Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Two Brothers Talk


__ADS_3

"Terus piye (gimana) mas? Cerita dong kok bisa tahu-tahu pacaran sama bidadariku? Jangan-jangan gegara aku bilang dia cantik kaya bidadari mas jadi sadar kalau dia cantik trus langsung dijadiin pacar. Padahal kan sudah lama dia jadi asisten mas. Kemana aja mas selama ini?"


Baskara mulai menginterogasi Tommy setelah mereka tinggal berdua. Pulang menuju apartemen Tommy. Lagi-lagi Tommy menoyor kepala adiknya itu.


" Bidadarimu, gundulmu itu." Keduanya tertawa-tawa.


" Lho waktu itu pas aku ke kantor, mas belum jadian sama Sasi kan?" selidik Baskara.


"Mbak Bas...mbak...jangan nglamak (tidak sopan)kamu. Iya sih, kita baru jadian tiga mingguan ini. Nggak tau kenapa tiba-tiba saja aku mimpiin Sasi. Itu sekitar dua bulan lalu.Sejak saat itu aku kepikiran dia terus. Pengen sama dia terus"


" Mimpi mesum pasti...iyo to ( ya kan)?" tebak Baskara sok tahu


Tommy tertawa. Tapi wajahnya memerah mengingat mimpi pertamanya mencium dan mencumbui Sasi. Mimpi terindah.. yeah..!


" Wahh...beneran kan, mimpi mesum?"


" Yaahh...gitu deh" Tommy masih tersenyum-senyum sendiri.


Tapi tiba-tiba sebuah ingatan terlintas di kepala Tommy. Seakan-akan dia melihat dirinya sedang duduk dan Sasi berada dipangkuannya. Memeluk pinggangnya erat dan mencium gadis itu dengan begitu dalam penuh perasaan. Begitu manis dan indah.. Melebihi mimpi pertamanya.


Oh God! Apa aku bermimpi lagi tadi saat mabuk? Di mobil..yaaa...mimpi ini begitu jelas. Dia duduk di mobil dan Sasi dalam rengkuhan hangatnya . Memeluk dan menciumnya lagi dalam mimpi. Tommy merasa melayang, membayangkan mimpi yang terasa nyata itu.


Dasar Tommy oon, itu tadi nyata bambaang...teriak setan-setan yang tadi ikut mendorong Tommy menyentuh Sasi.


" Lagakmu mas, ogah kawin. Gak mau kenal cewek. Eh baru kena mimpi basah, udah klepek-klepek aja. Apalagi dijabanin beneran sama Sasi, bisa langsung ilang perjakamu mas...hahhaha..."


" Plaak!" Tommy langsung memukul pelan lengàn adiknya yang bicara vulgar tanpa filter itu.


" Heh adek kurang ajar. Kamu tuh ya kebanyakan gaul sama anak-anak gak bener. Gonta - ganti cewek. Jadi mesum gitu otak kamu"


Baskara cengengesan. Untuk urusan cewek, Baskara memang jauh lebih flamboyant dari Tommy. Gonta-ganti gandengan adalah hobby baginya, sudah biasa. Hubungan tanpa status jadi andalannya agar tak terikat pada satu komitmen. Benar-benar play boy cap kambing.


Meskipun Baskara tak pernah berbuat melebihi batas. Tetap saja bagi Tomny adiknya itu sangat mengkhawatirkan sekaligus menyebalkan.

__ADS_1


" Tenang aja mas, mereka gak aku apa-apain kok. Paling banter juga kiss doang.." Begitu selalu jawaban Baskara saat Tommy menegurnya tentang kebiasaan buruknya berganti-ganti pasangan.


" Awas saja kamu berani macem-macem,, aku pecat jadi adek!" ancam Tommy meskipun tahu adiknya itu cuma berani cengengesan tapi sebenarnya takut kalau ada yang berniat serius dengannya.


Baskara cuma terkekeh.


Mas, ayolah kapan mas baikan sama papa, maafin papa? Kasihan papa kepikiran mas terus.."


" Cih gak mungkin dia mikirin aku. Dia pasti lagi sibuk nurutin istri mudanya." Tommy menjawab sinis.


" Mas...mas...tolong buka sedikit hati mas. Kalau dia memang seburuk pikiranmu, nggak mungkin lah dia mau hamil , dua anak lho. Mending dia seneng-seneng habisin duit papa. Secara dia masih muda, lagi ranum-ranumnya. Lagi seneng-senengnya main, hura-hura, jalan-jalan.Tapi dia nggak begitu."


" Ranum, kok pikir pelem ( kamu pikir mangga)?" Tommy mendengus.


Baskara tertawa. " Iya pelempuan..hahaha..kalau ini lebih legit dari pelem (mangga) mas.Udah pernah nyobain Sasi belum?" Baskara makin menjadi menggoda Tommy.


" Baaaaas...kamu mau kelempar keluar ya. Mulutmu makin lama makin rusak" Tommy menyepak pelan kaki Baskara. Adiknya itu cuma mengaduh sambil tertawa-tawa


"Satu lagi, mas salah soal dia sugar baby papa. Dia ketemu papa di perkebunan cengkeh dan tembakau milik ibunya. Dia pegang kantor perkebunan mereka. Makanya sering ketemu papa pas papa cari bahan baku buat pabrik rokok papa. Dari situ mereka saling jatuh cinta. Jadi bukan Palupi yang menggoda papa, apalagi jadi sugar babynya."


" Kamu tahu dari mana?" Tommy bertanya lemah. Nada bicaranya tak sinis lagi.


" Tahu lah mas, aku juga pernah ikut mbak Lupi ke kantor perkebunan cengkehnya di kidul(Selatan). Kebunnya luas, selain cengkeh dan mbako ( tembakau) ada kebun buah-buahan juga. Duren, kelengkeng, jeruk sama apel. Punya agrowisata mereka. Intinya dia itu anak tuan tanah mas. Jadi dia sudah kaya sebelum kenal papa. Dia sudah biasa pake barang branded sejak kecil. Bukan hasil morotin papa."


Tommy menunduk. Mulai timbul rasa sesal sudah begitu buruk menuduh istri papa.


" Kamu nggak pernah bilang Bas..?"


" Elaah maaas...kapan mas mau dengerin aku. Tiap diajak ngomong masalah papa dan mbak Lupi mas selalu marah-marah gak mau dengar. Ini aku berani bicara karena lihat mas sudah buka hati buat cewek lagi. Makanya aku berani ngomong banyak. Mas juga mau dengar. Sebelumnya boro-boro mas mau dengar, yang ada aku diusir dan uang saku melayang.." Baskara mendengus.


Tommy tersenyum. Diusap-usapnya kepala adik kesayangannya itu.


" Maafin mas ya, sudah egois selama ini"

__ADS_1


Baskara langsung menoleh ke arah kakaknya. Terkejut sekaligus senang mendengar Tommy sadar dari kebencian dan dendam tak berdasarnya selama ini.


" Kita ketemu papa ya mas? Aku antar. Papa pasti senang dengar ini. Papa tuh kangen banget sama mas. Anak kesayangan papa kan mas. Kalau aku cuma anak cadangan" bibir Baskara mengerucut.


Tommy tertawa. Lagi-lagi meninju lengan Baskara.


" Lambemu lamis ( mulutmu pandai bicara). Mana ada anak cadangan"


" Iya kalau ada mas ,aku nggak direken ( dipedulikan), Tapi kalau mas nggak ada, baru aku dianggap. Tetep aja buat ditanya-tanya. Gimana masmu? Sekarang dimana? Kurus apa gemuk?" Huh..!"


Tommy lagi-lagi tertawa. Tiba-tiba ada rasa rindu menyeruak dalam hatinya. Rindu papa. Rindu mama. Rindu kebersamaan dan kehangatan keluarga.


" Iya mas? Kapan ketemu papa?" Baskara menggebu-gebu. Misi mustahilnya selama empat tahun mempersatukan papa dan mas Tommy akhirnya berbuah manis.


" Nanti aku kasih tau kamu. Aku mau sekalian ngenalin Sasi sama papa." Tommy bergumam pelan. Tapi itu cukup buat Baskara. Tinggal mencari waktu dan tempat yang yang tepat.


" Oke! Thank's ya mas. Aku seneng banget"


" Dibayar berapa kamu sama papa dan istrinya buat bujuk masmu?" Tommy melirik Baskara sinis. Tapi nadanya bercanda.


" Elaah mas? Masih curiga aja sama adikmu sendiri?"


" Jelas, kamu kan matre, dapat makanan sama tiket konser sekali aja langsung balik kanan belain papa sama cewek itu!"


" Maaasss....?" wajah Baskara memelas. Takut-takut kakaknya berubah pikiran lagi.


Tommy masih memasang wajah datar beberapa saat sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak berhasil menggoda adiknya itu.


" Mas Bastomiiii...stop mas jangan bikin aku jantungan lagi. Empat tahun lho aku baru bisa bikin mas mau dengar aku bicara. Masa iya gagal lagi..?" Baskara lega sekaligus kesal karena kakaknya cuma menjahilinya.


Tommy tertawa lagi. " Kamu gak malu Bas, udah gede gini, apalagi aku sudah mau kawin, punya adek bayi?"


" Tadinya gitu mas. Tapi setelah ketemu Lily sama Rose semua perasaan kesal ,malu, marah itu langsung lenyap. Mereka itu lucuuu banget mas. Gemesin gitu. Aku aja jadi kangen terus setelah ketemu sama mereka. Mana nempel terus mereka sama aku. Mas Bas..Mas Bas..I love you..katanya..aku dicium-ciumin terus....hahaha..lucu banget.".

__ADS_1


""Wes ta ( sudahlah) mas, kalau mas ketemu mereka pasti ngerasa apa yang aku rasa. Gimanapun mereka itu sedarah dengan kita. Pasti ada ikatan hati yang kuat dengan kita. Makanya kita langsung akrab saja seakan sudah lama kenal"


Tommy menyadarkan kepalanya. Matanya terpejam, tapi telinganya mendengar jelas semua yang dikatakan Baskara. Sejumput rasa lega merasuki jiwanya. Beban dendam yang selama empat tahun ini menghimpit dadanya seakan hilang tak bersisa.


__ADS_2