Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Bertemu Dia


__ADS_3

Sasi segera mencuci muka dan menggosok gigi setelah Tommy pergi. Ibu juga tak banyak bertanya karena tadi sebelum berangkat bertemu klien di club Sasi sudah menelpon dan memberitahu ibu.


Setelah mengganti pakaian dengan baju tidur, Sasi segera merebahkan diri ke ranjangnya yang empuk. Mata dan tubuhnya yang lelah segera membawanya ke alam mimpi.


Sasi merasa sangat tenang, damai. Mendapati dirinya berada di tengah taman yang indah. Sesosok tubuh tegap berwajah tampan berdiri memeluknya. Tangan lelaki itu yang lembut mengusap punggung dan rambutnya. Tubuhnya menghangat dalam dekapan lelaki itu.


" Sasi, aku cinta kamu..." lelaki itu berbisik mesra di telinganya.


Sasi mengangkat wajahnya dan terkejut mendapati bahwa pria itu bukanlah Tommy seperti yang ada dalam pikirannya. Tapi anehnya Sasi merasa nyaman berada dalam pelukan lelaki itu. Seakan Sasi sudah mengenal dekat lelaki itu.


" Kamu siapa? Kamu bukan pacarku!" Sasi berusaha melepaskan diri dari lelaki itu. Tapi Sasi seakan tak punya daya. Tubuhnya lemah dan tak bertenaga.


" Aku kekasihmu, kamu milikku.." Kata pria tampan itu sangat lembut dan penuh perasaan.


Sasi seperti tenggelam dalam buaian manis pria itu. Tapi sesaat kemudian Sasi kembali teringat Tommy. Membuatnya kembali memberontak dari pelukan lelaki itu.


" Aku sudah punya pacar. Maaf, tolong jangan membuatku bingung seperti ini. Kamu siapa? Kenapa aku seperti mengenalmu ? Tinggalkan aku. Jangan menemuiku lagi"


Sasi berlari meninggalkan lelaki itu. Tapi langkahnya terhenti karena tiba-tiba saja lelaki itu sudah ada di depannya lagi. Tersenyum dengan wajah tampannya yang mempesona.


" Kamu nggak akan bisa lari dariku Sasi. Kamu milikku."


" Kamu siapa? Kenapa selalu mengatakan aku milikmu? " Sasi sangat bingung. Di satu sisi sadar dia punya Tommy. Dia mencintai bossnya itu. Tapi disisi lain dia seakan tak mampu menolak pesona pria di depannya itu. Siapa dia? Kenapa dia bisa ada disini dan mengaku-ngaku kekasihnya?


Lelaki itu tèsenyum penuh makna. Matanya penuh binar cinta untuk Sasi. Membuat dada Sasi terasa sesak. Makin dalam Sasi menatap mata pria itu, tubuh Sasi makin dingin dan menggigil.


" Toloong...pergi! Aku takut.." Suara Sasi tercekat di tenggorokan. Nafasnya tersengal-sengal.


"Aaahhh...!!" Sasi terbangun dari tidurnya. Sasi merasa nafasnya hampir putus. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Sasi benar-benar menggigil.


" Ibuuu..." teriaknya lirih lalu menangis terisak-isak.


Ibu yang kebetulan lewat depan kamar Sasi segera membuka pintu kamar dan mendapati Sasi meringkuk di ranjangnya. Membebat tubuhnya dengan selimut dan mencengkeramnya erat seperti orang ketakutan.

__ADS_1


Hari sudah jam lima pagi.


" Sasi..kenapa kamu nduk? Kamu sakit?" tanya ibu sambil memegang dahi Sasi.


" Badanmu panas. Kamu masuk angin?" Ibu memandangi wajah Sasi yang pias. Air mata nampak mengalir di pipi putrinya itu.


Ibu menghapus air mata Sasi dengan tisu. Naluri keibuannya merasakan ada sesuatu yang tidak biasa.


Sasi adalah gadis yang kuat. Hampir tidak pernah menangis kecuali saat ayahandanya pergi meninggalkan mereka beberapa tahun lalu. Tak mungkin hanya karena demam.atau masuk angin Sasi menangis seperti ini. Tak mungkin juga karena patah hati karena tadi malam bahkan ibu masih melihat kemesraan Tommy dan Sasi saat berdua.


" Kamu mimpi buruk?" ibu mengusap lembut pipi Sasi.


" Ibu, aku takut. Ada orang mengaku-ngaku kekasihku dan aku adalah miliknya. Tatapan matanya seakan menghujam jantungku bu. Sakit sekali rasanya membuatku ingin menangis bu..." Sasi memeluk ibunya.


Ibu mengambil air putih di nakas dan memberikannya pada Sasi.


" Minum dulu nduk.."


" Nggak usah terlalu dipikirkan. Cuma mimpi. Mungkin kamu kelelahan jadi mimpi buruk nggak karuan. Hmm??" Ibu menenangkan Sasi.


Sasi mengangguk . Dia sudah berangsur tenang sekarang.


" Bu, aku nggak pernah punya pacar atau kekasih sebelum Tommy. Aku juga nggak pernah jatuh cinta atau naksir cowok selain Tommy. Tapi kok aku seperti kenal sama orang di mimpi tadi ya bu? Di mana aku pernah ketemu dia ya?"


Sasi memeras ingatannya. Namun akal sehatnya tak menemukan jika dia pernah mengenal lelaki dalam mimpi itu. Bahkan sekedar melihatnya pun rasanya tak pernah dalam kehidupan nyata.


" Sudahlah nduk, itu cuma mimpi, bunga tidur. Namanya alam khayalan, wajah siapapun bisa masuk dalam mimpimu. Ganteng nggak?" ibu mencoba menghibur Sasi.


" Ibu ini, Sasi itu takut bu,meskipun wajahnya ganteng banget. Tapi tatapan matanya seperti pisau menusuk jantung. Serem bu.."


" Masih bagus mimpi wong ( orang) ngganteng Sas, daripada mimpi setan.. hahaha..." ibu tergelak.


Sasi ikut tertawa, " Ibuuuuuu" rajuknya manja.

__ADS_1


" Sudah..makanya kalau tidur doa dulu biar nggak mimpi aneh-aneh." ibu mencubit pipi Sasi.


" Sudah doa bu"


Ibu tersenyum. " Sudah pagi ini.Kamu minta cuti dulu sama bossmu. Bilang sakit gitu. Tadi malam kan pulangnya malem banget. Daripada di kantor tambah sakit"


" Iya bu, aku juga nggak mood kerja hari ini." Sasi kembali berbaring.


" Kamu istirahat aja. Nggak usah bangun. Ibu buatin jahe hangat ya." ibu keluar dari kamar Sasi.


Menunggu air mendidih untuk membuat wedang jahe, ibu mendesah pelan mengingat cerita Sasi tentang mimpinya. Ingatan ibu melayang pada kata-kata mbah ageng tentang bangsawan dari alam lain yang selama ini mengikat hati Sasi hingga tak tertarik sama sekali pada pria.


" Apa mahkluk halus itu yang muncul di mimpi Sasi? Kenapa? Apa dia tak terima Sasi mencintai pria lain? "


Ibu bergidik takut. Apalagi mendengar cerita Sasi yang ketakutan tadi. Ibu semakin merinding. Ibu tadi berpura-pura menenangkan Sasi dan mengatakan itu cuma mimpi. Karena tak mungkin ibu mengatakan apa yang dipikirkannya tentang pria dalam mimpi Sasi. Pasti Sasi menganggapnya tak masuk akal dan mengada-ada seperti biasanya.


Aku harus segera ketemu mbah Ageng. Ibu bergumam dalam hatinya.


Sementara itu..


Mbah Ageng terbangun dari semedinya malam itu. Mata batinnya menangkap sesosok mahkluk berwujud lelaki muda dan tampan yang akhir-akhir ini sering muncul di depannya.


Mbah Ageng mendecak pelan. " Tuan, kenapa masih memaksakan diri? Kasihan gadis itu. Kalian berbeda dunia. Kalau Tuan benar mencintainya, harusnya Tuan melepaskannya untuk bahagia dengan orang yang dicintainya." mbah Ageng berucap lembut dan hati-hati. Seakan tak ingin menyinggung perasaan seseorang.


Mbah Ageng melihat sosok itu menyeringai lebar. " Selama janur kuning belum melengkung, siapapun boleh mencintainya" sebuah suara bergema di kepala mbah Ageng.


Pelahan sosok pria berwujud bangsawan itu lenyap dari pandangan mbah Ageng.


Pria tua itu menarik nafas dan menghembuskannya pelahan. Ku pikir semua lancar saat Sasi mau membuka hati. Ternyata tak semudah itu membuat mahkluk itu melepaskan ikatan hatinya dengan Sasi.


Mbah Ageng berjalan ke belakang rumahnya. Membakar dupa dan meletakkannya dalam bokor seperti biasa. Harum dupa menguar, merayap mengisi udara malam yang gelap gulita di sekitar rumah pria tua itu.


Jalan cintamu ternyata memang rumit Sekar Sasi Nopember.

__ADS_1


__ADS_2