
Sore itu juga Sasi dipindahkan ke ruang rawat inap. Ibu dan Tommy masih menunggui Sasi. Sementara Baskara dan Barata pulang . Tommy meminta Baskara untuk mengambilkan baju ganti untuknya.
" Tommy sebaiknya pulang dulu untuk istirahat dan berganti pakaian. Ada ibu menunggu Sasi di sini. Jangan khawatir." kata ibu
" Saya tidak akan pulang sebelum melihat Sasi sadar sepenuhnya bu. Tolong ijinkan saya menemani Sasi" pinta Tomy pada ibu.
Ibu tersenyum maklum. "Baiklah kalau begitu. Malah enak, ibu ada teman ngobrol. Ibu cuma kasihan sama kamu Tom. Kamu kelihatan capek banget. Lagipula kondisi Sasi sudah stabil."
" Lebih capek Sasi bu..dia pasti lelah hati dan lelah badan " Tommy menatap sedih pada Sasi yang tampak tidur lelap. Nafasnya teratur namun wajahnya pucat.
Meskipun menurut dokter kondisi Sasi baik-baik saja, namun mengingat Sasi baru saja mengalami mati suri selama hampir tiga jam , dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut dan beberapa pemeriksaan lain untuk memastikan kondisi fisik maupun psikis Sasi. Apalagi sampai saat ini Sasi belum juga sadar setelah pingsan tadi.
Ibu mau makan apa, biar saya belikan?" Tanya Tommy sopan.
" Belikan makan apa saja Tom, asal menu Indonesia. Ibu nggak bisa makan menu yang aneh-aneh. " Ibu tersenyum.
Tommy juga tersenyum. " Baik bu. Nasi padang saja. Ibu suka?"
" Boleh." Kata ibu dibalas anggukan Tommy , lelaki itu kemudian keluar dari ruangan Sasi.
Ibu membuka pintu kamar memastikan Tommy sudah jauh, kemudian dengan tergesa mengeluarkan ponsel dari tasnya.
Calling Mbah Ageng...
" Sugeng sonten ( selamat sore) mbah, ini gimana mbah? Sasi kok ndak bangun-bangun.? Saya takut mbah. Tadi kata dokter Sasi sempat meninggal selama tiga jam." ibu tampak sedih dan cemas. Air matanya kembali berlinang
" Anakmu dibawa pergi mahkluk itu. Beruntung ada Tommy yang kebetulan juga sedang berada di alam bawah sadar, sehingga bisa aku arahkan menolong anakmu."
" Oalah mbah...kok kasihan banget anak saya ini mbah. Saya nggak tau lagi musti gimana? Apa sekarang Sasi masih diganggu mahkluk itu mbah kok dia kayanya betah banget tidur." ibu menangis meratapi nasib Sasi.
" Kamu harus bersyukur Sasi bisa kembali nduk. Kamu harus terima kasih sama kekasih anakmu itu. Perasaannya yang tulus pada Sasi menyelamatkan anakmu. Kalau tidak ada dia, mungkin anakmu tidak akan pulang lagi. Katut (ikut) sama lelembut itu."
Ibu Sasi menghapus air matanya. " Inggih mbah, Maturnuwun sanget. Trus meniko dos pundi ( ini bagaimana). Apa dibiarkan saja Sasi begini. Terus kapan dia bangun mbah?"
" Anakmu tidak apa-apa. Selama dekat dengan Tommy dia aman. Bakal mantumu itu ternyata punya aura yang sangat kuat. Lebih kuat dari aura mahkluk astral itu. Tapi karena tidak punya kekuatan batin, mahkluk itu masih bisa mempermainkannya. "
" Kira-kira Sasi kenapa ya mbah, sudah bebas dari jin itu,tapi kok belum sadar juga."
" Itu karena perasaan Sasi sendiri. Dia merasa tidak nyaman dengan keadaan sekarang. Jadi jiwanya seakan enggan bangun karena dalam tidur dia merasa nyaman. Hatinya merasa tenang. Tapi itu bahaya, karena pengganggunya bisa memasuki alam bawah sadarnya kapan saja. Dia bisa hilang lagi.."
" Waduh jangan sampai mbah. Takut saya...Terus saya harus gimana mbah?" ibu Sasi kebingungan.
" Sebisa mungkin suruh Tommy untuk berhubungan dengan Sasi agar Sasi mau bangun , tidak terlena dalam tidurnya."
" Waahh...mereka belum menikah mbah, masa disuruh berhubungan. Gimana sih mbah?" Ibu Sasi mengerut heran dan jengah.
" Hush! Kamu itu sembarangan. Siapa yang menyuruh mereka berhubungan begitu. Maksud mbah biar Tommy sering ngajak bicara Sasi. Menyentuh hatinya, berhubungan dengan jiwanya. Ngerti ora?"
" Hehehe...ngertos ( mengerti) mbah.." ibu terkikik . Malu menyadari pikirannya yang ngelantur.
" Tapi apa Tommy mengerti ilmu kebatinan begitu mbah. Mereka ini anak-anak milenial. Ngertinya ilmu internet. "
" Suruh saja dia konsentrasi menghubungi batin Sasi. Biar mbah yang bantu dia selanjutnya. Bilang saja itu untuk memancing reaksi psikis Sasi. Dia pasti lebih paham kalau dibilang begitu. Padahal aslinya sama saja alias podo wae. Ilmu psikologi dan ilmu kebathinan pada dasarnya sama. Cuma bahasanya saja jaman sekarang pakai bahasa asing.."
__ADS_1
" Inggih mbah, ngestoaken dhawuh. Kulo matur nuwun sanget. Menawi mboten wonten panjenengan, dados nopo anak kulo." ibu mengucapkan dengan tulus pada orang tua itu. ( Baik, saya laksanakan. Saya sangat berterima kasih . Kalau tidak ada mbah, jadi apa anak saya)
" Bukan saya nduk, semua karena perkenan Sang Penguasa Hidup. Biarpun usaha kita sampai sundul langit ( menyentuh langit) kalau Sang Maha Esa tidak mengijinkan ya pasti gagal. "
" Inggih mbah. Sekalian Badhe ngemutaken( mengingatkan) sekarang tanggal 15, kirimannya sudah masuk ke rekening mbah."
" Mbah sudah hampir setahun tidak ngecek bank nduk. Kamu ndak perlu tiap bulan ngirimi mbah uang. Mbah ini sudah tua. Hampir tidak butuh apa-apa. Sudah lama hidup. Tidak lagi punya keinginan kedonyan ( duniawi) . Kebutuhan sandang pangan juga sudah kamu penuhi."
" Tidak apa-apa mbah. Saya cuma melaksanakan wasiat dan amanat dari bapak dan suami saya almarhum. Nanti kalau tidak saya lakukan, saya tidak amanah, nanti pertanggung jawaban saya gimana?" ibu berkata halus dan sopan.
Sejak mertua dan suaminya masih ada, keluarga mereka setiap bulan selalu rutin mengirimkan uang kepada mbah Ageng. Sebagai cara berterima kasih dan membalas budi kepada mbah Ageng.
Meskipun orang tua itu tak pernah meminta, tapi keluarga mereka merasa punya kewajiban terhadap mbah ageng sebagai guru spiritual yang sudah sering membantu keluarga mereka. Dan ibu Sasi tetap melanjutkan amanat keluarga itu hingga sekarang.
" Yo wes terserah kamu. Mbah juga terima kasih karena keluarga kalian selalu memperhatikan mbah. Tapi jangan sampai memberatkan."
" Tidak berat mbah. Malah sangat ringan dibanding pengorbanan mbah menemani dan membela keluarga kami selama ini. Matur nuwun sanget"(terima kasih banyak).
" Iya sama-sama. Mbah juga ikhlas kok. Kalian sudah mbah anggap keluarga sendiri."
" Matur nuwun mbah. Maaf,Saya pamit dulu mbah. Ada Tommy." bisik ibu.
" Iyo. Ojo lali dongo yo nduk ( jangan lupa berdoa)"
" Inggih mbah pangestu. Terima kasih" ( Baik mbah, mohon doa restu)
Tommy mengetuk pintu dan membukanya pelahan. Tamgannya menenteng tiga paper bag bertuliskan nama restoran padang terkemuka di kota ini.
" Biar saya siapkan bu!" Tommy merasa sungkan.
" Sudah, ibu saja. Kamu duduk saja" Ibu lalu mengeluarkan isi paper bag dan menatanya di meja sofa.
Keduanya kemudian makan bersama sambil sesekali ngobrol. Ibu yang ramah dan perhatian membuat Tommy cepat menjadi akrab dan nyaman. Bahkan Tommy merasa menemukan kembali rasa cinta dan kasih sayang seorang ibu yang hilang sejak mamanya meninggal dunia.
Setelah makan, mereka melanjutkan mengobrol di sofa.
" Tomy tadi kenapa bisa pingsan?" ibu bertanya.
" Ya itu bu, saya tidak kuat . Tidak terima dan tidak percaya. Sedih banget waktu Dokter bilang Sasi sudah meninggal bu.. .Tiba-tiba gelap saja bu. Ternyata saya pingsan cukup lama."
" Tommy waktu pingsan merasa ada yang aneh nggak?" ibu mulai memancing Tommy untuk menggiringnya pada saran mbah ageng agar Tommy bisa menolong Sasi.
Tommy menatap ibu sejenak. Lalu menunduk sambil menceritakan pengalaman anehnya saat pingsan tadi.
" Sebenarnya ada bu. Tapi mungkin cuma mimpi atau halusinasi saya saja. Karena saya merasa dituntun seorang kakek-kakek untuk menolong Sasi bu. Lalu setelah membawa Sasi pergi, tiba-tiba saya sudah berada di IGD tadi bu."
" Kalau menurut ibu, itu bukan mimpi. Itu adalah pengalaman bathinmu. Jiwamu terhubung dengan Sasi karena kalian saling mencintai. Dan kamu berhasil menyelamatkan Sasi ?dengan keyakinan dan tekadmu, sehingga jiwa Sasi yang sudah jatuh bisa bangkit lagi."
" Saya kurang mengerti bu. Tapi saya memang sempat berpikir, kalau bisa saya akan menukar nyawa saya dengan Sasi agar dia bisa hidup kembali."
" Itu semacam sugesti psikis buat Sasi Tom. Energi positifmu menarik Sasi kembali .Ibu rasa kamu harus melakukannya lagi."
" Maksud ibu bagaimana? Tommy berpikir keras.
__ADS_1
" Dokter bilang kondisi fisik Sasi saat ini tidak ada masalah. Jadi kalau dia belum bangun juga mungkin itu berhubungan dengan psikisnya. Masalah yang sangat mengganggu hatinya."
"Masalah hati harus diselesaikan dengan hati. Ajaklah dia bicara dari hati ke hati. Dia kelihatan tidak sadar. Tapi alam bawah sadarnya pasti mendengarkanmu. Yakinkan semua baik-baik saja. Kalian baik-baik saja. Ibu yakin kamu bisa. "
Tommy mengangguk-angguk. Berusaha mencerna dan memahami apa yang ibu katakan padanya.
" Tom, ibu titip Sasi ya...ajaklah dia bicara. Besok pagi ibu ke sini lagi. Sekarang ibu pulang dulu ya..." ibu menepuk bahu Tommy lembut.
" Baik bu. Jangan kuatir, Sasi aman bersama saya. Ibu tenang saja beristirahat di rumah." Tommy menyalami ibu Sasi dengan takzim.
Ibu melangkah keluar dengan langkah berat. Sebenarnya tidak tega meninggalkan putri kesayangannya yang masih belum sadar. Tapi ibu harus memberi kesempatan Tommy mengajak Sasi bicara. Membiarkan Tommy bebas mengungkapkan isi hatinya pada Sasi tanpa riweh dan merasa canggung jika ibu ada disini. Membawa hati Sasi kembali.
Sepeninggal ibu, Tommy menutup dan mengunci ruang VVIP tempat Sasi dirawat. Dokter sudah melakukan pemeriksaan terakhir beberapa saat lalu, jadi tak ada lagi yang akan mengganggu waktunya berdua dengan Sasi.
Di kamar itu ada seperangkat sofa dan bed tambahan untuk penunggu pasien, tapi Tommy memilih duduk di kursi kecil di samping ranjang Sasi.
Tersenyum namun dengan perasaan sedih melihat wajah yang biasanya selalu merona jika bersamanya itu, kini tampak pucat dan lelah.
" Sayang, Sasiku, Pacarku yang cantik...ayo bangun. Nggak capek apa, tidur terus dari tadi? Kamu nggak pengen lihat mas bossmu yang tampan ini? " Tommy tertawa sendiri menyadari ucapannya yang menggelikan.
" Kamu lihat masmu ini sekarang kaya orang gila. Kamu nggak kasihan? Ganteng-ganteng gila...ck!" Tommy mendecak. Tak bisa membayangkan jika Sasi benar-benar pergi. Sekarang saja dia merasa hampir gila.
" Sayaang...maaf ya sudah membuatmu seperti ini. Aku pun benar-benar tidak tahu sayang. Kalau boleh memilih, aku pasti tidak mau lahir sebagai anak Barata. Tapi mau gimana lagi? "
" Cantiik, ibu bilang gak papa kok. Kita tetap bisa bersama. Tidak ada yang salah dan tidak melanggar adat ataupun norma agama.Meski mungkin akan jadi seperti judul FTV Iparku mertuaku..hahaha...." Tommy tertawa sendiri. Ia sudah tak peduli. Bukankah kata ibu dia harus terus mengajak Sasi bicara?
" Oh iya sayang...ini sebenarnya sudah lama mau kutanyakan...emm..saat kita di mobil sepulang dari ketemu klien di club waktu itu, apakah kita benar-benar ber...ciuman? Atau aku hanya mimpi? Aku sangat penasaran, tapi tak berani bertanya takut kamu malu terus malah ngambek...Tapi waktu itu rasanya sangat nyata..." Tomy mengulum senyum di bibirnya. Terbayang kehangatan dan kelembutan bibir Sasi. Hahh... Digenggamnya erat tangan Sasi dan diusapkan ke pipinya.
Terlalu meresapi kelembutan tangan Sasi di pipinya, Tommy tak menyadari mata Sasi pelahan bergerak-gerak dan terbuka.
" Kamu waktu itu mimpi mas...dasar mesum.!" Suara serak Sasi mengejutkan Tommy.
" Sayang..?"
Tommy menatap wajah Sasi yang tersenyum kepadanya.
" Kamu sudah sadar sayang? Aku panggilkan dokter ya.." Buru-buru Tommy memencet tombol panggilan dokter di sisi tempat tidur , lalu membuka kunci pintu kamar agar dokter bisa segera masuk.
Tangannya tetap menggenggam tangan Sasi. Lalu tanpa berpikir tiba-tiba menciumi seluruh wajah Sasi, kening , mata, hidung, pipi dan bibir dengan gemas karena terlalu gembira melihat Sasi sadar
Cup..cup...cup...cup...entah berapa kali hingga Sasi memekik.
" Mas..aku gak bisa nafas...!"
" Wah..mas...pasien bisa anfal lagi kalau gini!" Tommy dan Sasi menoleh ke arah suara dan mendapati seorang dokter dan perawat berdiri disana.
Tommy tersenyum kikuk. Mengusap tengkuknya sambil mundur memberi ruang dokter untuk memeriksa Sasi.Wajahnya merona. Demikian juga Sasi yang wajahnya juga jadi memerah tak pucat lagi...
" Sasi sudah sadar dokter!" seru Tommy malu-malu...
Dokter dan perawat itu menahan senyum. Segera memeriksa Sasi dengan seksama. Sementara Tommy dan sasi masih saling menatap penuh cinta.
Dunia hanya milik mereka berdua. Dokter dan perawat pun hanya boleh numpang, nggak boleh lama-lama.
__ADS_1