Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
# Hari yang Indah


__ADS_3

Sasi duduk di kursi sambil menyandarkan kepala. Jantungnya yang seakan berloncatan mulai tenang dan mereda setelah dia makan beberapa coklat berbentuk hati kecil -kecil yang diterimanya.


Wah mas boss...benar-benar pacar idaman. Dia tahu setelah membuatku jantungan, harus meredakannya dengan coklat . Dia pasti takut aku pingsan...Sasi tertawa sendiri.


Tiba-tiba telpon di mejanya berdering. Ekstension boss menyala. Duh apalagi sih si boss? Sasi mengangkatnya dengan berdebar.


" Ya mas?" singkat Sasi


" Sini kamu" jawab Tommy singkat.


Sasi mendesah pelan. Please boss, jangan kejutan lagi Cukup untuk hari ini karena jantungku mendadak lemah sekarang.


Sasi mengetuk pintu lalu membukanya begitu mendengar suara Tommy menyuruhnya masuk.


Tommy sudah menunggunya di Sofa.


" Kunci pintunya sayang..." Tommy mengangguk ketika Sasi menatapnya.


Wah...wah mau apa si boss? Kenapa mesti kunci pintu segala? Sasi makin deg-degan Tapi tetap dikuncinya juga pintu ruangan Tommy.


'Duduk sini....eit...sini dekat aku" Tommy menunjuk sampingnya ketika Sasi hampir duduk di sofa diseberangnya.


Sasi seperti terhipnotis dan menurut saja. Melangkah ke arah Tommy dan duduk di sofa yang sama berdampingan dengan bossnya itu.


Tommy mengambil laptop di meja. Lalu mengambil berkas-berkas yang juga ada di meja dan menyerahkannya pada Sasi.


"Bantuin aku ngecek. Nanti malam kita ketemu klien. Tender besar Sayang, jangan ada kesalahan." Uhh..jadi sekarang namaku sayang.....Sasi tersipu-sipu.


" Saya bisa cek di ruangan saya mas"


" Disini aja, kamu takut banget sih. Biasanya juga gini kan? Aku pengen kerja sambil lihat kamu" Tommy berbisik di telinga Sasi. Membuat Sasi merinding.


" Mas modus ..." Sasi mengerling jengah.


" Emang iya...modusin pacar sendiri gapapa kan?"


Sasi menggelengkan kepalanya. Bossnya sudah jadi anak kolokan yang seenaknya sendiri. Bagaimana dia berubah sedrastis ini?


" Harus ya mepet trus nempel banget gini?" Sasi menggerakkan tubuhnya menjauh ketika merasa Tommy terlalu dekat bahkan menempel dilengannya.


" He eh..." Tommy tersenyum nakal ketika Sasi menatapnya.


" Mas?" Sasi menggeleng dan beringsut lagi.


" Sayang...please.." Tommy menggeser duduknya merapat lagi.


Sasi tertawa dan akhirnya pasrah. Membiarkan Tommy menempel padanya, karena dia sudah di ujung sofa dan tak mungkin bergerak lagi. Oh my...boss otakmu korslet ya?

__ADS_1


" Ayo cepat selesaikan. Kita gak banyak waktu."


" Mas tuh yang bikin lama" Sasi menggerutu.


Tommy terkekeh , sama sekali tak menghiraukan kekesalan Sasi.


Tak lama keduanya telah larut dalam pekerjaan mereka. Tommy mulai menekuri laptopnya, sementara Sasi membuka berkas di pangkuannya.


Saling mengecek, Sasi mengoreksi beberapa bagian dari draft kerja sama yang akan ditandatangani. Tommy juga mengoreksi file di laptopnya.


" Selesai juga akhirnya..." Tommy mendesah lega. Lalu menyandarkan kepalanya di sofa.


" Jangan lupa print ulang sayang, Thanks,you are the best.."


Sasi tersenyum. " Sama-sama...sudah tugas saya.."


" Kok masih saya-saya sih...aku ini pacar kamu lho...kaya sama dosen aja !"


Sasi tertawa " Tapi mas juga tetep bossku ? Boss rasa pacar..hahaha..."


Tommy ikut tertawa lalu tiba-tiba direngkuhnya bahu Sasi dengan lembut dan hangat.


Sasi terkejut dan berusaha menghindar tapi Tommy merengkuhnya makin erat " Mas?"


" Aku menyesal Sayang, kenapa baru sekarang pacaran sama kamu. Kemana saja kita selama ini?" mengusap--usap hidungnya ke rambut Sasi.


" Mas?" Sasi tak mampu berkata-kata,


" Jadi maksudnya ini, kunci pintu segala? " Sasi mengerling ke arah Tommy.


Lelaki itu hanya tertawa terkekeh. " Please Sasi, ini hari jadian kita. Boleh ya manja-manja dikit?"


Sasi merasa geli mendengar ucapanTommy, tapi akhirnya membiarkan saja boss tampannya itu berbuat sesukanya. Jangan pikir macam-macam, cuma peluk-peluk dikit. Belai-belai rambut dikit...itupun sudah bikin Sasi meriang...


" Nanti kamu ikut aku ya?" bisik Tommy lembut. Masih tak melepaskan pelukannya pada tubuh Sasi.


" Ketemu klien, yang berkasnya barusan kita cek."


" Kok malam mas?"


" Hmm...boss besar suka-suka dia. Ngajak ketemuan di club lagi..." Tommy mendesah sambil memainkan rambut Sasi.


" Wah..aku nggak pernah ke club mas."


" Justru itu, kamu jaga aku. Kamu jangan sampai minum. Kalau mereka maksa aku mabuk, aku gak bisa nolak. Kamu yang jagain aku sayang.."


" Takut aku mas..." Sasi bergidik.

__ADS_1


" Nggak papa,.mereka gak akan ganggu kamu. Ada sekretaris dia ikut juga kok. Tenang aja. Aku juga kenal sama yang punya club. Kamu aman sama aku. Ini demi proyek kantor kita sayang. Tugas kamu amankan dokumen. Plus amankan pacar kamu pas lagi gak sadar."


" Maksudnya ?" Sasi berkerut keningnya.


" Ya kamu nanti yang antar aku pulang kalau aku mabok beneran dan gak bisa nyetir. Aku akan usahakan tak terlalu mabuk. Tapi itu mustahil, biasanya meŕeka tak akan berhenti sebelum semua teler." Tommy membelai rambut Sasi.


" Orang kaya emang aneh...semaunya sendiri" gerutu Sasi.


" Tapi nanti aku pulang dulu mas, gak bawa baju ganti."


" Sudah aku siapin sayang, ganti baju di kantor aja. Gak akan cukup waktunya kalau pulang dulu" Tommy menunjuk kotak besar di mejanya.


"Ini bajuku?" tanya Sasi sambil berdiri , melangkah ke dekat meja dan membuka kotak besar itu.


" Iya , kamu pake nanti ya.."


" Bagus mas. Kok mas tahu ukuranku?" heran Sasi.


" Tahu dong, aku bilang aja ukuran kamu mirip artis si Mawar itu. Beres"


Sasi tersenyum. " Emang aku mirip artis itu mas?" tanya Sasi


" Enggak! Kamu jauh lebih cantik Sayang..."


" Dih...gombal teruss...gak kuat aku mas.." Sasi memegang keningnya sambil pura-pura lemas. Membuat Tommy tertawa gemas.


" Sasii...gak boleh menggoda boss di kantor. Nanti boss bisa khilaf..." ujar Tommy sambil tertawa-tawa.


" Ampun mas boss...bukan Sasi yang menggoda..tapi boss sendiri yang merayu dan menggombal dari tadi..."


Keduanya tertawa, hari ini Tommy merasa semua begitu indah. Dan Sasi merasa semua begitu cerah. Secerah hatinya yang berbunga penuh warna. Jiwanya yang beku telah menemukan cinta yang menghangatkannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Tommy sudah siap dengan kemeja kasualnya. Sementara Sasi sedang berganti baju di kamar mandi dalam ruangan Tommy.


Ceklek.. Pintu kamar mandi terbuka.


" Gimana mas?" Sasi tersipu malu .


" Cantiknya pacarku..." Lagi-lagi Tommy menggumam sambil terlolong menatap Sasi.


" Yuk Sayang..?" Tommy mengangkat lengannya untuk menggandeng Sasi.


" Ke mana mas boss?" Tanya Sasi bercanda


" Ke pelaminan adek sayang...yuk!" Balas Tommy menggoda. Keduanya tertawa geli.


Sasi tersenyum dan melingkarkan tangannya ke lengan Tommy.

__ADS_1


Berdua berjalan saling bertautan tangan. Sasi menunduk malu-malu, menyembunyikan wajahnya yang merona. Sementara Tommy tak henti tersenyum, dan tak bosan menatapi wajah cantik disisi yang menggadengnya mesra.


Maaf telat upnya...dan isinya gaje banget. Lagi sibuk jadi kurang dapat feelnya...Happy reading...


__ADS_2