Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Pengganggu


__ADS_3

Sampai di rumah, dua orang perwakilan EO yang disewa Tommy sudah menunggu di ruang tamu.


Tommy dan Sasi tampak duduk berdampingan menemui dua orang dari EO itu. Ibu segera menyusul duduk di dekat Sasi.


" Ini ibu saya mbak, ibu yang tahu masalah teknis acara besok. Silakan bicara langsung dengan ibu.


Akhirnya ibu menjelaskan detail acara besok. Berapa orang yang hadir. Semuan peralatan dan persyaratan yang dibutuhkan. Termasuk catering dan hampers untuk.yang hadir maupun untuk tetangga terdekat dan perangkat RT/RW.


Menjelang jam tujuh malam, pembicaraan usai. Saat itulah Baskara datang.


" Maaf saya terlambat. Bagaimana bu, sudah beres semua?" tanya Baskara.


" Sudah Bas. Makasih ya..jadi kamu yang repot." kata ibu.


" Nggak repot kok bu. Yang repot kan EOnya.." Baskara tertawa.


Ibu menepuk-nepuk punggung Baskara." Wah enak ya punya anak cowok. Apalagi yang kaya Baskara ini. Cekatan trus ringan tangan anaknya." ibu memuji-muji Baskara membuat pemuda itu kembang kempis hidungnya.


" Hati-hati bu. Ibu belum tahu saja Si Bas ini suka modus" Tommy merasa tak terima ibu memuji-muji Baskara.


" Iri bilang boss!!" Baskara meledek Tommy yang langsung mendengus kesal.


" Sudah..jangan gelud ( berantem). Kalian berdua ini anak-anak ibu yang baik. Ibu senang punya anak seperti kalian. " ibu mengakhiri pertengkaran dua saudara itu.


" Oya kalian mau ke butik sekarang aja? Daripada kemaleman. Cuma tinggal fitting saja. Kalau sudah Oke, sekalian dibawa pulang saja bajunya supaya besok tidak repot. Tadi aku sudah buat janji sama pihak butik" kata Baskara.


" Ya sudah. Yuk sayang. Kita berangkat" Tommy berdiri dan menarik lembut tangan Sasi." Keduanya kemudian berangkat diikuti Baskara.


Sampai di butik mereka segera dilayani pegawai butik. Bersyukur ternyata Baju Tommy dan Sasi tidak memerlukan perbaikan berarti karena ukurannya sudah pas.


" Wah pas sekali ukurannya mas. Pinter Baskara" Lagi-lagi Baskara mendapat pujian dari Sasi.


" Siapa dulu dong..bisa nih bikin EO sendiri" Sombong Baskara.


" Iya pasti pas sayang, orang dia aku kasih ukuran baju aku dan baju kamu." Tommy mendecak.


" Ohh..pantesan" Gumam Sasi.


Setelah selesai, mereka segera meninggalkan butik dan kembali ke rumah. Masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan sehingga mereka tidak bisa berlama-lama.


Sampai di rumah ibu sudah menyambut di depan pintu. Dan mereka tidak bisa menyembunyikan kekaguman sekaligus keheranan melihat pendopo rumah Sasi yang sudah tampak indah dihias berbagai macam bunga dan tirai tirai sutera. Kursi dan meja yang seragam ditutup kain didominasi warna silver dan biru muda.


Rupanya saat mereka pergi pihak EO sudah datang dan mendekor pendopo .


" EO mu jempolan Bas.." Sasi mengacungkan dua jempolnya.Tommy ikut kagum.


" Asal ada unlimited card..mau apa juga hayuk Sasii..nih bossnya.." Baskara menunjuk Tommy.


Sasi tersenyum bangga. " Thank you my lovely boss!" menggenggam erat tangan Tommy.


" Everything for you baby.." Balas Tommy berbisik


" Halahh...kumat bucin lebay..." Baskara mendengus kesal melihat kemesraan Tommy dan Sasi. Ibu cuma tersenyum-senyum.


" Bagaimana Sasi, Tommy, baju beres?" tanya ibu

__ADS_1


" Beres bu" Jawab Sasi. Mereka berempat kemudian kembali masuk ke rumah.


" Ayo kalian makan malam dulu. Baru boleh pulang." Ibu mengajak ketiganya ke ruang makan.


Mereka segera makan dengan tenang. Sesekali diiringi obrolan ringan tentang acara besok. Hingga makanan mereka habis tak bersisa.


Setelah beberapa lama mengobrol dan membicarakan acara besok, Tommy dan Baskara berpamitan untuk pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


" Sudah malam, saya mohon pamit bu." kata Tommy pada ibu.


" Iya. Kalian istirahat ya? Sampai ketemu besok. Semoga semuanya lancar ya Tom.." jawab ibu.


" Amiin." Sasi, Tommy dan Baskara menjawab ibu bersamaan. Lalu Tommy dan Baskara menyalami ibu.


" Sasi antar Tommy dan Baskara ke depan ya. Ibu masuk dulu" Kata ibu.


Sasi mengangguk." Iya bu" Lalu Sasi beriringan ke depan mengantar Tommy dan Baskara.


" Kamu aja yang bawa Bas" Kata Tommy ketika Baskara menyerahkan kunci mobil.


Baskara tak menjawab, langsung menuju mobil setelah sempat berpamitan pada Sasi. " Pulang dulu Sasii..."


" Iya Bas. Makasih ya..." Sasi tersenyum.


Tinggal Tommy yang masih berdiri disamping Sasi. Tangannya sekarang merengkuh tubuh gadis itu. Memeluknya beberapa saat sambil mencium puncak kepalanya lembut.


Baskara yang melihat hal itu langsung mendecak kesal lalu membunyikan klakson mobil.Din..Din..Din!!


Tommy mendongak ke arah baskara sambil mengacungkan kepalan tangannya. Tapi tak melepas pelukannya pada Sasi.


" Sudah mas, cepet pulang dan istirahat. Biar besok seger pas acara." kata Sasi.


" Dasar Baskara, bocah sableng!" Tommy menggerutu. Tapi suaranya kembali melembut ketika menatap Sasi.


" Mas pulang dulu ya sayang...ehh..nginep aja boleh nggak sih?" Tommy menggoda Sasi.


" Maaass...!" Sasi memukul pelan tangan Tommy.


" Nggak boleh ya? Padahal gak pengen pisah. Pengen sama Sasi teruuuss" Tommy merengek manja, membuat Sasi jengah.


" Geli ih mas..jangan kaya cewe manja gitu..!" Sasi tertawa.


Tommy ikut tertawa. " Sun(cium) dikit boleh nggak? " masih berusaha modus


Sasi melotot lalu menunjuk Baskara yang mulai pasang ancang-ancang main klakson lagi.


Tommy tertawa lalu kembali memeluk Sasi sebentar dan mencuri ciuman di kening gadis itu.


" Masss...?" Sasi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


" Woi....Bambang..!." Din..din..din..Baskara meneriaki Kakaknya sambil menekan klakson ketika melihat Tommy mencium kening Sasi.


" Adik durjana, ga bisa lihat kakaknya seneng dikit" gerutu Tommy kesal.


Sasi tertawa lalu mendorong pelan tubuh Tommy menuju mobil yang mesinnya sudah dihidupkan Baskara.

__ADS_1


Dengan malas Tommy membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Baskara yamg memegang kemudi.


" Bye honey...see you tomorrow.." Tommy melambaikan tangannya sambil tersenyum manis. Dibalas lambaian Sasi dan senyuman tak kalah manis. Sementara Baskara membunyikan klakson sekali. Lalu mobil itupun keluar dari pagar rumah Sasi.


Baru saja membalikkan badan, Sasi merasa angin kencang menerpa tubuhnya. Tiba-tiba saja hawa dingin menggigit kulitnya. Tubuh Sasi menggigil . Bulu-bulu tubuhnya seakan meremang.


Sasi berusaha melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah, namun langkahnya berat, seakan ada tangan yang menarik kakinya dengan kuat. Hingga tak dapat beranjak dari tempatnya berdiri.


" Ibuuu!" Sasi berteriak memanggil ibunya.


Mendengar teriakan Sasi ibu bergegas keluar ke arah suara Sasi.


" Sasii?" ibu mengguncang tubuh Sasi yang tampak kaku berdiri. Dipeluknya tubuh putri kesayangannya itu erat. " Ada apa nduk?" tanya ibu khawatir.


Tubuh gadis itu terasa dingin di pelukan ibu. Wajah Sasi tampak tegang . Tatapan matanya kosong dan sama sekali tak menanggapi pertanyaan ibu.


Ibu menangis ketakutan melihat keadaan Sasi. Segera dituntunnya Sasi masuk ke dalam rumah. Gadis itu nampak lemah dan tak berdaya.


Ibu membaringkan Sasi di kamarnya lalu menyelimuti gadis itu.


" Rumiii...Rumiii...!! ibu berteriak memanggil Rumi. Tak lama Rumi datang tergopoh-gopoh.


" Ada apa bu?" Tanya Rumi .


" Buatin Jahe hangat buat Sasi ya Rum. Cepetan! Kayanya Sasi masuk angin. Badannya dingin banget ini." seru ibu tegang.


" Inggih (iya) bu" Rumi segera keluar melaksanakan perintah ibu.


Ibu mengelus-elus kepala Sasi. Memanjatkan doa-doa dan permohonan perlindungan dari Yang Maha Kuasa untuk Sasi. Air matanya menetes. Pikirannya langsung melayang pada mahkluk astral yang selalu mengganggu Sasi.


Di rumah Mbah Ageng...


Mbah Ageng melihat sekelebatan bayangan biru mendekati Sasi. Gadis itu sendiri. Bayangan biru itu melingkupi tubuh Sasi. Seakan memeluk erat tubuh gadis itu.


Sasi tampak tak berdaya dalam rengkuhan bayngan biru itu. Kehilangan kesadarannya.


Dengan gerakan kilat mbah ageng mendekati Sasi yang sedang dilingkupi cahaya biru itu. Merapalkan doa dan mantra penuh kekuatan dan konsentrasi dalam.


" Tuan...haruskah begini? Kita tak punya masalah. Apakah harus berakhir bermasalah?"


" Kau yang cari masalah. Ikut campur urusanku!" suara-suara bergema di kepala mbah Ageng.


" Karena Tuan menyalahi kodrat. Seharusnya Tuan lebih mengerti tentang pesti, ketentuan dari Sang Hyang Widi penguasa jagad. Semua punya tempatnya sendiri. Tempat Tuan dan gadis itu sangat berbeda. Dan Tuan memaksakan menguasai sesuatu yang tak seharusnya untuk Tuan."


" Haaahhh...enyahlah kau!!" pekik suara di kepala mbah Ageng. Bersamaan dengan kilatan cahaya biru menyambar bubungan rumah mbah Ageng.


Hawa dingin segera menyergap mbah Ageng. Dengan segenap tenaga mbah Ageng melawan kekuatan yang tiba-tiba menyergap tubuh dan kesadarannya.


Rapalan Doa dan mantra jiwa makin cepat terucap dari bibir lelaki tua itu. Tubuh tuanya tampak bergetar. Keringat bercucuran di seluruh wajah dan tubuhnya.


Saat dengan sekuat tenaga mbah Ageng mengangkat tangannya ke atas tampak cahaya keemasan melesat, menyambar kilatan cahaya biru yang berputar di bubungan rumahnya.


Kedua cahaya berbeda aura itu saling berputar dan berbelit. Menimbulkan suara-suara letusan di malam buta itu. Hingga akhirnya pelahan cahaya biru itu memudar dan menghilang di kegelapan malam.


Mbah Ageng menurunkan tangannya kembali ke sikap semedi. Hidung dan telinganya mengeluarkan cairan merah . Darah segar meleleh membasahi kulit keriputnya. Wajahnya tampak pucat. Namun nafasnya masih terdengar halus teratur.

__ADS_1


__ADS_2