Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#PSS Ekstra Episode 13. Calon Raja dan Permaisuri


__ADS_3

Siang itu, ibunda Rangga datang menjemput Sasi dan Rani untuk datang ke istana. Mereka akan bertemu tetua adat yang akan menjelaskan secara detail tentang adat istiadat istana yang harus diketahui dan dilaksanakan Rani sebagai calon menantu raja sekaligus calon permaisuri Rangga.


" Ma, Rani takut. Rani nggak bisa bahasa jawa halus. Nggak ngerti masalah unggah-ungguh ( tata cara) berhadapan dengan raja dan ratu. Takut salah dan dianggap nggak sopan" Rani tampak gelisah.


Sasi tersenyum bijak. " Sayang, Ratu juga tahu kamu bukan bangsawan. Makanya kamu dibawa ke istana untuk mempelajari semuanya, agar kamu tahu dan nggak bikin malu istana."


" Ayo, Calon mertuamu sudah menunggu.." Sasi mengerling menggoda Rani.


" Mamaa...." Rani makin khawatir. Sementara Sasi malah tergelak melihat Rani.


Sasi sama sekali tak khawatir Rani akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan di istana. Dalam sekali pertemuan dan beberapa saat bercakap-cakap, Sasi bisa melihat betapa Ratu sangat menyayangi Rani meski baru sekali bertemu.


Wanita bangsawan itu seakan menemukan berlian yang sudah lama dicarinya saat mengetahui bahwa Rani dan Rangga saling mencintai.


Sasi dan Rani bergegas menemui Ratu yang sedang ditemani ibu sasi di ruang tamu. Wanita cantik itu buru-buru berdiri ketika melihat kehadiran Rani dan Sasi. Kemudian tanpa canggung seakan sudah lama mengenal Ratu memeluk Rani dan Sasi bergantian.


" Bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja? Agar tidak kemalaman dijalan?" tanya Ratu ramah.


"Saya setuju, nyumanggaaken ( mempersilakan)" jawab Sasi sopan. Ketiganya diikuti asisten Ratu segera menuju mobil yang sudah menunggu. Ibu Sasi mengantar kepergian mereka hingga mobil keluar dari pagar halaman.


" Rani duduk dengan ibunda ya, Nggak papa kan Sasi?"


" Silakan ibu Ratu" Jawab Sasi lalu mengambil tempat duduk dekat asisten ratu di kursi belakang. Sementara Rani dan ratu duduk di kursi tengah. Rani sempat menatap Sasi khawatir, namun Sasi tersenyum dan mengangguk seakan meminta Rani tenang dan santai saja.


Sepanjang perjalanan Ratu tak henti bertanya segala hal sambil menggenggam tangan Rani lembut. Pertanyaan yang kadang membuat Rani malu dan canggung menjawabnya.


" Rani sudah lama kenal kangmasmu?" tanya Ratu.


" Sudah ibunda, kangmas kan teman mama papa. Tapi kalau sebagai teman dekat baru sebulan ini."


Baru sebulan sudah main pangku-pangkuan begitu, bagaimana kalau sudah lama? Ratu mendesis dalam hati. Rangga benar-benar keterlaluan. Tapi Ratu juga tak heran mengingat putranya itu sudah sangat dewasa apalagi pernah berumah tangga. Tentu saja gaya pacarannya berbeda demgan ABG.


" Emm..apa kangmasmu suka memaksa Rani bermesraan, seperti kemarin di apartemen misalnya?" Ratu berbisik di telinga Rani membuat gadis itu merona merah. Duh, ini ratu kok bisa-bisanya tanya begini? Rani mengeluh dalam hati.


" Tidak..tidak ibunda. Selama pacaran kami baru bertemu dua kali dengan yang kemarin itu ibunda. Kangmas tidak pernah memaksa Rani. Emm...Rani melakukannya tanpa paksaan. Rani cinta sama kangmas.." Rani menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sangat malu tapi tak ingin memojokkan Rangga di depan ibunda Ratu. Membuat Ratu tergelak melihatnya. Hatinya sangat bahagia, Rangga benar-benar menemukan belahan jiwanya.


Sampai di istana Ratu segera mengajak Sasi bicara empat mata di ruang kerja , sementara Rani dipersilakan berkeliling istana ditemani asisten Ratu.


" Mari den ayu..." asisten Ratu mengajak Rani berjalan, menunjukkan satu-per satu bagian istana tanpa terlewat. Rani cuma mengangguk-angguk dan sedikit bertanya saat ada yang kurang jelas. Namun saat melewati taman indah di samping istana, Rani meminta asisten ratu untuk berhenti agak lama.


" Ibu..."


" Saya Ratmi den ayu.."


" Bu Ratmi, saya ingin istirahat disini sebentar boleh? Ini sangat indah" Rani berbinar melihat keindahan taman istana. Rasanya tak ingin pergi dari sini.

__ADS_1


" Tentu saja boleh den ayu. Silakan den ayu melihat-lihat taman. Saya ada perlu sebentar. Nanti saya ke sini lagi." Ratmi berpamitan memberi Rani waktu menikmati keindahan taman keputren ( taman tempat putri raja atau ratu bersantai)


Rani berjalan memasuki taman. Matanya terpejam.menikmati harum wangi berbagai bunga yang semerbak memanjakan penciumannya. Ahh..seperti di surga. Bisik Rani lirih.


Saat itulah tiba-tiba seseorang memeluk Rani dari belakang. Membuat Rani tersentak dan membuka matanya. Hampir saja gadis itu berteriak, namun urung ketika penciumannya menangkap aroma maskulin favorit yang akhir-akhir ini sudah mejadi candunya. Rani mengesah pelan.


" Kangmas..." bisiknya lirih hendak membalikkan badannya. Namun lengan kekar itu makin erat melingkari perutnya. Rani tak bisa bergerak.


" Baby...kok bisa disini?" Suara kesayangannya itu kini berbisik di telinganya. Nafasnya seakan meniup-niup leher dan pundaknya. Bahkan kini hidung dan bibir Rangga sudah menempel di leher Rani.


" Ibunda yang mengajakku ke sini, mama juga ikut...nghh" Rani menjawab sambil melenguh lirih, karena Bibir Rangga kini makin dalam menyesapi lehernya.


" Ehmmm...ehmmm..." suara batuk seseorang dibelakang mereka membuat Rangga dan Rani terhenyak. Rangga segera melepas pelukannya di tubuh Rani. Rangga mengesah, Rani selalu membuatnya hilang akal saat mereka berdua.


" Maaf den mas, saya ditugaskan Ratu untuk mengantarkan den ayu Rani berkelililing istana." Ratmi menahan senyuman melihat Rangga salah tingkah kepergok memeluk Rani.


" Biar aku saja yang mengantar Rani. Kamu kerjakan tugas yang lain.." Rangga memberi isyarat Ratmi untuk meninggalkan mereka berdua. Ratmi tersenyum dan mengangguk lalu beranjak pergi.


" Ayo baby, sekarang kangmas yang akan jadi guide mu.." Rangga menggenggam tangan Rani dan mulai mengajaknya melanjutkan tour keliling istananya.


" Kangmas sih, main peluk aja di tempat terbuka gini. Kan jadi malu. Nanti jadi omongan orang. Dipikir aku...."


Rani tak bisa lagi melanjutkan ucapannya karena Rangga sudah membungkam bibirnya dengan ciuman. Lelaki itu menarik tangannya memasuki sebuah ruangan dan menghimpit tubuhnya di pintu yang sudah tertutup. Sebelah tangannya mengangkat kedua tangan Rani ke atas, sementara yang satunya menahan tengkuk gadis itu.


Rangga memperdalam ciumannya dan menjelajahi bibir Rani yang lembut dan selalu membuatnya gila. Tubuh Rani mendadak lemas tak berdaya. Tak mampu menolak Rangga bahkan ikut hanyut dalam pagutan lelaki itu. Tangan Rani tak lagi diatas, tapi kini malah melingkari leher Rangga dengan erat.


Rani terengah, Rangga tersengal ketika melepas ciuman panjang mereka. Hidung dan dahi keduanya masih menempel. Tangan Rangga masih di pinggang Rani. Sementara tangan Rani masih melingkari bahu kekar lelaki itu.


Rangga benar-benar pencium yang handal. Rani memejamkan mata, masih merinding mengingat ciuman panas mereka yang membuatnya seakan melayang di awan. Rani pikir dia sudah gila. Rangga membuatnya tak berdaya dan selalu merindukan ciuman lelaki itu.


Rangga tertawa lirih, masih tak melepaskan Rani yang tampak lemas dipelukannya. Seumur hidupnya hanya gadis inilah yang mampu membangkitkan jiwa lelakinya. Membuatnya harus menahan mati-matian hasratnya yang menggebu setiap bersamanya.


" Kangmas...lepasin. Ini ruangan apa? Nanti ketahuan orang, digerebek lagi.." Rani mendorong tubuh Rangga.


Rangga tak bergeming, malah tertawa sambil menciumi wajah Rani.


" Ini termasuk tour istana baby. Ini adalah kamar Pangeran Harya Rangga Syailendra. Calon suamimu. Kamu mau melihatnya?" bisik Rangga di telinga Rani.


Rani melengos namun menahan senyum. Berada dekat Rangga membuat Rani selalu berdebar.


Ketika Rangga melepas pelukannya Rani berjalan masuk ke dalam ruangan yang terlihat luas dan mewah itu.


Ini sih bukan kamar, lebih seperti satu rumah minimalis. Ada ruang tamu dengan sofa antik berlapis beludru dan kayu jati. Lebih ke dalam ada ruangan dengan sofa santai dan televisi super besar yang menyambung dengan meja makan empat kursi.


Rani melihat sebuah pintu berukir di depannya. Rangga tiba-tiba memeluk Rani dari belakang, membawa gadis itu berjalan sambil tetap memeluknya . Tangan Rangga membuka kunci pintu ruangan itu sambil tetap memeluk Rani.

__ADS_1


Ceklek. Rangga membuka kamar itu. Rani terpana. Jadi kamar raja-raja di film-film itu benar-benar ada? Ranjang dan kanopi keemasan dengan ukuran super besar terpampang di depannya. Kamar yang mewah dengan sentuhan tradisi yang kental.


" Kangmas, aku baru sadar kalau calon suamiku benar-benar anak raja." Rani bergumam." Ini sangat indah" bisiknya bicara sendiri.


" Ini akan jadi kamar kita sayang..." Rangga masih memeluk Rani.


" Putramu?" Rani tiba-tiba teringat bahwa Rangga sudah mempunyai putra.


"Putraku punya ruang sendiri. Mungkin hampir sama dengan kamarku ini. Nanti akan aku kenalkan baby. Tapi kamu nggak boleh dekat-dekat dia" Rangga terdengar sedikit ragu.


" Kenapa, bukannya aku harus mengambil hatinya agar dia merestuiku dan papanya?"


" Nanti kamu malah suka sama dia. Umurnya kan nggak jauh sama kamu baby..." Rangga mendecak. Rani tertawa tergelak mendengarnya.


" Kangmas ih..masa cemburu sama anak sendiri?"


" Pokoknya kamu nggak boleh dekat-dekat lelaki lain. Meskipun itu anakku sendiri. You are mine baby...just mine!" Rangga menjatuhkan kepalanya ke pundak Rani.


" Ayo kita lanjutkan tournya, kalau disini terus takut kangmas nggak tahan pengen nikah sekarang juga.." Rangga menarik tangan Rani keluar. Padahal sebenarnya Rani masih ingin melihat-lihat kamar mandi dan dapur kecil di ruangan ini.


Sesaat keluar dari ruangan, ponsel Rangga berdering.


" Iya ibunda...!" Rangga menjawab.


" Baik ibunda.." Rangga lagi-lagi menjawab. Lalu menuntun Rani ke arah depan istana.


" Ibunda dan mamamu menunggu kita. Ada Andra juga di sana."


" Putramu, siapa namanya kangmas.?" tanya Rani tertarik.


" Paundrakarna. Panggilannya Andra. Dia tampan, tapi aku yang lebih tampan. Kamu nggak boleh terlalu dekat sama dia.." lagi-lagi keposesifan Rangga membuat Rani tertawa.


"Nasib punya kekasih tua, bawaannya cemburu takut kesaing sama yang muda.." ledek Rani terkekeh.


" Ehh..kamu sudah berani meledekku baby?" Rangga menangkup pipi Rani. Gadis itu malah makin tergelak lalu dengan berani mengecup bibir Rangga yang begitu dekat di wajahnya.


Rangga terkejut dan bengong sesaat mendapat kejutan dari Rani. Ini adalah pertama kalinya Rani berinisiatif menciumnya meski hanya sekedar kecupan sekilas. Ketika sadar gadis itu sudah berjalan cepat meninggalkannya.


***********


Haloo readers tersayang...


Iyaa...iya..maafin author ya..silakan diomelin dimarahin atau dimaki-maki...memang salah author lama nggak bisa up date . Mungkin kalian juga sudah lupa atau meninggalkan novel ini. Its oke, author juga maklum kok.


Yang pasti author nggak akan gantungin cerita yang sudah author bikin. Pasti akan diselesaikan hingga tamat. Tapi memang butuh kesabaran nunggu updatenya...so sorry...

__ADS_1


Buat yang masih mau baca,apalagi masih sudi ngasih like komen dan hadiah, kalian memang readers sejati. Terima kasih untuk dukungan kalian. Apalah aku tanpamu....


Happy reading....


__ADS_2