Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#First kiss


__ADS_3

Sampai di club yang sudah ditentukan klien Tommy, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tommy segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Sasi.


" Makasih mas" bisik Sasi.


" Sama-sama sayang...yuk!"


Tommy menggenggam tangan sasi dan tak melepaskannya hingga tiba di meja yang telah mereka pesan.


Tommy dan Sasi duduk berdua di sofa di ruang khusus yang privat . Tak lama kemudian tamu-tamu Tommy pun hadir. Mereka terdiri dari dua orang pria dan seorang wanita seusia Sasi. Mungkin wanita itu sekretaris yang dikatakan Tommy.


" Selamat datang. Senang sekali bisa bekerja sama dengan pak Azwar."


" Santai saja broo..kita seusia. Panggil saya Azwar saja. Ini Reyno rekanku, dan Arsa asistenku." Azwar menyalami Tommy dan Sasi. Disusul Reyno dan Arsa yang juga bersalaman dengan Tommy dan Sasi.


" Siap mas Azwar. Ini Sasi asisten sekaligus ke..."


" Sekaligus sekretaris Mas Tommy" Sasi melanjutkan kalimat Tommy sebelum selesai.


Tommy tertawa sambil menatap Sasi. Sedangkan Sasi melotot lucu melihat Tommy.


Ketika mereka sudah duduk kembali Sasi berbisik. " Mas ih...gak penting tau, kaya gitu dibilang ke orang..."


Tommy terkekeh.." Iyaaa..maaf..lagi maruk nih punya pacar baru..."


Sasi spontan mencubit pinggang Tommy. Membuat Tommy juga spontan mengaduh.


" Kalian pacaran ya...sweet banget sih.." Arsa yang dari tadi memperhatikan tingkah Sasi dan Tommy nyeletuk.


" Nggak!"


" Iya!"


Tommy dan Sasi menjawab bersamaan tapi beda suara.Membuat mereka berlima tertawa bersama. Suasana semakin akrab.


" Oke. Kita langsung pada intinya saja ya...Agar cepat selesai lalu kita bisa cepet happy-happy. Bagaimana Tommy?" Azwar membuka percakapan serius.


Tommy mengangguk. Lalu memberi isyarat pada Sasi agar membawa berkas yang sudah disiapkan.


Sasi membuka map berkas di atas meja dan mempersilakan Azwar .

__ADS_1


" Silakan pak. Berkas sesuai dengan draft yang sudah kami kirim by email ke Pak Azwar. Dan sudah Pak Azwar ACC. " Sasi menjelaskan.


Azwar membuka dan meneliti dokumen yang diserahkan Sasi. Kemudian menyerahkannya kepada Reyno. Kembali Reyno memeriksa berkas kerja sama itu.


" Bagus, sesuai dengan draft yang dikirim. " Reyno mengangguk angguk dan memberi isyarat oke pada Azwar.


Arsa memberikan pulpen pada Azwar. Dengan penuh keyakinan, Azwar menandatangani dokumen itu. Disusul Tommy yang juga membubuhkan tandatanganya.


Keduanya kemudian kembali bersalaman.


" Sukses!" Azwar dan Tommy berseru yakin.


Acara dilanjutkan makan malam bersama dn terakhir yang membuat Sasi mulai khawatir. Seperti yang Tommy perkirakan, Azwar dan Reyno memesan beberapa botol minuman yang Sasi tak pernah tahu. Apakah minuman itu mengandung alkohol atau tidak. Karena Sasi memang tidak pernah ke club malam.


" Teman-teman. Maaf Sasi tidak bisa minum, nggak papa kan?" Tommy memahami kekhawatiran Sasi.


" Oh nggak papa. Sasi minum coktail yang non alkohol aja" Arsa maklum demikian juga Azwar dan Reyno.


" Kita rayakan kerja sama kita Tom.." Azwar mengangkat gelas yang sudah dituang minuman oleh Arsa.


Tommy Reyno dan Arsa juga mengangkat gelas nya. Demikian juga Sasi yang minumannya berbeda.


Waktu berlalu. Tak terasa beberapa botol minuman telah terbuka dan habis isinya. Suasana yamg semula agak kaku pelahan berubah santai dengan obrolan ringan dan penuh tawa.


Wajah empat orang yang meminum minuman dari botol itu mulai memerah. Termasuk Tommy yang duduk disebelah Sasi.


Tommy mulai bicara ngelantur.


" Sasi, kamu jangan mabuk , ya.."


" Enggak mas, mas tuh yang mabuk"


" Sayang, aku nggak mabuk, cuma minum sedikiiit aja, lihat nih gelasnya aja kecil gini. Mana bisa bikin mabuk? " Tommy mulai meracau.


" Iya dikit ,gelasnya kecil, tapi minum sepuluh gelas. Sama aja mas. Dih..sebel. Pulang yuk. Nanti keburu parah maboknya." Sasi berbisik dekat di telinga Tommy karena tidak ingin menyinggung klien mereka.


Tapi Tommy yang mabuk malah menggoda Sasi karena di pikiran Tommy yang setengah sadar saat itu Sasi sedang menciumnya.


" Sayang, kalau nyium jangan tanggung di telinga sama pipi. Yang ini juga dong.." Tommy menunjuk bibirnya sendiri. Mengundang tawa tiga orang mabuk lainnya. Sasi semakin kesal.

__ADS_1


" Ih...siapa yang nyium mas?" Sasi memprotes racauan Tommy. Tapi sedetik kemudian sadar bahwa saat ini Tommy sedang tak sadar dengan pikiran maupun perbuatannya termasuk kata-kata ngelanturnya.


Daripada semua makin parah, Sasi akhirnya mengambil keputusan untuk membawa Tommy pulang.


" Mbak Arsa. Mohon maaf saya sama mas Tommy mohon pamit lebih dahulu. Kami tidak membawa sopir , saya takut Mas Tommy makin parah mabuknya. Bisa susah saya." Sasi bicara pada Arsa karena dari tiga orang kliennya itu hanya Arsa yang masih tampak waras meskipun dia juga minum.


" Oh silakan Sasi. Saya juga lagi nunggu sopir buat bantu jalan bos-bos saya ini. Kamu hati -hati ya.." Arsa melambaikan tangannya pada Sasi.


Dengan tertatih Sasi menuntun Tommy yang merlingkarkan tangan ke pundaknya.


" Sayaaang...kita mau kemana?" Tommy mulai meracau lagi.


" Ke luar angkasa!" jawab Sasi asal.


" Wahh..kita bulan madu ke bulan ya sas...kamu emang paling tahu maunya aku.." Tommy terkekeh-kekeh.


Mendengar ucapan Tommy , Sasi yang kesal jadi ikut tertawa. " Dasar bos gila!"


Sasi membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Tommy ke kursi penumpang.


" Sayaang..ini sudah di pesawat luar angkasa ya...?" Seru Tommy masih sambil tertawa-tawa. Rupanya minuman yang mereka minum tadi benar-benar membuatnya hilang akal.


Sasi tidak menjawab, gadis itu sibuk memasang seatbelt bos sekaligus kekasih tampannya itu. Tapi karena Tommy selalu bergerak-gerak Sasi agak kesulitan memasang seatbelt Tommy.


" Mas, diem dong. Mau pasang belt nih." Sasi memegangi tangan Tommy, lalu tangan satunya meraih tali belt dan memasang pengaitnya. Saat itulah Tommy tiba-tiba menarik tubuh Sasi hingga terjerembab diatas tubuhnya dengan posisi duduk di pangkuannya.


" Aahh..mas!" Sasi memekik terkejut. Tapi sesaat kemudian Sasi merasa tubuhnya melayang ketika Tommy meraih pinggangnya hingga Sasi tak bisa bergerak lagi. Tubuh Sasi menegang.


Tommy meraih tengkuk gadis itu hingga wajah keduanya bertemu. Tommy menatap sayu mata Sasi sebelum kemudian mendaratkan bibirnya ke wajah gadis itu. Menautkannya dengan lembut ke bibir gadis itu. Tommy begitu menikmati sentuhan itu hingga terdengar desahan kepuasan begitu dia melepaskan ciumannya.


" Sayang...Ternyata ini jauh lebih manis dan indah dari yang kuimpikan." bisik Tommy sambil menyandarkan kepalanya ke dada Sasi yang ada di pangkuannya.


Sasi membisu seribu bahasa. Tak tahu apa yang dirasakannya. Tubuhnya seakan melayang ketika Tommy menyentuhnya dengan begitu hangat dan lembut. Menyusuri bibirnya pelahan dan penuh perasaan. Seakan begitu menikmati dan tak mau berakhir begitu saja. Sasi tenggelam dalm kelembutan dan kehangatan sentuhan Tommy. Ahh...Sasi pun tak mau berhenti...


Ketika Tommy menyudahi ciumannya dan menyandarkan kepala ke dadanya, Sasi tak tau harus berbuat apa. Dadanya masih berdegup kencang. Oh my...bibirku tak perawan lagi...keluh Sasi .


Tapi tak lama terdengar dengkuran halus dari Tommy yang masih memeluknya. Tapi kini tangan Tommy terkulai lemah. Tertidur dengan posisi duduk sambil memeluk Sasi di pangkuannya.


Sasi tertawa sendiri. Segera turun dari pangkuan Tommy .Menyandarkan lelaki itu ke jok dan menurunkan sandaran Lalu kembali duduk di kursi kemudi dan menjalankan mobil keluar halaman club.

__ADS_1


__ADS_2