Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Berita Bahagia


__ADS_3

Tommy diam sepanjang perjalanan mereka kembali dari acara penobatan Rangga. Wajahnya dingin dan keruh. Tatapan Rangga yang memuja Sasi sangat mengganggunya.. Membuat gejolak kembali dalam dadanya. Kenapa? Apa tak ada perempuan lain?


Sasi tahu apa yang membuat suaminya merajuk. " Yaang...kenapa? Maaf kalau aku bikin kamu jadi nggak enak hati begini. Harusnya aku nurut, ngga usah datang ke acara itu."  Sasi menutup spion yang menghadap belakang dengan sun protector. Jono sudah maklum, jomblo memang harus tahan banting...fight mblo....!!


Sasi langsung naik ke pangkuan suaminya. Menghadap Tommy hingga dadanya kini tepat di depan wajah suaminya. Tommy terkejut , Sasi nekad melakukannya saat ada Jono. Ahh, istriku...


" Yaang, dilihatin Jono tuh!" Tommy mengerang, sesuatu yang diduduki Sasi sudah mulai menggeliat bangun.


" Biarin, siapa suruh mukanya manyun gitu! Aku kan gak salah, mas sendiri yang nyuruh aku datang tadi"  Sasi melingkarkan tangannya ke bahu Tommy.


"Aku nggak marah sama kamu sayang...." Tommy mendesah ketika Sasi mengecupi lehernya berulang-ulang.


" Nggak marah kok mukanya serem gitu"  Sasi meneruskan kegiatannya.


"Yaaang...jangan diterusin, kamu mau Jono ngelihat kita main disini?" Tommy menggeram ketika Sasi makin nakal menggigit daun telinganya, kemudian turun ke ceruk lehernya dan mulai menghisapnya disana .


.


"Biarin!, biar kamu tahu, aku hanya milikmu.." Sasi mulai membuka kancing baju Tommy. Akhirnya Tommy tak tahan lagi, tertawa sambil menggelitik pinggang Sasi. Sesekali menciumi wajah dan leher istrinya yang halus dan lembut. Sasi menggeliat kegelian namun tertawa lega .


" Gitu dong senyum...ish! Aku janji gak akan pernah nemuin Rangga lagi. Mas juga jangan pernah nugasin aku atau ngajak aku ketemu Rangga "


Tommy mengangguk. " Aku cuma takut kehilangan kamu sayang." Bisiknya sambil menatap Sasi dalam-dalam.


" Harusnya aku yang takut kehilangan , suamiku tampan, kaya dan romantis. Banyak perempuan yang mengantri menunggu kita pisahan"


" Kamu nggak usah ngapa-ngapain, nggak perlu kaya, sudah banyak yang mau merebutmu dariku yang ..ck!" Tommy mendecak kesal.


" Tapi aku cintanya cuma sama kamu sayang..." Sasi menyentuhkan wajahnya ke wajah suaminya dan mulai mencium Tommy lembut.


Jono merasa pusing mendadak, suara-suara di belakang begitu mengganggu konsentrasinya. Akhirnya Jono izin turun ketika melewati supernarket. Alasan untuk melarikan diri dari tuan dan nyonya nya yang tak tahu diri.


" Iya...yang lama ya Jon..." sahut Tommy dari balik ceruk leher Sasi saat Jono pamit turun. Sasi terkekeh geli. Jono mengumpat dalam hati.


" Sayaaang..kenapa kamu sangat cantik? Sampai makhluk gaib pun tergila-gila padamu."  Tommy mengesah . Membalas ciuman Sasi dengat lembut dan penuh perasaan. Melampiaskan cintanya yang begitu banyak rintangan.


" Makhluk apaan mas?" tanya Sasi ketika mereka sudah melepas ciuman mereka. Jono juga sudah kembali dari super market. Dua puluh menit sudah cukup mememuaskan Tommy dan Sasi. Jono bernafas lega. Mereka sudah duduk bersisian, meskipun Tommy masih menempel seperti lintah. Nemplok di tubuh Sasi.


" Bisa kita lanjutkan perjalanan Boss?" tanya Jono.


" Hmmm..." Tommy cuma.berdehem. Wajahnya ditenggelamkan di belakang leher istrinya.


"Menurutmu siapa Turangga Seta? Dia itu makhluk gaib. Makanya dia hanya bisa menemuimu di alam bawah sadarmu, dalam mimpimu." bibirnya menempel di pundak Sasi.


" Geli ih mas...mungkin benar begitu. Sudahlah yang penting dia sudah nggak pernah muncul di mimpiku lagi kok." Sasi mengusap lembut rambut Tommy.


" Iya karena mbah Ageng sudah mengusirnya sayang. Suatu saat kamu harus berterima kasih pada beliau" sekarang bibirnya sudah menempel di leher Sasi.


"Iyaa...nanti .." kata Sasi. Mungkinkah itu? Alam gaib? Makhluk gaib itu nyata? Entahlah ...Sasi masih tak bisa mempercayainya. Tapi demi Tommy Sasi akan berterima kasih pada mbah Ageng. Setidaknya untuk nasehat yang diberikan pada Tommy hingga suaminya lebih tenang seperti sekarang'.


" Sudah sampai boss!" Jono berbicara agak keras. Agar bossnya yang sedang sibuk membelit tubuh Sasi dengan tangannya itu sadar dan segera turun, jadi dia segera bebas dari siksaan jiwa jomblo yang merana. Aku mungkin harus ikut biro jodoh! Batinnya nelangsa.


Sasi turun sambil menarik lengan Tommy. Entah kenapa akhir-akhir ini suaminya sangat manja, baperan, cemburuan...eh itu dari dulu sih...


Tommy menggelayuti tubuh Sasi. Membuat istrinya berjalan terseret-seret. " Berat mas...kamu ish...jangan ngelendot gitu..capek!" Sasi protes.


" Ya udah sini mas gendong aja, biar nggak capek!" Tommy langsung mengangkat tubuh Sasi ke dalam rengkuhannya. Sasi tertawa-tawa. Duh...suamiku kenapa jadi aneh begini ?


Sasi menyurukkan wajahnya ke bahu Tommy. Kakinya melingkar erat di pinggang suaminya. Tangannya melingkari leher kokoh lelaki tampan itu. Mereka tak peduli ketika beberapa orang yang kebetulan berpapasan di lift memandang aneh pada mereka.

__ADS_1


Dan saat sudah di apartemen mereka, Tommy langsung menuju kamar. Membaringkan Sasi di ranjang dengan lembut lalu berbaring di samping Sasi. Keduanya saling berhadapan.


" Mas jangan terlalu cemburu, nanti aku ge er." Sasi menangkup pipi Tommy dan mengecup lembut bibirnya.


Tommy cuma tersenyum, " Aku akan selalu cemburu, karena aku mencintaimu"


" Tapi cemburunya jangan terlalu, karena itu akan meyakiti dirimu sendiri. Aku nggak mau kamu kena liver gara-gara terlalu cemburu"


Tommy tertawa " Eh, apa hubungannya liver dan cemburu?"


" Au ah...hubungin sendiri mas...ngantuk aku!" mata Sasi sudah tertutup.


Tommy mengecup mata istrinya, hidungnya , mengecup lama bibirnya. Lalu tangannya memeluk pinggang Sasi. Beberapa saat kemudian hanya helaan nafas mereka terdengar halus. Keduanya sudah terlelap dalam mimpi indah.


Dua bulan berlalu....


Proyek kerja sama dengan Rangga sudah mencapai 75 persen pengerjaannya. Dan Sasi sama sekali tidak mau ikut campur. Reza yang membantu Tommy.


Siang itu Sasi sedang berada di ruangannya. Tommy dan Reza sudah sejak pagi pergi ke kantor Rangga. Saat sedang memeriksa beberapa dokumen, tiba-tiba Sasi merasa pusing. Sasi menyandarkan tubuhnya di kursi sambil.meminum air mineral. Matanya nanar menatap kalender di meja.


Tiba-tiba Sasi teringat sesuatu. Sejak menikah dengan Tommy dua bulan lalu dia tak pernah kedatangan tamu bulanannya. Dadanya berdebar-debar.


" Jon, ayo antar aku ke rumah sakit" Sasi berseru kerika sudah duduk di dalam mobil.


" Baik bu. Ada apa? Apakah ada yang sakit?" tanya Jono heran.


" Nggak, aku cuma mau check up saja. Nanti kamu tunggu sampai selesai ya Jon.." pesan Sasi.


" Baik Bu!" jawab Jono.


Sampai di rumah sakit Sasi langsung menuju ruang administrasi. Seorang petugas segera melayaninya.


" Sudah pernah periksa ke sini bu?" tanya perugas.


" Silakan duduk" perawat itu segera mencatat data diri Sasi lalu mempersilakan Sasi menunggu giliran periksa.


Namun belum lama menunggu, Sasi dikejutkan kehadiran Tommy yang berlarian ke arahnya.


" Yang..kamu kenapa? Kamu sakit apa? Kok nggak minta antar mas?" Nafas Tommy tersengal-sengal memberondong Sasi dengan pertanyaan penuh kekhawatiran. Pria itu berlutut di depan Sasi duduk sambil memeriksa bagian tubuh Sasi dari atas sampai ke kaki.


Sasi tertawa geli."Apaan sih mas, ayo berdiri!" Sasi menarik tangan Tommy untuk berdiri. Lelaki itu lalu duduk di samping Sasi. Masih memandangi Sasi khawatir.


" Kok tahu aku disini?" Sasi menggenggam tangan suaminya.


" Aku telpon Jono, soalnya Winy bilang kamu pergi sama Jono. Trus hape kamu kenapa ngga aktif?" Tommy merengut. Winy adalah sekretaris Reza. Sudah sebulan Reza punya sekertaris. Tommy merasa perlu agar saat Sasi tak ada , Winny bisa menggantikannya.


" Iya maaf yang...lupa ngecas tadi. Jadi mati nih!" Sasi menunjukkan ponselnya yang mati.


" Mestinya mau berangkat telpon mas dulu, jangan asal.ngilang aja" masih menggerutu.


" Iyaaa..maaf..soalnya tadi langsung kepikiran aja."


Belum sempat bertanya nama Sasi sudah dipanggil perawat. Sasi berdiri sambil menarik tangan Tommy." Yuk mas, sekalian ikut biar gak penasaran!" Sasi tersenyum-senyum sendiri.


Tommy yang masih bingung menurut saja. Menggamit pinggang istrinya masuk ke ruangan dokter.


Sampai dalam ruangan, Sasi langsung dipersilakan duduk oleh seorang dokter.


" Ada keluhan apa mbak Sekar?" tanya sang dokter yang wajahnya mirip-mirip Reza Rahardian ...beuhh...hahaha...mana dari tadi senyum-senyum saja bikin Tommy kesal.

__ADS_1


" Saya sudah hampir dua bulan nggak datang bulan dok. Tadi tiba-tiba saja pusing dan badan terasa nggak enak banget."


Lagi-lagi dokter itu tersenyum. Memegang tangan Sasi dan memeriksa nadinya. " Wah kelihatannya berita gembira ini. Sus tolong mbak Sekar dikasih test pack" perintahnya pada perawat yang ada di ruangan.


Saat itu Tomy baru sadar bahwa istriya masuk poli kandungan. Ruangan dokter itu penuh poster tentang ibu hamil dan kelahiran.


Tommy menatap Sasi tajam. " Yang..?" dadanya berdebar-debar. Tommy melihat ke arah perut Sasi. Tapi perut istrinya itu masih tampak biasa saja, maaih rata.


Sasi tersenyum. " Sabar yang, kita tunggu pemeriksaan dokter" bisik Sasi. Tapi Tommy sudah berseri-seri. Seakan sudah yakin dengan apa yang dipikirkannya.


Perawat memberikan test pack dan mempersilakan Sasi masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian Sasi sudah keluar dengan test pack di tangannya. Diserahkannya pada perawat yang menunggunya di depan pintu kamar mandi.


" Selamat ibu Sekar, positf dok! "seru perawat itu sambil tersenyum. Dan semua orang di ruangan itu tersenyum bahagia. ApalagiTommy yang tanpa malu-malu langsung memeluk dan mengangkat tubuh Sasi. Berputar putar di ruangan dokter itu.


" Sudah Mas, nanti ibu Sekar nya bisa mual kalau diputar-putar begitu" perawat menegur Tommy ketika pria itu belum juga berhenti berputar sambil memeluk tubuh Sasi.


" Ya Tuhan, terima kasih. Sayang, I love you" bisiknya penuh syukur sambil tetap memeluk Sasi.


" Ehm...sekarang mbak Sekar di periksa dulu ya? Agar tahu pasti berapa usia janin dan keadaan kehamilannya" Suara dokter membuat Tommy terpaksa melepaskan pelukannnya pada Sasi. Wajah Sasi merona malu. Ah suaminya itu memang tak tahu malu. Di pikirannnya, dia bebas melakukan apa saja dimana saja dengan istrinya.Tanpa peduli orang lain di sekitar mereka.


" Maaf dok, kita terlalu bahagia" Sasi malu-malu ketika sang dokter mulai menggerakkan transducer di perutnya yang sudah diolesi gel oleh perawat. Dokter itu cuma tersenyum.


" Saya maklum. Tuh dedenya sudah mulai kelihatan. Tommy menggenggam erat tangan Sasi. Dilihatnya titik.kecil sebesar biji kacang melayang-layang di layar. Hatinya menghangat, apalagi ketika dokter menyalakan pengeras suara dan terdengar dengan jelas detak jantung bayi mereka.


Tommy dan Sasi meneteskan air mata bahagia. Tommy sudah sejak menikah sangat berharap segera dikaruniai buah hati . Namun dia tak berani bertanya atau mengungkapkan harapannya pada Sasi. Mengingat dia serba terburu-buru saat melamar hingga menikahi


Sasi. Padahal Sasi masih ingin menundanya.


Dia tak berani berharap Sasi mau segera memiliki buah hati. Jadi meski sudah dua bulan menikah dan belum ada tanda-tanda Sasi hamil Tommy tak.ambil pusing, mungkin dengan begini mereka berdua lebih lama pacaran seperti keinginan Sasi.


"Semua bagus. Detak jantung, air ketuban cukup. Perkiraan usia janin sudah hampir 8 minggu." lanjut dokter menjelaskan.


Tommy tersadar dari lamunannya. Matanya basah karena bahagia. Dia berlutut disisi ranjang Sasi dan menciumi tangan istrinya di genggamannya. Sasi ikut menangis haru.


" Aku bahagia sekali sayang. Aku sayang banget sama kamu." bisik Tommy lirih.


Sasi tersenyum mengangguk-angguk. Digenggamnya erat jemari Tommy. Air matanya berlinang melihat Tommy menangis.


Sejak saat itu Tommy makin posesif pada Sasi. Sasi merasa sangat beruntung dia tidak mengalami mengidam yang aneh-aneh. Juga tidak mengalami morning sickness berlebihan. Memang kadang ada mual, namun tidak sampai mengganggu aktivitasnya.


Justru Tommy yang kelakuannya membuat Sasi heran . Sering saat malam suaminya itu membangunkannya hanya untuk menemani makan makanan yang sudah dipesannya. Mulai seblak, lontong balap, rujak.cingur, lintong mie sampai tahu campur. Entah dari mana suaminya itu membelinya.


Bukan cuma itu Tommy jadi sering jajan makanan yang manis-manis seperti martabak manis, roti bakar, segala macam cake yang manis dilahapnya.


" Mas kok jadi kamu yang ngidam. Lihat mas jadi gendut tuh perutnya..hahaha..ini yang hamil siapa? Perutku malah masih rata. Belum kelihatan buncit sama sekali."


" Yaaang..jangan ngeledek gitu. Aku juga nggak tahu, suka nggak tahan harus dituruti saat ini juga. Jadi begini rasanya ngidam ya...?" Tommy mengecup perut Sasi penuh kasih.


" Biarin papa gendut, asal dede nya nggak ileran ya..?" Tommy mengelus perut istrinya sambil terus mengunyah. Sasi tertawa-tawa, suaminya itu benar-benar jadi seperti anak kecil yang segala keinginannya harus dipenuhi.


Jono yang sekarang berperan ganda sebagai sopir pribadi sekaligus menuruti semua yang diinginkan Tommy.


Jono semula merasa tèsiksa karena Tommy seperti tak tahu waktu menyuruhnya ini itu. Membeli makanan tak tahu waktu. Namun saat dia memeriksa rekening gajinya yang membengkak hingga dua kali lipat, rasa kesal pada perilaku Tommy berubah menjadi doa untuk kebaikan calon putra bossnya itu. Jono...matre kamu ya?


Bulan berganti dan kandungan Sasi sekarang sudah berusia lima bulan . Tommy sudah tak sabar mengtahui jenia kelamin calon bayinya.


Hari itu Tommy sengaja menyisihkan waktu menemani Sasi periksa ke dokter. Dan tentu saja dokternya sudah bukan lagi dokter yang pertama memeriksa Sasi. " Terlalu murah senyum " katanya membuat Sasi terpingkal-pingkal mendengar alasan Tommy mengganti dokter kandungannya. Tommy memilihkan dokter permpuan untuk Sasi.


" Iyo mas...sak karepmu ( terserah kamu) asal kau bahagia." Sasi heran, tapi menurut juga. Suaminya itu masih saja cemburu berlebihan.

__ADS_1


*******


Happy reading....


__ADS_2