
Rangga mengejar langkah Rani dan memeluk pinggangnya ketika berhasil menjajarinya.
" Baby...tunggu!"
"Emang kamu tahu tempatnya?" tanya Rangga.
" Enggak, mungkin di ruang kerja ibunda, tadi kan mama sama ibunda ngobrol disana?" Rani bicara tanpa menoleh ke arah Rangga.
" Sekarang mereka di ruang makan. Kita sekalian makan siang bersama." Rangga menciumi puncak kepala Rani.
" Kangmas ih...jangan main peluk cium sembarangan..ini di istana.." Rani merasa canggung dan takut tingkah gila Rangga jadi omongan orang.
" Hei baby, ini istanaku. Aku akan memecat orang dalam yang berani ngomongin kamu atau aku dan keluargaku. Mereka sudah dibawah sumpah. Menjaga rapat-rapat semua yang terjadi di istana dari orang luar. Bahkan menjaganya dengan nyawanya. Orang luar hanya boleh tahu apa yang sudah disampaikan raja saja di luar. Selebihnya, cuma orang dalam istana yang tahu."
Rani menatap wajah Rangga. Gadis itu baru sadar siapa pria tampan yang kini memeluk pinggangnya itu. Dia punya kekuasaan dan ini adalah teritorialnya.
Mereka berdua sampai di ruang makan istana yang luas. Namun Raja dan Ratu tidak duduk di meja terbesar di tengah ruangan yang kursinya lebih dari lima puluh , melainkan di meja sudut yang langsung menghadap taman.
" Rani sini sayang, duduk dekat ibunda" Ratu menarik lembut tangan Rani untuk duduk disebelahnya Rani duduk diantara ratu dan Sasi, mamanya.. Sementara Rangga mengambil tempat di sebelah ayahandanya dan seorang remaja tampan yang wajahnya mirip sang raja. Andra, putra semata wayang Rangga.
Mereka kemudian makan dengan tenang, Hidangan pembuka, hidangan utama dilanjutkan hidangan penutup yang menurut Rani sangat lezat. Seumur hidupnya, baru kali ini Rani merasakan makanan istana.
Sepanjang acara makan siang, Rangga tak henti tersenyum sambil menatap wajah Rani yang merona.Sementara Rani malah lebih sering mencuri-curi pandang ke arah Andra yang tepat berada di seberangnya. Sebenarnya Rani penasaran, seperti apa calon putra tirinya itu.
Andra yang sejak tadi juga tertarik pada Rani cuma tersenyum simpul saat Rani tersenyum padanya. Hal yang sama, Andra pun penasaran seperti apa calon mama tirinya. Dan Andra tak.menyangka calon ibu sambungnya masih sangat muda, bahkan menurut Andra Rani sangat imut, seperti ABG seusia teman-teman sekolahnya. Terlebih wajah Rani begitu cantik dan membuatnya ingin selalu memandangnya.
Rani menatap Rangga sekilas, lalu melihat Andra. Mereka memang mirip, tapi Andra memiliki mata yang sama dengan Raja. Tubuh pemuda 15 tahun itu sudah setinggi Rangga. Dia seperti Rangga versi muda. Tentu saja, dia putranya...
Selesai makan, mereka melanjutkan obrolan di ruang yang lain. Ini seperti ruang santai, namun luas dan lega. Raja, Ratu, Rangga dan Sasi berbicara serius tentang rencana lamaran dan pernikahan Rani dan Rangga bersama dua orang tetua adat istana.
Rani yang seakan tidak begitu diajak bicara jadi bosan , demikian juga Andra yang dianggap masih kecil. Tiba-tiba Andra berbisik ke Rangga.
" Pa, boleh nggak Rani Andra ajak ke perpustakaan, kasihan dia bosan disini."
Rangga sedikit terkejut mendengar inisiatif Andra. Apalagi mendengar Andra memanggil Rani dengan santainya.
" Dia itu calon mama kamu. Panggil dengan sopan." Rangga sedikit kesal.
" Iya ..iya pa, mbak Rani aja ya...nggak tega panggil ibu atau mama, terlalu imut..hehe..." Andra tersenyum nakal menggoda papanya. Rangga mendecak.
" Ya sudah, kasihan juga dia nggak ngerti apa-apa di sini. Ingat harus sopan. Dia calon mama kamu.." Rangga memperingatkan Andra.
" Beres papa!" Andra mengacungkan jempolnya lalu mendekati Rani.
" Rani..eh..mbak Rani..ikut aku ke perpustakaan istana yuk, daripada bosan disini."
Rani menatap Andra ragu, lalu melihat ke arah Rangga. Pria itu mengangguk memberi ijin.
Raja dan ratu yang melihat interaksi Rani dan Andra tersenyum.
__ADS_1
"Nggak papa Rani, kamu ikut Andra saja. Nanti kalau ada yang penting, Rani akan kami panggil." Raja mengangguk ke arah Rani.
" Terima kasih ayahanda. Permisi..." Rani berdiri dan mengikuti Andra.
Setelah keluar ruangan, Andra menjajari langkah Rani.
" Kamu sekolah di mana Ndra?" Rani memberanikan diri menyapa karena melihat Andra yang tampak ramah dan santai padanya.
" SMA Internasional mbak."
" Wah sama , aku alumni situ juga."
" Mbak ikut kelas akselerasi ya, tadi mama mbak bilang mbak lulus nggak sampai dua tahun."
" Iya, SMP juga cuma dua tahun, SD 4 tahun. Makanya mbak sekarang sudah lulus S1. Kalau kamu mau sedikit lebih keras belajar, kamu akan merasakan enaknya nanti Ndra. Sudah lulus di usia muda. Asyik lho...santainya belakangan."
" Iya mbak. Aku juga pengen begitu. Tapi susah soalnya banyak acara istana. Jadi sering off nggak fokus sekolah. Ini aku mau kejar biar lulus tahun ini. Mbak mau nggak bantu aku. Jadi mentor privat gitu, kan mbak sudah pengalaman." Andra tersenyum.
" Oh, boleh sekali. Tapi kamu minta ijin papa kamu dulu. Boleh nggak aku jadi mentor kamu? Papa kamu suka aneh." Rani teringat pesan Rangga agar dia tak terlalu dekat dengan Andra.
" Aneh gimana mbak?" Andra bingung.
" Hehe...ya gitu deh. Pokoknya kamu tanya papamu dulu aja ya.." Rani tak ingin mempermalukan Rangga yang kelewat cemburu di depan anaknya sendiri.
Mereka sampai di perpustakaan istana. Penjaga mempersilakan mereka masuk begitu saja karena melihat Andra.
Rani terperangah. Matanya berbinar cerah melihat banyaknya buku di perpustakaan yang besar ini. Matanya menjelajahi rak demi rak yang tersusun rapi buku-buku di dalamnya.
Andra tertawa. Ditatapnya wajah cantik Rani dari samping. Sejak pertama melihat Rani dadanya terasa berdebar aneh. Melihat senyum Rani jiwanya seakan melayang, perasaan hangat merasuki tubuh dan hatinya. Andra merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.
" Imut , lembut dan cantik" kesan Andra pertama melihat gadis calon istri papanya itu. Betapa beruntungnya papa. Andra tanpa sadar jadi ingin selalu dekat dengan Rani. Ingin selalu menatapnya, dekat dan bicara dengannya. Adrenalinnya seakan terpacu setiap dekat dengan Rani.
Ini gila! Andra belum pernah merasa setertarik ini dengan gadis lain sebelumnya. Padahal sejak kelas sepuluh, banyak gadis teman sekolah yang terang-terangan menembaknya lebih dulu. Belum pernah merasakan debaran aneh seperti saat melihat dan bicara dengan Rani. Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Andra menunduk ketika Rani menatapnya. Wajahnya memerah.
" Hei...kok lihatin aku kaya gitu. Aneh ya?" Rani mengerutkan kening.
" Iya mbak, kamu aneh.. kok mau sama papa? Dia sudah tua begitu. Harusnya kamu pacaran sama aku" ANdra tertawa.
Rani ikut tertawa," Aku bilangin papa kamu lho...hahaha...ah kamu nanti juga paham kalau sudah jatuh cinta Ndra. Menurutmu aneh tapi menurutku papamu ganteng banget. Dia itu tipe aku banget. Dia lembut dan sayang banget sama aku" Rani menerawang membayangkan Rangga.
Andra melengos jengah." Huh...aku juga ganteng mbak. Masih muda lagi. Aku juga bisa lembut dan penyayang.." Andra bergumam kesal.
Rani tertawa lagi. " Andra...jangan sampai papamu dengar kamu bicara begitu, bisa di gantung kamu...hahaha..."
Andra tertawa lucu, tawa Rani menular padanya. " Aku juga tahu mbak. Papa pasti insecure. Calon istrinya kaya mbak, pasti cemburu lah. Aku aja nggak rela mbak sama papa. Mohon dipikir ulang mbak.." Andra pura-pura menyembah dan memohon pada Rani.
Gadis itu makin tergelak. Dia pikir Andra memang suka bercanda. Rani tak tahu isi hati Andra...
Andai kamu tahu mbak, itu adalah isi hatiku yang sebenarnya. Andra bicara sendiri dalam hati. Matanya tak lekang mengikuti tiap gerak dan langkah Rani.
__ADS_1
" Emm...kamu nggak keberatan kan kalau papa kamu menikah dengan mbak?" Rani menatap Andra lembut, tangannya membawa sebuah buku yang terbuka.
" Keberatan mbak, harusnya mbak sama aku!" Andra tersenyum usil.
" Ayolah ndra jangan bercanda terus, mbak serius ini.." Rani menarik tangan Andra untuk duduk di kursi yang ada di sana.
" Aku juga serius mbak. Pikirin lagi deh mbak. Papa tuh ketuaan buat mbak. Mending mbak sama aku saja."
Rani mendecak malas, dipukulnya pelan lengan pemuda tampan putra Rangga itu. Gemas sekali karena pemuda itu tampak berusaha menggoda dan membuatnya kesal.
" Males ah, mbak nggak mau ngomong lagi sama kamu.." Rani cemberut.
Andra tertawa tergelak, suaranya sampai menggema di ruang baca yang luas itu. "Iyaa..iya mbak Rani cantik..tentu saja aku setuju. Kalau nggak, mana mau aku ngajak mbak ke sini.., tapiii...kalau mbak berubah pikiran aku yang antri paling depan...hahaha.."
" Heh...siapa yang akan berubah pikiran...dan kamu mau antri apa?" suara Rangga tiba-tiba terdengar di belakang mereka.
" Kangmas..?" Rani
" Papa..? " Andra
Rangga menatap Rani dan Andra bergantian. Melihat Rani dan Andra duduk berdekatan Rangga langsung menarik tangan Rani agar berdiri.
" Baby, apa Andra mengganggumu?" Tanya Rangga lembut sambil meraih pinggang Rani.
" Enggak papa...aku kan cuma bercanda.." Andra menyela.
" Andra, papa nggak tanya sama kamu..!" Rangga menatap Andra tajam.
Andra menggaruk tengkuknya sambil meringis. Dasar posesif..rutuknya dalam hati. Tapi pandangan matanya yang jahil tetap melihat Rani.
" Ah enggak kok kangmas, malah aku senang ditemenin Andra. Dia baik dan bikin aku nyaman di sini." Rani tersenyum menatap Rangga. " Ada apa kangmas ke sini?"
" Ayahanda dan ibunda memanggilmu. Ada yang harus dibicarakan" Rangga membawa Rani keluar dari perpustakaan. Meninggalkan Andra yang terbengong karena sama sekali tak di anggap.
" Andra nggak diajak kangmas?" Rani menoleh melihat Andra. Merasa tak enak meninggalkan Andra begitu saja.
" Ndra ayok ikut..temenin mbak.." Rani melambaikan tangan ke arah Andra yang masih terbengong. Sebenarnya Rani merasa lebih nyaman di dekat Andra. Merasa satu frekuensi saat bicara. Mungkin karena usia mereka yang sama-sama masih remaja.
" Biarin aja baby, ini rumahnya. Kamu sama kangmas saja!" Rangga kembali menarik Rani berjalan.
Rani melihat Andra tertawa lalu bicara tanpa suara. " Papa cemburu tuh!" sambil menunjuk Rangga. Rani bisa dengan jelas membaca bibir Andra. Gadis itu terkekeh melihatnya.
" Absolutely.." balas Rani pada Andra. Dua makhluk sebaya itu kemudian terkekeh bersama membuat Rangga merasa mereka menertawakannya.
" Kamu nertawain aku baby?" Rangga menatap Rani.
" Enggak kangmas...putramu tuh lucu ya. Kayanya aku bakalan cocok sama dia." Rani balas memeluk pinggang Rangga yang dari tadi memeluknya.
" Baby...ingat pesanku. Jangan terlalu dekat sama Andra atau lelaki lain siapapun itu." Rangga masih dalam mode kesal.
__ADS_1
Rani tahu benar apa yang harus dilakukannya. Dengan manja Rani menyandarkan kepalanya ke bahu bidang kesayangannya itu. Lalu mengeratkan pelukannya ke pinggang Rangga.
Benar saja, Rangga menunduk melihat Rani yang bersandar di bahunya. Bibirnya menyungging senyuman. Mengecup puncak kepala gadis itu lembut. Wajah kesalnya sudah hilang. Berganti senyum kebahagiaan, apalagi menyadari tangan Rani yang memeluk pinggangnya makin erat. Baby...hatinya bersenandung lirih.