Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#PSS Extra Episode 11.Restu


__ADS_3

Tommy duduk bersimpuh di lantai yang dingin. Sebenarnya dia tak yakin dengan apa yang akan dilakukannya. Dia hampir tak pernah menggunakan lagi kekuatan batinnya untuk melihat dan menyelami jiwa orang lain . Hal terakhir yang dilihatnya adalah Rani dan Rangga sebulan lalu, namun sebatas melihat raga , bukan ruh atau jiwa mereka. Itu pun secara tak sengaja dia melihatnya saat berziarah di makam mbah Ageng.


Tommy mengingat pernah masuk ke dalam jiwa Rangga yang kala itu sedang dirasuki Turangga Seta. Namun saat itu mbah Ageng masih bersamanya. Sedangkan sekarang dia sendiri. Apakah dia mampu melakukannya?


Tommy mendesah pelan. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelahan-lahan. Mulai memusatkan pikiran pada putri kesayangannya, Rani. Memohon kekuatan batin kepada Sang Maha Pencipta agar dapat menyelami jiwa anak gadis kesayangannya.


Tommy bersyukur saat tak lama kemudian wajah Rani mulai tergambar di depannya. Seperti layar lebar yang terpampang jelas. Tapi anehnya sosok Rani yang beraura putih berkilau itu terlihat tidak sendiri. Ada sosok lain yang menopang Rani di belakangnya. Siluetnya masih samar namun sosok di beakang Rani itu sama-sama menampakkan aura putih berkilau.


" Siapa dia Rani, sayang? Apa dia makhluk yang menguasai jiwamu?" Tommy bergumam sendiri. Ah tidak, jiwa yang dikuasai makhluk lain akan tampak gelap dan biasanya jiwa yang menguasai akan masuk ke dalam jiwa yang dikuasai.


Ini bukan seperti itu. Tommy seperti melihat pasangan jiwa Rani. Yang melingkupinya, melindungi dan membentenginya. Seakan menjaga Rani dari segala kejahatan dunia. Rani tampak bahagia dalam rengkuhan cahaya dibelakangnya. Siapa dia?


Tommy semakin dalam berdoa, memohon petunjuk dari sang kuasa kiranya siapa atau apa yang ada di belakang Rani saat ini. Pelahan bayangan samar di belakang Rani makin jelas menjelma. Cahaya terang menyilaukan terpancar dari wajah Rani dan orang yang ada di belakangnya. RANGGA !!


Tommy tersentak namun lemas kemudian. Apa ini jawaban dari semua kekacauan ini? Sayup-sayup Tommy mendengar suara gurunya yang selalu membuatnya tunduk dan hormat.


" Melihat dengan hati Tommy, apa kamu sudah lupa bahwa kemarahan adalah setengah dari kekalahan? Kemarahan hanya membuatmu tidak bisa berfikir dengan tenang."


Tommy menggelengkan kepalanya. " Mbah, apa ini takdir Rani?" Tommy menangis tergugu.


Ego dan akalnya sebagai manusia tak terima Rani berjodoh dengan Rangga. Namun mata hatinya bisa melihat dengan jelas, bahwa masa depan Rani adalah lelaki itu. Mata batinnya tak pernah salah bahwa Rani akan bercahaya, yang berarti hidup bahagia penuh kehormatan dan kemuliaan hanya dengan lelaki itu. Tommy tahu pasti apa yang tersirat dari penglihatannya tentang masa depan Rani baru saja.


Tommy membuang nafasnya pelahan lalu membuka mata. Beranjak meninggalkan kamar tempatnya membuka mata batin.


Di ruang tamu apartemen suasana masih tegang. Saat Tommy dan Sasi masuk kamar, Rangga bergegas menghampiri Rani yang masih terisak. Namun Raja dan Ratu segera menarik tangan putranya menjauh.


" Kamu mau apa? Kembali ke tempatmu! " Sang Ratu menjauhkan Rani. Mengacuhkan wajah Rangga yang memelas memohon.


" Cah ayu...kangmasmu sudah melakukan apa saja padamu?" Ratu bertanya lembut pada Rani.


Sebenarnya setelah tahu Rani dan Rangga saling cinta, Ratu sudah senang saja hatinya. Rangga bertemu jodohnya, sangat cantik dan masih muda, terlebih mereka saling cinta. Namun sedikit khawatir melihat Tommy dan Sasi terutama Tommy yang tampak sangat membenci Rangga.


Bukan salah Tommy, pikir Ratu. Kalau aku punya anak cantik seperti Rani, lalu dirayu duda setengah tua seperti Rangga , mungkin akupun akan menolaknya mentah-mentah.


" Ibundaa...sudah jangan tanya macam-macam sama Rani. Saya yang salah, saya yang merayu dan menggodanya..." Rangga setengah menghiba menjawab Ratu. Tak tega Baby Rani nya makin takut tersudut.


" Diam kamu. Jangan menjawab kalau tidak ditanya. Sudah tahu salah, kenapa dilanjutkan? Malah diulang-ulang bawa anak gadis orang?" rutuk Ratu kesal.


" Saya cinta Rani ibunda...sangat mencintainya" bisik Rangga lirih. Menunduk dan masih berlutut di lantai.


" Apa Rani juga cinta sama Rangga?" Ratu menggenggam lembut jemari Rani. Menatap gadis itu yang pelahan mengangkat wajahnya.


" Rani juga mencintai Kangmas Rangga ibunda.." jawab Rani sambil melihat ke arah Rangga.

__ADS_1


Ratu tersenyum. Sasi yang baru keluar dari kamar mendengar semua percakapan mereka. Dalam hatinya sudah bergumam sendiri "Wah...kisah lama terulang kembali." Keluarganya akan mendapat menantu duda setengah tua lagi. Calon menantunya seumuran dengannya.


Sasi menunduk pada Raja dan Ratu lalu duduk di sebelah kanan Rani. Di sisi lain, Ratu juga masih duduk di sebelah kiri Rani.


" Sejak kapan sayang? Sejak kapan kamu berhubungan serius sama dia?" tanya Sasi.


" Sebenarnya sebulan lalu itu kami baru bertemu dua kali ma, setelah itu kami tidak pernah bertemu atau berhubungan lagi sama sekali. Baru tadi tak sengaja bertemu lagi.." jawab Rani jujur.


" Bagaimana hanya bertemu dua kali kamu bisa bilang cinta sama dia, kamu tahu apa itu cinta?" Sasi mencecar Rani. Aneh , pasti bohong bertemu dua kali langsung cinta begini.


Rani ingin menceritakan isi hatinya bahwa dia sudah jatuh cinta pada om ganteng itu puluhan tahun lalu. Tapi Rani merasa takut dan malu pada kedua orang tua Rangga.


" Rani suka sama kangmas sudah lama ma..." bisiknya di telinga Sasi. Membuat mamanya menutup mulut kaget. Ya ampun Raniii? Samar-samar Ratu mendengar ucapan Rani, namun pura-pura tak tahu. Wanita seumuran ibu Sasi itu tersenyum. Jodoh anakku di depan mata. Terima kasih Tuhan..


Tak lama berselang Tommy keluar dari kamar tamu. Wajahnya masih tidak enak dilihat. Namun kemarahan sudah terlihat surut dari wajah rupawan itu. Ratu tersenyum, pantas saja Rani begitu cantik, kelembutan Sasi dan ketampanan Tommy membaur dalam diri gadis itu. Sempurna, tak heran Rangga setengah mati tergila-gila.


" Bagaimana nak Tommy, apa kita bisa melanjutkan pembicaraan kita ?"


" Silakan sinuwun. Saya mendengarkan." Tommy menjawab enggan.


" Tindakan Rangga dan Rani menurut kami sudah melanggar kesusilaan. Jadi kalau menurut aturan adat leluhur kita, mereka ini harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Singkatnya agar tidak mengundang fitnah lebih jauh mereka harus menikah".


"Namun kami juga tidak ingin memaksakan Rani menikah jika Rani dan kalian orang tuanya tidak menginginkannya. Yang pasti kami mengaku bersalah dan siap bertanggung jawab terhadap Rani" Raja menjelaskan panjang lebar.


Tommy bimbang, sebenarnya apa saja yang sudah dilakukan Rangga dan Rani? Haruskah mereka menikah? Ahh...sial!! Lelaki itu sekarang menang. Mereka di atas angin. Dimana -mana saat ada masalah seperti ini, pihak perempuan lah yang merugi.


" Baiklah, saya rasa semua sudah jelas. Saya sebenarnya masih keberatan. Rani masih sangat muda untuk menikah. Namun kalau Rani sendiri berkehendak, saya bisa apa selain merestui mereka? Rani apakah kamu mau menikah dengan Rangga , sayang?" Tanya Tommy pada putrinya.


Raja, ratu dan Rangga tampak lega mendengar jawaban Tommy. Meskipun kelihatan sekali tidak rela, tapi Tommy juga tidak menentangnya. Rangga bahkan tersenyum lebar menatap Rani.


" Bagaimana Rani? Apa kamu mau menikah dengan Rangga cah ayu?" ibunda Rangga mengulangi pertanyaan Tommy.


Rani tampak ragu-ragu. Meskipun mencintai Rangga, Rani tidak menyangka akan secepat ini harus menikah. Tapi jika tidak menikah, bagaimana dia mengatasi rasa malunya karena kejadian tadi?


" Rani tidak tahu. Sebenarnya Rani belum ingin menikah. Masih ingin melanjutkan kuliah." jawab Rani mengeluarkan isi hatinya.


Raja tersenyum maklum. Calon menantunya itu masih sangat muda. Pasti masih belum mau terikat apalagi menikah. Rani pasti membayangkan setelah menikah akan punya anak dan tidak bisa bebas lagi. Terkungkung di rumah. Menjadi ibu rumah tangga.


" Begini saja Rani, bagaimana kalau sementara kamu dan Rangga bertunangan saja. Sambil kamu pikirkan dan kalian rencanakan sendiri kapan kalian siap menikah. Tapi kami minta jangan lama-lama karena kami juga punya kepentingan yang besar terkait pernikahan Rangga."


Raja memikirkan penyerahan kekuasaan dan penobatan Rangga menggantikan tugasnya sebagai raja. Semakin cepat Rangga menikah dan memiliki permaisuri, semakin cepat juga Raja melepaskan tanggung jawabnya sebagai raja dan menyerahkan tugas mulia itu pada satu-satunya putranya, Pangeran Harya Rangga Syailendra.


Tommy, Sasi dan Rani saling berpandangan. Tommy tampak pasrah, menyerahkan keputusan pada putrinya. Sasi pun juga sama berharap yang terbaik untuk gadis kesayangannya itu. Akhirnya melihat kedua orang tuanya tampak mendukungnya Rani pun mengangguk yakin.

__ADS_1


" Saya setuju bertunangan dengan kagmas..." Rani tersenyum menatap Rangga yang sejak tadi wajahnya sudah berbinar bahagia. Ohh my baby, akhirnya Tuhan memberikan aku kebahagiaan untuk merasakan indahnya saling mencintai dan saling memiliki.


Semua yang di dalam ruangan menarik nafas lega dan tersenyum bahagia, kecuali Tommy yang hatinya masih masygul. Entahlah. Belum rela Rangga menjadi suami Rani, atau tidak rela kehilangan Rani?


Sementara Bayu, jangan ditanya lagi. Pangeranku...bossku yang malang, setelah ini aku bisa hidup dengan tenang. Tidak lagi memikirkan jalan cintamu yang pilu. Akulah orang yang paling bahagia hari ini. Terima kasih Tuhan, sudah menjawab doaku. Pangeran sedih itu akhirnya mendapatkan cintanya Dua hati terluka itu kini akan saling mengobati dan bahagia.


Bayu rasanya ingin bersorak bahagia dan berteriak mengabarkan kelegaannya. Namun ditahannya di depan semua orang. Jangan sampai mereka tahu jika ini adalah ulahnya yang dengan licik menjebak Rani dan Rangga. Maaf semua...tapi ini demi kebahagiaan mereka bukan? Bayu lagi-lagi mengulum senyumnya...


" Puji syukur kepada Tuhan, semua selesai dengan baik. Secepatnya kami akan mengurus dan mengabarkan pelaksanaan pertunangan Rani dan Rangga. Tommy dan Sasi tidak perlu repot, kami yang akan mengurus semuanya." Ratu menggenggam tangan Rani dan Sasi bergantian.


" Rani, besok ibunda akan menjemput Rani dan mama Rani ya. Nanti ibunda akan jelaskan semua pada Rani. Nak Tommy dan Sasi , tidak keberatan kan?"


" Inggih ibu Ratu..." Sasi mengangguk. Tommy juga mengangguk.


Tak lama mereka meninggalkan apartemen Rangga. Ratu dan Raja bersama Rangga dan Bayu, sementara Rani bersama Tommy dan Sasi.


Berulangkali Rangga berusaha mendekati Rani, sekedar ingin mengucap salam perpisahan, namun tatapan tajam Tommy mengalahkan pedang yang terhunus, membuat pria tampan itu mundur teratur. Bersabarlah Rangga. Dia masih milik orang tuanya saat ini.


" Sabar boss, jangan cari masalah. Mundur selangkah untuk menang. Tahan dulu boss, sampai dia resmi menjadi milik boss seutuhnya." Bayu bergumam pelan. Rangga mengesah mendengarnya. Karena itu benar. Dia kini harus menahan diri.


Rani pun tak kuasa berbuat apapun. Tunduk mengikuti mama dan papanya yang mengapitnya seakan takut disambar pemangsa. Duh...Sasi dan Tommy, seperti kalian tak pernah jatuh cinta saja. Bagaimana rasanya cuma bisa melihat orang yang kita cinta tanpa bisa menyapa dan menyentuhnya?


Nikmatilah sakitnya menahan perasaan kalian, ini hukuman karena melanggar larangan orang tua , Rani. Dan ini juga untuk pengkhianatanmu atas persahabatan kita, Rangga. Tommy menyeringai, meskipun sudah memberi restu, rasanya masih ingin menghukum Rangga dan Rani lebih lama lagi. Ingin menyiksa mereka dengan kerinduan dan perpisahan beberapa lama lagi. Rasanya itu sebanding dengan ketidak relaannya menyerahkan Rani untuk Rangga.


Rangga akhirnya hanya bisa menatap punggung sang pujaan hati, menikmati riap rambut Rani yang sesekali berkibar tertiup angin dan bergerak melambai seiring langkah kakinya yang makin menjauh. Bersabarlah sayang, tunggu kangmas menjemputmu my baby....


" Kamu sengaja kan Bay mengajak ayahanda dan ibunda ratu ke sini? " Rangga menatap Bayu.


" Saya nggak akan minta maaf boss, iya saya sengaja. Saya sudah gemass setengah mati melihat boss seperti zombi setiap hari. Hidup tapi seperti mati. Dan Rani, lihat gadis itu. Tubuhnya makin kurus dan matanya seperti panda kebanyakan menangis. Biarlah dosa saya boss yang nanggung!" Bayu melengos malas.


Rangga tertawa terbahak-bahak lalu memeluk asistennya yang sudah melebihi saudaranya sendiri itu.


" Bayuu...Bayuu...aku nggak akan pernah melupakan jasamu. Terima kasih Bay, kamu adalah pahlawanku. Mintalah apa saja Bay! Aku akan mengabulkannya sebagai rasa terima kasihku..!"


Rangga memeluk erat Bayu. Asistennya itu meronta-ronta risih kala Rangga tak segera melepas pelukannya. " Boss, ini saya, bukan Rani. Lepas boss...lihat kanjeng raja berdua mengawasi kita!!"


Rangga tersenyum dan terpaksa melepas pelukannya pada Bayu. Asistenyya itu merapikan pakaiannya yang kusut akibat perbuatan Rangga. Dasar pangeran bucin! Rutuk Bayu dalam hati.


Raja dan Ratu mendecak bersamaan. " Anakmu kelihatannya begitu mencintai Rani Nimas..." Raja melirik istrinya.


" Kasinggihan ( kelihatannya benar) kangmas. Saya juga tidak pernah melihat Rangga sebahagia ini. Anehnya kenapa dia tidak pernah bilang kalau dia menyukai Rani. Juga tidak pernah cerita hubungannya dengan gadis itu. Bayu juga tidak pernah melapor tentang Rani."


Ratu mengerutkan kening penasaran. "Kita harus bicara banyak di rumah nanti Rangga, Bayu" Ratu mematap Rangga dan Bayu bergantian saat mereka sudah bersama di mobil.

__ADS_1


Rangga dan Bayu saling menatap. " Inggih ibunda" jawab Rangga. Apapun akan aku hadapi. Apalagi sekarang Rani hampir pasti jadi miliknya. Rasanya semua tak membuatnya gentar lagi.


__ADS_2