
Mbah Ageng membuka matanya. Sejak mobil Tommy berhenti di halaman rumahnya, orang tua itu sudah tahu Tommy datang. Dan tanpa mengatakan sesuatu Tommy pun sudah tahu mbah Ageng sedang berada di pendopo belakang rumahnya.
Dua orang dengan kekuatan batin di atas rata-rata itu seakan mempunyai mata-mata yang siap di manapun mereka berada. Sehingga dapat dengan mudah mengetahui hal-hal yang belum terjangkau mata kepala hanya dengan memikirkannya.
" Kenapa sedih begitu?" tanya mbah Ageng meskipun sebenarnya dia tahu isi hati Tommy.
" Sasi, kenapa susah sekali ya mbah mengatakan masalah lelembut ( mahkluk astral) ini pada Sasi. Pikirannya terlalu polos. Tak mau percaya hal-hal di luar nalar. Padahal dia sudah beberapa kali mengalaminya. Tapi otaknya seakan menolak percaya hal itu".keluh Tommy.
" Ndak usah dipikirkan. Mungkin memang hanya sampai di situ kemampuan Sasi memahami dunia astral. Dunia roh . Tidak banyak orang yang punya kemampuan seperti kamu Tom. Makanya mbah minta kamu menjaga kemampuanmu itu dan menggunakannya untuk kebaikan."
" Maaf mbah, rasanya saya juga merasa berat jika harus terus-menerus menggunakan kemampuan saya. Saat ini saya bersedia menggunakan itu cuma karena ada hubungannya dengan Sasi. Jika masalah Sasi dan pengganggunya itu selesai, saya malah bermaksud menyimpan saja kekuatan saya dan tak akan menggunakannya lagi."
" Kenapa?" tanya mbah Ageng heran. Disaat banyak orang berusaha mendapatkan kekuatan batin dengan berbagai cara, Tommy malah enggan memiliki kekuatan itu.
" Saya ini cuma orang biasa yang banyak dosa. Masih mencintai nafsu duniawi. Saya takut tak bisa bertanggung jawab dengan kekuatan besar yang saya miliki. Saya takut nantinya malah berbalik membahayakan saya dan keluarga saya."
Mbah Ageng tertawa.
" Kamu masih muda, tapi sudah punya rasa tanggung jawab yang besar. Bukan cuma pada pekerjaan, juga pada dirimu sendiri dan keluargamu. Sebenarnya itulah syarat yang dibutuhkan untuk jadi seorang yang benar yang memiliki ilmu langka ini. "
"Tapi semua terserah kamu. Mbah cuma membimbingmu untuk menemukan jati dirimu sendiri. Jika kelak kamu ingin berhenti, mbah juga maklum. Karena ilmu begini memang abot sanggane ( berat tanggung jawabnya)"
" Inggih mbah" jawab Tommy singkat.
" Sekarang mbah ingin melihatmu menyentuh jiwa mbah. Menemui mbah di alam roh. Pertemuan antar jiwa. Ini yang akan jadi bekalmu mempelajari ilmu perang di dunia tak kasat mata. Lebih tepatnya ilmu pertahanan diri di dunia lain. Kamu siap Tom?" tanya mbah Ageng.
" Siap mbah!" jawab Tommy.
Lelaki itu selanjutnya segera bersikap sempurna dalam semedi. Penyerahan diri seutuhnya kepada Sang Pembuat Hidup.
Pelahan kesadarannya terbagi dalam dua dimensi. Sukmanya dengan ringan pergi meninggalkan raga sehingga dengan jelas Tommy dapat melihat tubuhnya sendiri dan tubuh mbah Ageng sementara bayangan tubuhnya yang lain yang seakan tembus pandang, berhadapan dengan bayangan mbah Ageng yang juga tembus pandang.
Baru kali ini Tommy benar-benar melihat wujud rohnya sendiri dan roh orang lain, guru spiritualnya. Rasanya tak bisa di bayangkan dan di ungkapkan dengan kata-kata. Sungguh menakjubkan.
Namun kini Tommy merasa dadanya sesak.
" Mbah..kenapa dada saya sesak?" tanya Tommy tanpa kata terucap.Begitu saja terngiang di kepalanya. Anehnya Mbah Ageng bisa mendengarnya.
"Tenangkan dirimu. Jangan terlalu larut dalam kekaguman dan ketakjuban semu. Ojo nggumunan ( jangan suka heran berlebihan). Tidak ada yang lebih menakjubkan selain kekuatan Sang Pembuat Hidup. Ilmu manusia bagaikan setitik kuman di lautan jika dibanding ilmu Sang Maha Berilmu. Hilangkan rasa bangga dan gede rumongso ( sombong). Kita ini kecil dan remeh. Cuma Tuhan yang Besar dan Maha segalanya"
Tommy menangis dalam diam. Merasa begitu menyesal karena sudah menyombongkan diri di depan Tuhan dengan kekuatannya. Ampuni aku ya Tuhani... Tommy merendahkan diri serendah-rendahnya. Memohon ampun atas sikap jumawa ( sok, sombong) nya. Dan pelahan dadanya yang sesak kembali lega...Hahh...Tommy menghela nafas pelahan.
" Sekarang coba sentuh mbah.!" titah mbah Ageng. Tetap tanpa kata. Seakan mulut tak lagi berguna.
Tommy menggerakkan tangannya. Berusaha menggapai tubuh tua mbah Ageng yang tampak seperti bayangan.
Selama ini Tommy cuma melihat obyek yang dilihatnya di alam astral. Baru kali ini Tommy mencoba menyentuhnya.
Beberapa kali seakan cuma menggapai angin. Tommy lalu berhenti sejenak . Beberapa saat mencoba kembali menyentuh gurunya itu. Matanya tajam menatap bayangan dalam pendar cahaya keemasan tubuh mbah Ageng. Hingga tampak oleh Tommy sesosok tubuh yang lebih berwujud, bukan sekedar bayangan seperti sebelumnya.
__ADS_1
" Maaf mbah, saya mohon ijin menyentuh tangan mbah.." Bisik Tommy dan menyentuh pelahan tangan mbah Ageng. Hawa hangat merasuki tubuh Tommy saat tangannya di sambut mbah Ageng.
Orang tua itu tersenyum.
" Kamu berhasil Tom. Padahal mbah saja dulu butuh seminggu untuk dapat menyentuh roh orang lain."
" Terima kasih mbah. Ini semua berkat kerja keras mbah mengajar saya" ujar Tommy merendah.
Mbah Ageng melepaskan tangannya dan menurunkannya ke pangkuan. Diikuti Tommy melakukan hal yang sama.
Keduanya kemudian kembali melakukan sikap penyerahan diri. Mohon ampun dan bersyukur atas limpahan berkat dari sang Esa.
Setelahnya semua kembali tenang. Mbah Ageng dan Tommy pelahan membuka matanya.
" Jadi bagaimana menurutmu Tom? Apa yang bisa kamu pelajari?"
" Saya tidak boleh gegabah dan terburu-buru menilai sesuatu. Bisa jadi yang kita lihat cuma bayangan semu. Tipuan mata yang mengaburkan makna sebenarnya. Jadi kita tetap harus fokus dan konsentrasi mengerjakan semuanya. Sehingga kita benar-benar menemukan makna sebenarnya dari apa yang kita lihat. Bukan cuma fatamorgana penglihatan kasar kita."
" Rasanya kamu sudah pantas jadi guru Tom? Mbah tidak perlu susah-susah mengeluarkan tenaga. Semua sudah kamu kuasai." Mbah Ageng lagi-lagi dibuat kagum dengan kata-kata bijak Tommy.
Tommy sendiri terkejut dia bisa mengatakan semua itu. Benar-benar ilmu yang tak akan bisa dipelajari hanya dengan menggunakan nalar dan logika sempit manusia.
Tiba-tiba Tommy tersenyum-senyum sendiri.
" Kenapa Tom?"
Mbah ageng tertawa terkekeh-kekeh.
" Cinta , katresnan akan mencari jalannya untuk bersatu, tapi kebencian akan selalu menemukan cara untuk berpisah. Mbah cuma membuka mata hati kalian berdua. Ternyata kalian memang sudah terhubung sejak lama. Namun terhalang tembok tak kasat mata. Itu yang mbah hilangkan sehingga akhirnya kalian bertemu."
"Terima kasih sekali mbah. Entah dengan apa bisa membalas kebaikan mbah." Tommy menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Cukup hidup dengan baik dan jujur. Jaga Sasi dan keluargamu dengan baik. Tetap pertahankan sikap rendah hati dan tidak sombong. Selalu ingat Tuhan agar tidak jumawa." nasehat mbah Ageng.
" Baik mbah. Ngestoaken dhawuh" ( melaksanakan perintah) Tommy mengangguk hormat.
" Cukup untuk hari ini Tom. Pulang dan istirahatlah. Besok kita akan mulai pelajaran kanuragan. Mempelajari seni berperang dan pertarungan akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan berat. Kamu harus mempersiapkan dirimu sebaik-baiknya."
" Baik mbah. Saya mohon pamit. Matur nuwun" Tommy mengangguk hormat
Tommy beringsut mundur dan melangkah keluar pendopo. Melewati taman samping rumah menuju halaman depan tempatnya memarkir mobil.
Perjalanan pulang ke apartemen terasa singkat. Tommy merasa semangatnya makin membara untuk mempelajari semua tentang dunia tak kasat mata. Terutama tentang makhluk yang selalu mengganggu Sasi. Tekadnya yang bulat membuatnya tak pernah merasa lelah meski tiap hari harus mengeluarkan tenaga dalam yang besar untuk berlatih.
Sampai di apartemen Tommy segera mandi dan mengganti pakaiannya. Bajunya basah oleh keringat. Tak disangka, mengeluarkqn kekuatan tak kasat mata ternyata memang seberat ini.
Tadinya Tommy menyangka adegan-adegan di film laga yang selalu menampakkan otot dan kekuatan pemainnya saat mengeluarkan tenaga dalam adalah suatu hal yang didramatisir untuk kepentingan komersial saja. Lebay.
Ternyata untuk sekedar menyentuh jiwa orang lain saja tubuhnya sudah bercucuran keringat begini. Apalagi jika harus menyerang atau diserang orang lain? Tiba-tiba nyali Tommy menciut.
__ADS_1
Namun nyali yang tinggal seujung kuku itu kembali membuncah manakala sebuah panggilan telpon berdering.
My dream girl calling....
" Ya sayang...apa? Udah kangen lagi? Tadi kan udah dapat banyak obat kangennya.?" Goda Tommy bertubi-tubi pada Sasi.
" Obat kangen apa Tom? Dapat banyak seberapa?" Suara lain menjawab candaan Tommy. Mati aku! Rutuk Tommy pada dirinya sendiri saat mengenali suara di seberang ponsel.
" Ibb..buu...ehehe...sugeng dalu bu? Ada apa bu? " tanya Tommy menutupi rasa malunya. Sementara di seberang terdengar Sasi tertawa-tawa.
" Begini Tom, kalau bisa besok sore sepulang kerja kamu mampir ke rumah ya...ada acara yaa..semacam gladi resik.untuk prosesi nikahan kamu yang pakai adat. Nanti ada pemangku adat yang kasih penjelasan. Bisa Tom?" tanya ibu lembut seperti biasa.
" Bisa..bisa bu..." Jawab Tommy singkat
" Ya sudah kalau mau lanjut kangen-kangenan. Jangan kelamaan. Jangan kemalaman. Besok kerja!" kata ibu.
" Ii..iyya..bu. Baik bu! " jawab Tommy terbata-bata.
" Halo sayang..." suara Sasi terdengar menggoda sambil masih tertawa.
" Sasiii...kamu bikin mas malu...!" gerutu Tommy.
" Ahahaha...tenang aja...ibu juga paham kali mas. Beliau juga pernah muda. Ngga usah dipikirin..." jawab Sasi.
"Tetap aja malu sayang...ketahuan suka kencan ngumpet-ngumpet ...hahaha...habis enak sih" Tommy merasa geli sendiri.
" Tuh kan , masa aja suka mesum gitu kalau ngomong . gitu sok malu-malu di depan ibu..." ledek Sasi.
" Emm..jadi tadi nelpon cuma mau ngomongin yang dibilang ibu? " tanya Tommy.
" Iyaa...tapi pengen denger suara mas juga..nggak boleh?" rajuk Sasi manja.
Tommy tersenyum senang.." Boleh dong..malah seneng. Mas tadi juga mau nelpon kamu. Eh keduluan ibu. Kamu kok belum tidur sayang, nonton muka ember lagi?"
Sasi mendengus kesal. " Biarpun ember juga ganteng tau mas. Jangan menghina!"
" Heleh..gantengan juga masmu ini. Asli buatan Tuhan. Gak pake tambalan plastik!" bangga Tommy.
" Iya..iyaa...aku akui Mas emang ganteng dari lahir. Kalau nggak, Sasi ngga akan mau mas...hehehe.." Sasi merayu.
" Selain ganteng...apa lagi?" Tommy sudah berbunga -bunga digombali Sasi.
" Em..baik hati nggak sombong nggak pelit. Yang paling penting cinta banget sama Sasi. Mau ngelakuin apa saja buat Sasi. You are the best boyfriend ever.."
Tommy tersenyum-senyum sendiri di kamarnya.
Sementara itu Sasi jugai sudah terlelap di kamarnya. Nafas halusnyan terdengar teratur menandakan tidurrnya telah lelap.
Tapi tak lama kemudian Sasi terbangun dari tidurnya. Mendapati dirinya telah berada di sebuah taman yang beberapa saat lalu pernah juga dijumpainya. Tapi entah dimana.
__ADS_1