
Makin dekat hari pernikahannya dengan Sasi, Tommy makin khawatir akan keberadaan Rangga. Memang saat ini semua tampak tenang dan damai. Persiapan pernikahan pun sudah hampir selesai sembilan puluh persen . Baik pihak keluarganya maupun keluarga Sasi tidak terlalu direpotkan karena semua sudah ditangani EO yang terpercaya.
Hari ini adalah hari ke tujuh menjelang pernikahan mereka. Tommy sudah menguasai semua ilmu kanuragan yang diajarkan mbah Ageng kepadanya. Namun semua itu tak mampu menepis rasa khawatirnya akan gangguan makhluk tak kasat mata bernama Rangga itu.
Hari Minggu, Sasi.dan Tommy bermaksud menghabiskan waktu bersama terakhir kali, sebelum Sasi dipingit selama 7 hari ke depan hingga hari pernikahan mereka.
Sebenarnya Sasi sudah berusaha menolak perintah ibunya agar Sasi mau dipingit. Tapi Ibu bersikeras melakukan tradisi pingitan demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Mengingat Sasi bukan calon pengantin biasa bagi ibu , Tommy dan Mbah Ageng yang tahu apa yang menimpa Sasi selama ini.
Ada hal-hal tak kasat mata dan berbahaya bagi Sasi yang Sasi sendiri tak menyadarinya. Dan lebih baik Sasi berada di rumah menjelang hari bahagianya. Meskipun itu juga tak menjamin Sasi aman seratus persen. Setidaknya jika Sasi ada di rumah, ibu bisa mengawasi apa.yang terjadi pada Sasi , dan dengan segera dapat mencari solusi jika ada masalah.
" Ya sudahlah manut ( menurut) ibu" akhirnya Sasi menyerah berdebat dengan ibu karena Tommy dan ibu terkesan mengeroyoknya.
" Gitu dong nurut. Kan tambah sayang.." bisik Tommy lalu mencium pipi Sasi lembut.
" Nanti ibu lihat mas..kebiasaan ih" Sasi mendorong Tommy menjauh. Tapi Tommy tak peduli, makin menempel ke Sasi.
" Nggak ada, ibu sudah ke dalam kok" Tommy tersenyum nakal. " Kita mau ke mana nih? Sebelum dipingit mas akan penuhi semua keinginanmu hari ini."
" Mau ke mall, nonton, main ke wahana bermain, mau belanja? Mas Boss siap melayani dan menuruti semua titah tuan putri Sasi " lanjut Tommy sambil menggenggam tangan Sasi.
Sasi tersenyum bahagia. Berbunga-bunga diperlakukan bak putri raja oleh calon suaminya yang tampan itu.
" Kita nonton saja dulu mas, terus nanti lanjut jalan-jalan. Lihat nanti saja mau kemana. " jawab Sasi senang.
" Oke..Siap berangkat sekarang sayang?" Tommy mengulurkan tangan ke arah Sasi. Gadis itu menyambutnya suka cita.
"Pamit ibu dulu ya?" Sasi mengajak Tommy menghampiri ibu yang sedang membersihkan taman dan halaman.
" Bu, Saya ajak Sasi jalan-jalan ya? Sebelum dipingit dan nggak boleh kemana-mana." ucap Tommy sopan di depan ibu.
" Iya...hati-hati ya..Puas-puasin biar nggak pengen kabur pas dipingit.." ibu tertawa. Mengingat Sasi yang tadi mati-matian menolak dipingit.
Sasi cuma mencebikkan bibirnya. Tommy memandangnya gemas sambil tersenyum.TaK lama deru mobil Tommy sudah terdengar meninggalkan halaman rumah sasi.
Sepanjang perjalanan mereka saling menggoda dan bercanda. Seakan tak ada beban pikiran sama sekali.
" Habis gini puasa seminggu lo mas. Kuat nggak?" Sasi mengerling menggoda Tommy.
" Kamu sendiri kuat ngga, ga ketemu masmu yang ganteng ini seminggu? Pasti bakalan kebayang-bayang pas lagi kissing." Tommy menjawab vulgar.Membuat Sasi langsung merona wajahnya.
" Mass...mesti ini. Yang diingat pasti masalah ituù terus" Sasi menggerutu kesal menutupi rasa malunya.
"Aku sih nggak malu ngakuin kalau aku bakalan kangen banget sama pacarku yang cantik ini" Tommy menarik pelan hidung mancung Sasi. " Makanya nanti dipuas-puasin ya...biar seminggu nanti gak kepikiran terus.." Tommy berbisik di telinga Sasi.
Sasi langsung melotot " Apanya yang dipuas-puasin?" dengusnya dengan wajah memanas. Ish belum apa-apa Sasi sudah terbayang yang iya-iya...Aduh!
Tommy tertawa nakal. Senang sekali melihat wajah Sasi yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
" Tuh kan..pasti sudah membayangkan di kiss sama boss ganteng...hahhaaha.." Tommy makin menggoda Sasi.
" Maasss....! " Sasi berteriak sambil memukul lengan Tommy.
__ADS_1
" Aduhh..duh...kok dipukul sih? Dicium aja sayang...biar sama-sama enak?" Tommy makin tak tahu malu menjahili pacarnya itu.
Sasi semakin blingsatan salah tingkah. Akhirnya cuma menutup mukanya sambil tertawa-tawa malu. Melempar pandangannya ke samping jendela. Tak berani menatap wajah Tommy yang masih terus menggodanya.
" Ciee..calon pengantinnya malu..." Tommy terus tertawa.
Sasi tak menggubris Tommy karena sudah terlalu malu, malah memasang headset pura-pura tak mendengar Tommy. Dan memejamkan matanya. sambil menyandarkan kepalanya di jok.
Melihat itu Tommy tersenyum tanpa suara, meminggirkan mobilnya pelan ke tempat yang agak leluasa. Lalu membuka seat belt dan langsung menyambar pipi Sasi .
Sasi yang tak menyadari perbuatan Tommy karena asyik melamun langsung terlonjak kaget. Ketika tiba-tiba saja benda kenyal dan dingin itu sudah mendarat telak di pipinya.
" Mass!" pekiknya sambil menoleh. Dan tentu saja secara otomatis bibirnya malah menempel pada bibir Tommy yang masih berada di tempatnya setelah mencium pipi gadis itu.
Tak membuang kesempatan Tommy langsung menyambar benda tipis kenyal berwarna merah alami itu. Memagutnya lembut sambil memejamkan mata. Menyesapnya dan mengulumnya dalam dan lama.
Sasi langsung lemas. Tak bisa menghindar lagi karena tubuhnya yang masih terlilit seatbelt sudah dipepet Tommy sedemikin rupa hingga makin tak bisa bergerak selain pasrah dengan perlakuan kekasih tampannya itu.
Tommy membiarkan Sasi menarik nafas sejenak sambil melepaskan seatbelt Sasi , lalu meraih tengkuk dan pinggang gadis itu untuk direngkuhnya kembali. Melanjutkan pergulatan mulut dan seisinya hingga menggemakan suara decapan dan desah nafas mereka di mobil itu.
" Sasiii...sasiii...ahh...Sasiii... Sayang..." hanya itu yang terdengar di sela desahan keduanya.
" Mass...Ahh...emmp...!" Suara Sasi hampir tak terdengar karena selalu ditingkah belitan bibir dan lidah Tommy yang rakus memangsa Sasi.
Gadis itu hanya mampu menggapai pundak Tommy dan memeluknya erat. Membalas setiap serangan Tommy yang tanpa ampun dengan godaan nakal. Membuat Tommy makin menggila, menggeram menahan hasrat yang sudah sampai di ubun-ubun kepala.
" Sayaaang....ahh..jangan menggoda begitu ...bisa mati boss dipelukanmu...hhhahhh!" Tommy melepas ciumannya setelah mereka hampir kehabisan nafas.
Tommy memajukan wajahnya mendekat lagi. Tapi Sasi mendorong dada Tommy menjauh.
" Nanti ditangkep satpol PP" bisik Sasi sambil tertawa. Lalu memberikan kecupan panjang dan lama ke bibir Tommy untuk memberikan ketenangan pada kekasihnya yang sudah terbakar hasrat itu.
Tommy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Merasa gila jika sudah menyentuh gadisnya itu. Seakan tak rela melepasnya lagi. Dikecupnya kening Sasi lembut. Memasangkan seatbelt Sasi lagi, lalu memasang kembali seatbeltnya sendiri.
Duduk dengan tenang di kursi kemudi. Memejamkan mata sejenak hingga nafasnya kembali normal. Wajah tampan itu tampak merah merona. Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Tommy.
" Itu cicilan pertama buat bekal seminggu." Desah Tommy .
What? Sasi melongo. " Jadi ada berapa kali cicilan sampai lunas?" Tanya Sasi. Tubuhnya langsung meremang.
" Hmmm...nggak tahu. Pokoknya sampai puas." gumam Tommy tanpa menoleh lagi. Fokus mengemudi dan menatap ke depan . Tak berani menatap pemilik suara mendayu itu. Takut tergoda lagi dan langsung minta cicilan ke dua...Haiss!
Sasi tertawa melihat tingkah Tommy. Tampak sekali lelaki itu begitu menahan diri untuk tidak melihat wajahnya.
Sasi ingin menggoda calon suaminya itu. Tapi takut Tommy benar-benar tergoda dan kembali menyerangnya seperti tadi. Jadi diurungkannya niatnya itu, tertawa lirih sambil menatap penuh cinta lelaki tampan pujaan hati. Euww...jomblo go out. Biar gak pusing gegara kepengen...
Sampai di mall tempat gedung bioskop, Sasi dan Tommy segera mencari film.yang hendak mereka tonton.
Tommy memilih film romantis yang loketnya baru saja dibuka. Sasi menurut saja.
" Kamu duduk manis princess, biar mas yang beli tiket sama makanan. Tommy mengantar Sasi duduk di kursi tunggu, mencium pucuk kepala gadis itu dan meninggalkannya untuk membeli tiket.
__ADS_1
Sasi memandangi Tommy sambil senyum-senyum sendiri. Lelaki yang di kantor di panggil pak boss dan selalu bertampang dingin, jutek , dan bermulut pedas pada anak buahnya yang melakukan kesalahan itu jadi berubah 100 persen saat bersamanya.
Tak jarang dilihatnya wajah Tommy memerah mendengar sedikit pujian ataupun rayuannya. Pria itu jadi murah senyum, lembut dan tak jarang bersikap manja dan kolokan jika ada di dekatnya.
Dan yang paling membuatnya berdebar tak karuan, pria sedingin kulkas itu ternyata adalah pria mesum yang selalu membuatnya panas dan gerah saat hanya berdua dengannya...Ishh!
" Hayooo...pasti lagi mbayangin yang iya..iya...sampe merah gitu mukanya" Tommy mengejutkan Sasi yang sedang melamun.
" Iya...sama.kamu" bisik Sasi di telinga Tommy. Membuat lelaki itu blingsatan tak karuan. Tak menyangka Sasi malah membalas menggodanya.
" Pulang aja yuk!" geram Tommy spontan sambil duduk di menempel di sebelah Sasi.
" Hah?" Sasi menganga tak mengerti.
" Habis kamu godain mas gitu. Mas jadi pengen inih.." Desis Tommy.
Sasi tergelak sambil menyembunyikan wajah di lengan Tommy.
"Baru segitu sudah mabok mas, gimana kalau aku all out menggodamu?" Sasi tertawa lagi.
Tommy mendesah pelan sambil menyandarkan tubuh di sofa ruang tunggu yang empuk..Kepalanya terkulai lemah di sandaran sofa. Sasi makin tergelak melihat tingkah Tommy yang menggemaskan.
" Yuk ah..masuk! Biar pikiran fokus ke bioskop, bukan malah mikirin yang lain kemana-mana.." Sasi menarik tangan Tommy . Lelaki itu mengikuti langkah Sasi masuk ke gedung bioskop.
Tommy langsung menuju barisan paling belakang dan mengambil tempat duduk di pojok.
" Ehh..sesuai nomor gak mas? " tanya -Sasi.
" Sudah duduk aja, mas sudah booking sederet. Gak bakalan salah bangku." bisik Tommy
Sasi menatap Tommy sesaat lalu menggeleng. " Boss sombong.." gumam Sasi.
Tommy cuma meringis mendengar gerutu Sasi.
" Biar enak. Ga ada yang ganggu. Ga ada yang berisik atau kepoin kita" bisik Tommy di telinga Sasi.
Gadis itu bergidik merasakan bibir Tommy yang menempel di telinganya. Dasar boss mesum. Bisa saja curi-curi kesempatan.
Tommy tertawa lirih melihat Sasi salah tingkah. Dia lalu duduk dengan tenang di kursinya sendiri.
Tak lama lampu gedung mulai dimatikan menandakan film akan segera diputar. Tommy melirik Sasi sekilas sambil tersenyum. Tangannyasegera saja meraih dan menggenggam jemari Sasi dengan lembut.
Sasi menatap Tommy dan membalas genggaman tangan kekasihnya itu erat. Adegan selanjutnya silakan bayangkan sendiri sesuai genre film yang sedang ditonton pasangan kesayangan kita. Romantis....
***********
Reader tersayang, thanks banget buat dukungan koin, poin , vote,, like dan komen kalian'. Sungguh jadi mood booster buat author untuk rajin up date.
Tapi sayang author tetep.manusia yang gak cuma hidup di dunia halu tapi juga di dunia nyata...hiks...hari ini author mau pamit off 2 hari ya...soalnya mau nyunatke ( mengkhitankan) makhluk imut peliharaanku...hehehe...yang mau buwuh atau mbecek ( kondangan) monggo ditransfer saja lewat vote, koin dan poin....ditunggu...
Happy reading....
__ADS_1