkan besok minggu adalah pertemuan pertamaku dengan mereka setelah empat tahun. "


" Hah? Jadi selama empat tahun mas nggak ketemu papa mas? "


" Males lah sayang, namanya sudah benci dan sakit hati karena papa lebih memilih istrinya daripada anaknya. Ternyata aku salah. Aku merasa bersalah sama papa. Beliau selalu berusaha menghubungiku tapi tak pernah kuanggap."


" Jadi mas mau ketemu papa mas karena mau ngenalin aku?" Sasi tersenyum.


" Bisa dibilang begitu. Kamu itu seperti peri penyelamatku. Sejak aku kenal kamu lebih dekat, aku mulai membuka hati. Mendengar kebenaran dari Baskara yang sebelumnya tak pernah kuhiraukan. Sampai aku sadar bahwa istri papa tak seburuk dugaanku"

__ADS_1


" Syukurlah mas sadar meskipun agak terlambat."


" Makanya kamu aku kasih tahu biar nggak kaget. Mertuamu lebih cocok jadi adekmu...hahaha...miris nggak sih?" Tommy tertawa sumbang.


" Its okay mas boss, bukan masalah buatku. Mas bisa tenang."


" Makasih sayang...kamu selalu ngerti aku.."


" Sebenarnya adikku juga nikah sama bapak-bapak mas. Makanya aku ngerti perasaan mas. Tapi kita bisa apa? Jelas-jelas adikku bukan sugar baby. Mereka saling cinta. Sekarang malah mereka sudah punya dua anak." Sasi menceritakan adiknya.


" Trus kamu panggil apa ke iparmu yang sudah tua itu?" Tommy jadi tertarik juga mendengar cerita Sasi.


" Ya tetep bapak lah..orang umurnya sepantaran ibu juga."


" Hahaha...adek ipar rasa bapak....jadi menurutmu aku harus panggil mama tiriku apa Sas? Aku nggak mau panggil mama, dia bukan mamaku. Mau panggil tante, aku lebih tua dari dia. sApa coba menurut kamu?"


" Lah mas belum pernah ketemu dia sama sekali?"


"Pernah, tapi itu empat tahun lalu dan saat itu dia belum menikah dengan papa."


Tommy ikut tertawa geli. "Macil? Ada juga bocil...Tuh kan memang papa bikin repot aja. Sudahlah... gak usah dipikirin. What ever will be lah. Aku juga gak bakalan panggil dia. Trus adekmu yang satu lagi dimana?" sergah Tommy mengalihkan topik.


" Adikku yang satu juga sudah nikah dengan wabup kota sebelah dan punya anak kembar mas. Tinggal aku yang jomblo. Hahaha..." Sasi menertawakan dirinya sendiri.


" Sekarang ngga jomblo lagi. Ada mas boss ganteng yang akan selalu menemanimu sayang. ." Tommy membelai rambut Sasi.


" Bisanya muji-muji diri sendiri..kepedean" Sasi tertawa.


" Eh, perasàan tadi ada yang bilang aku ganteng , ngga ngaku?" Tommy ikut tertawa


Keduanya tertawa sambil saling berangkulan.


" Kita akan segera menyusul adik-adikmu sayang...jangan mau kalah nanti kita bikin anak lebih banyak..Masa iya mbaknya kalah sama adiknya?" Tommy mencubit hidung Sasi. Gadis itu tertawa.


" Emang semudah itu bikin anak?"

__ADS_1


" Halah...tinggal cari di booble cara bikin anak yang banyak. Lalu kita tinggal praktek. Beres kan?" Tommy mengedipkan sebelah matanya membuat Sasi makin keras tertawa.


" Mas sekarang lebih gila dari Baskara ya..?"


" Gara-gara kamu.." Bisik Tommy sambil mengusap lembut pipi gadisnya itu. Sasi merona.


" Tapi aku lebih suka mas yang sekarang daripada versi kulkas dulu..."


" Kalau aku cinta kamu dulu, sekarang dan selamanya..." Gombal Tommy.


" I love you too.." Balas Sasi tak kalah mesra.


"Jadi besok kita ke rumah papa mas, atau ketemuan dimana? " Tanya Sasi.


" Kita ketemuan dirumahku. Sebenarnya rumah papa juga. Tapi sejak menikah dengan istrinya yang sekarang, papa pindah ke rumah yang lain. Rumahku ini cuma Baskara yang tinggal disana , aku di apartemen. Jarang pulang . Nggak pernah malahan."


" Oke..kita akan ketemu papa mas dan mama rasa adek...hehehe...jadi penasaran..." Sasi terkekeh.


" Tuh kan ngeledek ? Makanya aku dulu ngotot gak setuju papa kawin sama dia" Tommy mendengus kesal.


" Uluh..uluh jangan marah dong...bercanda sayang...bukan ngeledek. Aku itu Excited malahan, kayanya enak punya calon mertua masih muda. Bisa diajak happy-happy..ngga bakalan disia-sia dan dianiaya kaya di sinetron ikan terbang itu. Bisa-bisa malah aku yang akan bully dia...hahaha.." Sasi terkekeh membayangkan ibu mertuanya gadis muda sebaya adiknya.


" Sasiiii...nggak boleh nakal ya. Dia itu bagaimanapun mertuamu. Kamu harus hormat sama dia.."


" Mas juga dong harus hormat, mas kan anaknya. Meski anak sambung.."


" Ogah banget! Sudah bagus aku mau ketemu dia!" Tommy mendecak malas.


" Mas Bastomiii...nggak boleh kurang ajar sama papa mama, nanti kualat.. " Sasi balas menggoda Tommy.


Keduanya terkekeh sambil jalan bergandengan. Tommy semakin yakin pada Sasi. Gadis ini benar-benar membuat moodnya selalu membaik.


"Dah ah..ga usah bahas dia lagi. Kamu jadi ngeledek aku terus. Nakal kamu ya...


Keduanya tertawa-tawa geli. Menertawakan kisah keluarga mereka yang hampir sama. Tanpa berpikir sama sekali bahwa takdir keluarga mereka ternyata saling berkaitan.

__ADS_1


__ADS_2