Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#PSS Extra Episode 3. My Beauty Baby Rani


__ADS_3

Rani masih terpaku ditempatnya berdiri. Masih berdebar mengingat pelukan Rangga yang demikian erat dan dalam dirasakannya.


" Apa aku sudah gila mencintainya? Dia seumuran papa. Tapi aku begitu mengaguminya. Tidak, bukan hanya kagum, tiap hari aku merindukannya. Membayangkan dia memelukku. Dan hari ini dia benar-benar memelukku. Kenapa aku merasa dia pun merindukanku?"


" Rani, ayo...tinggal tiga puluh menit lagi, ngapain kamu bengong disini?" Suara Lily teman kuliah sekaligus bibi dan sepupunya... ( duh ribet kan? Masih ingat Lily putri Barata dan Palupi?) menyadarkan Rani.


" Kamu kenapa? Nervous? Ngga mungkin lah seorang Rani nggak siap?"


"Eh..ayo Lyl...Siap dong..fighting!!" Rani dan Lily beradu tos. Hari ini mereka berdua akan mempertaruhkan hasil belajar mereka di depan dosen penguji mereka.


Meski mereka menempuh pendidikan dengan rentang waktu berbeda, sidang skripsi mereka kebetulan bersamaan.


" Ehh...bunga dari siapa tu? Hayooo...Dari pacar ya?" Lily menggoda Rani ketika melihat buket bunga di pelukan Rani.


"Oh...ini ? Bukan , ini dari teman kok, aku nggak punya pacar."


" Cieee ayolah...nggak usah malu kali Ran. Kita ini sudah dewasa, sudah boleh pacaran" Lily tertawa melihat kegugupan Rani.


" Itu kan kamu Lyl, opa orangnya santai, papaku? Baru juga ada cowok ke rumah pinjam buku, sudah diinterogasi sampai terbirit-birit...hahhaha...." Rani tertawa tergelak mengingat beberapa teman yang berusaha mendekatinya diintimidasi Tommy hingga trauma dan mundur sebelum perang.


Llily ikut tergelak. Dia juga tahu betapa posesifnya pak Dhe nya sekaligus kakak sambungnya itu pada Rani.


Di belakang Lily tampak Baskara tersenyum menatap Rani. Gadis itu langsung menghambur memeluk om kesayangannya itu.


" Hayoo...lagi gibahin papamu ya, awas om laporin nanti..." Baskara terkekeh. Kadang merasa kasihan juga melihat Rani yang terlalu dikungkung Tommy. Kakaknya itu memperlakukan Rani seperti pada Sasi. Miliknya yang tak boleh tersentuh oleh lelaki lain.


" Om Bas, kirain gak datang..." Rani membenamkan wajah ke dada Baskara. Baskara mengusap lembut rambut keponakannya itu.


" Gak mungkin om Bas gak datang, siapa yang akan memberi semangat ke dua bidadari ini ha? Ayo cepat masuk. Om tunggu di ruang tunggu ya?"


" Doain kami ya om?" Rani mencium punggung tangan Baskara. Pria itu mengusap kepala Rani sambil mengangguk dan mencium kening Rani.


" Sukses sayang, Om doakan yang terbaik!"


" Nitip bunganya ya om..." Rani menyerahkan bunga pemberian Rangga malu-malu. Lalu bergegas pergi agar tak ditanya macam-macam oleh omnya tentang bunga itu.


" Doain Lily juga Mas Bas.." Lily memeluk kakak kesayangannya itu erat. Baskara membalas pelukan adiknya tak kalah erat.


" Pasti mas doain Sukses ya sayang.."Baskara lalu mencium kening adiknya itu.


Keduanya kemudian meninggalkan Baskara dan masuk ke ruang ujian yang sudah di tentukan.


Baskara tersenyum memandang dua gadis cantik yang berjalan sambil bercanda tanpa beban, hingga menghilang di balik pintu gedung tempat ujian.


Dipandanginya buket mawar yang dititipkan Rani padanya. Tak mungkin ini dari temannya. Pasti dari pacarnya, atau paling tidak teman istimewa Rani. Baskara sudah membayangkan Tommy akan menginterogasi Rani jika tahu tentang buket ini. Apalagi Rani pun tampak sangat bahagia menerima buket ini.


Hari ini Tommy dan Barata menugaskan Baskara untuk menemani putri-putri mereka menjalani sidang skripsi.


Baskara sudah memberitahu istrinya, Giska bahwa hari ini dia tidak akan makan siang bersama istrinya itu karena akan menemani Rani dan Lily. Di luar dugaan Giska malah ingin ikut menemani dua gadis itu bersama Baskara.


Istri Baskara Giska, adalah seorang dokter gigi yang dikenalkan ibu Sasi pada Baskara. Baskara memang minta dijodohkan saja pada ibu Sasi karena setelah berganti-ganti pacar hingga bosan, ternyata tak ada satu pun yang cocok di hatinya. Namun, begitu ibu Sasi mengenalkan Giska , salah satu saudara jauh Sasi, Baskara langsung merasa cocok dan nyaman.


Setelah menjalin hubungan beberapa bulan, Baskara merasa yakin untuk melamar Giska. Keduanya pun menikah tak lama kemudian. Kini Baskara dan Giska sudah dikaruniai dua putra.


Barata sendiri sudah menyerahkan pengelolaan perusahaaannya pada Baskara sejak putra ke duanya itu menyelesaikan S2 nya.


Sekitar satu jam kemudian Rani dan Lily sudah keluar dari ruang ujian mereka masing-masing. Wajah keduanya tampak berseri-seri .


Rani yang keluar lebih dulu segera menuju ruang tunggu di mana Baskara berada bersama Giska istrinya. Dari kejauhan tampak Baskara sudah berdiri dan menyambutnya. Rani berlari menghambur ke pelukan om nya. Baskara memeluk erat Rani.


" Gimana sayang? Sukses kan?" tanya Baskara.


" Sukses dong ooom..lulus dengan memuaskan!" Mereka kemudian berangkulan menuju meja Giska. Istri Baskara itu bangun dari duduknya dan memeluk Rani erat.

__ADS_1


" Congrat Rani, tante ikut bangga" seru Giska


" Makasih Tan.."


Mereka bertiga kemudian menunggu Lily sambil mengobrol penuh canda dan tawa.


" Om, tante, Rani mau ke toilet sebentar, jangan ditinggalin ya..."


" Iya sana, jangan lama-lama."


Rani setengah berlari menuju ke toilet. Namun di tengah perjalanan sebelum sampai ke toilet, Rani melihat sekelebat bayangan seseorang yang sangat dikenalnya.


Penasaran, dikejarnya bayangan seseorang yang berbelok ke lorong yang sepi. Tapi tak ada orang di sana. Rani masih mencari ketika tiba-tiba tangannya di tarik seseorang ke dalam sebuah sudut yang tersembunyi.


Rani sangat terkejut dan hampir menendang orang yang menariknya , namun diurungkannya begitu mengenali orang itu.


" Om Rangga..?"


Rangga membawa Rani duduk di bangku panjang yang ada di situ. Menggenggam erat tangan Rani. Gadis itu tak menolaknya. Menurut duduk di sebelah Rangga.


Rani berdesir ketika kulitnya bersentuhan dengan lelaki tampan itu. Lelaki itu seusia papa, tapi entah mengapa Rani tak pernah menganggapnya tua, bagi Rani wajah Rangga adalah kesempurnaan yang selalu dirindukannya. Keindahan yang selalu menjadi dambaannya. Menatap wajah Rangga seperti mereguk anggur manis yang memabukkanñya. I love you om ganteng....bisik hatinya lirih.


.


" Gimana sidangnya? Sukses?"


" Puji Syukur Sukses Om, lulus dengan memuaskan"


" Rani memang hebat" Rangga mengusap lembut rambut Rani.


" Om mau ketemu om Baskara?" tanya Rani.


Rangga menggeleng sambil tertawa " Om mau ketemu Rani. Cuma mau mengucapkan selamat saja. Ya sudah om pergi ya. Jangan bilang om Baskara kalau om datang."


" Rani, boleh om minta nomor ponselmu?"


Rani tersenyum dan mengangguk. Jangankan nomor telpon, hatiku akan kuberikan jika kau minta om...


Rangga mengambil ponsel dari saku celananya. Tangan kirinya tetap menggenggam Rani. Lalu diserahkannya ponsel itu pada Rani.


" Om, Rani mau nulis nomor Rani.." Gadis itu menunjuk tangannya yang masih digenggam Rangga dengan sudut mata. Rangga tersenyum jengah dan terpaksa melepas jemari Rani yang digenggamnya erat.


Gadis itu mengetikkan nomor ponselnya ke ponsel Rangga lalu menyerahkan kembali kepada Rangga.


" Makasih sayang. Om pergi ya...sampai ketemu lagi..." Rangga mengusap lembut pipi Rani sekilas. Lalu pergi meninggalkan Rani.


Rani berdiri bersandar pada dinding. " Dia selalu memanggilku sayang" hatinya berbunga-bunga. Meredam dadanya yang berdetak bertalu-talu. Matanya terpejam membayangkan wajah tampan yang selalu dirindukannya itu tengah menatapnya lembut dan penuh perasaan.


Di rabanya pelahan pipinya yang tadi disentuh Rangga " Papaa.....apa yang akan kau lakukan jika tahu ada lelaki lain membelai pipi putrimu...?" Rani tak bisa membayangkannya.


" Raniiii..hei...ngapain kamu di sini? Mas Bas dan mbak Giska sudah nungguin lho..!"


Suara Lily menyadarkan Rani dari lamunannya.


" Ohh...iya Ly...tunggu sebentar ya, tadi toiletnya antri." Rani mengelak dan bergegas ke toilet. Rangga membuatnya lupa tujuannya. Ah...om tampankuuu....


Di tempat lain...di dalam mobil yang tengah membelah padatnya jalan raya, Bayu menggelengkan kepalnya jengah melihat tingkah sang pangeran Harya tuannya.


Rangga memejamkan matanya, bersandar pada jok dengan tangan di belakang kepala. Sesekali tangannya memegangi dadanya seakan dadanya itu akan meledak. Bibirnya menyunggingkan senyum dengan wajah merah merona.


" Baru dapat jack pot boss?" sindir Bayu sambil mencibir.


Rangga tak menjawab hanya tertawa terkekeh...lalu terucap lirih sebuah nama dari bibirnya..Raniii...Ranii...gadis kecilku yang cantik....cintaku....

__ADS_1


Bayu menepuk keningnya sendiri. Tuhan tolong, jangan biarkan aku ikut gila.!


" Sampai kapan begini boss?" keluh Bayu seperti bicara sendiri.


" Dia milikku Bay...kami saling mencintai sejak lama" Rangga menerawang. Melukis wajah cantik Rani di angannya yang melayang-layang.


" Bos siap menghadapi Tommy dan Sasi? Keluarga besar mereka?"


" Aku harus siap Bay, ini adalah tantanganku jika ingin bersamanya. Dan aku tak akan mundur lagi. Karena kini aku yakin dia juga mencintaiku"


Rangga memejamkan mata lagi. Terbayang kembali ketika dia menggenggam.jemari gadis itu lalu membelai pipi Rani yang halus itu dengan lembut.


" Jangan lama-lama boss. Jangan sampai Tommy dan Sasi tahu lebih dahulu dari orang lain. Bisa hancur semuanya."


" Aku juga ingin secepatnya Bay, tapi Rani itu masih kecil. Dia pasti kaget kalau tiba-tiba aku mengatakan cinta padanya, apalagi langsung melamarnya. Itu nggak mungkin...."


" Sudah tahu dia gadis kecil , kanapa boss nekat juga?" Bayu mendengus.


" Ini cinta Bay...kapan lagi aku bisa merasakan cinta seperti ini?"


" Pikirkan saja cara memberitahu Tommy dan Sasi tentang ini boss..." Bayu menggeleng ragu.


" Apa aku harus membawanya lari saja Bay?"


" Bos jangan gila, Apa kata orang? Apa kata Sinuwun Raja dan Ratu ? Pangeran tega merusak nama dan kehormatan keluarga istana?"


Rangga meremas rambutnya sendiri. Belum bertemu Tommy saja hatinya sudah gundah begini. Bagaimana harus bilang pada Tommy dan Sasi bahwa dia menyukai Rani? Apakah Tommy akan menerimanya? Atau malaH menolaknya mentah-mentah dan memisahkan mereka?


Rangga dalam dilema. Sebagai pria dewasa dia tak ingin main-main dengan perasannya pada Rani..Namun keraguannya pada tanggapan Tommy membuatnya bimbang melangkah maju. Khawatir kalau- kalau saat dia berterus terang pada Tommy, ayah Rani itu malah menolak dan menjauhkan mereka.


Rangga tak akan sanggup lagi berpisah dengan Rani saat ini, apalagi sampai berjauhan dan tak melihatnya sama sekali. Dia bisa benar-benar gila kalau itu terjadi.


" Pastikan dulu perasaan anak itu boss. Jika dia benar suka pada boss, dan mau berhubungan serius dengan boss, baru pikirin cara menaklukkan orangtuanya. Jangan bos sudah yakin ternyata anaknya cuma nganggep boss bapaknya. Malu boss..."


Bayu sudah tidak sungkan-sungkan lagi menasehati bossnya itu.. Bagi Bayu saat ini Rangga sudah berubah jadi anak ABG labil yang sedang jatuh cinta. Jadi akal sehatnya sudah hilang entah ke mana.


Rangga mengangguk-angguk. Sepertinya Rani juga punya perasaan yang sama dengannya. Rangga bisa melihat dari cara gadis itu menatapnya. Itu tatapan yang sama dengan matanya pada Rani. Tapi bagaimana cara memastikan perasan gadis itu?


" Bay, bagaimana kalau aku mengajaknya bertemu berdua saja, agar aku bisa bertanya langsung tentang perasaannya?"


" Itu lebih baik boss. Tapi alasan apa boss ketemu dia tanpa dicurigai orangtuanya? Kecuali boss menemui dia sembunyi-sembunyi seperti hari ini." Bayu mendecak. Dan itu berarti sport jantung. Bersiap menghindar atau beri alasan masuk akal jika ketahuan keluarga Rani.


Lagipula, apakah Rani mau bertemu empat mata dengannya? Alasan apa yang akan disampaikan Rangga agar bisa bertemu Rani berdua saja. Tanpa gangguan , hingga dia bisa mengungkapkan perasaan sekaligus memastikan perasaan Rani padanya dengan tenang tanpa dihantui ketakutan.


Haruskah aku minta izin Tommy untuk bisa menemui Rani? Apa itu bukan bunuh diri namanya? Ahh masabodoh! Rangga membuka ponselnya dan menghubungi Rani. Tak ada jawaban hingga panggilan ke tujuh Rani baru menjawabnya.


" Ya Om, ada apa? Rani lagi makan siang bersama keluarga besar. Merayakan kelulusan Rani dan Lily.." Suara Rani berbisik.


" Maaf om mengganggu, Rani bisa nggak nanti ketemu om? Ada yang ingin om bicarakan dengan Rani berdua saja . Penting.."


Rangga merasa kepalang basah. Harus secepatnya menyelesaikan ini semua. Rani terdiam beerapa saat sebelum menjawab.


" Oke om, shareloc aja, nanti Rani kasih kabar bisa datang atau enggak. Bye om..." Rani buru-buru menutup panggilan sebelum Rangga menjawab. Jantungnya berdetak kencang. Papanya menatapnya tajam dari kejauhan.


" Siapa telpin sayang, sampai harus menjauh dari papa? " Tommy langsung bertanya begitu Rani sudah kembali duduk di sebelahnya.


" Dosen pembimbing Pa...konfirmasi hasil sidang tadi" Ups! Rani menelan salivanya sendiri. Merasa bersalah berbohong pada papanya, tapi takut berterus terang tentang Rangga. Takut papanya marah pada om gantengnya itu.


Rani tak pernah takut papa akan marah padanya. Kecewa seperti apapun Tommy, dia tak pernah bicara kasar pada Rani dan Sasi. Yang ditakutkan Rani, papanya akan melampiaskan kemarahannya pada orang lain.


Tommy tersenyum dan mengusap kepala Rani lembut. " Ayo lanjutkan makan!"


Siang itu Keluarga besar mereka berkumpul di sebuah hotel untuk merayakan kelulusan Rani dan Lily. Keluarga Barata, Palupi Lily dan Rose, Tommy bersama Sasi , Rani dan Bhumi serta Tara, juga Baskara Giska dan dua putranya. Ibu Sasi pun ikut serta.

__ADS_1


Mereka bersantai menikmati suasana hotel dan makan bersama. Dua putri mereka sudah menyelesaikan studinya dengan hasil memuaskan. Rani dan Lily akan langsung melanjutkan ke jenjang S2. Seluruh leluarga mendukung mereka.


__ADS_2