Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Babak Baru


__ADS_3

Rangga berjalan cepat ke arah pintu keluar rumah sakit. Sementara Bayu menghampiri loket adaministrasi untuk menyelesaikan pembayaran .


Keduanya kemudian memesan taksi untuk kembali ke hotel. Hari sudah malam ketika mereka tiba di kamar hotel mereka.


" Setelah mandi kita makan malam Bay. Aku ada rekomendasi restoran enak." Rangga masuk ke kamarnya sendiri.


Bayu segera membersihkan diri. Wajahnya masih kotor bekas lumpur dan tanah. Tadi dia hanya membersihkan ala kadarnya karena mengkhawatirkan keadaan Rangga. Dan sekarang dia harus membersihkannya benar-benar jika tak ingin wajahnya gatal dan lengket berlumpur.


Baru saja selesai mengenakan pakaian, Rangga sudah menelponnya.


" Ayo Bay...lama amat dandan , kaya cewek kamu" Rangga menggerutu di telepon.


" Maaf pak. Saya sudah selesai kok. Ini baru mau keluar."


" Cepet!" lalu Rangga menutup panggilan.


Dua lelaki tampan itu kemudian berjalan beriringan keluar dari hotel dan memesan taksi menuju restoran yang dimaksud Rangga.


" Wah beneran enak ini tempatnya pak. Bisa buat rekomen yang mau libuiran ke sini." Bayu masih terkagum-kagum.dengan suasana resto yang menyenangkan.


" Bukan cuma suasananya. Makanannya juga enak-enak Bay." Rangga terus berjalan memasuki resto dan memilih tempat yang dekat dengan jendela yang terbuka. Sehingga mereka bisa menikmati pemandangan indah di luar resto.


" Besok jadi pulang pak?" tanya Bayu


" Jadi. Kita kebut proyek pembangunan pabrik baru." kata Rangga.


" Tapi kita belum ada kata sepakat dengan kontraktornya pak!" sergah Bayu.


" Kita gak usah pakai dia lagi. Aku akan pakai jasa konstruksi orang lain." Rangga tersenyum. Membayangkan rencana baru yang disusunnya untuk mendapatkan pujaan hati.


" Apa nggak terlalu riskan pak? Kita sudah tahu hasil kerja Reno, sudah sering menggunakan jasanya dan nggak ada masalah. Kalau pakai kontraktor baru lagi kita belum tahu bagaimana hasil kerjanya." Bayu memberi saran. Namun Rangga bergeming.


" Aku akan menyelam sambil minum air Bay..." gumam Rangga pelan.


" Maaf..maksudnya gimana pak?" Bayu bingung.


" Ehh...maksudku kontraktor yang ini juga bagus kok. Banyak juga yang merekomendasikannya pada kita . Layak dipertimbangkan lah" Rangga buru-buru menjelaskan. Hampir saja dia kelepasan membicarakan tujuan sebenarnya dari rencananya yang tidak diketahui Bayu.


" Kalau boleh tahu Bapak ingin kita pakai siapa pak?"


" Kita akan jajaki kerja sama dengan anaknya pak Barata. Coba atur pertemuan dengan PT. Perdana Adipraya nanti setelah kita pulang dari Bali" Rangga lagi-lagi tersenyum penuh misteri.


Bayu mengangguk. " Siap pak! Nanti segera saya atur"


" Kamu sudah beli oleh-oleh buat pacarmu Bay?" tanya Rangga.


" Sudah kemarin pak..hehe..." Bayu tersenyum. Tumben bos sekarang perhatian sama urusan pribadiku. Mungkin benar dugaanku. Dia sedang jatuh cinta. Baguslah. Agak risih juga melihatnya gonta -ganti wanita tanpa ada satupun yang serius dan bertahan lama. Mudah -mudahan kali ini boss mendapatkan orang yang mampu membuatnya jatuh cinta dan berhenti berpetualang.


" Malah ngelamun. Kangen pacar? hahaha..." Rangga tergelak. Bayu cuma cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya.


Rangga tampak bahagia sekali. Bayu ikut berbahagia untuk bossnya itu. Meskipun kelakuannya soal wanita selama ini cukup meresahkan. Sejatinya Rangga adalah boss yang baik. Dia selalu obyektif menilai hasil kerja pegawainya . Tak terpengaruh pada sifat dan kebiasaan buruk pegawainya.


Selama pegawainya bekerja dengan baik dan hasilnya memuaskan, Rangga akan menutup mata pada masalah pribadi anak buahnya.


Dan Bayu benar-benar merasakan itu. Hobby minum minuman keras yang memang dicanduinya tidak membuat Rangga menilainya buruk. Bahkan Rangga menjadikannya tangan kanannya di perusahaan.


Rangga sama sekali tak terpengaruh pada penilaian orang lain tentang kebiasaan buruknya yang tak bisa berhenti. Dan Bayu benar-benar membuktikan kinerjanya yang prima didepan Rangga sehingga Rangga semakin mempercayainya.


" Bapak sudah mempelajari company profile dan rekam jejak Perdana Adipraya? " Bayu mencoba memastikan bahwa bossnya itu tidak sembarangan mempercayakan pekerjaan besar pada kontraktor yang tak kompeten.


" Ya. Aku sudah baca. Verry good. Dia termasuk tiga besar kontraktor terbaik di kota kita."


" Baik kalau begitu pak. Saya nanti juga akan pelajari. Dan segera menyusun jadwal pertemuan. Apakah Bapak ingin menanganinya sendiri?" Tanya Bayu.

__ADS_1


" Untuk kali ini ya. Tapi kamu tetap bantu aku Bay. Dan pastikan Bastomi Putra Perdana, direktur utamanya sendiri yang akan menghandle kerja sama dengan kita. Saya tidak mau dihandle orang lain. Ingat itu Bay!" tegas Rangga.


" Siap pak. Hanya Direktur utama sendiri..." Bayu melihat gelagat aneh dari nada bicara Rangga. Tapi masih belum bisa meraba-raba. Mungkinkah orang yang membuat bossnya jatuh cinta adalah karyawan PT Perdhana Adipraya? Bayu menduga-duga...


Bastomi...Bastomi...Bayu berusaha mengingat-ingat nama itu. Ah ya...orang itu. Bukankah orang yang mereka temui di lift beberapa saat lalu itu putra Barata? Bayu berpikir positif. Ah mungkin mereka tertarik bekerja sama setelah saling bertemu dan berbincang. Bayu mengesampingkan semua pikiran curiganya.


Selesai makan malam., boss dan asistennya itu masih menyempatkan diri berjalan-jalan di mall besar yang ada di Denpasar Bali. Mereka membeli beberapa keperluan dan bersantai menikmati malam terakhir mereka di Bali. Esok mereka akan meninggalkan pulau indah ini.


Dan esok Rangga akan pulang ke istananya dengan membawa hati yang baru. Hati penuh tekad bulat untuk mendapatkan kekasih hati yang telah menguasai perasaannya. Hati baru yang tak akan peduli lagi pada segala macam rintangan berwujud norma dan tepa slira (menghargai orang lain).


Rangga dibutakan cinta. Tak sadar bencana apa yang menantinya dengan rencana penuh muslihat yang telah dibuatnya tanpa berpikir panjang.


Meninggalkan Rangga yang dikuasai cinta buta, Tommy dan Sasi saat itu juga tengah menikmati makan malam mereka di sebuah restauran di tepi pantai.


Mereka hanya memesan satu porsi besar makanan dalam satu piring. Makin hari mereka makin dalam saling mencinta dan saling menunjukkan perasaannya itu tanpa malu-malu lagi.


Sasi yang hanya manja pada Tommy. Dan Tommy yang juga menghamba, menyerahkan seluruh cintanya pada istrinya yang makin hari makin membuatnya tergila-gila.


" Yang, mau nambah nggak? Jangan sampai nggak kenyang terus nanti malam minta keluar makan lagi.?" Tommy mengusap lembut ujung bibir Sasi. Membersihkannya dengan tissue penuh sayang.


Sasi tersenyum merona. Matanya menatap suaminya penuh binar cinta.


" Sudah mas. Kenyang banget. Apalagi makannya disuapin suamiku yang ganteng. Kenyang lahir batin." Sasi dan Tommy tertawa.


" Kamu bisa aja...bikin mas tambah sayang.." Tommy menarik Sasi berdiri.


,


" Kalau sudah kenyang, kamu mau pulang ke hotel apa jalan-jalan di pantai dulu. Masih jam delapan malam." Tommy melingkarkan lengannya ke pinggang Sasi.


" Jalan dulu yuk..langitnya cerah mas. Indah banget pemandangan disini" Sasi melayangkan pandangan ke sekitar pantai.


Mereka kemudian berjalan sambil saling memeluk. Sasi melingkarkan lengannya ke pinggang Tommy demikian pula Tommy memeluk erat pinggang Sasi.


" Yang, besok mau ikut tour lagi ngga? Jadwalnya ke sukowati kayanya.." Tommy merangkul pundak Sasi.


" Apa sih yang enggak buat istri boss yang cantik ini...? Lagian kamu juga belum pakai kartu yang mas kasih ke kamu. Nih isinya masih utuh sejak mas kasih sebulan lalu" Tommy memperlihatkan jumlah saldo ATM yang diberikannya khusus untuk keperluan Sasi menjelang pernikahan mereka kemarin, dan ternyata sama sekali tak digunakan oleh Sasi.


Sasi melongo melihat 10 digit yang tertera di mobil banking Tommy. Sejak menerima kartu ATM dari Tommy itu Sasi memang tak pernah menggunakannya dan tak tahu sama sekali saldo di dalamnya.


" Wah beneran ini isi ATM yang mas kasih kemarin.? Belum sempat pakai mas. Lagian semua sudah diurus EO. Aku nggak perlu ngapa-ngapain lagi.." Sasi membolak-balik ATM ditangannya. Tak menyangka kartu yang dipegangnya itu berisi uang sebanyak itu.


" Wah. mendadak kaya...besok bisa bebas belanja nih...Makasih sayaaang...Muuahh..." Sasi mengecup pipi Tommy lama.


Pria itu cuma tersenyum. Bahagia melihat istrinya yang juga begitu bahagia.


" Ehh...kok cuma sebelah...Nggak enak nih..." Tommy menyorongkan pipinya yang sebelah lagi dan segera disambar Sasi dengan ciuman hangat.


" Masih modus...mau yang lain nggak?" Goda Sasi membuat Tommy langsung menoleh. Pikirannya sudah travelling ke mana-mana.


" Mau sayang...apa? Mas mau dikasih apa?" Tommy merengkuh Sasi ke dalam pelukannya. Mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak dengan Sasi.


Sasi tertawa-tawa. " Lepasin dulu nanti aku kasih.." Sasi menggeliat berusaha melepaskan diri dari dekapan Tommy. Tapi suaminya itu malah membenamkan wajahnya dalam-dalam. Merangkum bibirnya lembut dan mengulumnya sambil tetap merengkuh pinggangnya erat.


Dan tawa Sasi lenyap berganti suara-suara indah tautan mereka. Mereguk manisnya cinta dalam sentuhan hangat penuh gelora.


" Sudah sayaaang...dilihatin orang tuh!" Sasi mengesah panjang ketika Tommy tak juga melepaskan ciumannya setelah beberapa lama hingga nafasnya tersengal-sengal.


" Kenapa memangnya?. Aku.mencium istriku sendiri..? " Tommy tersenyum menggoda.


Sasi mendecak kesal." Iyaa sayaang...tapi nggak di tempat terbuka begini juga ahh!" masih berusaha lepas dari cengkeraman Tommy.


" Ohh..gitu...kalau gitu cari tempat tertutup yuk...! "Tommy makin menggoda Sasi.

__ADS_1


" Ya enggak sekarang juga mass...ahh!" Sasi memukul pelan dada Tommy. Membuat pria itu malah tergelak berhasil menjahili istrinya.


Keduanya kemudiian berlari-lari kecil bertelanjang kaki menyusuri pantai yang sepi. Hanya debur ombak yang membentur karang dan sebagian beriring ke pantai yang terdengar.


Mereka terus berjalan bergandengan. Sesekali berhenti untuk saling memeluk, saling menatap atau saling berciuman mesra. Definisi sempurna dari dunia milik berdua.


Puas bermain dan bercengkerama berdua di pantai Sasi dan Tommy kembali ke hotel menjelang jam sepuluh malam.


Di depan lift lagi-lagi mereka bertemu Rangga. Namun kali ini Rangga tampak bersikap sopan. Tidak provokatif seperti kemarin.


" Pak Tommy...kita bertemu lagi. Maaf kalau kalian terganggu. Tapi kita besok sudah check out kok." Rangga tersenyum.


Sasi dan Tommy juga terpaksa tersenyum. Merasa agak bersalah juga pada Rangga karena mereka memang berprasangka buruk pada teman Barata itu. Padahal belum ada bukti yang bisa meyakinkan mereka bahwa Rangga benar-benar berniat jahat pada mereka.


" Maaf pak Rangga kalau sikap kami kurang sopan. Tapi kami tidak bermaksud begitu.." Sasi mencairkan suasana yang canggung sambil tersenyum.


" Dimaafkan.." Rangga langsung menjawab tanpa ragu. Bahkan senyuman tersungging di bibirnya.


" Tapi dengan satu syarat. Kalian harus mau menemani saya minum malam ini. Bagaimana?" Tawar Rangga.


" Baiklah. Saya juga tidak mau kita terus saling menghindar dan curiga. Saya terima tawaran pak Rangga" kali ini Tommy yang menjawab.


Sasi langsung melotot ke arah Tommy. " Mas? Kamu mau mabuk-mabukan?" bisiknya dekat telinga Tommy.


" Bukan mabuk-mabukan sayang, tapi mungkin mabuk beneran..." Jawab Tommy sambil tertawa.


Rangga dan Bayu ikut tertawa. Sementara Sasi merengut kesal sambil mencubit pinggang Tomny.


" Awwhh...cubitanmu memang paling mantap sayang...pedih..!" Tommy meringis yang membuat Rangga dan Bayu lagi -lagi tertawa.


" Sasi nggak usah khawatir. Kita nggak akan mabuk parah...hahaha....paling minum satu dua gelas agar tubuh hangat. Dan lagi ada yang mau saya bicarakan dengan pak Tommy." Rangga menenangkan Sasi.


" Saya boleh ikut?" tanya Sasi pada Tommy dan Rangga sekaligus. Dia tak mau meninggalkan Tommy, apalagi dengan Rangga yang jelas-jelas kehadirannya masih jadi misteri bagi mereka.


" Yaang...kamu aku.antar ke kamar dulu..." Tommy menjawab.


" Nggak!" Sasi langsung menyela." Pokoknya aku ikut"


" Biar saja Sasi ikut pak Tommy. Toh kita juga nggak akan lama-lama. Biar ada yang menjaga" Rangga seakan tahu isi hati Sasi.


Sasi dan tiga lelaki itu akhirnya pergi ke bar hotel yang ada di rooftop gedung.


Musik yang menghentak segera menyambut mereka berempat. Bayu membawa mereka ke ruang VIP yang lebih privat dan nyaman.


Sasi merasa lega begitu mereka masuk ke ruang VIP yang tenang dan nyaman.


" Sialkan duduk pak Tommy dan Sasi. Sambil menunggu minuman dan makanan, saya ingin membicarakan bisnis dengan pak Tommy. Nggak masalah kan?" tanya Rangga.


" Silakan. Senyamannya Pak Rangga saja." jawab Tommy sopan.


" Saya ingin mendirikan pabrik yang berkonsep lingkungan hijau pak Tommy. Apakah Pak Tommy kira-kira bisa mewujudkan keinginan saya? " tanya Rangga .


" Perusahaan kami salah satunya memang selalu memgedepankan lingkungan yang sehat dan nyaman. Jadi konsep Pak Rangga memang sangat sejalan dengan konsep dan citra perusahaan kami selama ini." Tommy menjawab dengan lancar dan tegas.


" Wah kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita bicarakan hal ini lebih detail di kantor saya.? Tentu saja sepulang pak Tommy dari acara di Bali ini..." Rangga langsung menawarkan kerja sama.


Beberapa saat kemudian dua orang pegawai masuk membawa nampan berisi dua botol minuman dan segelas orange juice yang dipesan Sasi serta tiga gelas kosong.


Sasi segera mengambil dan meneguk orange juice pesanannya. Tenggorokannya yang kering langsung terasa segar dan nyaman.


Sementara Bayu mulai menuang minuman dalam botol ke dalam tiga gelas kosong di depannya dengan lihai. Bagi Bayu ini adalah surganya. Minuman mahal dan nikmat dan tempat yang nyaman serta teman minum terpercaya.


Sasi berbisik pada Tommy." Mas jangan banyak-banyak nanti kalau mabok susah bawa ke kamarnya." Sasi teringat ketika Tommy mabuk dan dia harus membawanya pulang dengan susah payah.

__ADS_1


" Iya iya sayaang...belum minum sudah Ceramah duluan." Tommy mengecup pelipis Sasi sekilas.


Dan acara minum-minum itu kini berubah jadi ajan'g curhat dan bersenda gurau. Mencairkan kecanggungan yang terbentang sejak mereka saling mengenal.


__ADS_2