Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#PSS Extra Episode 7. Selamat Tinggal


__ADS_3

Tommy dan Sasi menatap Rani tak percaya. Mereka sama sekali tak menyangka Rani dengan mudah malah menyerah begitu saja. Mereka kira Rani akan mati-matian mempertahankan hubungannya dengan Rangga.


Dan apa itu tadi? Rani memanggil Rangga dengan sebutan apa? kangmas? Cih, menjijikkan sekali. Tommy sampai merinding dibuatnya. Raniku sayang, apa yang sudah dilakukan Rangga padamu hingga membuatmu hilang akal seperti itu? Ya ampun Rani...


" Iya ma, pa, Rani akan memutuskan hubungan dengan kangmas..."


Belum selesai bicara, Tommy sudah memotong perkataan Rani. " Stop Rani, papa mau muntah mendengar panggilanmu kepada lelaki kurang ajar itu " decak Tommy kesal.


Rani menunduk, " Kang..eh...Om Rangga nggak kurang ajar pa, Rani lah yang menyukainya. Tapi Rani sekarang sadar kalau perasaan Rani itu salah. Jadi sekarang juga Rani akan memutuskan hubungan dengan om Rangga pa. Tolong maafin Rani." lirih Rani bergumam. Rani berusaha tegar namun entah mengapa air matanya kembali berlinang kala mengucapkan kata akan mengakhiri hubungannya dengan Rangga.


" Orang itu masih diluar, buktikan ucapanmu kalau kamu memang benar-benar sayang pada orang tuamu" Tommy mengucap tanpa melihat Rani.


Rani mengangguk pasti. Kemudian berjalan gontai keluar kamar, meninggalkan mama dan papanya yang masih berada di kamar dengan wajah sedih dan muram.


Maafkan Rani kang mas, Ternyata hubungan kita membuat mama dan papa sedih. Rani nggak mau jadi anak durhaka. Meski dia mencintai Rangga , namun baginya papa, mama dan keluarganya adalah segalanya. Dan jika harus memilih diantara keduanya Rani pasti memilih papa dan mama tanpa ragu.


Di pendopo dokter memeriksa dan mengobati Rangga. Membersihkan luka-lukanya, mengolesi salep dan obat serta plester untuk luka yang terbuka. Ibu berdiri memperhatikan. Setelah selesai, ibu mengutus Kusno untuk menebus obat di apotek.


Saat Rani datang, dokter sudah pergi. Rani menghambur memeluk neneknya. Ibu Sasi membalas pelukan Rani erat. Melihat Rani dan Rangga membuat ibu teringat kembali pada kisah Palupi dan Barata. Jurang perbedaan usia keduanya membuat jalan cinta mereka penuh aral. Bedanya mereka tak terganjal restu orang tua.


Ibu ikut trenyuh melihat kesedihan Rani yang seakan tak rela melihat Rangga tersakiti namun juga tak ingin melawan papanya. Gadis itu terhimpit dilema pada dua pria yang sama-sama sangat dicintainya.


Ibu sebenarnya juga heran kenapa Tommy dan Sasi begitu kekeh menolak Rangga. Padahal Sasi dulu sangat mendukung Palupi menikahi Barata meskipun usia mereka terpaut jauh. Lalu apa bedanya dengan Rani dan Rangga?


Yang ibu tidak tahu adalah Rangga pernah sangat tergila-gila pada Sasi, apalagi saat Turangga Seta menguasai jiwanya. Bahkan Turangga pernah merasuk ke tubuh Rangga. Ibu memang tahu Sasi diganggu makhluk gaib, tapi ibu tidak tahu mkhluk gaib yang mengganggu Sasi itu memiliki wajah dan nama yang sama dengan Rangga.


Bagi Tommy, melihat Rangga dan Rani bersama seperti membuka kembali luka lama yang sudah berusaha dikuburnya dalam-dalam. Bagi ibu, Rani dan Rangga berhak mempertahankan cinta mereka.


" Bersabarlah nduk cah ayu ( anak cantik), mungkin mama dan papamu cuma kesal karena kamu nggak.minta ijin papa saat pergi dengan nak Rangga." Ibu membelai rambut cucunya itu penuh kasih


Rani memgangguk. Namun dalam hatinya menggelemg. Nggak uti, ini memang harus diakhiri. Aku nggak mau kangmasku terluka lagi, dan aku juga nggak mau papa dan mama sedih lagi. Ini jalan terbaik untuk semuanya.


" Bicaralah dengannya nduk, setelah itu suruh dia pulang, biar diantar Kusno. Uti takut papamu meradang lagi." Ibu kemudian meninggalkan Rani berdua dengan Rangga.


Rani bersimpuh dekat Rangga berbaring. Wajah Rangga sudah mendingan daripada tadi. Lukanya sudah bersih, tak ada lagi darah di wajahnya. Tinggal tersisa lebam kehitaman dan plester di beberapa bagian wajah tampan yang kini tampak berantakan itu.


" Baby..." Melihat Rani bersimpuh dihadapannya Rangga segera bangun . Rani membantu Rangga lalu duduk di sebelahnya.


" Baby, syukurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat khawatir saat kamu pingsan tadi.." Rangga mengusap lembut pipi Rani, namun gadis itu menepisnya pelan.


" Kang mas, maafin Rani, tapi sepertinya kita nggak bisa lagi meneruskan ini, Rani harus mengakhiri semua ini. Hubungan kita ternyata membuat mama papa sedih dan terluka. Rani nggak mau itu. Semoga kangmas mengerti. Kita sudahi sampai disini saja " Rani berusaha mengatakannya dengan tenang dan tegar namun nyatanya air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.


Rangga tergugu mendengarnya, tanpa terasa air matanya berlinang membasahi pipinya yang terluka. Lukanya makin terasa perih terkena lelehan air mata. Jadi begini rasanya patah hati?


Jadi hanya sampai disini? Usai sudah. Dadanya terasa sesak dan ulu hatinya terasa perih. Jauh lebih perih dari luka-luka lebam dan berdarah di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Kenapa sakit sekali? Bahkan tadi dia begitu tegar menerima semua pukulan dan tendangan Tommy tanpa melawan sedikitpun. Tapi ketika Rani mengatakan akan meninggalkannnya hatinya begitu sakit , hingga air matanya luruh begitu saja. Mengalir membasahi luka-lukanya yang semakin perih.


Seperih hati Rani saat melihat air mata Rangga mengalir begitu saja. Namun saat yang sama dia juga mengingat air mata mama dan papanya. Hatinya yang goyah kembali kuat. Sudahlah, jangan ada luka dan air mata lagi setelah ini berakhir. Batinnya berbisik pilu. Ini yang terbaik.


Rangga mendesah pelan. " Kalau Rani sudah tak ingin bersama kangmas lagi, kangmas bisa apa.?" bisiknya lirih penuh penyesalan. Namun dia tak mau memberi Rani pilihan sulit. Jika ini hanya membuat Rani tertekan, mungkin memang mereka harus berpisah. Rangga hanya ingin Rani bahagia, meskipun itu ternyata harus dengan jalan perpisahan dengannya.


Di balik sebuah jendela yang bisa melihat jelas ke arah pendopo, Sasi dan Tommy berdiri terpaku melihat dua insan berlainan jenis dan umur itu saling berdiam diri tanpa kata.


Hanya linangan air mata dan tatapan sendu keduanya sudah cukup menggambarkan apa yang terjadi di sana. Tak ada pertentangan atau drama perpisahan mengharubiru. Tampaknya kedua orang itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada hubungan mereka. Mereka sudah menyerah.


" Apa kita sudah berbuat salah mas? Bagaimana kalau mereka berdua memang saling mencintai?" gumam Sasi pelahan.


" Ah enggak yang...Rani itu pasti masih cinta monyet saja. Dia belum tahu arti cinta, begitu Rangga merayunya, Rani langsung tergoda. Biar saja dia menangis sebentar. Perasaannya belum begitu dalam. Sebentar lagi dia akan melupakan penggemarmu itu."


" Mas...apaan sih? Dia kan sudah tobat puluhan tahun lalu. Kok jadi diungkit-ungkit lagi sih?" Sasi cemberut.


" Entahlah yang, melihat dia mengejar Rani membuatku jadi ragu. Apa maksudnya coba? Menggoda anak kecil seperti Rani?"


" Tapi kelihatannya Rani juga cinta sama dia mas. Lihat itu, berdua nangis bareng gitu. Aku jadi kasihan.." Sasi menatap sedih Rangga dan Rani di kejauhan.


" Rani itu masih polos. Sudahlah, demi kebaikan Rani. Cukup Palupi saja yang kawin sama duda tua. Rani jangan, biar dia cari lagi yang lebih segalanya dari Rangga."


Sasi mendengus. " Duda tua yang kawin sama Palupi itu buapakmu loh yang.." Sasi mencibir.


" Iya biar Palupi saja yang keblinger. Masih muda cantik pinter kaya kok mau-maunya sama duda beranak dua, mana anaknya sudah tua juga..." Tommy mendecak.


Lelaki itu buru-buru mengejar istrinya dan menjajari langkahnya lalu memeluk pinggang istrinya erat.


" Mas pengen di treatment, biar hati dan pikiran tenang. Yuk..yang.." Tommy mengedipkan matanya ke arah Sasi.


Wanita yang sudah memberinya tiga putra putri itu sudah tahu maksud suaminya. Tersenyum membalas kedipan nakal Tommy yang menggoda. Sepertinya sedikit treatment akan mendingikan hati dan pikiran mereka yang sempat panas beberapa saat lalu...


Sasi menyeret suaminya ke kamar. Tommy menyeringai lalu memeluk Sasi dari belakang. Mengekori istrinya menuju ruang treatment, kamar mereka yang hangat.Meninggalkan kisah sedih kasih yang terpisah oleh tiadanya restu orang tua.


Hati Rani bertanya-tanya. Bisakah melupakan cinta yang telah tumbuh sejak belasan tahun lalu? Bisakah merelakan lelaki tampan yang selalu jadi idolanya itu pergi? Bisakah bertahan sendiri tanpamu kangmas?


Sementara Rangga kembali terpuruk dalam kegagalan cintanya. Cinta yang bersambut ternyata bukan jaminan bahagia. Malah kini dia harus merasakan sakitnya patah hati diputuskan pas lagi cinta-cintanya. Ditinggalkan saat merasa cintanya terbalas.


Saling mencinta ternyata bukan jaminan akan bersama selamanya. Rangga sudah pasrah. Tapi jauh di lubuk hatinya masih ada secercah cahaya dan sebuah keyakinan bahwa gadis di sisinya ini suatu saat akan jadi miliknya seutuhnya.


Aku yakin Rani adalah jodohku. Bisik hatinya yakin. Mungkin perpisahan ini adalah jalan berliku yang harus dilaluinya menuju saat bahagia itu. Saat Rangga dan Rani menjadi Raja dan Permaisuri yang sesugguhnya.


" Baiklah baby, Kangmas pamit ya...maafin kangmas sudah bikin kamu dan orang tuamu jadi berselisih. Maaf kangmas sudah mengganggu ketenteraman keluargamu. Bila jodoh pasti kita akan bertemu lagi. Kangmas percaya cinta sejati akan menemukan jalannya"


Rani tidak menjawab sepatah kata pun. Sibuk menahan air mata yang seakan berebut keluar dari sudut matanya saat dia akan membuka suara. Dia cuma mengangguk-angguk di tengah isaknya. Membuat hati Rangga semakin pilu.

__ADS_1


Rani membantu Rangga berjalan ke arah mobil yang sudah disiapkan Kusno. Sopir setia keluarga Sasi itu juga ikut membantu menuntun Rangga.


Setelah Rangga duduk dengan benar di jok mobil, Rani membantu memasangkan jas Rangga yang tadi tertinggal di mobil Rani untuk menutupi kemeja lelaki itu yang penuh noda darah dan sobek di sana -sini.


Saat wajah Rani begitu dekat dengan wajahnya, Rangga mengecup sekilas ujung bibir gadis itu. Cup! " Buat kenang-kenangan" bisiknya sambil tersenyum kecil.


Rani melotot namun kemudian menunduk canggung. Ah Om Kusno pasti melihat. Rani melirik Kusno yang tersenyum -senyum kecil. Seakan memberi isyarat pada Rani agar tak khawatir.


" Hati-hati ya om..." Rani justru berpesan pada Kusno saat mobil mulai berjalan, tanpa berucap sepatah kata pun pada Rangga.. Seakan menitipkan kekasihnya itu pada Kusno.


Rangga menatap punggung Rani hingga hilang di balik pintu. Kusno sengaja melambatkan laju mobil seakan memberi kesempatan Rangga menatap Rani sepuas-puasnya untuk terakhir kali.


Kusno ikut merasakan kepedihan hati dua insan saling mencinta yang kini harus terpisah. Bahkan berdoa dalam hati agar ada jalan yang akan mempersatukan lagi Rani dan Rangga.


" Hufft....mas Kusno percaya jodoh pasti bertemu kan?" bisik Rangga setengah bergumam. Beberapa saat setelah mereka meninggalkan halaman rumah Sasi.


" Ohh, percaya denmas." sahut Kusno yakin


Rangga tersenyum. Tolong antar saya ke apartemen saya saja mas."


" Lho, nggak pulang ke istana den mas?" heran Kusno.


" Wah bisa heboh kalau istana tahu saya babak belur begini mas. Bisa perang baratayudha hahaha...." Rangga terkekeh tapi sesaat kemudian mendesis karena ujung bibirnya yang sobek terasa perih.


" Sabar den mas...kalau jodoh takkan kemana" Kusno tersenyum memberi semangat.


Rangga mengangguk yakin. Ah demi my baby Rani, aku sampai menjatuhkan harga diriku seperti ini., keluh Rangga dalam hati. Kalau ayahanda dan kanjeng ibu sampai tahu, bisa hilang harapanku bersatu dengan Rani. Bisa-bisa Rani diblokir jadi calon mantu. Rangga bergumam-gumam dalam hati.


Apartemen yang ditujukkan Rangga sudah tampak di depan. Kusno memelankan laju mobilnya dan mengarahkannya ke basement.


Setelah menemukan tempat parkir terdekat dengan lift Kusno membukakan pintu dan membantu Rangga turun. Kusno bermaksud membantu Rangga hingga sampai di unit apartemennya namun Rangga yang sudah merasa baik menolaknya halus.


" Obatnya sudah mulai bekerja mas Kusno. Sakitnya sudah tidak begitu terasa. Saya bisa ke unit sendiri"


" Baiklah kalau begitu denmas, saya mohon pamit."


" Tunggu mas, saya boleh minta nomor mas Kusno?" Rangga tiba-tiba teringat sesuatu. Usai kejadian hari ini Rangga tidak tahu apakah dia bisa menghubungi Raninya lagi. Dia pikir Kusno bisa jadi perantaranya. Dia lalu menyerahkan ponselnya pada Kusno.


" Oh inggih denmas, monggo" Kusno mengembalikan ponsel Rangga setelah menuliskan nomornya ke ponsel Rangga. Hatinya mencelos melihat wallpaper Hp Rangga yang memasang foto cantik Rani disana.


" Terima kasih mas Kusno. Saya titip Rani" Rangga memeluk Kusno sambil menyelipkan sesuatu ke jaket Kusno tanpa sepengetahuan lelaki itu.


" Inggih den mas sama-sama. Siap! Mbak Rani aman...hahaha.." Kusno tertawa berusaha menghibur lelaki bangsawan yang tengah luka luar dalam itu. Luka raganya dan luka hatinya. Oalah denmas, kok melas (kasihan) banget nasibmu. ..


__ADS_1


Wallpaper HP Rangga,My baby Rani katanya..


__ADS_2