
" Siapa Sas, aku kenal gak? Lebih ganteng dari aku? Kamu sudah lihat baik-baik? Jangan-jangan kamu salah lihat atau lagi gak sadar pas terima dia jadi pacar " Reza masih saja ngocol meski matanya berkaca-kaca. Hatinya patah jadi dua.
Tommy mendecih. Tentu saja aku jauh lebih ganteng dari kamu paijooo..Mengejek dalam hati. Sombong......
" Nanti pasti aku kenalin. Tapi bukan sekarang." Sasi tersenyum manis. Berharap senyumnya sedikit mengurangi rasa kecewa dua sahabat yang dia tahu memang mencintainya itu.
" Jadi aku nggak ada kesempatan lagi Sasiii?" Davin memelas.
" Viin please deh. Jangan bikin aku makin ngerasa salah. Kalian berdua ini dari dulu sampai kapanpun tetap sahabatku."
Sasi mengulurkan tangannya pada Reza dan Davin. Kedua lelaki itu menyambut tangan lembut Sasi dan menggenggamnya sambil menatap Sasi dalam-dalam. Seakan ini hari terakhir mereka meihat Sasi.
Tommy kembali berdecak kesal." Plak...plak!" Di tepuknya keras tangan Reza dan Davin yang beberapa saat menggenggam erat tangan Sasi namun tak segera melepaskannya.
" Kalian ini, nggak sungkan ada boss disini. Malah main drama!" Tommy menggerutu.
Davin dan Reza terpaksa melepas tangan Sasi saat Tommy menepuk tangan mereka. Kesal jelas terpancar di wajah keduanya. Bos nggak ada ahklak. Nggak tau apa , anak buahnya sedang patah hati dan butuh pegangan?
Sasi melirik Tommy sekilas dan menggelengkan kepalanya. " Posessif" keluhnya dalam hati. Tommy yang sadar Sasi meliriknya pura-pura tak melihat. Membuat Sasi mendecak gemas.
Akhirnya setelah drama sedih patah hati itu berakhir, duo merana itu pun pamit pulang pada Sasi.
" Kita pulang dulu cantik, vitamin diminum terus ya...jangan sakit-sakit. Di sini ikutan sakit.." Reza menunjuk dadanya sendiri.
Sasi terkekeh mendengar gombalan Reza. " iyaa...makasih ya selalu perhatiin aku" Sasi menatap Reza dan Davin bergantian. Dua lelaki patah hati itu cuma tersenyum masam.
" Ibu mana, kita mau pamit pulang.." Davin menanyakan ibu pada Sasi.
" Ibu lagi kontrol kebun di selatan. Mungkin sekalian mampir ke rumah Palupi. Dari pagi belum pulang."
" Oh gitu. Makanya kok gak kelihatan. Biasanya ikut ngobrol kalau ada kita. Ya udah Sas, kita pamit dulu. Besok kamu udah masuk kan?"
" Iya , pasti masuk. Sudah sehat ini."
" Oh iya boss, kita pamit duluan. Bos masih ada perlu? " Davin menyapa Tommy yang tidak beranjak dari duduknya. Sementara Reza diam seribu bahasa. Mengahayati cintanya yang merana.
" Kalian duluan. Saya ada yang mau dibicarakan dengan Sasi. Masalah kerjaan." Jawab Tommy santai.
Reza dan Davin mengangguk. Kemudian berjalan ke arah mobil mereka diparkir. Sasi berjalan di tengah-tengah keduanya.
Begitu masuk mobil, keduanya melambaikan tangan ke arah Sasi yang membalasnya sambil tersenyum. Menatap mobil Reza hingga hilang dari pandangan.
" Jangan lama-lama di luar. Dingin" Bisik Tommy tiba-tiba sambil melingkarkan tangan di pinggang Sasi. Merengkuhnya lembut dari belakang membuat sasi terkejut setengah mati.
" Mas..ngagetin tau. Lepasin maaass, dilihat orang gak enak." Sasi berusaha melepas pelukan Tommy. Namun Tommy bergeming.
__ADS_1
" Jadi kalau nggak dilihat orang boleh?" Tommy kembali berbisik di telinga Sasi. Gadis itu merinding merasakan tubuhnya bersentuhan dengan Tommy. Telinganya seperti dibelai angin saat Tommy bicara.
" Mas please...jangan gini..." lirih Sasi. Takut dilihat orang , tapi hati kecilnya tak bisa menolak.
" Sebentar saja. Kangen tau, seharian gak ketemu" Tommy malah mempererat pelukannya dan menjatuhkan dagunya di pundak Sasi. Hingga pipi keduanya saling menempel.Matanya terpejam. Menghirup dalam-dalam harum parfum favoritnya yang menguar dari tubuh Sasi.
Sasi menghembuskan nafas pelan. Lalu ikut memejamkan matanya. Tak lagi menolak atau berusaha melepaskan diri. Mengikuti kata hatinya. Membiarkan dirinya menikmati pelukan dan rengkuhan Tommy yang melenakannya. Membuat hatinya mengharubiru. Harus mengakui , Sasi pun merindukan lelakinya ini. Diusap dan digenggamnya tangan Tommy yang melingkari perutnya. Ahh..jomblo mana tau rindu?
Keduanya saling menatap mesra dan tersenyum penuh arti saat Tommy melepas pelukannya.
" Masuk yuk. Dingin di luar." Tommy merengkuh pundak Sasi dan membawanya masuk ke ruang tamu.
Keduanya duduk berdampingan di sofa. Tommy melingkarkan tangannya ke pinggang Sasi , sementara Sasi menyandarkan kepala di pundak Tommy.
" Mas , kenapa sih bilang sama Reza?" Sasi bergumam pelan namun dapat didengar jelas telinga Tommy.
" Tapi kan gak bilang siapa pacarmu, calon suamimu.Cuma agar mereka sadar , kalau kamu sudah ada yang punya. Biar mereka cepet move on . Jangan ngarepin kamu lagi.Kamu sudah jadi milik orang. Milikku.! " Tommy berucap pelan namun penuh tekanan. Pelukannya di pinggang Sasi makin erat.
" Kasihan mereka loh mas" Sasi menundukkan wajah membayangkan mendung yang bergelayut di wajah kedua sahabatnya tadi.
" Terus sampai kapan kamu mau pe-ha-pe in mereka terus. Itu malah tambah sakit sayang.." Tommy mendecak kesal.
" Bukan gitu, maksudku ngasih taunya pelan-pelan. Harusnya mas bilang dulu. Jangan mendadak kaya tadi. Aku kan belum siap? Lagipula, Emang siapa calon suamiku? " Sasi tersenyum menggoda.
" Aku. Bastomi Perdana!" Tommy menjawab jumawa.
"Ngga ada sih. Suka-suka aku aja. Sasiiii..Emang kamu nggak mau jadi istri aku?." Tommy menggeram lalu mulai menggelitik pinggang Sasi.
Gadis itu menggeliat kegelian. Meringkukkan tubuhnya dan tanpan sadar menyembunyikan wajah di dada Tommy. Sementara Tommy masih menggelitikinya.
" Mas sudah, stop!" Sasi merengek. Tak tahan kegelian.
" Bilang dulu, kamu mau jadi istriku!" Tommy tetap menggerakkan tagan di pinggang Sasi.
" Nggak mau....hahahaha" Sasi hendak berdiri tapi ditahanTommy.
" Bilang mau..." Tommy makin menjadi.
" Oke-oke...enough...sudah mas, aku bisa pipis disini...hahaha" Sasi tertawa-tawa.
" Bilang mau dulu!" seru Tommy kekeh.
" Iyaaa...aku mauuu...hah...hah.." Sasi menyandarkan tubuhnya yang lemas kegelian di sofa setelah Tommy menghentikan gelitikannya.
Tommy tersenyum menatap Sasi." Jangan coba-coba berubah pikiran, hah...?" Tommy mengangkat tangannya seakan mau menggelitiknya lagi. Mengancam Sasi sambil tertawa smirk.
__ADS_1
" Ampun mas boss sayaang...Sasi kapok" Sasi mengangkat tangannya ke atas. Dan tiba tiba...
" Cup..." Tommy mengecup pipi Sasi dari samping. " Aku juga sayang kamu" bisiknya lembut.
" Mas..." Sasi terpana. Lagi-lagi kecurian.
" Besok minggu ikut aku ketemu papa ya..." Tommy kembali merangkul bahu Sasi. Tak mempedulikan Sasi yang masih terkejut karena efek ciumannya.
Sasi mengangkat wajah menatap Tommy, saat bersamaan Tommy menundukkan wajah menatap Sasi. Wajah keduanya bersentuhan. Saling menatap penuh perasaan.
Kali ini Sasi tak ingin kecurian lagi. Ditatapnya lekat wajah Tommy. Mata pria itu berkabut hasrat.
" Jangan mencuri lagi." Sasi merengut.
" Emang kalau bilang dulu dikasih?" Tommy menggoda.
" Enggak ..." Sasi tertawa.
" Sasiiii....nikah yuk! Tommy mendesis lirih.
" Iya mas, tapi nggak sekarang. Aku nggak mau keburu-buru.. Slowly mas.."
" Trus kamu maunya apa?" Tommy membelai rambut Sasi.
" Pacaran dulu lah. Happy-happy." Sasi menatap Tommy
" Kita pacarannya habis nikah aja. Lebih asik. Bebas mau ngapa-ngapain." Tommy mengerling nakal.
" Emang mas mau ngapain sih sampai pengen buru-buru nikah?"
" Maunya aku banyak. Kamu mau kan nikah sama aku?" Tommy mengelus puncak kepala Sasi . Mengecupnya lembut.
" Kita belum sebulan jadian loh mas. Apa gak terlalu cepat?"
" Tapi aku sudah mengenalmu lebih dari empat tahun , sayang...I know you so well"
" Entahlah mas, aku merasa masih belum mengenalmu terlalu dekat. Mas itu sebelum jadi pacar aku orang yang misterius, pendiam, dingin, tak tersentuh..." Sasi mendecak.
Tommy tersenyum nakal. " Sekarang, kamu boleh kok menyentuhku. Mau sentuh dimana? Tubuhku sekarang milikmu sayang..."Tommy merapatkan duduknya ke Sasi.
" Maasss...bukan itu ...maksudku hatimu yang tak tersentuh..." Sasi melengos gerah mendengar ucapan nakal Tommy.
Pria itu tertawa puas. " Sasiii...kamu juga sudah menyentuh hatiku, bahkan mencurinya."
Sasi menggeleng jengah. " Masss...jangan terus-terusan merayuku. Aku juga bisa khilaf..dan balik menyerangmu.." menggigit bibir bawahnya dan menunduk. Kemudian tertawa lirih.
__ADS_1
Lelaki itu mendesis menahan aliran darah dalam tubuhnya yang mendadak deras mengalir. Menahan bagian tubuhnya agar tak menerkam Sasi yang nampak bagai makanan lezat di depannya...uhh panass...