
Tommy menurunkan Sasi di ranjang dan langsung menggulung istrinya itu dengan penuh hasrat. Tak membiarkan tubuh halus bak pualam itu sedetik pun terlepas dari sentuhannya.
" Kemana saja, lama banget pulangnya? " rajuk Sasi dalam rengkuhan Tommy.
Suaminya tak menjawab, masih asik menyusupkan wajahnya sesukanya...ke mana saja... Meresapi aroma memabukkan wanita yang ada dalam pelukannya. " Yaaang...pengeen..." desisnya ditengah cumbuannya pada setiap jengkal keindahan Sasi.
" Sssshhh....Mas..." Suara lirih Sasi lolos dari bibirnya. Matanya berkabut menatap Tommy. Seakan isyarat persetujuan bagi Tommy untuk makin jauh menikmati surga dunia yang kini terpampang menggoda dihadapannya.
Pria itu menarik lepas pakaian Sasi yang sudah berantakan tak karuan.Hingga kini keindahan nyata pahatan raga seindah lukisan menyapanya.
Tommy menatap lama keindahan yang kini tanpa penghalang itu, hingga Sasi yang sudah sejak tadi terbakar hasrat menjadi tak sabar.
" Kenapa sayang?" tanyanya heran.
" Terlalu indah..." bisik Tommy dengan tatapan ingin menerkam.
" Mass....please...." desak Sasi gelisah. Seluruh tubuhnya sudah panas membara, dan Tommy malah menggantung harapannya...ish!
" Pengen juga ya?" goda Tommy.
" Enggak!" Sasi kesal dan malu sekali . Tommy seperti sengaja mempermainkannya. Dia lalu membalikkan badan memunggungi Tommy. Menarik selimut hingga menutupi tubuh polosnya sampai ke kepala.
Tommy tertawa lalu ikut masuk dan bergelung ke dalam selimut Sasi. Entah apa yang dilakukannya karena terdengar Sasi menjerit-jerit sambil tertawa kemudian. Dan tak lama selimut mereka sudah teronggok di lantai.
Meninggalkan sepasang manusia yang tengah tenggelam di lautan asmara. Saling menyenangkan hati dan memuaskan diri dalam nikmatnya madu pengantin baru...Uhh!!
" Tok...tok...tok..." suara pintu diketuk
" Ahh...mas...? " Sasi menatap suaminya yang sedang terengah memacunya.
Tommy tak peduli, malah merayap memagut bibir Sasi yang terbuka hendak berkata-kata.
" Ssstt...jangan dijawab. Kita selesaikan dulu. Nanggung yaang...sudah mau sampai.inihh..! geram Tommy semakin mempercepat gerakannya..sampai akhirnya keduanya terlempar bersama ke dalam kenikmatan dan kepuasan tiada tara . Sempurna....
Sasi masih meringkuk manja di pelukan suaminya ketika suara pintu diketuk terdengar lagi.
" Tom, Sasi, kalian sudah tidur? Ibu mau bicara sebentar." suara lembut ibu memanggil mereka. Membuat Sasi segera bangun dari ranjang. Tapi tangan Tommy menahannya hingga Sasi jatuh ke atas tubuh suaminya yang kini terlentang.
Sasi berbalik dan menggigit gemas pinggang Tommy hingga pria itu tertawa kegelian. " Ampun yaaang...sudah...sudah! " Tommy bergeser dan kembali memeluk Sasi.
" Iya bu, sebentar lagi kami keluar...! " Sasi agak berteriak menjawab ibu.
" Ayo keluar, ditunggu ibu tuh! " Sasi mengelus pelan tangan Tommy yang memeluknya.
" Emmm...males keluar yang..." Tommy malah menciumi pundak dan leher Sasi.
" Ya sudah. Mas didalam saja , aku yang keluar menemui ibu. Biar dianggap menantu durhaka!" Sasi tertawa bercanda.
Tommy menggigit gemas pundak Sasi mendengar kata-kata istrinya itu.
" Ibu mau ngomong apa sih? Mandi dulu nggak yanng? Nanggung nih...hehhe..." Tommy cengengesan.
" Ngga usah, kelamaan. Cuci muka aja sisiran." Sasi memunguti bajunya yang berserakan. Lalu mengangsurkan kaus oblong untuk Tommy. Dia sendiri menggunakan kaos oblong miliknya.
Keduanya keluar dari kamar beberapa saat kemudian. Namun sebelum keluar dari kamar Tommy masih sempat menyusupkan wajahnya ke balik kaos oblong Sasi.
Ya ampuun..Sasi tertawa dan menjewer telinga suaminya yang nakal itu. Tommy malah tertawa-tawa. Rambut Tommy yang tadi sudah dirapikan Sasi jadi berantakan lagi. Sudahlah.
Mereka duduk malu-malu di depan ibu. Ah, sudahlah, ibu pasti juga paham bagaimana kacaunya suasana di kamar pengantin baru.
" Apa benar kalian mau pindah ke apartemen?" tanya ibu.
" Iya bu, rencananya Senin kita mulai pindah. Ke kantor lebih dekat kalau dari apartemen bu." jawab Tommy menyampaikan alasannya.
" Tega kamu Sas, ninggalin ibu sendirian.?" wajah ibu merebaK. Suaminya audah tiada dan kedua anaknya yang lain sudah lama meninggalkannya untuk ikut suami-suami mereka; dan sekarang Sasi juga akan pergi.
" Bukan begitu bu...tapi...." Sasi tak melanjutkan ucapannya. Cuma menatap bingung ke arah ibu lalu menatap ragu ke arah Tommy.
" Ibu, ini cuma sementara karena banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan. Mungkin hanya sebulan atau dua bulan, selanjutnya kami akan tetap menemani ibu di sini. Selama kami di apartemen , kami akan sering-sering mengunjungi ibu."
Sasi tersenyum lega menatap suaminya. Tadi Sasi sempat ragu, Tommy ingin lebih menjaga privacy mereka dengan pindah ke apartemen, namun ibu juga butuh ditemani. Sasi dalam dilema antara menuruti ibunya atau menurut pada suaminya.
Ternyata suaminya begitu pengertian. Tommy tahu isi hati Sasi. Dia tak ingin istrinya harus memilih dia atau ibunya.
Ibu tersenyum. Kelegaan nampak jelas terpancar di wajah cantiknya yang mulai ditumbuhi keriput kecil.
" Beneran Tom? Cuma sebulan ya? Ibu nggak mau masa tua ibu cuma ditemani Rumi sama Kusno." ibu merebak lagi. Nelangsa membayangkan tak ada satupun anaknya menemaninya.
" Iya bu..." jawab Tommy meyakinkan ibu. Tommy makin tak tega saat melihat wajah ibu tampak sedih lagi. Baiklah memang ada yang harus rela berkorban. Dan rasanya Tommy tak akan menyesal jika itu membuat ibu bahagia. Dia harus menyimpan dulu egonya untuk hidup mandiri dan terpisah dari ibu mertuanya itu.
" Ya sudah, kalian istirahat sana. Ibu juga mau tidur." Ibu meninggalkan mereka berdua dengan perasaan lega.
__ADS_1
Sasi memeluk erat suaminya.
" Makasih mas, Jadi makin sayang..." bisik Sasi sambil mengecup pipi Tommy. Pria tampan itu tersenyum senang mendapatkan kecupan manis dari istrinya.
Keduanya kemudian berjalan berangkulan. Sesekali saling mengecup dan memagut hingga tiba di kamar mereka.
"Lanjut yuk..." bisik Tommy saat mereka sudah di dalam kamar.
Sasi tidak menjawab, tapi langsung mengalungkan tangan ke tengkuk suaminya. Mengikis jarak diantara mereka dan mengulum lembut bibir suaminya. Menyesapnya sambil menatap mesra mata pria tercintanya.
Tommy membalasnya lembut dan penuh gairah. Mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkan Sasi di pangkuannya. Menikmati hangatnya ciuman dan cumbuan mesra berdua. Tak bosan merengkuhi wajah cantik istrinya.
Bercinta adalah kegiatan favoritnya sejak mengenal Sasi. Baginya istrinya adalah satu-satunya yang tak pernah membuatnya bosan, sekaligus satu-satunya tak pernah membuatnya puas. Ingin lagi dan lagi... Ahh....
Esoknya
Sasi dan Tommy untuk pertama kali pergi ke kantor bersama sebagai pasangan suami istri. Sasi merapikan dasi Tommy, jadi lama karena Tommy tak bisa diam. Sasi jadi kesal. Suaminya itu terus saja mengganggu dengan mengecupi wajahnya, lehernya, telinganya, kepalanya..tangannya...ishh!.
" Maaass...kapan selesainya kalau begini terus?" rutuk Sasi sambil mendorong pelan wajah suaminya yang kini bersiap menyambar bibirnya.
" Pelit...!" Tommy melengos kesal.
Nah bagus diam begitu. Sasi buru-buru menyelesaikan merapikan dasi Tommy.
" Nah akhirnya beres juga, perfect, ganteng" Sasi tersenyum menepuk dada Tommy.
" Sudah dari lahir" jawab Tommy.
" Ck...mulai kumat narsisnya. Ayo sarapan sayang." Sasi menarik tangan Tommy ke meja makan.
Ibu ada di sana, sedang memasukkan makanan ke kotak makanan.
"Ibu sudah sarapan?" sapa Sasi.
" Sudah, ibu mau ke kantor hari ini, Palupi mau mendaftarkan Lily ke Play group, jadi ibu yang akan menggantikan Lupi di kantor.
" Salam buat Lily dan Rose ya bu...juga buat papa kalau ketemu. "Sasi mencium pipi ibu saat ibu beranjak pergi.
Tinggallah mereka berdua di meja makan.
" Mau makan apa mas?" tanya Sasi sambil mengambilkan Nasi untuk Tommy.
" Makan kamu aja boleh ngga?" Tommy menggigit telinga Sasi.
" Tapi kalau ngga kelihatan anak-anak boleh kan?" Tommy tertawa menggoda Sasi membuat istrinya itu melotot kesal.
." Sak karepmu ( sesukamu) mas!" Sergah Sasi sambil menyuapi Tommy. Kegiatan rutin tiap makan di rumah atau saat mereka hanya berdua. Tommy merasa kebahagiaannya sempurna.
Sasi merasa canggung menginjakkan kaki pertama kali di kantor setelah hampir dua minggu cuti bersama Tommy.
Meskipun Reza dan Tommy selalu berhubungan tiap hari, namun berada kembali di lingkungan kerja membuatnya merasa aneh.
Apalagi saat mendapati mata menggoda para karyawan ketika melihatnya turun dari mobil bersama Tommy. Para karyawan tampak menganngguk hormat ke arah Tommy dan Sasi. Sama seperti biasa , namun kali ini mereka sambil tersenyum-senyum. Entah apa makna senyum mereka ..Seakan Sasi bisa mendengar mereka bersorak " Cieeee pengantin baru..." itu yang dipikirkan Sasi ada di kepala mereka.
Sasi membalas senyuman mereka dengan canggung. Sementara Tommy cuek, sudah memasang mode jutek di wajah tampannya.
" Mas, lihat leher sama bahuku" bisik Sasi.
" Kenapa sayang?" tanya Tommy heran namun menuruti pinta istrinya memeriksa leher dan pundak Sasi yamg sedikit terbuka.
" Ngga ada kissmark kan?" bisik Sasi lagi.
Tommy tertawa. Sasi rupanya takut para karyawan bersikap aneh gara-gara tanda cinta Tommy.
" Ngga ada sayang...atau mau di adain sekarang?..hehehe..." Tommy malah berucap mesum.
Sasi menggeram kesal lalu melotot ke arah Tommy. Suaminya itu langsung mengangkat dua jari tanda damai.
" Peace..." bercanda yaaang...hahaha..." Tommy mentowel pipi Sasi. Keduanya tertawa tertahan.
" Dasar boss mesum!" gumam Sasi. Tommy malah tertawa mendengarnya.
Tiba di lantai atas, Sasi masuk ke ruangannya, sementara Tommy juga masuk ke ruangannya .
Tak lama tampak Reza tergopoh-gopoh menghampiri ruangan Tommy.
" Duduk Za.." Tommy mempersilakan Reza duduk di depannya. Sementara dia sedang menelpon Sasi untuk datang ke ruangannya.
" Jadwal saya mana?" kata Tommy.
Reza meletakkan tablet kerja di depan Tommy yang langsung mengecek jadwalnya hari ini.
__ADS_1
" Rangga Syailendra...dia yang minta dihandle sama saya langsung? " tanya Tommy.
" Iya pak. Sama ada satu lagi yang dari Jepang." jawab Reza.
" Oke yang dua ini saya ambil alih. Kamu bantu Sasi siapin materinya ya? Nanti saya sama Sasi yang meeting. Kamu boleh istirahat " Tommy tersenyum.
" Siap pak!" Reza tersenyum lega." Emm..anu...itu...."
" Apa?" Tommy memotong ucapan Reza yang terbata-bata.
" Boleh saya izin cuti dua hari pak?" tanya Reza takut-takut.
" Boleh, but not now! Dua hari ini bantu Sasi dulu. Dua minggu kerjaan yang handle kamu semua, kalau kamu tinggal cutl begitu saja, kami yang bingung."
" Siap pak, Saya akan serah terima tugas dulu, baru cuti." Reza mengerti.
" Good, tuh Sasi. Kamu jelasin yang perlu diserah terimakan.!" titah Tommy sambil menatap pintu. Reza lagi-lagi dibuat bingung karena saat pintu dibuka dari luar, tampak wajah cantik Sasi di depan pintu. Bos ini seperti cenanyang.
Reza tersenyum menyapa Sasi. Masih terbawa kebiasaan Reza hendak merangkul pundak Sasi, namun deheman keras Tommy menyadarkannya bahwa wanita di depannya itu sudah sah jadi bu Bossnya sekarang. Reza menggaruk tengkuknya .
" Boleh saya jelaskan di ruangan saya saja pak?" tanya Reza.
" Nggak boleh.Di sini saja. Bawa semua dokumennya ke sini! " tegas Tommy.
Reza menggaruk kepalanya. Dasar posesif, rutuknya dalam hati. Lalu mengajak Sasi duduk di sofa yang ada dir ruangan Tommy. Sementara bossnya itu sudah berkutat dengan laptopnya di kursi kebesarannya.
Sasi menahan tawa melihat wajah masam Reza.
" Makasih ya Zaa...kamu bener-bener bantu aku banget. Nggak salah mas Tommy percaya sama kamu, you are the best!" puji Sasi tulus.
" Sudah muji-mujinya ngga usah lebay. Dia nanti dapat reward juga kok dari boss. Kamu ngga usah ikutan kasih reward yaang.." tiba-tiba Tommy menyahut dari kursinya.
Reza meringis, dasar boss bucin, posesif, cemburuan...rutuknya dalam hati tentu saja
Sasi tersenyum sambil menggelengkan kepala. Lalu tersenyum pada reza sambil mengucap lirih " Sori"
Reza tersenyum maklum " Its OK"
Keduanya kemudian sudah terlibat dalam diskusi dan pembicaraan yang cukup lama dan intens. Reza menjelaskan dengan singkat semua pekerjaan yang selama dua minggu ditinggallkan Sasi.
Setelah selesai, Reza meninggalkan ruangan Tommy.
" Clek!" suara pintu terkunci saat Tommy menekan remote kunci pintu otomatis yang rupanya sudah terpasang beberapa hari lalu.
" Wah jadi juga bikin kunci otomatis mas?" Sasi mendekati Tommy.
Pria itu mengangguk sambil menarik Sasi Duduk di pangkuannya.
" Yang, habis ini kita ketemu Rangga. ****! Sebenarnya males banget ketemu dia. Tapi nilai kontraknya fantastis. Sayang kalau dilewatkan begitu saja." Tommy menggumam sambil mengendus-endus leher Sasi.
" Iya, aku juga nggak nyaman mas, apa nggak sebaiknya Reza saja yang menemani mas?" Sasi mengusap lembut rambut Tommy.
" Nggak Yang, kasihan Reza dua minggu kalang kabut sendirian. Biar dia istirahat". Sebenarnya Tommy sengaja mengajak Sasi atas perintah mbah Ageng demi misi mereka membongkar kedok Rangga.
Sasi mengangguk maklum. " Iya juga sih" gumamnya kemudian.
" Kamu kan sama mas, nggak usah khawatir .Ini pure kerja sayang. Kita profesional. Ok ? " Tommy memeluk Sasi.
Sasi mengangguk lalu turun dari pangkuan suaminya. " Siap-siap yuk!"
" Emmm..." Tommy mengangguk. Membiarkan Sasi merapikan pakaiannya lalu mempersiapkan berkas-berkas untuk meet dengan Rangga.
Tak lama Sasi sudah berdiri lagi di hadapannya dengan pakaian rapi dan riasan tipis yang makin membuat Sasi tampak bersinar.
" Yaang, kok pake dandan segala sih. Nanti Rangga makin tergila-gila sama kamu...." gerutu Tommy kesal.
" Lho, bukanya biasanya juga gini sih sayaang..ketemu klien kan harus rapi, elegan, profesional. Mas sendiri yang bilang gitu. Lagipula yang tergila-gila sama aku tuh Turangga Seta yang ada dalam mimpiku, bukan Rangga Syailendra yang ada di alam nyata.." Sasi terheran-heran dengan gerutuan Tommy.
Tommy bingung menjelaskannya pada Sasi. Saat ini dia sendiri juga belum.yakin apakah Rangga Syailendra sama dengan Turangga Seta. Akhirnya dengan hati dongkol membiarkan Sasi tetap dengan riasan fawlesnya yang memukau.
********
Hai..hai ketemu lagi readers PSS terlove...
Maafken keterlambatan up date nya ya...pasti kesel kan digantung-gantung ceritanya? Padahal memang sikon yang tak memungkinkan author update. So sorry...
Bab selanjutnya kita akan saksikan pertemuan empat tokoh utama kita Tommy, Sasi, Rangga dan Mbah Ageng dalam satu scene...dih sok cihui...hehehe...
Terima kasih buat yang tetap sabar nunggu up date PSS meski dengan hati kesel pengen leave aja...author maklum..caci maki saja diriku..
Terima kasih juga buat yang masih setia like, komen, kasih vote, poin dan koin buat author....meski sering di php...kalian the best...
__ADS_1
Happy reading...