Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
" Sadarlah Sasikuu"


__ADS_3

Usai makan siang, Tommy dan Sasi melakukan fitting baju pengantin untuk hari pernikahan mereka.


Sebelumnya , Tommy sudah mendelegasikan tugas kepada Reza agar menghandle pekerjaan kantor selama ia dan Sasi pergi.


" Nanti jam dua ada meeting dengan klien Za. Kamu handle ya. Saya sama Sasi akan ada pertemuan dengan EO. Harus sukses Za, bonus menunggu!" tegas Tommy.


" Asiaaap Boss! Demi bonus...ehehe...maksud saya demi perusahaan..hehehe.." Reza meringis.


Sampai di butik yang direkomendasikan EO, Sasi dan Tommy sudah disambut pemilik dan pegawai butik.


Sebenarnya ibu ingin Sasi mengenakan pakaian adat seperti kedua adiknya dulu. Menurut ibu, kesakralan upacara pernikahan lebih terasa saat pengantin mengenakan busana adat dan mengikuti prosesi sesuai adat. Namun tampaknya Sasi tidak setuju.


Sasi yang sudah dua kali menyaksikan pernikahan adik-adiknya dengan cara adat dan prosesi pernikahan jawa lengkap merasa itu terlalu melelahkan. Menurutnya segala tet*ek bengek pernikahan adat terlalu ribet karena banyak sekali prosesi yang harus dilakukan.


Akhirnya diambil jalan tengah, saat pemberkatan dan sumpah pernikahan Sasi akan menjalani rangkaian adat jawa lengkap namun sederhana saja. Hanya melaksanakan prosesi yang memang benar-benar harus dilakukan saja. Tidak perlu terlalu detail .


Sedangkan resepsi pernikahan tetap dilaksanakan dengan tema garden party yang santai.


Fitting berjalan cepat dan lancar. Baik Sasi maupun Tommy sama-sama berpikir simpel dan tak banyak pertimbangan. Mereka bahkan memilih desain yang sudah ada dan hanya melakukam perubahan yang dianggap perlu.


Pihak butik sampai terheran-heran melihat mereka.


" Mas Tommy dan mbak Sasi ni benar-benar calon pengantin yang unik. Disaat pengantin lain sangat memperhatikan detail gaun dan pakaian pengantin., tak jarang permintaannya macam-macam, mas dan mbak malah santai dan ambil yang sudah ada. Padahal kami sanggup kok membuat gaun sesuai permintaan kalian dengan waktu yamg tersisa."


Sasi dan Tommy saling berpandangan dan tersenyum.


" Sudahlah mbak, kami paham kok acara kami ini termasuk mendesak waktunya. Kami nggak mau terlalu merepotkan. Kalau bisa semua orang berbahagia saat pernikahan kami. Kalau bisa dibikin sederhana dan simple, kenapa dibuat susah?" tukas Sasi.


Tomy cuma mengangguk-angguk. Pria itu tampak santai sambil tetap menempel pada Sasi.


Para pegawai butik cuma saling tersenyum melihat tingkah Tommy. Pria itu tampak tak peduli pada apapun di sekitarnya. Yang dipedulikannya cuma Sasi, Sasi,Sasi...Sungguh membuat iri...Seakan di dunianya saat ini cuma ada calon istrinya itu.


Tak pernah jauh dari Sasi. Selalu menatap gadis itu penuh rindu. Seakan lama tak bertemu. Wajahnya dipenuhi senyum pada gadis itu saja. Jomblo gak akan kuat melihatnya...


Setelah melakukan beberapa pengukuran akhirnya mereka berdua keluar dari butik dengan puas. Satu masalah selesai.


" Mau kembali ke kantor mas? Masih jam empat ini. Masih sore".


" Percuma sayang, sebentar lagi sudah jam pulang kantor. Lagipula nggak ada yang penting. Ke apartemen aku aja yuk. Aku pengen istirahat. Nanti malam aku antar pulang sekalian aku ke rumah mbah Ageng."


" Aku pulang aja mas, nggak enak berduaan di apartemen."


" Jangan....aku pengen ditemenin kamu..Janji gak akan ngapa-ngapain. Cuma pengen ngelanjutin pembicaraan kita tadi. Ya?" Tommy memasang wajah memohon.


Sasi tak bisa menolak lagi. " Oke...tapi jangan malam-malam pulangnya. Biar ke mbah Ageng nya gak kemaleman. Kalau berangkatnya udah kemaleman, nanti pulang pagi lagi. Lama-lama jadi kalong(kelelawar) kamu mas." sungut Sasi.

__ADS_1


" Nggk papa...demi Sasiku yang cantik.." rayu Tommy. Membuat rona merah muncul di wajah Sasi.


Ini semua gara-gara ibu. Pakai acara syarat-syaratan segala. Sekarang malah Tommy yang kelihatan ketagihan ketemu mbah Ageg. Sasi jadi ingin tahu, apa saja yang dilakukan calon suaminya itu bersama si dukun tua?


Mereka tiba di apartemen menjelang jam lima sore. Tommy menggandeng tangan Sasi sepanjang perjalanan menuju unitnya.


Membuka pintu apartemen, matahari senja menyambut mereka dari dinding kaca yang terbuka.


Sasi seakan terpesona pada pemandangan di depannya . Langit dengan cahaya jingga menyinari wajah cantiknya hingga tampak berkilauan.


" Cantik sekali.." Sasi terkejut mendengar suara Tommy yang tiba-tiba sudah memeluknya dari belakang.


" Iya cantik banget mas. Bisa lihat sunset dari sini." balaa Sasi.


" Bukan itu. Ini yang lebih cantik" Bisik Tommy sambil menempelkan pipinya ke pipi Sasi dari belakang. Bahunya sedikit membungkuk hingga dagunya bersandar di pundak Sasi.


Sasi tersenyum. " Raja gombal.." bisiknya sambil menoleh sehingga bibirnya menyentuh pipi Tommy. Pria itu tersenyum senang. Makin erat memeluk Sasi.


" Foto yuk!" ajak Tommy sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Sasi mengangguk mengiyakan. Keduanya lalu berpose saling menempel pipi, tertawa, tersenyum, saling menatap, wajah cantik, wajah jelek..


Dan entah bagaimana keduanya kini sudah saling menyatukan wajah di sofa. Tommy memeluk erat pinggang Sasi. Gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Tommy.


" Kangen sayang..." desah Tommy sambil mengulum benda merah kenyal nan menggoda milik Sasi. Matanya setengah terpejam menikmati manis dan lembutnya ciuman Sasi membalas rindunya mereguk nikmatnya madu Sasi. Tenggelam dalam telaga cinta Sasi yang sudah demikian erat menjeratnya. Tak ingin lepas. Tak akan pernah puas...


" Katanya nggak ngapa-ngapain.." Sasi mengulum senyum.


Tommy tertawa. " Kamu yang mulai sayang.." Dicubitnya hidung Sasi.


" Eh..enak aja. Mas tuh yang mulai.." sangkal Sasi


" Tapi kamu bales kan ?" goda Tommy lagi.


Sasi mencubit pinggang Tommy. Pria itu tertawa dan malah menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Sasi. Menatap Sasi dari tempatnya berbaring.


" Sayang...tolong ingat kata-kataku. Jika kamu bertemu lagi dengan lelaki yang mengaku kekasihmu itu dalam mimpi, katakan kau hanya mencintaiku.. Katakan bahwa cuma aku yang ada di hatimu. Katakan untuk merelakanmu bahagia dengan orang yang kau cinta. Katakan dengan lemah lembut dan penuh kesungguhan di depannya. Kau bisa sayang?"


Tommy mengulang kata-katanya untuk memberi sugesti alam bawah sadar Sasi agar melakukan yang dikatakannya.


Mula-mula Sasi merasa bingung. Namun lama-kelamaan kata-kata Tommy seakan terngiang-ngiang di kepalanya. Merasuk dalam ingatannya.


Sasi mengangguk-angguk. " Aku berharap tak pernah lagi memimpikannya mas. Tapi mudah-mudahan saat aku bertemu dia lagi dalam mimpi aku akan ingat kata-kata mas. Sehingga aku bisa mensugesti diriku sendiri agar lupa padanya dan tak lagi memikirkannya. Dengan begitu dia tak akan muncul lagi dalam mimpiku."


Sasi menjawab sambil mengusap lembut rambut Tommy yang sedang berada di pangkuannya.

__ADS_1


Tommy tersenyum sambil memeluk pinggang Sasi. " Pacarku pinter banget sih?" bisik Tommy.


Tak lama terdengar dengkur halus Tommy. "Ehh..malah tidur" Sasi bergumam pelan.


Membiarkan kekasihnya itu tidur. Sementara Sasi sendiri menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa. Beberapa saat diapun ikut tertidur di sofa.


Tommy terbangun lebih dulu selang satu jam kemudian. Dia segera bangkit dari pangkuan Sasi pelahan-lahan. Lalu mengambil bantal dan membaringkan tubuh Sasi yang tidur dalam posisi duduk. Tak lupa menyelimuti tubuh gadis itu.


Tommy mengecup kening kekasihnya sebelum melangkah untuk ke kamar mandi.


Tak lama Tommy sudah keluar dari kamar dalam keadaan segar dan telah rapi mengganti bajunya.


Lelaki itu memghampiri Sasi yang masih pulas tertidur di sofa. Tommy berjongkok di sebelah kepala Sasi. Disandarkannya kepalanya di sebelah Sasi sambil memandangi wajah gadis itu dari dekat.


Wajah Sasi tampak tenang dan damai. Tommy tak bisa membayangkan wajah cantik itu ketakutan gara-gara diganggu makhluk dari alam lain. Dia harus segera mencari cara agar makhluk itu mau dengan sukarela meninggalkan Sasi untuk selamanya.


" Aku akan segera membebaskanmu dari belenggu lelembut tak kasat mata itu sayang. Tommy membatin. dibelainya lembut rambut dan kepala Sasi yang masih saja terlelap .


Merasakan belaian di kepalanya, Sasi membuka matanya. Dia terkejut mendapati wajah Tommy begitu dekat di depannya.


" Mas?" Aasi mengerjapkan matanya.


" Kenapa sayang? Kaget lihat malaikat ganteng di hadapan?"


Sasi tertawa sambil memudurkan kepalanya. Tapi Tommy malah memajukan wajahnya hingga tak berjarak. Lalu dengan kecepatan kilat menyesap lama bibir Sasi. Gadis itu tak bisa lagi menghindar karena tubuhnya terhalang sofa.


" Mas? Sudah ah...! Pulang yuk?" Sasi menggeliat dalam dekapan Tommy. " Nggak bau apa? Aku belum mandi loh dari pagi.." Sasi berusaha melepaskan diri dari Tommy. Tapi pria itu tak melepaskan pelukannya.


Hingga beberapa saat kemudian barulah Tommy melepaskan Sasi dari rengkuhannya.


" Mau mandi di sini?" Tanya Tommy menggoda.


" Nggak mau. Nggak bawa baju ganti juga. Pulang aja yuk. Mandi di rumah" ajak Sasi lagi.


" Ya sudah ayok pulang Tapi makan dulu. Nih mas udah pesen nasi rendang . Lapar banget" kata Tommy.


Sasi mengangguk karena perutnya pun sudah meronta minta diisi.


Mereka makan dengan tenang. Sesekali saling menyuapi dan saling menggoda. Hingga makanan mereka habis tak bersisa.


Selesai makan, mereka segera pulang ke rumah Sasi.


Setelah mengantar Sasi dengan selamat sampai ke rumah, Tommy melanjutkan perjalanan ke rumah mbah Ageng. Dia sudah tak sabar untuk menanyakan kepada orang tua itu cara mengusir makhluk yang mengganggu Sasi itu .


Tommy melangkahkan kaki ke belakang rumah mbah Ageng. Menuju pendopo tempatnya mengasah ilmu beberapa hari belakangan ini. Seperti sudah ada yang menuntun langkah kakinya. Padahal tak seorangpun ada di sekitar Tommy.

__ADS_1


Di kejauhan dilihatnya guru spiritualnya itu sudah duduk bersila sambil melipat tanganya.


Tommy semakin mendekati mbah Ageng. Setelah itu Kemudian duduk bersila di hadapan mbah Ageng. Diam dalam sikap berdoa dan memasrahkan diri di hadapan sang pencipta.


__ADS_2