Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Tabir


__ADS_3

POV Rangga


Aku diundang Barata menghadiri Resepsi pernikahan putra pertamanya ,Tommy. Sebenarnya aku tidak mengenal Tommy dengan baik. Aku hanya mengenalnya sebagai anak dari Barata. Tidak pernah berinteraksi langsung dengan pemuda itu.


Tapi hubungan baikku dengan Barata selama bertahun- tahun membuatku sungkan menolak undangannya. Meskipun kami berbeda usia, bahkan dia lebih cocok kupanggil bapak, tapi Barata adalah sahabat yang menyenangkan buatku. Apalagi teman-teman kami sesama pengusaha rokok dan tembakau kota ini juga diundang dan sepakat hadir.


Beberapa kali aku bertamu ke rumah Barata , aku tak pernah sekalipun melihat Tommy. Hanya istrinya yang masih sangat muda dan cantik,Palupi serta dua orang putrinya yang ada di rumah itu. Kata Barata dua putranya dari istri pertamanya yang sudah meninggal, tinggal di rumah yang lain.


Barata sangat membanggakan putranya yang bernama Tommy itu. Dia bilang Tommy tak mau mengurus dan memegang perusahaan rokok miliknya dan memilih membuka sendiri perusahaan konstruksi sesuai passionnya. Dan memang membanggakan karena perusahaan yang dirintis sendiri oleh Tommy itu juga maju dan besar. Termasuk dalam perusahaan konstruksi terbesar di kota ini. Good!


Karena tak begitu kenal itulah aku sengaja datang terlambat. Datang saat acara bebas. Dan saat aku dikenalkan pada putranya, aku begitu terpesona pada menantunya, istri Tommy itu.


Sejak melihatnya pertama kali, aku sudah merasa aneh. Seakan ada dorongan dari dalam hatiku untuk terus mendekat pada istri Tommy itu. Ya...Sasi namanya. Begitu yang diperkenalkan Barata padaku.


Aku merasa sesuatu mendesak ke dalam dadaku. Menyesakkan dan membuatku berdebar. Aku seperti dirasuki sesuatu yang membuat adrenalinku terpacu saat melihatnya.


" Rangga!"


Tommy dan istrinya seakan melihat hantu saat aku berdiri di hadapan mereka. Mereka terkejut dan tampak pucat pasi. Keduanya bahkan menyebut namaku bersamaan sebelum aku memperkenalkan diri. Apa aku sepopuler itu sehingga anak Barata seperti sudah memgenalku? Padahal baru pertama kali aku bertemu mereka.


Tapi suasana ramai dan panggilan teman-teman se grup pengusaha, mengalihkanku dari rasa aneh dan keheranan serta tatapan aneh sepasang pengantin itu.


" Kamu cantik sekali" bisikku tak tertahan lagi saat aku dekat dengannya. Dia memang sangat cantik. Dan rasanya, tiba-tiba saja aku merasa sudah lama mengenal Sasi. Dimana? Entahlah. Yang jelas dia menguasai otakku malam itu.


Sasi tampak ketakutan saat aku mendekatinya. Bahkan dia langsung menghindar dan pindah dari sisiku.


Kenapa dia setakut itu padaku? Banyak hal berkecamuk di kepalaku. Kalau karena wajahku jelas tidak. Aku adalah salah satu pria tertampan di sekolah dan kampusku dulu. Apa aku pernah melakukan kesalahan atau kejahatan padanya? Itu lebih tidak mungkin! Aku bahkan baru pertama kali bertemu dengan Tommy dan istrinya. Kenapa dia setakut itu?


Aku sadar,mungkin dia canggung karena kami baru bertemu dan aku seperti sok akrab dengannya. Tapi aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku juga senekat itu mendekatinya. Seakan ada dorongan kekuatan lain dari dalam diriku untuk melakukannya.


Sepanjang acara, aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari Sasi. Ada dorongan kuat untuk selalu menatapnya. Aku merasa dia bersinar diantara semua yang hadir. Dia mengalihkan duniaku.


Aku bahkan tak peduli ketika sisi hatiku yang lain mengatakan bahwa dia istri orang. Karena sisi hatiku yang gelap, begitu saja mendambanya. Kenapa aku segila ini?


Saat Tommy begitu mesra memperlakukan istrinya aku merasa benci dan sakit hati. Aneh sekali. Apa yang terjadi dengan diriku? Aku tidak mengenal mereka berdua. Kenapa tiba-tiba saja aku merasa terikat pada keduanya?


Saat hari beranjak malam dan kedua mempelai berpamitan meninggalkan acara, aku merasa hatiku bagai diremas-remas. Tak terima. Seakan kekasihku direnggut dari sisiku. Perasaan gila macam apa ini?


Untunglah sebagian otakku masih waras. Sehingga aku tak melakukan hal-hal gila seperti menghantam wajah Tommy atau membawa Sasi melarikan diri dari suaminya itu , misalnya.


Aku seperti memiliki dua sisi akal dan hati. Satu sisi menyadari sepenuhnya siapa aku. Dan sebagai keturunan bangsawan yang terbiasa bersikap santun serta menahan diri, tak mungkin rasanya aku menginginkan istri orang lain. Itu mustahil.


Aku dan harga diriku. Bahkan entah sudah berapa gadis patah hati karena kuabaikan. Karena aku terlalu bosan dikejar-kejar dan diperebutkan. Sombong? Iya! Karena begitulah keadaannya. Bukan aku membual.


Siapa yang akan menolak pesonaku. Bangsawan kaya yang tampan. Semua yang diinginkan wanita ada padaku. Harta, kehormatan dan wajah rupawan. Siapa yang akan menolakku?


Jadi sisi akal warasku tak mungkin menerima kalau aku tertarik pada istri orang.


Namun malam ini seakan separuh hatiku dikuasai kegelapan. Ada sesuatu yang merasuk dalam dadaku dam membuatnya hampir meledak. Dengan begitu saja aku jatuh dalam pesona Sasi, sang pengantin wanita menantu Barata itu.


Begitu saja aku memujanya. Mendambanya setengah mati. Ingin memilikinya, ingin merebutnya dari suaminya! Bahkan sekarang sudah merindukannya padahal baru beberapa saat lalu dia pergi.


Ini sungguh tak masuk akal dan aneh sekali.


Aku mencoba mengalihkan pikiran gilaku demgan minum-minum bersama para kolega yang masih berkumpul di meja kami.


Beberapa sahabat kami sudah pamit pulang karena tak terbiasa minum minuman beralkohol atau takut pada istri mereka.


Namun kami yang biasa bebas masih asik bertahan disini. Makin malam suasana malah makin semarak. Ternyata masih banyak juga tamu Barata dan Tommy yang masih melanjutkan acara sendiri.

__ADS_1


Barata dan putranya itu tak tanggung-tanggung menjamu tamunya. Sepanjang malam kami di jamu dengan minuman berkualitas . Seakan tak ada habisnya, dilengkapi makanan ringan dan camilan yang datang silih berganti. Mereka bahkan membooking seluruh kamar di resort ini untuk tamu-tamu yang ingin menginap.


" Mas Rangga masih kuat?" tanya Barata saat tinggal aku dan dia di meja kami. Di meja lain masih ada beberapa orang yang sebagian sudah tertidur karena terlalu mabuk.


" Pak Barata silakan istirahat duluan. Sebentar lagi saya ke kamar" jawabku santai. Kepalaku sudah pusing. Tapi aku belum terlalu mabuk.


" Oke . Saya akan tunggu mas Rangga saja. Saya juga masih belum terlalu mengantuk "


Barata sepertinya sungkan meninggalkanku. Akhirnya aku berdiri. Aku sebenarnya ingin langsung pulang saja, tapi hari sudah terlalu larut. Lagipula aku tidak membawa sopir tadi. Kupikir tak ada salahnya menginap di resort ini. Daripada memaksakan diri pulang dalam kondisi mabuk.


.


" Mari kita istirahat. Saya antar ke kamar mas Rangga" Barata menunjukkan kamarku.


" Makasih Pak Barata. Selamat malam. Selamat istirahat" ucapku setelah kami sampai di kamarku.


Kamar yang lumayan bagus. Resort ini memang termasuk resort mewah di kota ini. Barata pasti sangat menyayangi Tommy hingga tak sayang mengeluarkan budget lumayan besar untuk pesta anaknya itu.


Kulepaskan pakaianku dan mengenakan bathrobe yang disediakan resort. Mandi air hangat dan tidur mungkin akan menghilangkan penat dan pikiranku yang gila.


Tetapi alih-alih pikirran gila itu menghilang, aku malah membayangkan Sasi lagi saat air shower yang hangat mengguyur tubuhku.


Cepat-cepat kuselesaikan mandiku. Segera berbaring di ranjang dan berusaha memejamkan mataku yang sudah berat.


Sasi...Sasi...dan aku tertidur dengan memeluk bayangan perempuan itu. Istri orang yang baru aku lihat untuk pertama kali namun langsung mebuatku setengah gila karena mendambakannya.


Pagi menjelang...


Suara deburan ombak menyambut telinga Sasi saat sadar dari tidur lelapnya. Aroma laut menyeruak memenuhi penciumannya.


Tubuhnya yang polos masih terasa penat di sana-sini. Tadi malam memang bukan malam pertamanya dengan Tommy, tapi Tommy tampak seperti singa yang selalu ingin menerkammya sepanjang malam. Aarrgh!


" Mas..kamu ngga capek apa, terus-terusan...gitu...?" Sasi mengusap-usap kepala Tommy lembut, sesaat setelah mereka saling memuaskan dalam pergulatan panjang yang panas. Ssshh..! Tommy bergelung di pangkuan istrinya itu.


Tommy tertawa." Kalau yang ini ngga ada capeknya sayang...asal sudah on, berarti masih kuat...ahh...jadi on beneran ini sih..." desis Tommy sambil bangkit duduk menarik Sasi ke atas pangkuannya.


Sasi mendesah pelan.Menyesali pertanyaannya yang berakibat fatal, melelahkan namun menyenangkan sekaligus. Tak ada waktu untuk malu atau canggung karena suaminya itu sudah sibuk membenamkan wajah ke puncak bukit indahnya. Tommy begitu menikmati kegiatan favoritnya itu. ******* Sasi yang tak tertahan membuat lelaki itu kian larut dalam kenikmatan dunianya.


Geraman dan racauan mulut Tommy yang tengah memuja tubuh indah istrinya memenuhi udara kamar .


" Mas..."


" Iya sayang...emmm..."


" Mass...ahh..."


" Kenapa sayang...ohh...kenapa seluruh tubuhmu terasa manis sayang..."


Sasi tak menjawab. Karena Tommy sudah membungkam mulutnya dengan ciumannya yang selalu membuatnya mabuk kepayang.


Menyesap dan menelusuri bibir dan rongga mulut istrinya tanpa terlewat seinci pun. Mengeksplor keindahan sempurna yang dimiliki Sasi tanpa jeda.


Saat Sasi mulai kehabisan nafas, Tommy melepaskan ciumannya. Menatap istrinya yang tengah mencari udara sambil tersenyum penuh cinta. Mengecup singkat bibir Sasi yang memerah lalu melanjutkan petualangannya menjelajahi tubuh istrinya.


" Cantik banget sih istri aku..." bisiknya lirih,sambil membenamkan wajah di ceruk leher, naik ke ujung telinga lalu turun ke bahu dan dada istrinya . Tangannya bergerak merayapi punggung halus Sasi . Membuat Sasi serasa melayang di awan...gerah..!


Sasi yang sudah terbakar gairah melingkarkan tangannya ke bahu Tommy. Keduanya saling merengkuh , saling membelit , menautkan diri dan rasa tanpa jarak.


Sentuhan dan gesekan kulit tubuh mereka memercikkan sengatan listrik yang semakin lama semakin kuat dan meledakkan hasrat mereka dalam penyatuan cinta.

__ADS_1


Luruh dan jatuh terhempas dengan rasa bahagia yang membuncah setelah menikmati petualangan melenakan bersama kekasih hati.


" Sasiii....bagaimana bisa berhenti kalau rasanya selalu luar biasa seperti ini sayang...? Tommy meracau sambil mendekap tubuh istrinya.


Sasi cuma mengesah, mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal. " Emboh mas. Sak karepmu..."* bisik Sasi setengah terpejam (* Nggak tahu mas, terserah kamu).


Disurukkannya wajahnya ke dada kekar milik Tommy. Dan itu jadi pelepasan mereka entah yang ke berapa, Sasi tak sempat menghitungnya.


" Sudah selesai mengagumi ketampanan suamimu baby..?." Tommy yang tiba-tiba membuka mata mengejutkan Sasi yang sedang asik menatapi wajah suaminya sambil tersenyum-senyum sendiri .


" Jiah..narsisnya suamiku, untung beneran ganteng, termaafkan..." Sasi tersipu menutupi kegugupannya. Ditatap Tommy dengan pandangan lapar seperti ini selalu membuatnya salah tingkah.


" Bangun yuk, aku pengen jalan-jalan di pantai.." bisik Sasi lembut. Keduanya masih bergelung di selimut. Belum beranjak dari peraduan mereka.


Tommy menggeliat, bukannya bangun malah membelitkan tangan dan kakinya ke tubuh Sasi.


" Masih ngantuk sayaaang ....nanti agak siangan ya jalan-jalannya..?" tawar Tommy...makin erat membelit Sasi.


" Oke deh...mas lanjutin bobonya. Aku jalan-jalan sendiri gak papa, kalau siang panas mas... Kalau pagi gini kan enak, sejuk gak gerah. Atau aku ngajak Baskara aja boleh?" tanya Sasi.


" Ehh ngga boleh...iya iya mas antar.." Akhirnya Tommy bangun dan melepas belitan kaki dan tangannya dari tubuh Sasi.


" Dasar posesif...haha..." Sasi terkikik melihat Tommy langsung bangun dari tidurnya demi mendengar nama Baskara. Pria itu lalu berjalan santai ke kamar mandi tanpa sehelai benang di tubuh tegap dan kekarnya.


Haiss...Sasi menutup mukanya. Sejak kapan aku begitu memuja dan kecanduan pada tubuh lelaki itu? Ini memalukan sekali. Ia bahkan tak bisa menahan diri untuk selalu menyentuh dan menempel pada suaminya itu saat mereka dekat.


Tommy tersenyum nakal melihat istrinya tampak malu-malu memandangi tubuhnya.


" Sayaaang, bawain handuk buat mas ya..." seru Tommy beberapa saat kemudian dari kamar mandi.


Sasi mengenakan bathrobe lalu mengambil handuk di lemari. Membuka kamar mandi , Sasi mendapati Tommy tengah berendam di bathtube.


" Jangan lama-lama mandinya sayang...keburu panas.." Sasi meletakkan handuk di dekat wastafel.


" Kalau gitu bareng aja biar cepet." Tommy kegirangan.


Sasi mendecak tapi segera membuka bathrobe nya dan bergabung dengan Tommy di bathtube.


" Sini aku gosokin punggungnya biar bersih." Sasi meraih spons dari tangan Tommy. Menuangkan sabun dan menggosokkannya lembut ke punggung suaminya. Sesekali dikecupinya punggung halus itu membuat Tommy mendesis gerah.


" Sayaang...jangan menggoda. Nanti boss khilaf.." geram Tommy.


Sasi tertawa." Boss mah hobbynya khilaf terus. Coba semalam ,berapa kali khilaf..hah?" Sasi menggigit gemas pundak Tommy.


Tommy terkekeh. " Kalau semalam bukan khilaf lagi sayang..tapi kebablasan. Hahaha..." keduanya tergelak mengingat kegilaan mereka semalaman. Uhh! The power of pengantin baru..hehehe...


Sasi memeluk Tommy dari belakang sambil menggosokkan spons ke bagian dada dan perut Tommy. Dagunya bersandar di bahu Tommy. Tangannya bergerak lembut , berputar dan naik turun menggosokkan spons hingga dirasanya tubuh suaminya telah bersih .


Tomy memejamkan mata menikati usapan lembut tangan istrinya membersihkan tubuhnya. Namun begitu Sasi memeluknya dari belakang, tubuh Tommy langsung bereaksi keras.


Sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh punggungnya hingga membuat tubuhnya meremang seketika. Ditahannya hingga Sasi menyelesaikan gosokan spons ke tubuhnya.


Begitu Sasi mengangkat tangannya dari tubuhnya, Tommy bergerak secepat kilat mengangkat tubuh istrinya keluar dari bathtube menuju shower di ujung kamar mandi.


" Sekarag mas yang akan bersihin kamu gadis nakal. Berani-beraninya menggoda boss di kamar mandi.." geram Tommy ditengah ciumannya ke seluruh bagian tubuh Sasi.


Sasi tertawa-tawa geli dan juga merasa berhasil mengerjai suaminya. Tangannya melingkari leher suaminya.Tak lama kemudian tawanya hilang ditelan suara gemericik air shower yang ditingkah suara-suara aneh yang keluar dari mulut mereka.


Bisa ditebak,mereka batal jalan-jalan pagi karena sekarang sudah pukul dua beLas siang. Hari terlalu terik untuk jalan-jalan, tubuh terlalu lelah dan perut mereka terlalu lapar bahkan untuk sekedar berjalan ke resto resort di pinggir pantai.

__ADS_1


Tommy memesan layanan kamar untuk makan pagi merangkap makan siang mereka.


__ADS_2