
Hari itu Tommy terlambat datang ke kantor. Tadi pagi saat terbangun dari tidurnya Tommy sempat menelpon Reza untuk menggantikan tugas-tugasnya. Setelah mengalihkan tugas pada Reza, Tommy melanjutkan tidurnya dan memasang alarm untuk dua jam ke depan.
Saat alarm berbunyi dua jam kemudian, Tommy membuka matanya, namun masih enggan bangkit dari ranjangnya. Diraihnya ponsel yang ada di nakas. Senyumnya langsung terkembang mendapati sederet pesan dari sang kekasih hati.
Gd Morning pria kesayangan...
Kekasihku yang paling tampan...di dunia dan di alam mimpi..
Semalam memimpikanmu, mungkin karena rindu atau memang kamu selalu ada di mimpiku??
Di akhiri gambar hati sekebun...
Tommy terkekeh. Terlalu bahagia, hatinya berbunga-bunga.
Tommy segera membalas pesan Sasi. Pura-pura tak tahu, padahal semalam dia benar-benar hadir di alam bawah sadar Sasi. Ah ya! Kekasihnya yang polos itu masih saja menganggap semua yang dialaminya adalah mimpi. Sak karepmu( terserah kamu) lah Sasii..asal kau bahagia. Bisik Tommy lirih.
Semalam mimpi apa sih sayang?
Pagi-pagi sudah kirim rayuan maut ke mas banyak banget. Masmu Sampe sesak nafas ini...
Makin kangen...
Terkirim dan langsung terbaca.
Tommy segera menyentuh tombol calling di ponselnya. Wajah cantik dan segar Sasi langsung menyambutnya. Tersenyum ceria...
" Mas..kangen..." rengek Sasi, membuat dadanya berdenyut nyeri.
" Aku lebih rindu" bisik Tommy.
" Tadi malam mimpi mas boss datang , dipeluk. Seneng banget. Seperti nyata, bisa jadi obat kangen" gumam Sasi lirih. Tatap matanya yang sendu membuat beberapa bagian tubuh Tommy menegang. Beuhh Sasii...tolong kondisikan sikapmu.
" Sasiii...jangan lihat mas seperti itu. Mas nggak tahan" Tommy mendesis pelan.
" Seperti apa sih mas?" Sasi malah mendekatkan wajah ke ponsel. Bibirnya sedikit terbuka. Bibir basah berwarna merah alami tanpa lipstik dengan wajah yang tampak lebih bersih dan berkilau. Tommy kembali mendesis menahan sesuatu yang mulai memberontak.
" Kamu habis perwatan wajah sayang? Jadi glowing gitu?" Tommy berusaha mengalihkan perhatian dari bibir menggoda milik Sasi.
" Iya mas, cantik ngga?" suara manja Sasi membuatnya tertawa.
" Very beautifull...makin cinta.." bisik Tommy. Sasi merona.
" Love you more." balas Sasi tak kalah mesra.
"Jadi kamu mimpi apa, cantik? "
" Mimpi kamu mas..."
" Hmm...kayanya bukan cuma mas deh yang kamu mimpiin. Pasti mimpiin cowok lain juga kan? Mas tahu loh.." Tommy tersenyum.samar.
" Ehh...kok.mas tahu?" Sasi heran.
" Mas kan sudah bilang, mas punya ilmu terawang...kamu gak bisa bohong sama mas."
Sasi tercenung. Teringat mimpinya bertemu Rangga. Lelaki berwajah tampan namun menakutkan dan penuh misteri. Orang yang sama yang selalu menemuinya dalam mimpi sejak dia menjalin hubungan dengan Tommy. Aneh sekali bukan?
" Iya mas, aku ketemu dia lagi. Anehnya meski dia kutolak berkali-kali, dia tetap datang dan memintaku menikahinya." jawab Sasi.
Tommy termenung. Tommy pun sudah tahu apa yang terjadi semalam..Si Rangga jelek tapi tampan itu memang benar-benar keras kepala. Mungkin kekeras kepalaannya hanya bisa di tandingi dan dikalahkan demgan kekerasan pula.
Sudah cukup bujuk rayu dan memintanya baik-baik selama ini. Mbah Ageng bahkan bilang sudah mengingatkan Rangga berkali-kali. Dan jawaban Rangga tetap, ingin mempertahankan Sasi.
Makhluk ini sudah tak bisa dikasih hati. Tommy bermaksud membicarakan hal ini lebih dalam dengan mbah Ageng. Harus secepatnya karena pernikahan mereka tinggal tiga hari lagi.
__ADS_1
"Sayang, ini mas mau ke kantor, tutup dulu v-callnya ya..? Nanti di kantor mas telpon kamu lagi"
" Emm..iya mas...be carefull. Always waiting for you..." jawab Sasi tersenyum.
Tommy tidak pergi ke kantor, tapi ke rumah mbah Ageng. Tentang Rangga ini jauh lebih penting dari urusan kantor.Pernikahannya bisa berantakan jika masalah Rangga ini belum selesai saat hari H pernikahan .
Tiba di rumah mbah Ageng, hawa dingin menyambutnya. Pintu rumah yang semula tertutup,.terbuka saat Tommy turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu.
" Silakan den, sudah di tunggu mbah" ucap wanita paruh baya pembantu mbah Ageng itu.
Tommy cuma mengangguk. Masuk le rumah dan mendapati mbah Ageng duduk di kursi kebesarannya.
" Sugeng enjing ( selamat pagi) mbah" Sapa Tommy sopan.
Mbah Ageng cuma mngangguk. " Duduklah Tom, mbah sudah tahu maksud kedatanganmu.
" Apa kamu puasa hari ini?" tanya mbah Ageng.
" Maaf mbah, saya lupa karena semalam begadang. Tapi dari bangun tidur tadi saya belum makan sama sekali. Bolehkah saya niatkan puasa sekarang?" tanya Tommy malu-malu karena melupakan perintah mbah Ageng.
" Boleh. Niatkan saja sekarang. Niatkan membersihkan diri dari segala pikiran jahat dan kebencian, sakit hati dan iri dengki, lepaskan sejenak nafsu duniawi !" tegas mbah Ageng.
" Baik mbah!" jawab Tommy sambil mengambil sikap tunduk berdoa.
Namun belum sempat memanjatkan doa, mbah Ageng sudah berkata lagi.
" Termasuk telpon-telponan sama Sasi ya Tom? Stop mulai hari ini!" Mbah Ageng menatap tajam.
Tommy menunduk malu. " Inggih (iya ) mbah" gumamnya pelan. Ish! Mbah bikin malu saja!
Selanjutnya pria itu mulai memanjatkan doa penyerahan diri sekaligus niat puasa tiga hari menjelang pernikahan meskipun agak terlambat. Tommy berdoa sesuai arahan mbah Ageng beberapa saat. Kemudian...
" Bagaimana menurut mbah? Rangga kelihatannya tidak mempan dinasehati dan dibujuk dengan kata-kata serta nasehat mbah." keluh Tommy.
Sesungguhnya dari hati terdalam, Tommy tak ingin menggunakan kekuatan kekerasan apapun.
Apalagi ini di dunia tak kasat mata yang baginya masih baru dan dia tak mengerti sama sekali. Tentu saja baginya cara halus lebih diharapkannya. Tapi apa daya? Makhluk itu sendiri yang keras kepala.
" Mbah tahu, kamu tidak suka kekerasan. Demikian juga mbah. Selama ini mbah melindungi Sasi tanpa menyentuhnya sama sekali. Itu karena dia juga cuma melihat Sasi dari kejauhan saja. Mengikuti dan mencintai diam-diam."
"Baru beberapa saat ini mbah berani bertindak karena dia mulai melanggar batas. Berani masuk menemui Sasi, bahkan sekarang berani menyentuh dan mengancam Sasi. Itupun mbah masih menahan diri, tidak seratus persen menyerangnya."
" Kamu harus bersiap untuk kemungkinan terburuk Tom. Mungkin kita memang harus menyerangnya terang-terangan. Adu banteng. Kelihatannya dia merasa harga dirinya terkoyak karena kehadiranmu yang mampu membuat Sasi berpaling darinya."
Tommy mengangguk. Ada keraguan dalam hatinya.
" Saya merasa masih cetek, ilmu saya masih belum seberapa mbah. Apa saya mampu?" tanya Tommy gamang.
" Sebenarnya ilmumu sepadan dengan mbah. Kamu cuma masih kurang pengalaman dan suka mengikuti hawa nafsu. Mbah maklum kamu masih muda. Saran mbah kamu makin mendekatkan diri pada Sang Kuasa dan terus belajar sabar dan mengendalikan diri." kata Mbah Ageng.
" Inggih mbah!" jawabTommy.
" Kamu harus yakin dengan dirimu sendiri. Jangan ragu dan takut. Mbah tidak akan melepaskanmu begitu saja. Ini jadi tugas kita karena si Rangga itu memang salah. Jadi kita tidak salah main keroyokan istilahnya. Karena dia itu melanggar ketentuan Sang Maha Kuasa. Siapa saja boleh menghalangi niat jahatnya menyakitu Sasi. Jangan khawatir Tom."
" Inggih mbah" Hati Tommy agak tenang. Mbah Ageng akan mendampinginya. Dia merasa kekuatannya bertambah berkali lipat. Semua demi Sasi dan demi pernikahan mereka yang tinggal sedikit hari lagi terlaksana. Semoga Yang Esa merestui dan mengizinkan semua berjalan lancar dan tanpa kendala berarti.
" Ya sudah kamu boleh pulang Tom. Ingat pengendalian diri, merdam segala nafsu duniawi. Bersihkan hati dengan puasa tiga hari ini. Jika kamu benar-bemar melakukan puasa dengan sungguh-sungguh dan tulus. Mbah yakin selesai puasa kekuatanmu akan semakin digdaya."
" Baik.mbah. Saya akan berusaha sebaik- baiknya. Terima kasih. Mohon pamit" Tommy mencium tangan Mbah Ageng lalu undur diri dari depan lelaki tua itu.
Tommy bergegas mengarahkan mobilnya ke kantor, siang ini ada meeting dengan klien yang harus dihadirinya karena kliennya hanya mau bertemu dengannya dan tak ingin diwakilkan.
Aneh-aneh saja. Padahal Tomny ingin lebih banyak beristirahat agar puasanya lebih kusyu, lebih bermakna. Namun apa daya dia sudah berjanji dan tak mungkin membatalkannya.
__ADS_1
" Kamu langsung susul saya ke PT. Wehaka Za." Tommy menelpon Reza.
" Oh iya pak. Tadi sekretaris direktur Wehaka meminta kita menemui.mereka di resto XX sekalian makan siang. Tidak jadi di kantor mereka." Jawab Reza.
" Oke. Kita ke sana. Kamu berangkat sekarang. Jangan telat. Berkas jangan sampai ada yang tertinggal.!" tegas Tommy.
" Siap Boss!" jawab Reza.
Tak lama keduanya sudah duduk di restoran yang dimaksud klien mereka. Bersamaan dengan kedatangan klien mereka.
Tommy mengerutkan dahi melihat klien mereka yang berbeda dari biasanya.
Seorang wanita muda dan cantik nampak memimpin rombongan klien mereka yang terdiri dari tiga orang itu. Dua orang staff sudah Tommy dan Reza kenal. Mereka adalah sekretaris direktur dan staf keuangan PT Wehaka. Beberapa kali mereka sempat bekerja sama.jadi sudah saling mengenal. Tapi wanita itu?
" Maaf? Saya Tommy, saya belum mengenal anda." ucap Tommy sopan saat wanita muda itu menyalaminya.
"Oh iya. Perkenalkan saya Siska. Putri dari Direktur PT Wehaka. Untuk selanjutnya, kerja sama yang berhubungan dengan Mas Tommy, saya yang mengurusnya. Papa menyerahkannya pada saya"
Gadis itu tampak percaya diri. Senyumnya selalu terkembang saat bicara dengan Tommy. Bahkan sepanjang meeting matanya tak lepas dari memperhatikan Tommy dari ujung rambut hingga ujung kepala.
Tommy jadi risih. Namun tetap berusaha profesional dan menghormati kliennya. Sedikit mulai bisa meraba maksud lain gadis ini selain bicara soal bisnis dengannya Ah ada saja godaan orang puasa. Tommy merasa tak enak hati, namun berusaha sabar menghadapinya.
Setelah pembicaraan bisnis selesai acara dilanjutkan dengan lunch. Gadis itu dengan percaya diri meminta Tommy agar makan berdua dengannya, sementara staffnya dimintanya pergi.
Tommy tersenyum samar dan berbisik pada Reza. " Urus dia Za...ambil aja buat kamu."
Reza mengerutkan dahi tak mengerti.Saat semua staf gadis itu sudah pergi, Tommy juga berdiri.
" Maaf nona Siska. Saya sedang berpuasa saat ini. Tiga hari menjelang pernikahan saya. Jadi tidak bisa menemani nona makan berdua. Reza, wakil direktur saya yang akan menggantikan saya menemani nona. Sekali lagi maaf. Saya permisi."
Tommy mengangguk sopan lalu pergi dari ruang VVIP restoran itu. Keluar dari resto dan langsung kembali ke kantor. Meninggalkan Reza dan Siska berdua dalam keadaan canggung.
" Sialan!" umpat Siska pelan namun Reza masih bisa mendengarnya. Reza tersenyum.
" Maaf nona. Boss saya memang akan menikah tiga hari lagi. Dan saat ini sedang menjalankan puasa. Apakah nona tidak suka saya berada di sini? Saya akan pergi jika nona tidak berkenan" Reza berucap sopan. Bagaimanapun dia harus menghormati kliennya.
Siska menatap wajah Reza beberapa saat. Hmm..lumayan lah. Tidak mengecewakan. Batin Siska. Daripada tidak sama sekali, dan malu pada sekretaris dan staffnya, lebih baik menikmati makan siang dengan wakil Tommy.
" Eh..tidak. Temani aku . Sebenarnya papa yang mengatur ini. Beliau bermaksud mendekatkan aku dengan bossmu. Tapi rupanya papa kurang informasi, Tommy ternyata sudah mau menikah. Memalukan sekali bukan?. Ahh..dasar papa. Harga diriku mau ditaruh mana?" keluh Siska.
Reza tersenyum maklum. "Nona tidak bersalah.Tidak perlu merasa malu. Lagipula sikap boss saya memang begitu. Bukan hanya pada nona, tapi pada semua wanita. Kecuali calon istrinya.." Reza berusaha membuat Siska tak terlalu malu.
Siska tertawa sumbang " Siska..panggil siska saja. Kita seumuran kukira. Siapa namamu tadi? " tanya Siska.
Reza mengulurkan tangannya lagi."Reza" menyebutkan nama sambil tersenyum tulus.
Siska tersenyum dan menyambut uluran tangan Reza.
" Ayo makan Za...sayang banget makanan seenak ini kalau dinikmati sendiri bukan?" gumam Siska.
Reza mengangguk. Tak lama sudah terdengar percakapan yang akrab di ruang VVIP resto itu.
Tak salah lagi, Reza memang pandai membawa suasana. Siska yang semula merasa kecewa karena diabaikan Tommy, sekarang malah merasa santai dan bebas mengobrol dengan Reza yang menurutnya sangat menyenangkan. Saat acara makan siang berakhir , Siska bahkan tak sungkan meminta nomor ponsel Reza.
" Mulai sekarang, aku ingin kamu saja yang handle kerja sama dengan kantor kami Za. Aku lebih cocok bicara dengan kamu kayanya.." kata Siska sambil memberikan kartu namanya.
" Dengan senang hati ibu Direktur muda" jawab Reza setengah bercanda.
" Ah kamu, apaan sih. ?" Siska tertawa . " Oke bye Reza..see you next week" Siska melambaikan tangannya. Mereka berjanji bertemu minggu depan untuk membicarakan kelanjutan meeting hari ini.
" Bye Siska. Nice to meet you" Balas Reza sambil mengangguk sopan.
Keduanya berpisah di area parkir. Reza mengantarkan Siska sampai di pintu mobilnya. Baru kemudian melangkah ringan ke mobilnya.
__ADS_1
Meeting yang menyenangkan bagi Reza siang ini. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Proyek besar sekaligus nona besar...Who knows? Reza menimang-nimang kartu nama elegan di tangannya.
Siska Sanjaya. Gadis cantik dan pintar putri Direktur PT Wehaka. Investor besar kantor mereka. Dia juga sangat menyenangkan dan yang terpenting, gadis itu tampak tertarik padanya. Apakah hatiku yang berlubang ditinggalkan Sasi akan segera mendapatkan obatnya? Reza tersenyum sendiri. Seberkas harapan menyapanya.