
Tommy duduk bersila di lantai kamarnya yang dingin tanpa alas. Tangannya tertangkup di depan dada mengambil sikap semedi. Bertapa.
Penyerahan diri dimulai. Membuang semua nafsu dunia. Menghempas kesombongan diri. Semua milikNya. Segala yang di dunia hanya dalam KuasaNya. Manusia hanya setitik debu tak berharga.
Ampuni hamba Yaa Sang Pencipta buana. Sungguh aku hanya ingin berserah PadaMu atas diriku sendiri. Aku tak sedikitpun berpunya, aku kosong dan hampa..aku hanyalah diri tak berharga tanpa perkenan dariMu...Semua kepunyaanku, kehebatan dan kemampuanku hanyalah atas izinMu. Semua hanya milikMu...
Tommy pelahan mulai merasa tubuhnya seringan kapas. Dan tak lama kemudian mata hatinya bisa melihat tubuhnya sendiri dengan pendar hijau di sekelilingnya.
Tommy makin tunduk berdoa. Menggambar wajah Sasi dalam ingatannya. Memanggil nama gadis itu dari dalam relung hatinya. Pelahan dan samar mulai terbentuk bayangan di depannya. Makin lama makin jelas membentuk sesosok tubuh yang begitu dikenalnya. Seorang gadis yang beberapa saat lalu dia serukan namanya.
Tommy merasa bergetar. Tak menyangka begitu mudah menemukan Sasi di alam bawah sadarnya. Rasa takjub memenuhi relung hatinya. Ini adalah pertama kali dia menggunakan kemampuannya tanpa pengawasan mbah Ageng.
Ternyata aku benar- benar punya kemampuan seperti ini. Ini adalah nyata. Hati Tommy berbisik takjub. Namun tiba-tiba sebuah suara yang berat berwibawa seakan menegurnya.
" Ojo nggumunan ( jangan mudah heran )!"
Tommy tercekat. Merasa bersalah karena sudah bersikap sombong dan membanggakan diri. Ampuni aku yaa Sang Empunya alam semesta. Bisik Tommy sadar. Kembali merendah dalam penyerahan diri seutuhnya. Kembali berkonsentrasi pada satu nama. Sasi...
Dalam penglihatannya, Sasi sedang berada di sebuah taman. Ini pasti taman yang dikatakan Sasi selalu jadi tempat pertemuannya dengan Rangga si makhluk biru.
Tommy merasa nyalinya menciut. Masuk ke alam lain tanpa perencanaan matang sana sekali. Tiba-tiba ragu dan bingung menyergapnya. Hatinya merasa gamang.
Apa yang harus aku lakukan jika bertemu Rangga? Apakah aku harus menyerangnya? Atau aku cukup melihatnya saja dari kejauhan? Bagaimana jika dia melukai Sasi? Apakah aku akan mampu menghadapinya seorang diri?
Tommy ingin menghubungi mbah Ageng, tapi bagaimana? Apakah dia bisa masuk dalam dunia alam bawah sadar dua orang yang berbeda?
Sementara Tommy sibuk berpikir, sekelebat bayangan biru menghampiri Sasi.
Tommy merasa gemetar. Baru kali ini dia melihat dengan jelas wujud Rangga. Kurang ajar sekali. Dia sangat tampan. Wajahnya sangat rupawan. Rutuk hati Tommy. Tubuhnya tegap layaknya ksatria perang. Pantas saja dia merasa percaya diri sekali mengganggu Sasi.
Tangan Tommy mengepal keras. Cemburu menguasai hatinya demi melihat Rangga menggenggam tangan calon istrinya. Berani-beraninya...
Apalagi tampak Sasi menurut begitu saja pada perlakuan manis Rangga. Darah Tommy seakan mendidih. Hampir saja melakukan serangan ke arah makhluk laknat itu ketika sebuah suara berat berwibawa mbah Ageng menegurnya keras.
" Bastomi! Kamu mau apa?" gertak.mbah Ageng.
" Dia kurang ajar sekali mbah. Berani sekali menyentuh Sasi!" geram Tommy. Kesal sekali rasanya apalagi melihat Sasi seakan tak kuasa menolak Rangga.
" Mbah kan sudah bilang, masuk medan perang dengan amarah, kamu sudah kalah setengah permainan Tom? Kamu dibutakan nafsu. Ingat! Penyerahan diri, pengendalian diri. Itu kunci kemenanganmu!" Suara mbah Ageng bergema di kepala Tommy.
Mata Tommy merebak. Menyadari betapa kerdilnya dia. Ilmunya ternyata sangat cetek ( dangkal) . Ditariknya nafas panjang sehingga udara segar memenuhi rongga pernafasannya.
Berkai-kali harus menyadarkan diri dalam kepasrahan dan penerimaan diri seutuhnya. Hingga akhirnya menemukan kembali dirinya yang sejati. Menyerahkan diri, merendahkan diri, memasrahkan diri, mengendalikan diri kembali seperti seharusnya.
__ADS_1
Tommy terus berbicara pada hatinya. Hingga ketenangan kembali melingkupi dirinya.
Saat itulah Tommy baru ingat. Dia sendiri yang meminta Sasi agar bersikap lembut dalam menghadapi Rangga, agar makhluk itu tidak bersikap kasar dan menyakitinya. Dan pelahan mencoba menyadarkan Rangga tentang hakikat dirinya yang tak mungkin bersatu dengan Sasi.
Tommy baru sadar, betapa buruk sikapnya tadi gara-gara cemburu buta. Hampir saja sikapnya membuat Sasi mungkin saja celaka. Tommy jadi merasa sangat menyesali sikapnya dan berterima kasih atas peringatan mbah Ageng.
Dengan hati berdebar Tommy terus mengawasi pergerakan Sasi dan Rangga. Pria itu sedikit lebih percaya diri mengingat ternyata mbah Ageng selalu mengawasi Sasi dan dirinya.
Untuk kedua kali saat ini, Tommy memusatkan konsentrasi pada pendengarannya. Apa yang dibicarakan Sasi dengan lelembut berwajah tampan itu? Hufft! Lagi-lagi rasa cemburu mengusik Tommy . Hingga terpaksa harus berkonsentrasi lagi dari awal.
Setelah beehasil menguasai dirinya, Tommy samar-samar bisa mendengar suara orang bercakap-cakap. Suara Sasi dan makhluk itu.
Ah kurang ajar! Bahkan suaranya sangat merdu terdengar. Suara besar namun lembut saat berucap pada Sasi. Tommy menarik nafas lagi. Tenang...Kendalikan dirimu Tom! Bisik Tommy pada hatinya.
" Kekasihku, apa kabarmu?" Rangga memggenggam tangan Sasi lembut.
Sasi berusaha melepaskan tangannya, namun Rangga makin erat menggenggam. Sasi tak berani lagi berkelit. Takut Rangga marah dan akan semakin menyakitinya.
" Rangga, maafkan aku. Sudah kubilang aku bukan kekasihmu. Aku sudah punya kekasih yang sangat aku cintai. Kami akan menikah empat hari lagi. Tolong, lupakan aku. Kita berteman saja ya?" bisik Sasi memohon.
Rangga menggeleng. " Tidak mungkin melupakanmu Sasi...Aku sudah bersamamu sejak lima belas tahun yang lalu. Kamu milikku. Kenapa kamu berpaling?" Wajah Rangga tampak sendu. Matanya berkilat marah, namun bercampur kesedihan mendalam.
" Maafkan aku Rangga. Aku tidak tahu kamu menungguku selama itu. Aku tak pernah mengenalmu. Bagaimana bisa kamu bersamaku? Aku mengenalmu baru beberapa saat terakhir. Itu pun saat aku sudah mencintai kekasihku. Bagaimana aku tahu kamu mencintaiku jika aku tak mengenalmu selama ini?"
" Kita akan menderita jika begitu caranya Rangga" keluh Sasi sedih.
" Aku tak peduli asalkan kita tetap bersama" keras hati Rangga.
" Jadi kamu ingin aku menderita bersamamu?" tanya Sasi.
Rangga terlihat bingung. " Tidak! Aku ingin kamu bahagia bersamaku"
" Tapi aku hanya bahagia saat bersama kekasihku. Bukan bersama kamu atau orang lain." Sasi hampir menangis mengetahui betapa keras kepala lelaki di depannya itu.
" Jangan menangis Sasi. Percayalah, aku akan membuatmu bahagia" gumam Rangga.
" Bagaimana bisa bahagia, aku saja selalu takut jika bertemu denganmu. Kita berbeda Rangga." bisik Sasi pelan.
" Jangan menikahi orang lain. Aku akan menikahimu" kata Rangga lagi.
" Aku tidak mau menikahimu. Aku akan menikahi Tommy!" seru Sasi.
Rangga menggeram marah. Matanya menatap penuh ancaman ke suatu arah. Tangannya mengepal kuat. Namun sesaat kemudian Rangga berdiri dan menghilang dengan cepat. Meninggalkan bayangan biru samar yang pelahan menghilang di depan Sasi.
__ADS_1
Di tempatnya duduk bersila dalam hening, Tommy sempat terkejut saat Rangga tiba-tiba mengarahkan pandangan padanya. Apakah makhluk itu tahu dia mengawasinya?
Tommy sempat melihat pancaran mata penuh amarah di wajah Rangga sebelum makhluk itu kemudian menghilang tanpa bekas.
Secepat kilat Tommy menghampiri Sasi yang sudah pucat pasi ketakutan.
" Sayang...kamu nggak papa kan? Dia melukaimu?" tanyaTommy khawatir sambil memeluk erat tubuh lemah Sasi.
" Mas Tommy?" Sasi sempat menatap wajah kekasihnya sambil tersenyum lega sebelum menghambur membalas pelukan Tommy.
" Aku takut sekali mas..dia memaksaku menikah dengannya!" Sasi menangis di pelukan Tommy.
" Jangan takut lagi sayang. Mulai sekarang mas akan selalu menjagamu. Mas nggak akan meninggalkanmu" bisik Tommy di telinga Sasi
" Mas janji ? Aku takut dia akan datang lagi dan membuktikan ancamannya menikahiku" isak Sasi lirih.
" Mas janji. Nggak akan aku biarkan makhluk jelek itu mengganggumu lagi!" geram Tommy.
" Ha? Makhluk jelek yang mana lagi mas, cuma Rangga itu saja yang selalu menggangguku selama ini." Sasi mengerut bingung. Apakah ada lagi yang mengikutinya selain Rangga? Dan jelek? Huh, yang tampan seperti Rangga saja aku takut. Apalagi yang jelek? Sasi bergidik ngeri.
"Ehmm..yaa..itu..maksudku si Rangga jelek itu..!" Tommy menggerutu. Yang benar saja Sasii..masa iya aku harus bilang si Rangga tampan itu? Rutuk hati Tommy kesal.
Sasi mengangkat wajahnya dan tersenyum geli. Melihat wajah Tommy yang cemberut lucu lalu mengusap lembut rahang Tommy.
" Ohh...ada yang cemburu rupanya...hahaha..." Sasi tergelak.
Tommy masih merajuk. Wajahnya melengos tak mau melihat wajah Sasi yang tertawa menggoda. Tapi tak lama lelaki itu membalas membelai pipi Sasi. Sudah tak merajuk, karena senyuman sudah menghiasi wajah tampannya.
Sasi menatap wajah Tommy dan membalas tersenyum.
" I love you cintaku... Aku nggak rela kamu disentuh orang lain. Aku akan melindungimu. Siapapun tak akan aku izinkan menyakitimu. Kamu hanya boleh bahagia denganku" Tommy memeluk erat Sasi.
Sasi tersenyum bahagia dalam dekapan Tommy. Senyumnya masih terbawa hingga dia bangun tidur pagi itu.
" Ah mimpi yang indah..." desah Sasi. Membayangkan kembali pertemuannya dengan Tommy di alam mimpi. Mimpi panjang yang seakan-akan nyata. Bahkan pelukan Tommy masih terasa erat di tubuhnya.
Sementara di apartemennya, Tommy merebahkan badannya ke ranjang. Tubuhnya terasa lelah setelah mengeluarkan tenaga dalam cukup besar untuk memasuki alam bawah sadar Sasi.
Namun hatinya merasa lega karena bisa melihat Sasi. Dan mengetahui sendiri betapa Sasi mencintainya. Bahkan dengan berani melawan Rangga demi cintanya pada Tommy.
Semalam terjaga dalam pengembaraan di alam tak kasat mata membuat Tommy tak bisa menahan lagi rasa kantuknya. Terlelap membawa rasa bahagia . Meskipun rasa cemas akan kehadiran Rangga masih menjadi duri di hatinya
"
__ADS_1