Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
# Menuju Satu


__ADS_3

Pagi menjelang. Tommy sudah bersiap menjemput Sasi dan berangkat ke kantor bersama-sama.


Tiba-tiba Sasi menelponnya.


" Halo mas, kata ibu ngga usah sarapan. Sarapan dirumah aja. Soalnya ibu baru dapat kiriman makanan banyak banget dari Retno sama suaminya."


" Wah jadi nggak enak aku sayang...masa tiap hari numpang makan dirumah camer. Malu ah" Tommy benar-benar merasa sungkan.


"Eeeh, ga papa mas. Ibu malah seneng mas mau makan makanan sederhana kami. Malah mubadzir kalau tidak ada yang makan. Ya...ya? Mau kan mas? Sasi membujuk Tommy.


" Iya-iya sayang. Nggak boleh nolak rejeki. Lagipula nggak enak nolak perintah camer.." Akhirnya Tommy mengiyakan ajakan Sasi untuk makan bersama di rumah kekasihnya itu.


Tommy pun bergegas berangkat tanpa.sarapan lebih dahulu. Ditengah jalan menuju rumah Sasi Baskara menghubunginya.


" Mas sekarang dimana?"


" Mau ke kantor. Ini di jalan mau jemput Sasi dulu. Kenapa Bas?" Tanya Tommy . Mengggunakan head set jadi tangan dan matanya tetap fokus mengemudi.


" Wah..aku mau bareng ke rumah Sasi mas, ibu menghubungiku mau bicara masalah mantenanmu( pernikahanmu) Mas." Baskara kecewa.


" Ya sudah sih berangkat sendiri. Cepetan, aku tunggu di rumah Sasi sekarang." kata Tommy.


" Oke aku berangkat sekarang mas" Baskara mengakhiri panggilanya.


Sampai di rumah Sasi Kusno sudah membukakan pagar untuk Tommy.


Senyum manis Sasi sudah menyambutnya . Membuat perasaan lelaki itu langsung membuncah bahagia.


" Cantikku...tadi malam begadang ya? Tidur jam berapa nonton drakor?" Tommy mencubit lembut hidung mancung Sasi.


Gadis itu meringis. " Kok mas tahu aku begadang nonton drakor?" Sasi heran. Padahal dia tak merasa memberitahu Tommy tadi malam.


Tommy tersenyum penuh misteri. " Masmu ini punya ilmu terawang. Bisa melihat kalau pacarnya nakal. Nggak nurut disuruh tidur malah begadang nonton manusia plastik. Hadeuh!"


Sasi tertawa tergelak. " Jiahh...baru sekali ketemu mbah dukun sudah ngaku-ngaku punya ilmu terawang...gayamu mas..mas...hahaha.."


" Eh..jangan bicara jelek tentang mbah Ageng. Dia bisa melihat dan mendengarmu. Dia itu bener-bener hebat loh Sasi."


" Wah..wah...baru sehari jadi muridnya, sudah muji-muji setinggi langit. Kamu sehat mas?" Sasi masih tertawa-tawa.


Bagi Sasi mbah Ageng tak lebih dari orang tua yang terlalu dihormati oleh ibunya, padahal biasa saja menurut Sasi. Meskipun pernah melihat mbah Ageng dalam alam bawah sadarnya saat mati suri, tidak membuat Sasi memandang lebih orang tua itu. Dia tetap tak percaya dukun Titik.


" Trus kok nonton plastik? Maksudnya apa mas?" Sasi mengerutkan dahi


" Artis korea kan cakep hasil oplas semua. Apa namanya kalau gak nonton plastik...hahaha.." Tommy tertawa.


" Ya nggak semua mas...ada kok yang asli ganteng atau cantik." sangkal sasi


" Iya tapi banyakan yang palsu alias plastik" Tommy tak mau kalah.


Sasi merengut keaal. Merasa kata-kata Tommy benar.


Tommy menatap lembut wajah kekasihnya itu. Sasi memang cantik, bahkan menurut Tommy diantara ketiga bersaudara itu, Sasi lah yang tercantik. Tak heran makhluk dari dunia lain pun tergila-gila pada kekasihnya itu.

__ADS_1


Dan Tommy tak menyalahkan Sasi jika dia sedikit meremehkan mbah Ageng. Karena sebelum bertemu orang tua itupun, pandangan Tommy terhadap orang-orang seperti mbah Ageng juga sama seperti Sasi. Meremehkan dan tak percaya.


Sasi...Sasi..aku pun tak percaya mbah Ageng itu linuwih (punya kelebihan) kalau aku tak melihatnya sendiri tadi malam. Bahkan berkat mbah Ageng , aku bisa membangkitkan kekuatan batinku sendiri. Tommy berkata-kata dalam hati.


Tapi Tommy tak akan memaksa Sasi percaya. Biarlah dia tahu sendiri nanti, atau mungkin lebih baik dia memang tak perlu tahu tentang dunia lain karena itu bisa jadi malah membuatnya sakit dan berada dalam bahaya.


" Tommy, kamu sudah dari tadi? " tanya ibu ketika melihat Tommy sudah duduk di meja makan.


" Baru saja bu" jawab Tommy lalu mencium tangan ibu.


" Ini lho Tom, ibu dapat kiriman berkat ( makanan untuk selalatan/ syukuran) dari orang tuanya Emil. Banyak banget kan? Ini tadi sudah ibu bagi ke Kusno sama Rumi juga." ibu menunjuk berbagai makanan yang memenuhi meja.


" Iya, ini banyak banget bu. Makanannya juga bervariasi. Macam-macam. Kelihatannya enak" jawab Tommy.


" Ya wes Sasi ladeni (layani) masmu makan. Nanti sekalian Baskara juga kalau datang ya Sas?" kata ibu.


" Ibu ngundang Baskara juga? Kok nggak bilang Sasi?" tanya Sasi heran.


Ibu santai saja menjawab" Lho ibu kan punya nomor hp Baskara sendiri ngapain bilang kamu dulu"


Ibu lalu ke belakang meninggalkan tatapan iri di mata Sasi dan Tommy.


" Ini yang anaknya siapa sih? Kayanya Baskara sekarang anak emas ibu deh. Apa-apa Bas. Dikit-dikit Bas" Sasi menggerutu.


Tommy juga mendecak kesal." Aku jadi seperti menantu yang tak dianggap..."


Sasi terkekeh mendengar perkataan Tommy.


" Itu ada lagunya loh mas..hahaha"


Sasi mengambilkan makanan untuk Tommy. "Mau pake lauk apa?" tanya Sasi.


" Semua, dikit-dikit yang penting rata. Satenya mau banyak..nasinya kurangin aja soalnya lauknya sudah banyak " Tommy sangat bersemangat. Sudah lama tak mendapati makanan-makanan yang hanya ada saat selamatan.


Sasi tertawa dan mengambil semua yang Tommy inginkan. Piring Tommy kelihatan penuh.


" Wah...bisa gendut aku kalau caranya begini.." keluh Tommy namun mulutnya terus mengunyah " Mana makanannya enak-enak lagi" lanjut Tommy.


" Gampang mas, habis ini keliling lapangan bola seratus kali. Dijamin..."


" Pingsan . Kurus enggak malah anfal..." Sambung Tommy sebelum Sasi menyelesaikan kalimatnya.


Sasi tergelak mendengar ucapan pria tampan itu.


Tak lama terdengar deru mobil yang masuk ke halaman dan Baskara muncul kemudian.


" Bas, ayo sarapan sekalian sama mas Tommy." sambut Sasi.


Baskara langsung duduk di kursi,." Wah tahu aja kalau mas Bas lagi lapar sasi..." seru Baskara pede.


Tommy langaung melotot . Mas Bas gundulmu itu...Harusnya kamu yang panggil Sasi mbak.." Tommy menggerutu.


" Sudah berantemnya nanti lagi, sekarang makan dulu." Sasi menengahi. Kalau tidak, pasti panjang perang saudara ini.

__ADS_1


Sasi langsung mengambilkan makanan untuk Baskara sesuai yang Baskara inginkan. Ketiganya kemudian makan dengan tenang. Sesekali diselingi obrolan atau celetukan ringan.


Ketika ketiganya selesai makan, ibu bergabung di meja makan. Masih ada waktu setengah jam sebelum Sasi dan tommy berangkat ke kantor.


" Bagaimana tadi malam Tom? Kamu sudah bicara sama mbah?"


" Sudah bu" jawab Tommy .


" Kayanya mas Tommy cocok deh bu sama mbah Ageng, tadi aja baru datang langsung muji-muji si mbah" Sasi menimpali jawaban Tommy.


" Masa sih. Betul begitu Tom?" tanya ibu antusias. Sementara Baskara yang tak mengerti duduk perkaranya cuma menatap ibu dan Tommy bergantian.


Baskara kemudian berbisik pada Sasi yang ada di dekatnya. " Ngomong apaan sih mereka Sas?"


" Oh itu Mas Tommy lagi belajar kejawen, sebagai syarat jadi suamiku..."


" Waahh..keren kaya mau kawin sama putri keraton aja pake syarat khusus...hehehe" Baskara tertawa lucu. Tapi tawanya terhenti kala Tommy menatapnya tajam. "Kakak galak".gumamnya pelan. Sasi tertawa .


" Bukan memuji sayang. Kenyataannya begitu. Dont judge the book by its cover. Suatu saat kamu juga harus ngobrol sama mbah Ageng. Agar kamu bisa menilai beliau dengan objektif, bukan dari perspektifmu sendiri atau dari tampilan mbah Ageng."


Sasi cuma memcebikkan bibirnya. Masih saja meremehkan dan tak percaya sama sekali.


Tommy mengelus rambut Sasi penuh sayang. Baskara mendecih. Tommy memang makin berani memperlihatkan kemesraan di depan semua orang.


Sementara itu ibu tersenyum senang. Berarti misinya untuk membuat Tommy mau dekat dan belajar dengan Mbah Ageng sukses.


Akhirnya Sasi dan Tommy berangkat ke kantor. Sementara ibu dan Baskara pindah ke ruang tengah untuk membicarakan pernikahan Tommy dan Sasi.


Rencanaya pernikahan Sasi akan digelar di sebuah resort mewah mengusung tema out door. Ini sesuai permintaan Sasi yang ingin menikah di tengah taman, garden party. Dan Tommy dengan senang hati menuruti saja apa yang Sasi inginkan. Baginya kebahagiaan Sasi adalah segalanya.


Di perjalanan menuju kantor, Sasi bertanya pada Tommy apa saja yang dilakukannya dengan mbah ageng semalam hingga kekasihnya itu seakan terpesona pada mbah Ageng.


Tommy hendak mengatakan semua pengalaman mistis yang dialaminya selama bersama mbah Ageng. Namun saat mengingat Sasi tak percaya hal-hal seperti itu, Tommy memilih tak banyak bicara dulu. Bisa -bisa Sasi malah ilfil padanya karena mempercayai dan menceritakan sesuatu yang menurut Sasi omong kosong.


" Banyak sayang. Mas belajar semedi, seperti yoga ternyata. Bikin jiwa tenang. Kamu kayanya perlu belajar juga deh.Mas juga belajar ilmu-ilmu kebatinan dalam budaya jawa. Ternyata dunia ini luas. Lebih dari yang selama ini mas lihat ."


"Waahh..kayanya mbah Ageng memang hebat. Bisa bikin Mas Tomny yang menomor satukan logika, cuek dan kaku , sekarang jadi lebih slow, tenang dan bahkan mau menghargai dan mempelajari budaya. Nada bicara dan kata-kata mas juga lebih dalam dan bijaksana." Sasi menatap Tommy.


Ditatap kekasihnya penuh kekaguman membuat Tommy jadi salah tingkah.


" Ahh...jangan terlalu memuji sayang...aku jadi malu dan grogi...ini kulakukan demi kamu. Dan aku harus berterima kasih pada ibu, karena gara-gara syarat dari beliau aku bisa ketemu mbah Ageng dan mendapatkan ilmu yang sangat berharga."


" Woow...nanti kapan-kapan aku diajari ya mas. Ogah aku belajar sama orang tua itu. Kalau yang ngajari ganteng kaya calon suamiku ini, pasti aku lebih semangat belajar.." Sasi tertawa. Tommy mengulum.senyum mendengar kata-kata Sasi.


" Kalau kamu, nanti mas ajari ilmu yang lebih bermanfaat buat kita berdua." Bisik Tommy dengan wajah menggoda.


" Ilmu apa itu mas?" Tanya Sasi serius.


" Ilmu bercinta dan menyenangkan hati pasangan..." lanjut Tommy


" Maaass...dasar mesum! Didengerin sungguh-sungguh malah ngawur...ish! Sasi menatap kesal sambil mencubit pinggang Tommy. Lalu melengos melihat ke arah jendela.


Tommy mengaduh mendapatkan hadiah cubitan sayang dari Sasi, namun kemudian tergelak berhasil menjahili kekasihnya itu.

__ADS_1


'


__ADS_2