Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#AdaYang Mengawasimu, Sasi


__ADS_3

Mbah Ageng merasakan ada suatu kekuatan yang mencoba mengganggu Sasi lagi. Karena itulah lelaki tua itu berusaha menyibak tabir rahasia jiwa Sasi. Namun ternyata orang tua itu belum juga menemukan dengan jelas apa yang dicarinya.


Tommy menyadari itu. Jadi dia berusaha menenangkan Sasi yang mulai gelisah mendapat tatapan menghujam dari mbah Ageng.


" Maaf mbah, sebenarnya kami bertemu seseorang yang mirip dengan Turangga Seta. Dan namanya adalah Rangga. Mungkin mbah kenal dia. Dia adalah putra dari Sinuwun Raja.. Dia seorang pangeran mbah." Tommy mencoba menjelaskan yang jadi kekhawatirannya.


Mbah Ageng mengangguk-angguk. Kini mata batinnya mulai bisa mengerti apa yang terjadi pada Sasi.


Lewat mata Sasi mbah Ageng bisa meihat orang yang sudah membuat hidup mereka tak tenang belakangan ini.


Sementara Sasi makin menempel ke tubuh suaminya.


" Serem banget sih mas, mbah itu lihat aku sampai segitunya." Sasi berbisik di belakang punggung suaminya.


Tomy tersenyum dan menggenggam erat tangan Sasi.


" Percaya sama mas, mbah Ageng baik dan sangat mempedulikanmu sayang. Dan dia bisa membaca isi hatimu, jadi jangan berpikir buruk tentang mbah, dia tahu.." Tommy malah menakut-nakuti Sasi dengan jahilnya.


Sasi langsung mengkerut, pasalnya dia memang tidak suka dan selalu berpikir buruk pada semua yang disebut dukun, paranormal dan sejenisnya, termasuk mbah Ageng. Tommy malah tersenyum-senyum geli.


" Tom, kamu itu ternyata jahil juga ya? Sudah tahu istrimu takut sama mbah, kok malah kamu takut-takuti?" Mbah Ageng terkekeh-kekeh.


Tommy tertawa. " Maaf mbah, soalnya saya gemes banget. Sudah saya bilang mbah itu baik, nggak percaya juga. Apa saya ceritakan saja ya mbah, semua yang sudah mbah lakukan untuk melindungi istri saya yang cantik ini?" Tommy mencubit lembut hidung Sasi.


Sasi tersipu-sipu mendengar Tommy menyebutnya cantik. Cerita apa? Memang apa yang sudah orang tua itu lakukan buatku? Memangnya apa yang sudah terjadi padaku?


Jangan bilang itu hal-hal gaib atau magic. Karena aku sama sekali tak akan mempercayainya. Sasi bergumam dalam hati sambil menatap suaminya. Meminta penjelasan akan kata-kata yang sudah diucapkannya baru saja.


" Sudah lah Tom, istrimu tak akan mengerti apa yang akan kamu ceritakan." mbah Ageng berkata kepada Tommy seakan tahu isi hati Sasi.


Tommy merasa bersalah pada mbah Ageng. Seakan Sasi tak mengakui pengorbanan mbah Ageng. Namun Tommy juga sadar bahwa istrinya itu tak pernah menyadari bahwa berkali-kali dirinya terjebak di alam gaib bersama makhluk tak kasat mata bernama Turangga Seta itu. Dan mbah Agenglah yang berjibaku menyelamatkannya. Mengusir dan menjauhkan Rangga darinya.


Bagi Sasi semua hanyalah mimpi dan bunga tidur belaka. Dan saat ia bangun semua akan segera dilupakannya. Memang untuk mimpinya bertemu Rangga Sasi merasa terganggu, namun itu tak membuatnya berpikir tentang hal-hal di luar nalar. Melainkan menganggap itu gangguan psikologi yang bisa diselesaikannya melalui konsultasi psikologi, bukan dengan hal-hal supranatural.


Mbah Ageng memahami pikiran Tommy. Diapun sangat mengerti kondisi Sasi yang terlalu polos dan logis dalam menghadapi hal-hal gaib.


" Sudahlah Tom. Mbah tidak apa-apa. Mbah kan sudah bilang setiap orang berbeda dalam menanggapi hal-hal seperti itu. Sekarang mbah mau tanya sama Sasi, apa akhir-akhir ini kamu masih sering didatangi Rangga nduk, maksud mbah dalam mimpimu?" Mbah Ageng bertanya lembut dan hati-hati.


" Tidak mbah. Tapi dia menemuiku di alam nyata sebagai Rangga yang lain." Sasi mulai berani menatap mbah Ageng.


Mbah Ageng tampak menerawang. Semua masih jadi misteri. Apakah Rangga ini masih ada hubungannya dengan Turangga Seta? Orang tua itu mengelus puncak kepala Sasi.


Mbah Ageng memang belum melihat ada hubungan jelas antara dua Rangga itu. Namun mata batinnya yang terlatih bisa merasakan hawa jahat melingkupi Sasi. Sesuatu yang menurut mbah Ageng akan mengganggu kehidupan rumah tangga yang baru dijalani Tommy dan Sasi.


" Sasi, pesan mbah , kamu banyak-banyak berdoa, sabar, menurut sama suamimu. Apapun yang terjadi jangan sampai meninggalkan hati nuranimu. Dengarkan hatimu. Kalian saling mencintai, mbah yakin cinta kalian yang kuat akan menjaga pernikahan kalian selamanya."


Sasi menatap mbah Ageng haru. Entah mengapa kata-kata orang tua itu mampu menembus relung hatinya.


Sasi menggenggam erat tangan Tommy. Keduanya saling menatap tanpa bicara.

__ADS_1


" Baik mbah, terima kasih atas nasehatnya." ucap lirih Sasi.


" Sebelum kembali bekerja, kamu bisa datang ke sini Tom? Mbah ada yang ingin dibicarakan." tutur mbah Ageng saat mereka berpamitan pulang.


" Baik mbah, besok malam saya datang. Nuwun, kami pamit mbah." Tommy mengakhiri kunjungan mereka. Pria itu meraih pinggang istrinya dan berjalan keluar dari rumah tua itu.


Sasi tak pernah jauh dari suaminya selama mereka berada di rumah mbah Ageng. Tommy yang sangat memahami pikiran istrinya pun berusaha membuat Sasi nyaman dengan selalu menggemggam erat tangan istrinya, merangkul atau memeluk istrinya memberi ketenangan.


Tommy berharap dengan mengajak Sasi ke rumah mbah Ageng, Sasi sedikit demi sedikit akan mulai mengenal dan mempelajari ilmu batin. Mangingat Sasi selalu saja dilingkupi hal-hal diluar nalar. Namun rupanya masih jadi tugas berat untuk Tommy karena Sasi seolah menutup diri untuk hal-hal yang tidak bisa diterima nalar alih-alih belajar tentang itu.


" Mbah maafkan Sasi, sebenarnya istri saya bukan orang sombong yang tak tahu terima kasih, mbah pasti bisa lihat sendiri kebaikan dan kemurahan hati Sasi, tapi ilmu batinnya yang dangkal tidak bisa mengetahui begitu banyak pengorbanan mbah untuknya".


"Maaf mbah dia masih saja menganggap apa yang dialaminya di alam gaib adalah sekedar mimpi. Saya juga bingung mau menjelaskan, bagaimana menjelaskan kalau dia sama sekali tidak percaya dunia lain mbah?"


Tommy merasa perlu memohon maaf atas sikap acuh Sasi pada mbah Ageng malam itu. Dia menepati janji untuk datang memenuhi undangan mbah Ageng.


Tommy berpikir mbah Ageng pasti tersinggung dengan sikap Sasi, namun pria gagah itu lega sekali ketika mbah Ageng malah tertawa sambil menepuk-nepuk pundaknya


" Kamu tidak perlu merasa bersalah Tom, aku sudah belasan tahun menjaga istrimu sejak dia remaja dan belum mengenalmu. Jadi bukan saat ini saja dia tak mengakui bantuanku. Bahkan sejak dia masih bocah, anak itu tak pernah menganggapku. Padahal.kakek dan ayahnya sangat menghormati dan bahkan segan padaku. Istrimu memang istimewa...hahahha..." mbah Ageng makin keras tertawa.


Tommy tersenyum. Malah membayangkan istrinya yamg sedang ngotot mempertahankan pendapatnya bahwa dunia supranaural itu tidak ada.Dia memang istimewa mbah, dan keras kepala...Duh!


" Tom, mbah memanggilmu ke sini karena mbah merasa ada yang ganjil di sekitar istrimu. Mbah tidak melihat jiwanya dikuasai makhluk lain seperti saat itu. Ini lebih seperti , istrimu diawasi oleh orang lain. Tapi mbah sendiri belum yakin. Apakah orang itu manusia biasa atau makhluk tak kasat mata seperti Rangga."


" Mbah juga belum bisa meraba, apa maksudnya mengawasi Sasi. Apakah sama seperti Rangga yang menginginkannya sebagai istri atau ada maksud lain lagi. Mbah mungkin harus bertemu Rangga yang kamu dan Sasi ceritakan anak Raja itu dulu untuk memastikan . Karena mbah lihat Rangga yang ini tidak punya kemampuan lebih." Mbah Ageng mengelus jenggotnya sambil menerawang.


" Benar mbah, saya pernah melihat dia lewat mata batin karena penasaran ada hubungan apa orang ini dengan Turangga Seta. Dan menurut penglihatan saya, Rangga cuma orang biasa. Makanya saya tak begitu khawatir. Malah akhirnya saya abaikan saja mbah" Tommy menyampaikan apa yang ada di pikirannya.


Tommy memgerutkan kening. Melihat dan bersama Sasi setiap waktu ternyata tak membuatnya tahu seratus persen tentang Sasi. Mendekapnya setiap saat dan mengawasinya hampir dua puluh empat jam tak membuat Tommy mampu melindungi istrinya itu seutuhnya. Masih saja ada celah yang bisa mengganggu Sasi.


Dia memang istimewa. Harus berapa lama lagi agar aku bisa hidup tenang dengan istriku sendiri? Rasanya ada saja yang hendak mengganggu ketentraman rumah tangga yang baru seumur jagung ini. Tommy merutuk falqm hati.


" Kalau menurut mbah, apakah jiwa Turangga Seta sudah bemar-benar musnah dan kembali pada hakikatnya mbah?" tanya Tommy


" Harusnya begitu Tom karena saat itu jiwanya sudah tanpa daya. Tapi dalam beberapa kasus, jiwa yang masih penasaran kadang masih mengembara untuk menuntaskan rasa penasarannya. Jiwa yang belum ikhlas meninggalkan dunia ini akan mencari jalan untuk tetap dapat bertahan di dunia ini dan membalaskan dendam atau berusaha menjadikan keinginannya nyata0 . Itu yang mbah takutkan terjadi pada Turangga."


'Jadi jiwanya mungkin tidak bisa berdiri sendiri karena sudah kehilangan daya. Tapi dia mungkin bisa meminjam wadak orang lain. Begitu mbah? " Tommy meremang. Mungkinkah?


" Itu bisa saja Tom. Makanya mbah ingin ketemu Rangga secara kasat mata. Karena secara batin, mbah kurang bisa meraba , apakah Turangga memang merasuki Rangga" mbah Ageng tampak khawatir.


" Kebetulan sekali mbah. Hari senin besok saya akan ada pertemuan dengan Rangga. Kami akan membicarakan proyek baru yang ditawarkan Rangga untuk kami kerjakan. Bagaimana caranya? Apakah mbah akan datang ke pertemuan kami?" tanya Tommy.


" Ya , mbah akan datang, tapi tidak perlu datang secara langsung. Mbah akan meminjam wadak (jasad, raga) mu saja Tom. Jika benar Turangga merasuki Rangga, aku akan mudah mengetahuinya saat aku juga merasukimu ." mbah Ageng tampak berkerut wajah.


Tommy terkejut. " Mbah yakin? Bisa ya mbah, Manisia merasuki manusia lain. Setahu saya cuma roh yang bisa merasuki wadak kasar"


Mbah Ageng tersenyum. " Apa kamu lupa kalau manusia itu juga punya roh. Manusia terdiri atas jasad dan roh"


Tommy mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Sama seperti kita bisa menyentuh roh orang lain kita juga bisa merasuki jiwa orang lain. Dengan catatan jiwa kita lebih kuat. Ini berlaku jika kita memaksa masuk. Namun itu tak perlu jika kamu sadar dan mengijinkan jiwa lain manjing( merasuk) ke dalam jiwa kita. Dan kita akan ambil opsi ke dua. "


" Saya bersedia mbah. Tapi apa itu tidak membahayakan Mbah. Saya tidak ingin mbah celaka karena saya dan Sasi" Tommy tampak ragu dengan keputusan mbah Ageng


Orangtua itu tersenyum bijak. " Mbah ini sudah tua Tom. Mbah tahu yang terbaik. Jangan khawatir. Ini aman kok. Mbah pernah melakukannya dulu." mbah Ageng menenangkan Tommy.


" Syukurlah kalau aman mbah.Saya nggak mau membahayakan mbah . Saya sudah banyak menyusahkan mbah " Tommy menatap mbah Ageng tulus.


" Sudahlah, mbah ikhlas membantumu dan Sasi. Ini mungkin jadi tugas terakhir mbah. Mbah sudah lama tidak bersedia membantu sembarang orang lagi. Hanya yang benar-benar mendesak dan tak bisa ditunda saja yang masih mbah bantu. Sedangkan kamu dan Sasi sudah jadi tugas mbah yang tak bisa ditolak karena memang dari dulu mbah yang tangani. Jadi harus mbah tuntaskan sampai benar-benar berakhir baik. Kamu ndak keberatan kan bantu mbah?" tanya mbah Ageng tegas.


"Saya sama sekali tidak keberatan mbah.Apalagi ini untuk keluarga saya sendiri. Apa ada persyaratan yang harus saya penuhi agar mbah bisa manjing ke jiwa dan raga saya?"


" Tidak ada Tom. Kamu sudah punya dasar kanuragan yang kuat. Niatmu juga pasti tulus. Mbah kira itu sudah cukup. Tenanglah, ini hanya seperti mbah mensugestimu untuk menuruti perintah dari pikiran mbah beberapa saat. Jangan takut, ini biasa saja bahkan kamu bisa mempelajarinya jika mau" Mbah Ageng menepuk-nepuk pundak Tommy.


" Pulanglah Tom. Mbah sudah selesai bicara. Istrimu sudah menunggu. Dia khawatir mbah nggondol ( menculik) kamu. Hahaha...." mbah Ageng tertawa karena saat itu terlintas sekelebat wajah Sasi yang tengah gelisah menunggu suaminya pulang.


Tommy tertawa mendengar candaan mbah Ageng. Tapi sesaat kemudian berpikir, mbah tidak mungkin bercanda. Mungkin Sasi benar-benar sedang gelisah menunggunya.


Dan itu terbukti ketika Tommy tiba di rumah. Sasi sudah menunggunya di teras pendopo. Istrinya itu sontak berdiri dan menghambur ke arahnya ketika melihat mobilnya memasuki halaman.


Tommy bergegas turun dari mobil, dan Sasi segera menyambutnya dengan pelukan hangat.


" Eh...istri aku kangen ya...main peluk aja. Dilihat ibu sama Rumi tuh!" goda Tommy sambil membalas pelukan Sasi.


" Biarin, sudah sah ini. Nggak ada -yang melarang" cibir Sasi.


" Tapi ini tetap nggak baik sayang..." decak Tommy.


" Nggak baik gimana? Orang aku meluk suamiku sendiri" Sasi tak peduli..


" Nggak baik buat jomblo-jomblo yang ikut melihat. Kalau mereka kepengen dipeluk juga, minta siapa hayo....'"


Sasi tertawa sambil mencubit pinggang Tommy .


" Aww...ini nih yang bikin kangen terus, cubitan sayang terpedih di dunia...hahhaa..." Tommy ikut tertawa. Lalu merentangkan tangannya ke arah Sasi.


Seakan sudah saling memahami, Sasi melompat ke tubuh Tommy, bertumpu di pundak kokoh lelakinya itu. Dan Tommy menyambut istrinya, menggendong Sasi didepan seperti koala. Posisi favoritnya hingga ia bisa langsung menikmati buah paling nikmat di dunia lelaki. Yang selalu hangat dan memabukkan.


" Ehmmm...ehhheemm...uhuk..uhuk..." Kusno dan Rumi yang sejak tadi melihat mereka melongo menyaksikan adegan tak gendong kemana-mana itu. Kusno sampai terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri.


Tommy tak peduli, sudah asik menyusupkan wajahnya ke tubuh Sasi yang menempel di depannya. Ndusel-ndusel memang kegiatan paling menyenangkan yang jadi candu Tommy sejak mengenal dekat Sasi.


Beberapa kali hampir menabrak perabotan dan meja atau kursi karena Tommy tak lagi melihat jalan ke kamar. Sasi menjerit dan memekik tertahan sambil tertawa tapi tak hendak menghalangi hasrat suaminya.


" Mas turunin!" pekik Sasi.


" Emmmm...iya nanti di kamar...!" guman Tommy...


" Mas Kus, kapan kamu melamarku?" tanya Rumi manja

__ADS_1


" Besok Rum...bilangin makmu, aku mau segera kawinin kamu!" seru Kusno meradang. Jiwa mudanya meronta-ronta melihat pemandangan paling membangkitkan hasrat yang pernah dilihatnya.


Tommy...Sasi...kalian harus tanggung jawab, Kusno jadi kebelet kawin tuh...aduh!!


__ADS_2