Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Heneymoon (2)


__ADS_3

Perjalanan ke Bali selama hampir satu setengah jam dilalui Sasi dan Tommy dengan lebih banyak diam. Saling memberi kehangatan dan ketenangan hati dengan tetap berpelukan dan saling menggenggam tangan.


Sesekali Tommy mengecup pipi Sasi dan istrinya itupun membalasnya dengan mengecup pipinya.


Atau Sasi yang tiba-tiba mengecup bibir Tommy dan suaminya itu justru memerangkapnya hingga tak bisa lepas dan malah berlanjut saling memagut mesra.


Namun sayang tiket first class yang sudah disediakan EO agar mereka lebih nyaman menjalani penerbangan tak mampu menghilangkan keresahan mereka dengan kehadiran Rangga.


Kenapa dari sekian banyak penerbangan, orang itu harus sepesawat dengan Tommy dan Sasi?


Pesawat first class ini bahkan hanya terisi setengahnya dari 10 seat yang tersedia. Tapi kenapa Rangga harus termasuk dalam penerbangan bulan madu mereka? Siapa yang akan percaya dengan kebetulan-kebetulan mengesalkan yang terus terjadi ini?


Tetapi Tommy dan Sasi tak mau lagi membahas Rangga dalam obrolan mereka. Sasi dan Tommy berusaha saling lebih fokus pada pasangan mereka daripada memikirkan orang lain.


" Kamu ngga ngantuk yang? Tadi malem tidurnya ngga puas kan?" Tommy memainkan rambut halus Sasi . Mencium aromanya dalam-dalam.


" Tadinya ngantuk banget mas...sekarang enggak lagi. Mas juga ngga tidur..?" tanya Sasi.


" Aku maunya ditidurin..." bisik Tommy sambil menjilat telinga istrinya.


Sasi bergidik geli..." Mas ...banyak orang ini. Gak malu apa?"


" Mana? Kursi sebelah kita kosong. Kursi depan ngga bisa lihat ke sini. Kursi belakang juga ngga akan kelihatan. "


Sasi menoleh ke kanan. Agak ke depan dari tempat duduk mereka . Dan dua seat itu memang kosong. Di belakang ada Rangga dan asistennya. Namun tentu saja mereka tak melihatnya. Kecuali mereka berdiri dan sengaja melongok.


Dua pasang seat tersisa di depan mereka, namun hanya sepasang seat yang terisi . Mereka yang duduk di seat depan itu tak kelihatan dari tempat mereka duduk.


Sasi tersenyum, lalu dengan sedikit menggoda meraih tengkuk Tommy dan memagut bibir suaminya penuh gairah. Menyesapnya dalam-dalam, mengulumnya sambil memejamkan mata, menikmati desah nafas Tommy yang memburu menyambutnya.


" Ahh..sejak kapan istriku jadi nakal begini?" Tommy mengerang pelan ketika Sasi mulai menelusuri garis rahangnya, turun pelahan ke ceruk lehernya dan menghisapnya kecil-kecil disana...


" Ohh...baby...bagaimana aku tidak tergila-gila padamu..?"Tommy memejamkan mata, meracau menikmati tingkah gila Sasi padanya.


Sasi memekik pelan ketika Tommy menariknya duduk dipangkuan. Menyusupkan wajahnya dalam-dalam ke bagian dada istrinya yang hangat. Mengusap-usapkan wajahnya sambil meracau dan mengerang gemas.


Ketika tangan Tommy mulai merayap ke balik gaun Sasi, terdengar pemberitahuan untuk memasang seat belt kembali karena pesawat akan segera landing...


Tommy menatap Sasi dengan tatapan yang masih dipenuhi hasrat. " Ahh...." desahnya kesal.


Sasi tertawa. Mengecup lembut bibir suaminya lalu turun dari pangkuan Tommy. Kembali ke seatnya sendiri di sebelah Tommy.


Tommy memasang seatbeltnya, kemudian membantu Sasi memasang seat beltnya.


" Makasih sayang..." bisik Sasi.


Tommy cuma menatap Sasi datar. " Awas kamu ya...jangan harap bisa lepas dariku seminggu ini!" geramnya yang tidak membuat Sasi takut, tapi malah membangkitkan gelenyar aneh dari dalam tubuhnya.


" Aku tunggu?" Sasi tersenyum menggoda.


Mereka turun dari pesawat dengan diiringi senyuman dan ucapan terima kasih dari seluruh kru pesawat . Bahkan pilot dan kopilot ikut menghantarkan mereka meninggalkan pesawat.


Sasi terkagum. Meski sering bepergian dengan pesawat namun dia tak pernah menaiki pesawat dengan pelayanan first class seperti yang dirasakannya saat ini.


Sampai di ruang kedatangan bandara, Sasi dan Tommy sudah dijemput pihak hotel dan diarahkan ke mobil yang akan membawa mereka ke hotel.


" EO nya jempolan bener ya mas, kita tinggal lenggang kangkung ( santai ) , mereka profesional. " Sasi menggamit lengan suaminya manja. Koper dan segala bawaan mereka sudah dibawa oleh penjemput mereka.


Mobil SUV yang nyaman sudah menunggu mereka di tempat parkir khusus bandara.


Tommy melingkarkan tangannya ke pinggang Sasi , sementara istrinya itu menyandarkan kepala di bahunya. Sesekali Tommy menciumi puncak kepala istrinya penuh sayang. Sudahlah...jomblo mudik saja...

__ADS_1


Tak lama di mobil, perjalanan mereka telah sampai di hotel termewah di Bali dengan segala fasilitas first classnya.


Baskara benar-benar menuruti titah Tommy agar pesta pernikahan dan honeymoonnya bersama Sasi menggunakan fasilitas terbaik yang disediakan EO.


Tommy ingin istrinya akan selalu mengingat momen sekali seumur hidup mereka dengan kenangan yang indah dan berkesan di sepanjang perjalanan hidup mereka kelak. Tommy ingin Sasi selalu mengingat betapa suaminya akan selalu memberikan yang terbaik dan terindah untuk istri tercintanya itu.


" Kamu suka hotelnya sayang?" tanya Tommy saat mereka baru turun dari mobil.


" Indah banget mas, eksotis. Aku suka..." Sasi mencium pipi Tommy. Membuat wajah pria itu memerah bahagia.


" Kalau kamu ngga suka kita bisa minta pindah ke hotel yang kamu mau.."


" Ngga sayang..ini bagus banget sesuai impianku...sebenernya mau nginap dimanapun aku nggak keberatan asalkan sama kamu.." Sasi menatap Tommy berbinar...Tommy langsung mengecup bibir Sasi. Di iringi tatapan dan senyum memggoda dari petugas hotel yang sibuk membawa barang mereka.


" Selamat datang di Bali..." seorang petugas hotel mengalungkan karangan bunga ke leher keduanya. Sasi dan Tommy tersenyum mendapatkan sambutan yang menyenangkan.


" Boleh minta tolong difotoin?" tanya Tommy kepada petugas hotel didepan mereka sambil menyerahkan kamera.


" Silakan dengan senang hati.." jawab petugas itu.


Mereka segera berpose mengenakan karangan bunga. Sasi tampak malu-malu, sementara Tommy kelihatan cuek dan santai.


Tommy dan Sasi begitu bahagia, hampir saja mereka melupakan seseorang yang merusak suasana honeymoon mereka. Ketika sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobil yang membawa mereka tadi parkir.


Dari dalam mobil keluar dua orang laki-laki dengam pakaian formal. Rangga dan asistennya. Mereka pun mendapatkan sambutan yang sama yang menandakan bahwa mereka juga menggunakan layanan first class di hotel ini.


Senyum di wajah Tommy dan Sasi langsung menghilang. Mereka berpandangan dengan hati masygul. Apakah honeymoon mereka akan benar-benar dirusak sesosok manusia bernama Rangga ini?


Sasi bergegas menarik tangan Tommy memasuki lobby hotel dan mengambil kunci kamar mereka di meja resepsionis.


Tanpa banyak bicara Tommy mengambil kunci dan menggamit pinggang Sasi. Melangkah cepat menuju kamar mereka diiringi petugas hotel yang membawa barang mereka.


Setelah petugas hotel menutup pintu, Tommy dan Sasi langsung merebahkan diri di ranjang hotel yang super besar itu.


Keduanya sebentar terlentang bersisian, tapi tak lama kemudian saling mendekat dan berpelukan. Mata mereka saling menatap tajam, namun lama-kelamaan tatapan itu berubah berkabut hasrat. Membuat keduanya tanpa sadar telah saling menautkan diri hingga tak berjarak.


Sasi memeluk erat ...sangat erat seakan ingin meluluh lantakkan tubuh suaminya itu. Menggigit dada dan bahu suaminya itu, menjambak rambut Tommy kasar sambil menelusuri seluruh wajah suaminya lalu turun ke bagian tubuh Tommy yang kini hampir terbuka seluruhnya.


Tommy semula terkejut mendapati tingkah liar istrinya , namun kemudian tak kalah buas membalas perbuatan istrinya itu. Kedua sejoli itu tampak saling menggeram dan memekik tak jarang berteriak sekan melampiaskan segala ganjalan yang ada di hati mereka.


Udara dalam kamar mereka seakan membara, dinginnya Ac tak mampu menandingi panasnya hati mereka. Dan rasa kesal akan kehadiran orang yang tak diinginkan itu mereka lampiaskan dengan saling memuaskan hasrat dengan cara yang sedikit liar dan kasar.


Hingga akhirnya keduanya terengah sambil berpelukan mengakhiri pertarungan penuh pekik dan teriakan itu.


Tommy menciumi wajah Sasi . " Maafin mas agak kasar tadi. Kamu ada yang sakit?" tanya Tommy sambil menatap Sasi lembut.


" Nggak kok, malah aku yang kasar sama mas. Lihat dada, sama bahu mas penuh gigitan aku. Punggung mas juga banyak bekas cakaran kuku. Maafin sayang...rasanya tadi pengen melampiaskan semuanya. Tapi sekarang rasanya jadi lega...Maafin ya sayang..I love you..." Sasi mengecup bibir Tommy.


Tommy terkekeh. Percintaan mereka barusan benar-benar membuatnya seperti bertarung dengan bintang WWF......damn! Tommy tak pernah mengira Sasi yang cantik dan berwajah lembut itu bisa jadi cat woman yang mengerikan, sangat kuat dan mendominasinya di ranjang...sekaligus melenakan dan memuaskan hasratnya.


Membuatnya terbang ke awan tanpa batas. Karena istrinya itu selalu saja membuat kejutan yang membangkitkan kelelakiannya. Sasii...Sasii...


" Kamu jago smack down juga yang...ahh jadi pengen dibanting lagi sama Sasi...the sexy Xena...mantap...owhh.." Tommy meracau menggoda Sasi.


Sasi melemparkan bantal dan guling ke arah Tommy yang masih saja menggodanya. Dan suaminya itu malah terkekeh-kekeh senang.


Keduanya kemudian kembali saling bergelung lalu bergulingan diranjang. Tak bosan-bosan memujii dan memuja pasangannya dengan saling menikmati menyentuh tubuh mereka.


" Gerah yang...mandi yuk...!" Tommy turun dari ranjang dan menarik tangan Sasi .


Sasi berdiri di ranjang lalu melompat ke arah Tommy yang langsung menangkapnya. Mendekapnya erat dalam buaian dan membawanya ke kamar mandi.

__ADS_1


" Istriku sangat nakal sekarang. Manja lagi...hmm? Apa ini sifat aslimu sayang..?" Tommy tak henti menjelajahi wajah dan tubuh Sasi dalam gendongannya.


Dan bercinta dengan penuh kelembutan syahdu dan kemanjaan mengakhiri sesi mereka di kamar mandi hari ini. Cooling down....


Kini keduanya bergelung dalam selimut di sofa.


" Yang...aku mau ngomong..." Tommy membelai rambut Sasi lembut.


" Hmm..ngomong tok (saja)? Nggak enak mas.." Sasi tertawa menggoda.


" Please sayang, jangan menggoda. Mas serius ini.." Tommy mencubit hidung Sasi.


" Iyo..iyo sayang...aku malah dua rius ini..." masih tertawa-tawa. Tommy langsung memiting leher istrinya gemas. Tentu saja pitingan sayang...Sorry yang jomblo pasti nggak pernah...hahaha...


" Kita bisa saja pura-pura mengabaikan Rangga. Tapi apa kamu yakin bisa tenang dengan pura-pura begitu?"


" Wah kalau ini sih bener-bener serius. Kamu bener sayang. Kita nggak bisa pura-pura tenang. Kenyataannya hati kita resah dan was-was. Lalu gimana enaknya mas?"


" Daripada kita merasa dikuntit, diikuti Rangga. Bagaimana kalau sekalian saja kita main detektif-detektifan. Kita yang akan mengikuti orang aneh itu."


Jawaban Tommy membuat Sasi berkerut dahi.


" Mas nggak sedang demam kan?" Sasi memegang dahi Tommy. Tapi Tommy malah menarik tangan istrinya hingga terjerembab menubruknya .


" Aku nggak demam, tap bisa langsung panas kalau disentuh kamu !" Tommy mendesis lirih.


Sasi tertawa. " Hah..mas sih tegangan tinggi. Gampang nyetrum. hahaha...tapi nanti aja setrum menyetrumnya. Sekarang lanjut jelaskan rencana mas tadi. Maksudnya gimana?"


" Kamu, kita kan merasa dikuntit sama Rangga, diawasi dan diikuti ke mana-mana. Mulai sekarang kita yang akan ikuti dia. Kita awasi dia. Kemana dia pergi selama disini, apa yang dilakukannya. Jadi kita akan tahu. Apakah dia ada acara di sini atau dia memang sengaja menguntitmu."


Sasi tertawa. " Ini beneran mas? " masih tak percaya suaminya memikirkan hal aneh seperti itu.


" Beneran yang. Mas sudah bosen pura-pura tenang. Sekalian saja kita berpetualang. Jadi nggak kepikiran terus, sekalian saja dilakukan biar nggak penasaran. "


" Wah..nanti kita yang dituduh melanggar hukum mas, menguntit orang tanpa ijin." Sasi ragu-ragu.


" Nggak lah..pinter-pinternya kita aja...sambil happy-happy kita mata-matai Rangga."


" Embohlah mas. Sak karepmu...aku melu wae( ikut saja)" Sasi pasrah. " Saiki luwe ( sekarang lapar) mas....makan yuk!" ajak.Sasi manja.


Tommy tertawa, lalu menarik tangan Sasi. Mereka memang belum makan lagi sejak lunch di pesawat tadi. " Yuk ke resto aja. Siapa tahu ketemu Rangga...hahaha..." Tommy bercanda tapi Sasi malah cemberut.


Keduanya segera mengganti pakaian dan keluar dari kamar menuju resto hotel.


Mereka duduk di area teras hotel yang terbuka sambil menikmati hidangan yang sudah mereka pesan.


Tak sengaja, Tommy melihat Rangga juga sedang makan di restoran itu. Rangga tampak sedang bersama tiga orang. Salah satunya Tommy kenali sebagai asisten Rangga.


Sambil makan Tommy terus mengawasi mereka. Rangga tampak cukup akrab berbincang dengan orang yamg makan bersamanya. Sesekali tertawa dan diakhiri saat kedua teman makannya itu berdiri. Rangga dan asistennya ikut berdiri. Mereka bersalaman dengan wajah yang tampak senang.


Sasi yang melihat suaminya tampak melamun, menegurnya. " Ada apa mas? Kok melamun?"


" Ssst...lihat yang..." Tommy menunjuk Rangga yang ada di dalam resto.


Sasi menoleh ke arah yang ditunjuk Tommy dan melihat Rangga sedang bersalaman dengan seseorang.


" Jadi dia memang benar menemui kliennya di sini mas. Kita sudah salah mengira.." Sasi bergumam.


" Hmmm...ya syukurlah kalau begitu. Kita kan jadi tenang sayang...terusin makannya." Tommy juga lega. Mudah-mudahan ini memang kebetulan saja. Dan mereka cuma salah sangka pada Rangga.


Tommy dan Sasi melanjutkan acara makan mereka sambil bercengkerama. Saling menyuapi dan menyenangkan orang tercinta dan sejenak melupakan masalah yang seakan mengukuti kemanapun mereka pergi.

__ADS_1


Begitu asik menikmati waktu bersama kekasih hati , tak sadar sepasang mata diam-diam tetap mengawasi mereka dari kejauhan. Sepasang mata yang dipenuhi kegelisahan namun juga kecemburuan. Tatapan cinta namun sarat rasa bersalah. Cinta deritanya tiada akhir...Namun dunia tanpa cinta bagaikan kertas putih tak berwarna. Kosong dan hampa...


"


__ADS_2