Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#PSS Ekstra Episode 2. The Sad Man ever


__ADS_3

Bayu mengesah pelahan. Semenjak keluar dari kantor Tommy, Rangga, tuannya itu tampak resah dan gelisah. Hanya Bayu yang paling memahami apa yang ada di hati pangeran tampan itu. Usianya yang sudah diambang senja, tak mampu menutupi ketampanannya yang paripurna. Dia seperti punya wajah babyface yang tak menua dimakan zaman.


Tatapan mata, cahaya dan rona wajah Rangga yang berpendar penuh warna saat bersama Rani sejak putri Tommy dan Sasi itu masih bocah, tumbuh jadi remaja dan kini telah menjelma jadi gadis dewasa tak bisa berbohong. Tuannya itu lagi-lagi terjebak dalam cinta yang salah. Lebih parah dari mencintai istri orang, Rangga malah jatuh cinta pada bayi yang baru lahir dan bertahan mencintainya hingga 19 tahun kemudian..


Saat istana menjodohkannya dengan ibunda Andra, putranya, Rangga menurut, namun tak pernah melupakan Rani. Tetap mengunjunginya setiap saat merindukan senyum gadis itu. Berkedok mengunjungi Tommy atau Barata. Selalu dicarinya kesempatan untuk sekedar melihat tumbuh kembang sang pujaan hati yang tak mungkin diungkapkannya.


Rangga tak bisa membayangkan bagaimana marahnya Sasi dan Tommy andai mereka tahu apa yang disimpannya dalam hati selama 19 tahun ini. Mereka pasti menuduhnya sebagai pemangsa anak, lebih parah lagi mungkin akan melabelinya pe do phil.


Rangga merasa frustasi tak bisa mengenyahkan perasaan tak masuk akal ini, seperti terikat pada bayi mungil itu. Ingin memilikinya untuk dirinya sendiri, perasaan itu semakin menjadi manakala sang bayi tercinta kini telah tumbuh dewasa dengan segala kesempurnaan dan kecantikannnya.


" Bos, apa tak ada gadis lain? Bos sama saja cari mati!" Bayu tak tahan lagi. Menumpahkan unek-uneknya tentang perasaan sang Boss yang tak masuk akal.


" Apa sih Bay?" Rangga mengelak


" Come on Boss...saya tahu dari pertama boss menggendong Rani saat bayi, mata boss nggak bisa bohong. Mungkin orang lain bisa bos kecoh. Tapi saya tahu tatapan mata bos itu seperti apa setiap melihat Rani..."


" Aaarrrghhh..." Rangga berteriak melepaskan rasa sesak di dadanya. Merebahkan kepalanya ke sandaran jok sekerasnya. Merutuki perasaannya sendiri yang selalu saja salah dan tak pada tempatnya. Mengapa harus Sasi, lalu sekarang Rani? Mengapa cintanya tak berlabuh saja pada salah satu dari gadis- gadis yang mengejarnya atau dijodohkan dengannya? Apa ini kutukan?


" Aku harus bagaimana Bay?" rintihnya terpejam.


" Lupakan dia Gusti Pangeran Harya, dan mulai jatuh cinta pada wanita normal lainnya!" Bayu bicara seakan itu mudah saja dilakukan. Membuat Rangga mengumpat kesal.


" Kalau memang begitu mudah, coba ceraikan istrimu lalu cari istri baru yang lain!" Rangga dan Bayu mendengus bersamaan.


Pangeran sinting! Rutuk Bayu dalam hati.


" Itu lain soal Pangeran....."


" Apanya yang lain. Itu sama-sama soal hati, soal cinta. Apa kau bisa melupakan lalu mencari yang lain semudah mulutmu ngomong tadi?" Rangga memukul kepala Bayu dengan majalah yang disambarnya dari kantong di sandaran jok.


" Aduhh!!" Bayu memekik spontan. Terkejut, tak mengira sama sekali akan mendapat timpukan majalah yang lumayan tebal dari boss sekaligus pangeran junjungannya itu. Kepalanya terasa sedikit nyeri.


" Sakit boss!" keluhnya sambil menggosok-gosok kepalanya.


" Kamu berani ngomong asal seperti itu lagi, kunci Inggris yang akan melayang ke kepalamu!" Rangga kesal sekali. Bayu bukannya menenangkan hatinya yang gundah. Malah membuatnya makin merana akan hasrat hatinya yang lagi-lagi terhalang renjana.

__ADS_1


" Waduh, ampun boss...bukan maksud saya membuat panjenengan ( anda) makin kacau. Saya cuma tidak kuat lagi melihat Boss menderita. Saya ikut sakit. Kapan Boss akan bahagia? Hidup saya belum bisa tenang kalau kanjeng pangeran masih begini terus." Mata Bayu memerah. Kasih sayang dan pengabdiannya yang besar pada Rangga membuatnya tak tega pada nasib buruk percintaan lelaki tampan itu.


" Aku akan memperjuangkannya Bay.." Lirih Rangga namun bagai geledek di telinga Bayu.


" Boss , tolong jangan lagi...Saya tak mau melihat Boss menderita lagi. Tommy dan Sasi tak akan membiarkan gadis kesayangannya diambil duda beranak satu yang usianya berbeda 25 tahun. Meskipun itu calon Raja!" Bayu memohon.


" Kalau Rani juga menyukaiku? Apa aku masih akan disalahkan?"


" Gusti pangeran, tolong sadar..Tadi minum apa sih sampai berhalusinasi seperti ini?" Bayu memijit kepalanya yang pening.


" Aku tidak halu Bay, aku melihat cinta di matanya untukku saat dia menatapku"


Ya Tuhan tolong aku, bosku sepertinya mulai gila!


" Boss, dia pantas jadi pacarnya Andra,.putramu. Dia lebih pantas jadi putrimu! " keluh Bayu putus asa. " Dia mungkin menganggap Boss papanya atau omnya..."


" Dukung aku kali ini Bay. Kalau ini bukan takdirku, aku akan menerima perjodohan dari ayahanda lagi. Aku akan menyerah selamanya. Tapi dukung aku memperjuangkan ini untuk terakhir kali. Setidaknya sekali dalam hidupku Aku ingin mencintai dan dicintai Bay..." ucapan Rangga terdengar seperti sembilu menyayat hati Bàyu.


Ya Tuhan...apa aku harus menuruti orang gila ini? Tapi untuk melarangnya pun Bayu tak sanggup lagi. Baiklah , baik. Untuk terakhir kali aku akan mendukungnya. Berjuanglah pangeran, kejarlah cintamu.


Rangga tersenyum. " Terima kasih Bay, untuk selalu berada disampingku . Baik di masa sulit maupun menderita bersamaku. Kamu tahu dia kuliah di mana kan?"


Bayu mendecak. Gimana nggak tahu, hampir tiap hari kau suruh aku mengantarmu mengintip gadis itu di parkiran kampus. Hadeehh!!


"Iya boss, lalu apa?"


" Besok kita ke kampusnya. Dia sidang skripsi. Kita bawa buket dan kasih dia semangat. Dan kau lihatlah Bay, lihat binar di matanya untukku dan katakan padaku apakah aku berhalusinasi atau dia memang mencintaiku!" Rangga menggebu-gebu.


Bayu cuma mengelus dada. Tuhan, tolong, kali ini kabulkan harapan pangeranku ini. Jangan buat dia menderita lagi. Jika Rani memang jodohnya, lancarkanlah semuanya. Jika bukan, berikan yang terbaik untuknya, sadarkan dia dari kegilaannya ini.


Dan esoknya, pagi-pagi sekali Rangga sudah bersiap, bukan ke kantor seperti biasanya , tapi ke kampus Rani. Gadisnya...kekasih hatinya..belahan jiwanya sejak 19 tahun lalu. Kadang Rangga merasa gila. Itulah cinta, kegilaan yang disengaja. Keputus asaan dan penderitaan yang dinikmati sepenuh hati.


" Siap Bay?" senyum cerah Rangga menyambut Bayu yang membukakan pintu mobil untuk tuannya. Lelaki itu mengangguk tersenyum tipis. Bersiaplah Boss! Bayu berharap Rani mengusir Rangga, atau terjadi force majour seperti ' Rani sudah disana berpelukan dengan pacarnya' Agar Rangga sadar dan merelakan Rani. Beres urusan cinta gila ini! Doa jelek Bayu...


Tapi Bayu sudah terlanjur berjanji mendukung Rangga. Jadi disinilah dia, menemani Rangga menunggu Rani di tempat parkir.

__ADS_1


Tak berselang lama orang yang ditunggu-tunggu datang. Bahkan hanya mendengar suara mobil Rani Rangga langsung berseri-seri. Membuka pintu mobil sambil membawa buket mawar putih dalam pelukannya.


Berdiri di dekat pintu mobil Rani, Gadis itu terjingkat kaget ketika membuka pintu dan turun dari mobilnya.


" Ya Tuhan...Om??" Rani mundur selangkah.


Rangga tersenyum dan mengulurkan buket mawar yang dibawanya pada Rani.


" Semangat ya? Mudah-mudahan sidangnya sukses!" Rangga menatap Rani lembut. Rani meremang. Terkunci pada netra Rangga yang menghujam jantungnya hingga berdetak bertalu-talu.


Di dalam mobil, Bayu mendesah lemas. Dia bisa melihat dengan jelas bahkan dari kejauhan bintang bersinar di mata gadis itu. Beradu dengan bias cahaya cinta di mata Rangga. Saling mengikat, saling memeluk lewat tatapan mata, dalam dan tak ingin lepas. Rangga tidak berhalusinasi, mereka saling mencintai dalam diam. Entah sejak kapan.


Rani menerima buket dari Rangga dengan tangan gemetar efek dari jantungnya yang berdebar ditatap Rangga sedemikian rupa.


" Terima kasih Om. Kok tahu? Pasti papa yang bilang" Rani mencoba menetralisir deburan ombak di dadanya. Mengulurkan tangan, meraih lembut tangan Rangga dan menciumnya takzim seperti biasa.


Tangan Rani yang selembut sutera bagaikan sengatan listrik di hati Rangga. Kali ini Rangga tak bisa lagi mengendalikan dirinya. Saat hanya berdua saja dengan gadis yang sudah mengobrak-abrik isi hatinya itu akal sehatnya tak lagi bekerja. Diraihnya lembut tubuh Rani ke dalam rengkuhannya. Penuh perasaan diciumnya kepala gadis itu dalam- dalam. Betapa aku merindukanmu sayang...batinnya berbisik lirih.


Rani bergeming. Tak tahu apa yang harus dilakukannya dengan pelukan om tampannya ini. Lelaki pertama yang memeluknya selain papa dan kedua adiknya. Lelaki pertama yang bahkan sejak usianya 8 tahun sudah membuat hatinya dipenuhi bunga saat berada didekatnya. Dulu ia tak tahu perasaan apa itu. Dia hanya begitu bahagia saat bertemu dan boleh sepuasnya menatap dan mengagumi wajah tampan itu.


Dan ketika rasa itu makin bersemi kala usianya menjelang 17 tahun, dia baru sadar bahwa apa yang dirasakannya itu adalah cinta. Saat itu pula ia mulai tahu arti merindu.


Namun disimpannya rapat-rapat perasaan itu, dalam dan jauh di lubuk hatinya hingga tak seorangpun menyadarinya. Karena dia tahu perasaannya itu salah, harus secepatnya dihilangkan dan dilupakan. Nyatanya apa? Rasa itu malah makin membesar dan menguasai hatinya hari demi hari


Dan saat ini, sosok pengisi hatinya itu tengah memeluknya penuh kerinduan. Rani bisa merasakan detak jantung dan getaran rasa begitu dalam menghancurkan pertahanannya membentengi diri, tubuhnya mendadak lemah tak bertulang. Jatuh terkulai begitu saja dalam pelukan lelaki itu. Aku juga merindukanmu om...bisik hatinya seakan tahu bahwa lelaki itu sedang menumpahkan seluruh rasa dan kerinduan padanya...


Keduanya saling bersandar dalam pelukan tanpa kata dan suara. Hanya detak jantung dan denyut hati mereka yang bicara. 1, 2, 3, hingga lima menit Bayu melihat jam digital di depannya. Ini tak bisa dibiarkan.


" Boss, kita harus menghadiri meeting lima belas menit lagi."


Rangga dan Rani tersentak. Keduanya saling menatap, masih penuh rindu. Rani tersipu malu, sementara Rangga merona, seperti remaja yang baru dilanda cinta .


Tangan Rangga menggenggam lembut jemari Rani. " Om pergi dulu Sayang, semoga sukses!"


Rani cuma mengangguk kelu. Mata dan wajahnya memanas. Dia memanggilku sayang. Dia itu menganggapku apa? Hatinya bertanya-tanya.

__ADS_1


Ya Tuhan..Bayu mengesah dalam hati. Tak sanggup membayangkan bagaimana akhir kisah cinta yang tak semestinya ini.


__ADS_2