Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
# Badai Belum Berlalu


__ADS_3

Bed untuk penunggu pasien ternyata hanya berupa kasur lipat yang harus digelar di lantai. Tommy akhirnya menyeret sofa panjang yang ada di ruangan ke dekat ranjang Sasi.


Tommy menunggui Sasi , sambil tiduran di sofa. Tangannya memggenggam tangan Sasi. Jemari keduanya saling bertaut.


" Tahu nggak mas, waktu aku nggak sadar. Aku seperti berada di istana. Indah sekali. Mungkin aku mimpi, tapi itu seperti nyata mas." Sasi bercerita sambil memiringkan badan menghadap Tommy. Begitupun Tommy di sofa juga menghadap Sasi.


" Sudah sayang..istirahatlah . Ini sudah malam."


" Aku sudah capek tidur seharian mas. Masa disuruh tidur lagi?" Sasi cemberut.


" Ya udah...kita ngobrol sampai ngantuk ya? Lanjutkan ceritamu.." Tommy tersenyum.


" Anehnya saat itu aku seperti mau menikah. Sedang melakukan perawatan wajah dan tubuh. Semacam di salon, tapi dilakukan oleh dayang-dayang...berasa jadi princess" Sasi tertawa geli.


" Calon suaminya aku bukan?" Tommy tiba-tiba menyela cerita Sasi.


" Sayangnya bukan mas.."


Tommy langsung mendengus kesal " Males ah, ngga usah diterusin! " lalu membuang pandangan ke arah lain.


" Eh dengerin dulu sampai selesai sayaang..." Sasi mengeratkan genggaman tangannya pada Tommy. "Masa cemburu sama mimpi..?"


Demi mendengar panggilan sayang dari Sasi, Tommy tersenyum dan menatap Sasi lagi.


" Yo wes lah..demi Sasi tersayang...lanjutin ceritanya.." Tommy mengusap lembut jemari Sasi di genggamannya.


" Saat itu aku seperti lupa siapa diriku mas. Tapi tiba-tiba aku didatangi kakek-kakek berjenggot putih pakai baju lurik. Dia nyuruh aku sadar, ingat siapa diriku dan menyuruh aku kembali ke duniaku sendiri."


Tommy langsung duduk dan menatap heran pada Sasi. Bagaimana Sasi bisa bertemu dengan orang yang sama yang ditemui Tommy dalam mimpi juga, saat pingsan tadi? Kakek berbaju lurik dan berjenggot putih?


" Kenapa mas?" Sasi heran melihat Tommy terlonjak duduk.


" Nggak..lanjutin aja..kayanya menarik" jawab Tommy. Sekarang kepalanya direbahkan di ranjang Sasi .Tepat di sebelah lengan Sasi. Sambil tetap duduk di sofa.


" Setelah ketemu kakek itu aku sedikit demi sedikit mulai ingat siapa diriku. Dan orang pertama yang kuingat adalah ...kamu mas!" Sasi mengusap rambut Tommy yang sedang merebahkan kepala di dekat lengannya.


Tommy menatap Sasi sambil tersenyum. "Terus?" tanya Tommy makin penasaran.


" Aku sebut namamu, tiba-tiba mas muncul dan menggendongku. Pergi dari istana aneh itu. Mas memelukku erat banget. Lari membawaku pergi entah kemana. Saat aku sadar, tiba-tiba sudah duduk di IGD" Sasi menyelesaikan ceritanya.


Tommy mengangkat kepalanya lalu mencium jemari Sasi yang digenggamnya.


" Tahu nggak sayang? Mimpi kita tuh seperti berhubungan . Bukan sekedar mimpi yang sama, tapi berkaitan di waktu yang sama. Aku juga ketemu kakek itu waktu aku pingsan Sayang...."


"Dia menuntunku kepadamu. Dia bilang aku harus menyelamatkan dan mengajakmu kembali. Dan aku bisa melihatmu di kamar itu. Lalu aku menggendongmu pergi...terus berlari menembus batas, hingga aku juga sadar di IGD. Kata Baskara kita sadar barengan. Sayangnya kamu lalu pingsan lagi."


Sasi dan Tommy saling menatap, keheranan dan merasa aneh. Tak percaya pada apa yang sudah mereka alami bersama namun itu nyata terjadi.

__ADS_1


" Aneh ya mas?" kata Sasi


" Hm....benar-benar aneh. Kita seperti bertualang berdua dalam mimpi. Aneh tapi asik ngga sih? Mimpi bareng terus sadar bareng. "


Sasi tersenyum dan mengangguk. " Nanti kita sering-sering mimpi bareng ya mas...hahaha..kayanya asik tuh!"


" Kalau sudah nikah ngapain mimpi bareng? Enak juga tidur bareng, makan bareng, mandi bar...."


" Masss! Dasar boss mesum!" Sasi duduk dan memukul lengan Tommy sebelum lelaki itu selesai mengucap kalimatnya.


Tommy tergelak. Sasi diam menatap lekat wajah tampan kekasihnya. Apakah dia benar-benar siap menikah dengan pria itu? Sasi merasa gamang.


Melihat Sasi yang terdiam menatapnya, Tommy menghentikan tawanya. Bangkit dari sofa lalu duduk di ranjang Sasi.


" Kenapa lagi sayang..?" tanya Tommy sambil menyibak rambut Sasi ke belakang telinga gadis itu.


" Apa kita nggak terlalu buru-buru mas? Kita baru mengalami kejadian di luar nalar. Aku mati, mas pingsan lalu kita bertemu di alam mimpi. Menurutku kita harus menenangkan diri dulu dari semua kekacauan ini mas" bisik Sasi.


Tommy menggeleng. Ia harus memenangkan hati Sasi. Begitu kata ibu kan? Sasi masih ragu akan perasaannya. Masih canggung dengan kenyataan keluarga mereka. Dan entah mengapa Tommy merasa Sasi sangat terpengaruh dengan mimpinya.


" Enggak Sayangku..., kalau menurutku, kamu baru bisa tenang kalau kita sudah mewujudkan semua mimpi itu jadi kenyataan. Will you? Aku akan membawamu pulang ke rumah kita sendiri. Dan tiap pagi kita akan bangun bersama dalam keadaan saling berpelukan. Bukan bangun bersama di IGD.."


Tommy memeluk Sasi. Gadis itu balas memeluk kekasihnya. Mereka tertawa sambil saling berpelukan mengingat kembali pengalaman aneh dan menegangkan mereka hari ini.


" Kamu gak akan meninggalkan aku kan mas?" bisik Sasi." kepalanya bersandar di dada Tommy.


" Mas...! Jangan bercanda terus. Aku tuh serius." Sasi merajuk manja.


" Sasi...sasiii...mendapatkan hati kamu tuh sulitnya setengah mati sayang... Bagaimana aku bisa meninggalkan sesuatu yang aku dapat dengan penuh perjuangan?" Tommy membelai rambut Sasi.


Gadis itu tersenyum. Makin menenggelamkan diri dalam rengkuhan hangat pujaan hatinya.


Tanpa mereka sadari, dari sebuah sudut, sesosok tubuh tak kasat mata menatap nyalang pada dua insan yang tengah dimabuk cinta itu. Tangannya mengepal kuat. Matanya berapi-api seakan hendak membakar dua sejoli yang sedang berpelukan itu.


" Sasi pengantinku, dan akan selalu begitu.." geram sosok berpendar cahaya biru itu marah. Lalu menghilang dengan meninggalkan desau angin yang cukup kencang di kamar itu.


Tommy dan Sasi tersentak lalu bersama-sama menatap sebuah sudut kamar.


" Mas ngerasa nggak?"


Tomy mengangguk. " Kaya ada angin kencang tadi." Kata Tommy.


" Iya..." kata Sasi.


" AC nya kebesaran ya? Mas kecilin ya?" kata Tommy tanpa berpikir lebih jauh tentang kejadian itu.


" Ngga kok mas. Cukup segini. Aku juga pake selimut." kata Sasi.

__ADS_1


" Oke..sekarang kamu tidur yang nyenyak. Mas ada disini menemanimu. Kita mimpi bareng lagi yuk?! " Tommy membaringkan tubuh Sasi lalu menyelimutinya. Kemudian dia sendiri berbaring di sofa dekat ranjang.


" Emang mimpi bisa disetting?" Sasi mengerucutkan bibirnya lucu.


" Bisa kali...ayo dicoba! " Tommy menautkan tangan mereka. Keduanya tertawa .


Mereka kembali ke posisi awal . Berbaring miring Saling berhadapan dengan tangan bertaut. Saling menatap dan tersenyum.


" I love you" bisik Tommy hampir tak terdengar.


" Love you more" Balas Sasi lalu memejamkan mata pelahan.


" Ehh...mas!" Tiba-tiba Sasi membuka matanya lagi.


" Hmm..apa?." Tanya Tommy.


" Kok mas tahu-tahu bawa cincin?" Sasi rupanya penasaran bagaimana Tommy tiba-tiba membawa cincin untuk melamarnya tadi.


" Sebenarnya sebelum ketemu papa , kemarin aku sudah siapkan cincin itu. Maunya sih setelah ketemu papa, aku akan memberikan cincin itu padamu. Ehh..nggak taunya malah kacau semua..syukurlah sekarang kesampaian juga ngasih ke kamu" Jawab Tommy sambil tersenyum.


" Makasih ya..." bisik Sasi


" Hmm...sama-sama sayang.." lirih Tommy.


Tak lama keduanya sudah terlelap. Hanya terdengar desau pendingin ruangan, serta dengkuran halus dari nafas keduanya.


Suasana sunyi.., tenang dan damai di kamar rawat inap Sasi. Seakan 'tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.


Berbeda sekali dengan hawa dingin mencekam yang menyelimuti rumah mbah Ageng.


Lelaki tua itu tampak larut dalam semedinya. Bersiap dan waspada manakala dilihatnya sang bangsawan muda dari dunia lain itu bergerak ke arah Sasi dan Tommy.


Sosok itu tampak geram menahan marah. Namun langkahnya tertahan di satu sudut tanpa bisa bergerak lagi. Murkanya makin menjadi. Tapi tak bisa berbuat apapun, hingga akhirnya memilih pergi meninggalkan tempat itu.


Mbah Ageng menarik nafas lega.


Tidak bisa terus-terusan begini. Tommy harus tahu bahwa sesuatu yang jahat mengincar Sasi dan dirinya sendiri. Tommy harus menyadari kekuatannya agar bisa menggunakannya untuk melindungi Sasi.


Tapi bagaimana caranya membuat orang yang tak percaya hal-hal supranatural menyadarinya? Kalau ditemui lewat alam bawah sadar, mereka anggap itu mimpi atau halusinasi. Kalau ditemui langsung , mereka anggap itu omong kosong dan bohong belaka.


Mbah Ageng berjalan mondar-mandir tengah malam itu. Sudah biasa baginya tidak terlelap selama berhari-hari. Semedi dan pertapaan adalah tidur ternyaman baginya yang sudah tak lagi punya nafsu dunia.


Keinginan terbesarnya adalah muksa. Meninggalkan dunia dengan tenang tanpa aral, melepas keduniawian dengan damai. Telah menyelesaikan semua urusan fana dan siap menghadap penciptaNya.


Saat ini Sasi dan Tommy adalah aralnya. Yang mengusik ketenangannya untuk dapat muksa. Jadi dia harus menyelesaikan ini sebelum waktunya tiba...


Mbah Ageng memutar otak. Dan akhirnya menemukan satu-satunya cara agar Tommy bisa menggali kekuatan bathinnya sendiri untuk melindungi keluarganya kelak. Mengingat calon istrinya, Sasi , adalah gadis istimewa yang membuat sesosok mahkluk tergila-gila, yang justru membahayakan jiwanya yang rapuh.

__ADS_1


Mbah Ageng berharap, semoga setelah Tommy bisa menemukan jati dirinya yang punya kelebihan, dia bisa tenang meninggalkan semua keduniawian ini. Tak lagi punya hutang dan tanggungan beban hati yang akan menghalanginya untuk muksa.


__ADS_2