Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
# Antimainstream


__ADS_3

Bersamaan dengan pudarnya cahaya biru dalam kegelapan malam, tubuh Sasi yang dingin membeku pelahan menghangat. Wajah pucatnya sudah mulai bersemu merah kembali.


Ibu membantu Sasi duduk dan memberikan jahe hangat yang sudah dibuatkan Rumi kepada Sasi. Gadis itu menyesap air jahe hangat di cangkir pelahan-lahan. Perpaduan Rasa manis madu, pedas dan hangat segera memenuhi tenggorokannya, pelahan turun menghangatkan perut dan seluruh tubuhnya.


" Ibu, apa yang sudah terjadi padaku?" Sasi menatap ibu bingung.


" Ibu juga tidak tahu Sasi. Kamu tiba-tiba saja hilang kesadaran tadi. Tatapanmu kosong, tubuhmu dingin dan menggigil. Apa yang kamu alami, kamu lihat apa nduk? " tanya ibu.


" Sasi nggak lihat apa-apa bu. Cuma terasa ada angin kencang. Terus rasanya dingin banget dan Sasi gak bisa gerak."


" Mungkin kamu kram karena kedinginan Sas. Ya sudahlah. Yang penting kamu nggak apa-apa. Kamu istirahat saja agar besok fresh." ibu meninggalkan Sasi di kamar.


Sasi merenung mencoba mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Tapi otaknya tidak menemukan sesuatu yang aneh selain hawa dingin yang tiba-tiba menyerang.


Sasi hampir terlelap ketika terdengar dering ponselnya di nakas.


Mas Boss calling...


Sasi menggeser gambar telpon berwarna hijau di ponselnya.


" Mass..? "


" Sayang...sudah tidur ya..? Tommy menyapa di seberang.


" Hampir. Mas sendiri kok belum tidur?" tanya Sasi.


" Nggak bisa tidur. Kamu nggak papa kan? Perasaanku nggak enak. Tiba-tiba ingat kamu" Tommy terdengar khawatir.


"Ngga papa mas. Cuma tadi sempat kedinginan pas ada angin kencang di luar. Sekarang sudah baikan. " Sasi tak ingin menambah kekhawatiran Tommy, tak menceritakan kejadian yang dialaminya.


" Syukurlah kalau begitu. Tidur yang nyenyak ya...mimpiin masmu yang ganteng ini.." Tommy mulai meracau.


Sasi tertawa. " iyaaa...mas boss ku yang tamvan...Good night..." Sasi masih tertawa.


" Good night dear, sayangku..sleep tight. I love you." balas Tommy.


" Love you too.." Sasi menutup panggilan. Masih tersenyum-senyum sendiri.


Entah sudah berapa ratus kali Tommy merayu, tetap saja Sasi masih tersipu tiap kekasihnya itu bicara manis padanya. Cinta memang norak..Sasi bergulingan di kasurnya.

__ADS_1


Malam itu berlalu dengan tenang.


Dan pagi menyapa penghuni bumi dengan cerahnya sinar sang surya.


Kesibukan mulai terasa di rumah Sasi. Orang-orang EO sudah hilir mudik sejak pagi. Mempersiapkan acara lamaran Tommy dan Sasi nanti sore.


Ibu dan Retno cuma sesekali memberi pengarahan pada pihak EO. Selebihnya mereka yang bekerja.


Jelang waktu yang ditunggu tiba, semua persiapan telah usai. Sasi sedang dirias di kamarnya oleh MUA yang direkomendasikan EO juga. Paket komplit.


" Mbak, aku gak mau menor-menor. Simple aja, natural gitu." Sasi meminta pada MUA yang akan meriasnya.


" Siap mbak, laksanakan!" jawab sang MUA.


Dan beberapa saat kemudian, Sasi sudah siap dengan kebaya modern berwarna soft blue dipadu kain warna senada. Wajahnya yang cantik makin bersinar dengan riasan natural yang menonjolkan kelebihannya.


" Ya ampuun.! Cantiknya anak ibu!" mata ibu berkaca-kaca ketika mengatakannya. Sasi benar-benar cantik hari ini.


Ibu merasa sesak mengingat betapa panjang jalan Sasi untuk tiba di titik ini. Bahkan sampai sekarang pun rasa was-was masih menggelayuti pikirannya. Apakah jiwa rapuh Sasi mampu bertahan menghadapi semua ini?


" Duduk sini sayang.." ibu menarik lembut Sasi dan duduk berdua dengan putrinya di sofa.


Kening Sasi mengkerut." Kenapa bu? Malu ah, masa minta cepet-cepet kawin. Lagian Sasi malah pengen jeda agak lama dulu baru kawin. Biar puas-puasin dulu jadi bujangan" jawab Sasi.


" Sasi, ini urgent nak. Mendesak sekali. Kamu ingat apa saja yang kamu alami beberapa bulan ini? Mulai mimpi bertemu orang asing, sampai sakit, lalu mati suri, terus tadi malam sampai membeku begitu.. Ibu takut Sasi. Ibu ingin kamu ada yang menjaga. Ibu yakin Tommy bisa menjaga kamu. "


Sasi tampak berpikir. Memang akhir-akhir ini pikirannya sering terganggu hal-hal yang tak bisa dicerna logika. Tapi apa iya harus dengan menikah? Apa hubungan semua itu dengan menikah?"


" Ibu merasa Tommy bisa memberi pengaruh positif sama kamu. Kenapa tidak disegerakan saja menikah? Toh Tommy juga sudah setuju." ibu menutup mulutnya ketika sadar sudah kelepasan ngomong.


" Hah? Kapan ibu ngomong sama Tommy, kok aku nggak tahu?" Sasi bertanya-tanya.


" Nggak penting , yang pasti dia sudah setuju kalau kamu mau nikah secepatnya."


" Memangnya kamu nggak pengen cepet-cepet nikah? Kalian Sudah lengket gitu. Sudah gak tahan di sembarang tempat mesra-mesraan. Hmm? Apa kamu pikir ibu nggak tahu?" ibu tersenyum menggoda Sasi.


Wajah Sasi langsung memanas. What? Apa saja yang ibu tahu? Tiba-tiba Sasi merasa malu.


" Ah ibu, memang apa yang ibu tahu?" Sasi mengelak.

__ADS_1


" Nduk..nduk...ibumu ini juga pernah muda. Opo kamu pikir ibu nggak tahu kamu peluk-pelukan, mepet-mepet, cium -ciuman ? "


" Ibuuu...??" Sasi menutup mukanya dengan kedua tangannya. Malu tak terkira. Tommy memang selalu menempel padanya dimanapun berada. Mencuri peluk dan ciuman sembarangan. Duh!! Ternyata benar kan? Ibu tahu semua. Aduh!!


" Sudahlah jangan menambah dosa. Kamu nunggu apalagi? Kalau sudah sah jadi suami istri, mau mesra dimanapun juga nggak papa" ibu masih tersenyum menggoda.


" Emboh ( nggak tahu) lah bu. Terserah ibu saja. Aku manut ( menurut) " Akhirnya Sasi menyerah karena terlanjur malu.


Ibu tersenyum menang. Mudah-mudahan semua lancar hingga hari pernikahan. Doa ibu terus terucap di dalm hati.


Dan acara lamaran sore itu berlangsung lancar, khidmad dan penuh haru.


Barata; Palupi dan Baskara datang mengantarkan Tommy meminang Sasi. Beberapa saudara yang dituakan ikut dalam rombongan keluarga Tommy.


Sementara dari pihak Sasi tampak Ibu didampingi beberapa saudara yang juga duanggap sesepuh keluarga. Retno dan Emil suaminya ikut menyambut kedatangan keluarga Tommy.


Acara dimulai dengan sambutan dari perwakilan pemilik rumah. Dilanjutkan pinangan dari pihak Tommy yang disampaikan oleh Barata dan kemudian Tommy sendiri.


Sasi tak dapat menahan rasa haru ketika Tommy memasangkan kalung berlian di lehernya sebagai tanda pinangan. Barata dan Palupi mendampingi di belakang Tommy.


Tibalah saat Sasi harus mencium tangan Barata dan Palupi sebagai tanda hormat dan baktinya pada calon mertuanya.


Saat mencium tangan Barata Sasi masih bersikap biasa saja. Hormat dan sedikit segan. Tapi begitu di depan Palupi , Sasi tidak mencium tangan adiknya itu melainkan malah memeluk erat adik sekaligus calon mertuanya itu.


Sasi tertawa lirih sambil berbisik " Jangan harap aku cium tangan kamu...biarpun kamu mertuaku kamu tetap adikku, kamu yang harus cium tanganku!"


Mendengar kara-kata kakaknya, Palupi yang semula tampak canggung malah tertawa terkekeh-kekeh.


" Mantu koclok" (menantu sinting)! umpat Palupi tertahan di sela tawanya.


Tommy dan Barata yang mendengar percakapan absurd Sasi dan Palupi pun tak bisa menahan tawa.


Keempat ayah anak dan adik kakak itu saling berpandangan dan tergelak bersamaan.


Tamu dan semua yang hadir tampak terheran-heran melihat kelakuan keempat orang itu. Mereka tak mengerti kenapa sang calon pengantin dan kedua orangtua mereka malah tergelak saat prosesi yang seharusnya penuh haru.


*******


Maaaf...author lagi diganggu maKhluk imut yang lagi banyak tugas daring...

__ADS_1


Happy reading....


__ADS_2