Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Papa


__ADS_3

Tommy dan Baskara duduk di seberang lelaki paruh baya yang masih tampak awet muda itu. Dia adalah Barata, ayah Tommy dan Baskara.


Tiga tahun sudah Lina, ibunda Tommy dan Baskara, istri Barata meninggal karena leukimia. Selama itu tak sekalipun tampak Barata berhubungan lagi dengan perempuan. Larut dalam kesedihan dan kenangan akan istri tercinta yang telah tiada.


Hingga hari itu tiba. Tommy dan Baskara dipanggil Barata ke ruang kerjanya.


" Papa akan menikah lagi. Apa kalian keberatan?"


" Dengan siapa pa?" Tommy menatap tajam papanya.


Sebenarnya Tommy tak keberatan sama sekali papanya menikah lagi. Ia sadar Papa memang butuh pendamping. Papa adalah pengusaha yang cukup ternama di kota ini. Dan dia serta Baskara tidak bisa mengurus kebutuhan papa sehari-hari seperti mama dulu.


Bagaimana mengurus papa, mengurus diri sendiri pun mereka masih kebingungan. Sepeninggal mama, mereka ayah dan anak-anak seperti anak ayam kehilangan induknya.


Mama terbiasa mengurus semua keperluan mereka . Sehingga ketika mama tiada semua jadi kacau balau. Berapa pun pembantu tak bisa menggantikan mama yang sempurna.


Tommy sungguh mengerti jika papa masih butuh pendamping hidup. Tapi kenapa harus dia? Anak ingusan sebaya Baskara yang baru lulus SMA? Pikiran Tommy sudah buruk sejak bertemu dan dikenalkan papa pada gadis itu.


Gadis itu sebenarnya cantik. Tidak tampak centil atau genit. Bahkan cenderung pemalu. Tapi barang-barang yang dipakainya serba branded. Tommy langsung bisa menebak bahwa gadis itu pasti sugar baby papanya.


Entah mengapa Tommy langsung benci setengah mati pada gadis itu. Di pikirannya, pasti gadis itu hanya mau mengeruk harta papanya. Lalu meninggalkannya jika sudah berhasil mendapatkan yang diinginkannya.


"Siapa yang ingin papa nikahi?" suara Tommy meninggi. Baskara diam seribu bahasa. Dia cuma memandangi papa dan kakaknya bergantian.


" Kalian sudah pernah ketemu kan? Papa sudah kenalkan" Barata menjawab.

__ADS_1


" Aku tidak setuju! Papa boleh menikah, tapi bukan dengan gadis ingusan yang bahkan sebaya dengan Baskara pa? Apa papa nggak malu, sudah tua nikah dengan anak ABG. Kalau papa tidak malu, aku yang malu."


" Kamu belum mengenalnya Tom, bicaralah dengannya agar kamu tahu siapa dia. Papa cinta sama dia, dia juga mencintai papa dengan tulus. Dia nggak seburuk pikiranmu nak" papa berucap selembut mungkin.


" Bulshit, cinta? Dia cuma mau morotin papa. Sudahlah, kalau papa nekat kawin sama dia, jangan harap papa lihat aku lagi. Aku nggak sudi jadi anak papa."


Dan sejak itu Tommy tak pernah lagi pulang ke rumah ayahnya. Dia tinggal di apartemen sementara Baskara tetap tinggal di rumah. Dia hanya menemui Baskara di kampus atau Baskara yang datang ke apartemen.


Sejak itu juga Tommy menjadi antipati pada perempuan, apalagi perempuan cantik dan bergaya hidup mewah. Baginya perempuan hanya lintah yang menempel dan menghisap darah.


Tommy berubah jadi pria anti wanita.Tommy makin menjauhi para gadis yang mengejar-ngejarnya. Baginya mereka hanya mengejar harta seperti istri muda papanya. Tak ada wanita yang tulus. Semuanya matre dan munafik. Mana ada gadis muda, cantik mencintai pria tua berusia 50 tahun kalau bukan mencintai hartanya.? Omong kosong macam apa?


Saat pernikahan Barata dan istri mudanya itupun Tommy tak sudi datang, bahkan Tommy mengancam Baskara agar tidak datang ke pernikahan ayahnya itu.


Setelah menikah, Papa membawa istrinya pindah ke rumah yang lain. Papa berharap dengan kepindahannya Tommy akan melunak dan mau kembali ke rumah lagi. Tapi sampai empat tahun setelah pernikahan papa, Tommy tak pernah mau kembali. Padahal Baskara selalu membujuknya.


Tommy bergeming memusuhi papanya. Tapi dia mulai mau datang ke rumah meski cuma sebentar dan hanya untuk menemui adik satu-satunya kesayangannya, Baskara Dwi Putra.


Tahun berganti, Baskara yang polos dan tidak punya pikiran buruk ke papa pelahan mulai luluh melihat kesungguhan papa dan istrinya menunjukkan kasih sayang ke Baskara. Mengirim makanan, mengurus keperluan Baskara dan memenuhi semua kebutuhan finansialnya sehingga Baskara tidak pernah kekurangan seperti apa yang dikhawatirkan.


Papa ternyata tidak berubah meskipun sudah menikah lagi. Dan istrinya ternyata tidak seperti yang Tommy pikirkan. Gadis itu ternyata sangat sederhana dan dewasa. Bukan gadis matre yang sombong dan suka menghamburkan harta seperti yang dipikirkan kakaknya.


Papa juga tak pernah memaksa anak-anaknya untuk menerima istri barunya sebagai ibu mereka. Bahkan papa dan istrinya tidak keberatan sama sekali ketika Baskara memanggil mbak pada ibu sambungnya itu.


Apalagi ketika Baskara ke rumah papa dan istrinya itu, Baskara bertemu dengan dua gadis kecil yang begitu cantik dan lucu. Anak-anak papa dan istri mudanya. Hilang sudah rasa benci dan curiga dari hati Baskara. Adik-adik tirinya itu entah kenapa begitu saja akrab dan menempel padanya sejak pertama bersua.

__ADS_1


Lily dan Rose namanya. Lily sudah 3 tahun, sementara Rose masih 10 bulan. Anak-anak cantik itu memanggilnya Mas Bas..Mas Bas..dan langsung menghambur memeluknya. Berceloteh riang meski dia tak tahu apa yang dikatakan. Tapi hatinya menghangat.


Apakah gadis muda dan cantik yang matre itu mau punya anak kalau niatnya buruk pada papa? Dia pasti menjaga tubuhnya agar tetap utuh dan tak berubah. Tapi gadis ini bahkan dalam waktu empat tahun sudah memberikan 2 putri pada papa.


Mas Tommy benar- benar salah sangka. Gadis yang dikatakan kakaknya sebagai penggoda matre ini tampak sangat mencintai papa. Sepanjang dia bertemu, Lupi selalu menatap papa dengan mesra. Penuh senyum dan perhatian. Tampak tulus dan tidak dibuat-buat.


Juga perhatiannya pada Baskara layaknya ibu sesungguhnya, padahal usianya sebaya dengannya.


" Makan dulu Bas. Mbak tadi masak kesukaanmu. Nanti kamu bawa pulang buat dirumah. Buat masmu juga" kata Lupi suatu saat.


Atau...


" Mbak punya tiket konser band kesukaan kamu . Jangan bilang papamu karena dia tidak mengijinkan mbak membelikan tiket buat kamu. Mahal katanya. Padahal kan sekali-sekali juga boleh. Kadang papamu pelit."


Membuat Baskara tertawa. Papa selalu pelit untuk hal-hal sekunder. Teringat jersey klub bola yang papa juga menolak membelikannya.


Baskara jadi merasa punya dua kakak yang membelanya, memanjakannya. Mbak Lupi dan Mas Tommy. Mbak Lupi bilang saudaranya perempuan semua, lalu anaknya dengan papa juga perempuan semua, jadi dia merasa senang punya anak tiri rasa adik lelaki seperti Baskara.


" Bas, ajak masmu pulang nak. Ini rumah kalian, papa sama mbak Lupi dan adik-adikmu juga nggak di sini." kata papa suatu kali ketika sedang berkunjung ke rumah.


" Percuma pa, dia masih dendam sama papa dan mbak Lupi. Bahkan sampai sekarang nggak mau kenal cewek dan mau ngejomblo seumur hidup katanya pa. " jawab Baskara membuat papa tampak murung.


Karena itu,ketika Tommy bilang Sasi adalah calon kakak iparnya, Baskara begitu bahagia. Kakaknya sudah move on. Mungkin rasa benci pada papa dan mbak Lupi sudah terkikis oleh waktu. Atau Sasi memang begitu hebat hingga bisa membuat Mas Tommy melupakan dendam dan sakit hatinya pada papa dan pada wanita cantik.


Kakaknya bahkan sudah menyebut- nyebut akan menikah meski baru beberapa minggu jadian dengan Sasi. Kakaknya sudah tergila-gila pada Sasi. Seorang wanita cantik. Mahkluk yang selama empat tahun ini selalu dihindari dan diabaikan Tommy.

__ADS_1


__ADS_2