Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Namanya Turangga Seta


__ADS_3

Sasi menatap pemandangan di sekitarnya dengan nanar. Hal seperti ini sudah berkali-kali dialaminya. Namun Sasi tetap tak bisa menghindar.


Saat berada di tempat ini, Sasi seperti merasa tak berdaya. Seakan tubuh dan jiwanya bukan miliknya lagi. Dia tak bisa mengendalikannya selain menurut apa yang diinginkannya. Lelaki itu. Pria tampan penuh pesona yang selalu mengikutinya dalam mimpi.


" Kamu lagi?" tanya Sasi. Perasaannya sudah tak karuan.Antara mengagumi ketampanan pria itu namun juga rasa takut karena pria itu tak dikenalnya. Dan pria itu punya tatapan mengintimidasi yang membuatnya ketakutan.


" Iya Sasi...aku. Hanya aku. Kamu kekasihku, hanya milikku."


Milikku...Sasi tiba-tiba tercekat mendengar lelaki itu mengatakan kamu milikku. Lamat-lamat di kepala Sasi muncul bayangan lelaki lain yang tak kalah gagah dari lelaki di depannya.


" Katakan kamu bukan kekasihnya. Kamu hanya mencintaiku. Kamu milikku. Kita akan segera menikah sayang."


Bayangan di kepalanya pelahan makin jelas. Sasi tersenyum begitu mengingat siapa yang ada dalam pikirannya. Tommy, kekasihnya. Beberapa hari lagi mereka akan menikah.


Lelaki itu mere mas tangan Sasi kasar. Dia tampak kecewa dan seperti tahu apa yang ada di pikiran Sasi.


Sasi mengaduh merasakan sakit di tangannya.


" Kau menyakitiku" keluh Sasi.


" Maafkan aku" kata pria itu." Tapi aku tidak suka kamu memikirkan orang lain. Harusnya hanya ada aku di sini dan di sini." Lelaki itu menunjuk kening dan dada Sasi.


" Mari kita bicara. Biarkan aku mengenalmu" Sasi mulai mengingat semua kata-kata Tommy.


Bicara dengan lemah lembut. Pria tanpa nama itu selalu membuatnya sakit ketika Sasi melawan dan memberontak atau berteriak dan menangis. Baiklah...bukankah aku harus mengambil hatinya? Agar dia tak menyakitiku. Sasi berkata dalam hati.


" Siapa namamu? " tanya Sasi


" Apa itu penting buatmu?"


" Tentu saja. Kau mengakui 'aku kekasihmu Sedangkan aku tak tahu siapa dirimu. Wajar kalau aku tak mempercayaimu."


" Orang-orang memanggilku Rangga. Turangga Seta." Good. Satu kemajuan dia sebut namanya.


" Di mana rumahmu?" tanya Sasi mulai berani.


" Di sini. Di hatimu. Di pikiranmu. Di jiwamu" jawab Rangga serius. Matanya menatap Sasi dalam. Seperti ada luka di sana.


Harusnya Sasi bahagia jika saja yang mengatakan itu adalah Tommy. Tapi yang mengatakannya adalah lelaki aneh ini. Dan dia mengatakan itu dengan sungguh-sungguh.


Sasi menggigil. Dia seakan baru menyadari sesuatu. Bahwa selama ini mungkin jiwanya benar-benar dikuasai oleh lelaki aneh ini. Dia tinggal di diriku Tepat seperti apa yang dikatakannya baru saja.


" Maafkan aku. Tapi aku tidak mencintaimu. Aku sudah punya kekasih . Aku hanya mencintainya."


" Tak apa , cukup aku yang mencintaimu" Rangga bersikeras. Tak mau mendengar Sasi.


" Tapi kita akan sama-sama menderita. Kau tak akan mendapatkan cintaku. Dan aku tak akan pernah mencintaimu karena aku hanya mencintai kekasihku. Kita akan sama-sama terluka."


" Aku tidak peduli." rahang Rangga mengeras.


Sasi semakin didera ketakutan.


" Apakah aku pernah mengenalmu di suatu tempat yang aku tahu?" tanya Sasi. Dia ingin tahu apakah lelaki ini temannya atau kenalannya di masa lalu.

__ADS_1


" Tidak. Aku hanya ada di sini. Hanya kau yang mengenalku. Aku bukan dari duniamu" kata lelaki itu.


Kepala Sasi berdenyut nyeri. Tiba-tiba terlintas dalam ingatannya ketika Tommy mengatakan bahwa lelaki ini bukan manusia. Semua makin tak masuk akal . Sasi tak bisa menerima hal aneh seperti ini. Terlalu aneh untuk diterima akalnya.


"Maafkan aku. Aku tak ingin bertemu denganmu lagi. Tak bisakah kau tinggalkan aku? Aku sakit tiap kali kau menemuiku" Sasi memohon.


" Mintalah apa saja. Asal jangan minta aku meninggalkanmu. Hanya kamu yang kumiliki di dunia ini" tatapan Rangga menusuk relung hati Sasi.


" Tapi kau bilang kau bukan dari duniaku. Kau ini apa? Bisakah kita kembali pada tempat kita saja? Aku mungkin bisa berteman denganmu. Tapi untuk cinta dan hidup bersama, aku hanya ingin bersama kekasihku." Sasi memberanikan diri mengatakan keinginannya.


Rangga tampak sangat kecewa.


" Aku pergi.." katanya. Lalu bayangannya menghilang begitu saja.


Sasi tergeragap bangun dari tidurnya. Jam empat pagi. Sasi meneguk segelas air yang tersedia di nakas. Kepalanya masih berdenyut nyeri.


Sasi benar-benar tak bisa membedakan apakah yang baru saja dialaminya benar-benar mimpi atau kenyataan. Kepalanya benar-benar nyeri.


Tapi begitu melihat sekeliling Sasi yakin itu hanya mimpi karena kini dia berada di kamarnya. Bukan di taman itu.


Sasi bangkit dari tidurnya dan membasuh muka di wastafel. Setelah itu kembali duduk di ranjang. Bersandar pada kepala ranjang. Kepalanya masih sedikit pusing. Tapi Sasi tak mempedulikannya.


Pikirannya melayang pada mimpinya. Lalu pada kata-kata Tommy yang sempat ditertawakannya karena menyuruhnya berkata-kata di dalam mimpi. Bagaimana bisa Tommy dengan tepat memprediksi mimpinya bahkan mensetting jawaban untuknya?


Lelaki calon suaminya itu kini jadi tanda tanya buatnya. Apakah sedemikian hebat dukun itu sehingga bisa mengubah Tommy jadi cenayang yang bisa melihat masa depan? Juga bisa melihat apa yang dilakukan orang lain dari jarak yang jauh? Bahkan bisa melihat orang dari balik dinding?


Sasi merasa semua begitu aneh dan membingungkan. Kepalanya berdenyut lagi. Sasi segera bangun dan menuju ke dapur. Sebelum semakin parah, dia harus minum obat.


" Mbak Rumi, aku mau minum obat sakit kepala. Ada sesuatu yang bisa ku makan?" tanya Sasi pada Rumi yang sudah sibuk di dapur.


" Boleh mbak. Buat syarat minum obat saja. Asal perut keisi. Nunggu sarapan takut keburu parah sakit kepalanya."


" Iya mbak. Tunggu saya ambilkan" Rumi bergegas ke kulkas . Memotong cake dan membawanya ke meja makan dimana Sasi sudah menunggu.


" Ini mbak Sasi, cepat diminum obatnya" Kata Rumi.


" Iya mbak, makasih ya.." Sasi segera makan cake yang dibawa Rumi lalu meminum obat yang sudah dibawanya. Gadis itu lalu beranjak kembali ke kamar. Bermakaud istirahat dan kembali tidur agar sakit kepalanya segera sembuh.


Sasi terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Kepalanya sudah tak pusing lagi. Sasi segera bangun dan beranjak membersihkan diri ke kamar mandi.


Setelah bersiap , Sasi keluar ke meja makan dalam kondisi segar dan sudah rapi siap ke kantor.


" Maaih sakit kepala Sasi?" ibu menghampirinya. " Rumi bilang kamu pusing tadi" kata ibu.


" Iya bu. Tapi sudah sembuh kok. Sasi sudah minum obat" jawab sasi.


" Syukurlah. Ibu takut kamu sakit lagi. Ini sudah tinggal beberapa hari jelang hari pernikahanmu. Kamu harus berhati-hati dan menjaga kesehatanmu nduk" kata ibu.


" Iya bu. Sasi mengerti. Ibu jangan kuatir yah" Sasi menggenggam tangan ibu yang tampak mengkhawatirkannya.


Ibu tersenyum dan mengelus lembut rambut Sasi. Instingnya sebagai ibu menangkap ada yang terjadi pada Sasi tadi malam. Dan ibu yakin itu berhubungan dengan makhluk pengganggu putrinya itu.


Tapi ada yang membuat ibu sedikit heran sekaligus senang. Sasi tampak lebih tenang. Tidak kelihatan shock atau ketakutan seperti biasanya. Selain itu Sasi tampak sadar diri, berusaha minum obat untuk mengatasi rasa sakit kepalanya. Mudah-mudahan ini pertanda baik.

__ADS_1


" Ya sudah kamu sarapan dulu. Ajak Tommy sarapan sekalian kalau dia datang" kata ibu sambil berlalu ke dapur.


Tak lama, Sasi mendengar deru mobil berhenti di halaman. Pasti Tommy. Dan benar saja , tak lama kemudian pria itu sudah berdiri di samping kursinya.


Sasi menoleh dan mendongak ke arah kekasihnya itu. Dan..." Cup!" Bibir Tommy mendarat sempurna di bibirnya.


" Morning kiss sayang.." Bisik Tommy sambil tersenyum puas. Sasi melotot kaget.


Sasi menggeleng sambil tersenyum canggung.


" Kebiasaan..." geram Sasi kesal tapi senang. "Sarapan yuk!" ajak Sasi


"Suapin..." bisik Tommy manja.


Sasi tertawa lirih. Rasanya tak pernah menyangka jika bos super dinginnya dulu akan jadi lelaki semanja ini.


" Manja!" gumam Sasi sambil menyuapkan makanan ke mulut Tommy.


" Cuma sama kamu saja, pengen selalu dimanja-manja" kata Tommy. Sasi mengerling


Sasi menambahkan makanan ke piringnya. Dan melanjutkan makan sambil menyuapi Tommy. Sepertinya ini akan jadi kebiasaan mereka kelak. Mengingat Tommy seakan tak punya malu lagi melakukannya meski di rumah Sasi, yang sudah pasti akan dilihat ibu dan para pegawainya.


Ibu yang mula-mula risih melihat tingkah Tommy pun kini sudah lebih terbiasa melihat Tommy beraikap manja dan romantis pada Sasi.


Selesai makan, keduanya berpamitan pada ibu dan berangkat ke kantor.


Belum lama meninggalkan halaman rumah, Sasi berkata pada Tommy.


" Mas, tadi malam aku mimpi dia lagi" Kata Sasi membuka pembicaraan.


Tommy mengerem mobil mendadak dan menepikannya mendengar ucapan Sasi.


" Ha? Trus kamu gimana sayang? Kamu gak papa kan?" Tommy melepas seatbeltnya lalu mulai memeriksa wajah Sasi. Meraba kening dan leher gadis itu. Dia bernafas lega ketika merasakan suhu tubuh Sasi normal.


" Mas jangan kuatir aku baik-baik saja" Sasi tersenyum sambil menggenggam tangan Tommy yang memegangi kedua pipinya.


Tommy memeluk tubuh Sasi beberapa saat "Syukurlah...kenapa baru cerita sayang?" Tanya Tommy masih tampak khawatir.


" Aku pikir aku sudah tidak apa-apa. Jadi aku nggak mau bikin ibu atau mas khawatir. Aku sudah bisa mengatasinya."


Oke. Kita ke kantor agak siang saja. Ayo ikut mas. Kamu bisa cerita dengan tenang disana" Tommy menjalankan mobilnya lagi.


Tak lama, keduanya sampai di sebuah danau dengan pemandangan indah di sekitarnya. Beberapa bangku kayu tampak berjajar di sekitar danau buatan itu.


Suasana tampak sepi dan tenang. Tommy mengajak Sasi duduk di salah satu bangku di tepi danau.


" Bagaimana? Apa dia mengganggumu ? Dia menyakitimu?" Tanya Tommy bertubi-tubi.


" Tenang mas, satu-satu dong tanyanya" Sasi bersedekap ketika dirasakannya angin dari danau menerpa tubuhnya. Blousenya yang tipis tak mampu melindunginya dari hawa dingin di sekitar danau.


Tommy melepas jasnya dan menyampirkannya ke pundak sasi. " Maaf kamu jadi kedinginan. Apa kita pindah ke tempat lain saja" Tanya Tommy.


" Ngga usah mas. Disini saja enak , tenang. Bajuku memang tipis makanya agak dingin. Sekarang sudah gak papa" Jawab Sasi. Megeratkan Jas Tommy ke tubuhnya.

__ADS_1


"Oke. Sekaramg cerita ke mas. Apa saja yang kamu alami dalam mimpi." Tommy merangkul pundak Sasi. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahu bidang calon suaminya itu.


__ADS_2