Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Mati Suri


__ADS_3

Baskara seperti orang gila. Menangis meraung-raung di ruqng IGD. Duduk diiantara brankar Sasi dan Tommy yang tak bersekat, tangan kanannya mengguncang tubuh Tommy yang pingsan sementara tangan kirinya menggoyang-goyangkan tubuh Sasi yang sudah dinyatakan tiada oleh dokter.


Barata yang baru selesai mengurus administrasi pemulangan jenazah Sasi segera memeluk anak lelakinya yang tampak sedih dan kacau itu.


" Bas...bas...tenang Bas...sabar...semua sudah takdir. Sebentar lagi ambulans siap kita langsung bawa Mbak Sasi pulang ke rumahnya. Papa sudah mengabari ibu mbak sasi untuk datang ke rumah sakit."


Barata menenangkan Baskara. Wajahnya pun tampak begitu sedih dan terpukul. Ada rasa bersalah di hati Barata karena menjadi sebab Sasi jatuh anfal tiba-tiba hingga berujung gadis itu kehilangan nyawa.


Tapi siapa yang menyangka? Dia dan istrinya juga tak tahu kalau calon istri Tommy adalah Sasi. Air mata Barata pun akhirnya ikut luruh demi melihat Baskara menangisi Sasi dan Tommy.


" Kasihan Sasi pa..kasihan mas Tommy. Dia itu bucin banget sama Sasi. Nempel kaya lintah. Tiap malem v call an sama Sasi. Gimana nanti kalau gini kejadianya pa...Bisa gila mas Tommy pa ?" rengek Baskara di tengah tangisannya.


Perawat yang kebetulan mondar-mandir di ruang IGD jadi geli mendengar ocehan Baskara. Beruntung banget cewek itu, punya cowok bucin seganteng Tommy. Tak lama perawat itu buru-buru bergidik. "Tapi kalau mati, buat apa?"


Barata cuma mengangguk- angguk menanggapi kesedihan Baskara. Tak mampu berkata-kata sebab hatinya pun sangat berduka dan sekaligus cemas. Bagaimana menjelaskan pada ibu Sasi? Bagaimana menjelaskan pada Tommy.?


Pertemuan penuh haru dan kebahagiaan yang dibayangkannya saat bertemu Tommy malah jadi pertemuan membawa petaka. Ya Tuhan ...bagaimana ini?


Saat itulah perawat datang mengabarkan bahwa ambulans telah siap.


" Mohon tunggu sebentar bisa suster. Kami menunggu ibu almarhumah." Barata meminta waktu.


Perawat itu mengangguk dan meninggalkan mereka.


Tak berapa lama ibu datang bersama Kusno supir keluarga mereka.


Membuka pintu IGD ibu tercekat mendapati sesosok tubuh tertutup kain putih. Kemudian ibu melihat Tommy juga berbaring di ranjang yang lain.


" Sasiiii....mana Sasikuuu...?" Ibu mulai berteriak histeris begitu tak melihat Sasi di manapun. Matanya segera menatap nyalang pada brankar dengan sesosok tubuh tertutup kain putih itu.


Ibu berlari menubruk tubuh Sasi dan membuka kain penutupnya.


" Sasiiiii!" ibu berteriak histeris.


Saat itulah...


Tiba-tiba Sasi bangkit dan teduduk dari tidur panjangnya selama hampir tiga jam. bersamaan dengan Tommy yang juga sadar dari pingsannya.


" Sasiii..kamu ngeprank ibu ya?! Bentak ibu pada Sasi sambil berlinangan air mata.


" Kalian main-main sama orang tua?" teriak ibu lagi sambil menatap berkeliling ke arah semua yang ada di IGD.


Sasi menatap ibu tak mengerti. Kepalanya terasa pusing. Namun tak ada yang diingatnya sama sekali tentang apa yang sudah terjadi.


Semua orang terdiam..membeku...Barata, Baskara dan Tommy merasa jantung mereka seakan copot, lepas dari tempatnya melihat Sasi bangkit dari kematian.


" Sasiiii....? " pekik mereka bersamaan.


" Aa..aakkku..saya..akan panggil dokter" Barata yang pertama sadar berseru." Dokter!Dokter!" seru Barata .


Sasi menoleh kearah Barata. Namun begitu mengenali wajah adik iparnya itu Sasi menggelengkan kepala keras...dan tubuhnya kembali ambruk.


" Sasiii..." Ibu berteriak lagi. Menyadarkan Tommy dan Baskara yang langsung mengerubungi Sasi yang jatuh lagi.


Barata berlari keluar IGD untuk memanggil dokter.


Sementara Ibu, Tommy dan Baskara memegangi Tubuh Sasi, mengusap tangannya dan mengguncang pelan tubuh gadis itu sambil memanggil-manggil namanya.


Tak lama dokter datang bersama seorang perawat.

__ADS_1


" Tolong beri ruang agar dokter bisa memeriksa pasien." Perawat mempersilakan semua untuk menjauh dari brankar Sasi.


Dengan cekatan dokter memeriksa nadi, kemudian mata dan terakhir dada Sasi.


" Ini mukjizat. Ibu harus bersyukur putri ibu bernafas lagi." dokter tersenyum pada ibu yang masih bingung dengan apa yang terjadi.


" Maksud dokter?" ibu tak mengerti.


"Tiga jam lalu putri ibu anfal dan akhirnya dinyatakan meninggal sesuai indikasi medis. Detak jantung dan nafas terhenti pupil memutih dan tak merespon cahaya.. Tapi sekarang detak jantung dan nafasnya normal kembali. Matanya juga merespon cahaya, tanda-tanda vital lain juga berfungsi dengan baik ,yang berarti putri ibu sekarang baik-baik saja. Masa kritisnya sudah berlalu. Sekarang tinggal menunggu putri ibu bangun dari tidur panjangnya."


Dokter menjelaskan panjang lebar kronologi Sasi meninggal dan hidup kembali. Ibu mendengarkan dengan penasaran nanun juga kebingungan.


Anfal? Kenapa bisa anfal? Putrinya itu tak punya riwayat penyakit yang berat. Apalagi sampai bisa menyebabkan anfal mendadak.


Perawat memasang kembali selang oksigen Sasi. Kemudian memasang cairan infus.


" Silakan mengurus administrasi kembali. Agar pasien bisa segera dipindahkan ke kamar rawat inap."


" Baik dokter" ibu dan Barata menjawab.


" Biar saya saja yang mengurus bu." Barata berujar sopan.


Ibu mengangguk. Tapi sesaat setelah Barata pergi ibu baru menyadari sesuatu.


" Lho, Tommy kenal sama pak Barata? Trus ini siapa?" ibu menunjuk Baskara.


" Ini adik saya bu. Dan pak Barata itu... papa saya." Tommy bergumam lirih.


" Papamu? Jadi ....? ibu tak sanggup meneruskan kata-kata.


Tommy mengangguk lemah " Iya bu..." ucapnya hampir berbisik.


Ibu termenung. Takdir macam apa ini? Batin ibu berkata-kata. " Bagaimana ceritanya?" lirih Ibu.


"Oalah nduk...nduk...kasihan sekali kamu. Dia pasti shock Tom. " Ibu menangis. Lalu menepuk -nepuk bahu Tommy. " Kamu juga pasti kaget Tom?"


Tommy tidak menjawab. Hanya air matanya meleleh dari sudut matanya sambil terus menggenggam erat tangan Sasi.


" Saya minta maaf sudah membuat Sasi sakit bu" lirih Tommy.


" Ini bukan salah kamu Tom." sahut ibu.


" Ini salah papa yang nggak tau umur menikah lagi" rutuk Tommy.


" Bukan salah papamu juga. Ini sudah takdir Tuhan. Semua sudah ada yang ngatur. Bukan kebetulan nak"


" Terus saya sama Sasi gimana bu? Apa kami masih bisa terus bersama?"


Ibu tersenyum." Kenapa? Kalian tidak sedarah. Bahkan kamu dan Sasi juga bukan saudara jauh sekalipun. Kalian masih bisa menikah" ibu tersenyum sambil mengusap punggung Tommy.


Wajah Tommy yang semula keruh kini berangsur cerah. Harapan yang sempat hilang diombang-ambing kejadian bak sinetron yang baru dialaminya pelahan terbit lagi.


" Benar begitu bu? Tidak masalah?" seru Tommy bersemangat.


Ibu mengangguk sambil tersenyum." Tapi kamu harus memenangkan hati Sasi dulu. Kelihatannya malah Sasi yang merasa canggung dan tak enak hati dengan hubungan kalian."


Wajah Tommy kembali murung. " Iya bu. Saya tahu. Sasi sangat shock. Mudah-mudahan saya bisa meyakinkannya."


Ibu menatap wajah Tommy lekat. Tampak cinta yang dalam di mata pemuda tampan itu. Ibu merasa iba padanya. Pada kisah cinta Tommy dan putrinya, Sasi.

__ADS_1


Andai saja ibu bisa mengatakan penyebab Sasi selalu merasa tak yakin dengan hubungan mereka. Andai saja ibu bisa mengatakan bahwa hati Sasi sangat rapuh karena dikuasai mahkluk lain selama bertahun-tahun hingga saat ini.


Semoga kamu kuat Tom, berjuanglah untuk menyelamatkan Sasi. Bisik hati ibu. Berjuanglah untuk kelanjutan hubungan kalian.


Sebelumnya....


Ibu sedang berada di rumah mbah Ageng saat itu. Setelah Sasi berangkat dengan Tommy ibu bergegas pergi menemui guru spiritual keluarganya turun temurun itu.


" Duduk nduk, mbah mau ngomong. Semalam mbah lihat dia mendatangi anakmu lagi. Dia ternyata ndak mau ngalah. Mbah jadi was-was. Kamu harus lebih waspada. Kalau bisa segerakan pernikahan anakmu dan kekasihnya."


Ibu termenung sesaat.


" Sasi mboten sanjang (tidak bilang) mbah? Mungkin karena tadi terburu-buru mau pergi sama Tommy" ibu menjawab.


Tiba-tiba mbah Ageng seperti tersentak. Matanya kemudian terpejam. Mengambil sikap bersila dan bersedekap. Tak lama kemudian mbah Ageng membuka matanya.


" Kamu sebaiknya pulang dulu nduk. Berdoalah di rumah. Bantu mbah dengan doa sepenuh hati. Mungkin ini akan lama dan bahkan membahayakan anakmu dan mbah sendiri. Jadi lebih baik kamu pulang dan tunggu berita baik saja. Berdoa ya nduk..sabar dan ikhlas. berdoa demi kebaikan anakmu..."


Mbah Ageng mengulang kata berdoa berkali-kali membuat hati ibu dilanda kecemasan dan kekhawatiran. Ada apa dengan anakku. Sasi kenapa?


Setelah memberi pesan pada ibu, tanpa menunggu ibu pergi mbah Ageng kembali pada si'kap semedinya.


Hawa di rumah itu mendadak dingin dan mencekam. Di luar rumah angin berhembus kencang hingga menerbangkan dedaunan kering yang berserakan. Suara angin menderu-deru.


Ibu menggigil ketakutan. " Saya pulang mbah...terima kasih mbah.." suara ibu bergetar. Wanita tengah baya itu bergegas keluar dari rumah mbah Ageng. Kemudian menghampiri Kusno yang mneunggu di mobil.


" Cepet pulang Kus..aku takut.."


" Inggih bu.." Kusno segera menginjak pedal gas , mobil melesat meninggalkan rumah mbah Ageng yang mencekam.


Setelah agak jauh, Kusno mengurangi kecepatan mobil.


" Aneh sekali ya bu, tadi di rumah mbah Ageng kaya mendung, angin kencang banget. Saya juga takut bu. Tapi kok disini cerah begini ya bu?" Kusno bertanya-tanya.


" Mbah sedang perang Kus." jawab ibu sekenanya. Wajahnya tegang dan cemas. Kemudian ibu menarik nafas panjang.


Kusno tak bertanya lagi. Menghormati majikannya yang tampak memejamkan mata. Merendahkan diri di hadapan Sang kuasa . Memohonkan jalan pertolongan dan ampunan untuk kebaikan putri kesayangannya.


Sampai di rumah, barulah Kusno berani bersuara.


" Sudah sampai rumah bu.." pelan dan hati-hati suara Kusnio. Takut mengganggu majikannya yang kusyuk berdoa.


Ibu Sasi membuka mata dan mengangguk.


" Iya. Terima kasih ya Kus, kamu istirahat saja. Bilang sama Rumi hari ini saya mau istirahat di kamar. Tidak mau diganggu. Jangan dipanggil sebelum aku keluar kamar sendiri. Ngerti Kus?" titah ibu lalu bergegas masuk rumah.


" Ngestoaken dhawuh ( melaksanakan perintah) bu!" Kusno mengangguk hormat.


Di dalam kamar ibu mencoba menghubungi Sasi. Meskipun mbah Ageng tak mengatakan apa yang sedang terjadi , tapi insting ibu mengatakan Sasi tidak sedang baik-baik saja. Apalagi melihat suasana mencekam di rumah tua itu. Semakin besar kekhawtiran ibu.


Sampai panggilan ke sepuluh Sasi tak mengangkat telponnya, membuat ibu dilanda ketakutan. Akhirnya ibu menaruh ponselnya dan mulai duduk menenangkan dirinya. Cuma satu yang bisa dilakukannya saat ini untuk menghilangkan rasa takut dan cemasnya.


Berdoa, mengambil saat teduh. Seperti yang mbah ageng pesankan tadi. Memohon kekuatan dan ketenangan diri dari Sang Penguasa Hidup. Diam...dalam doa dan kepasrahan. Berharap pertolongan Hanya pada Tuhan. Yang Esa.


Hingga sebuah panggilan dari menantunya, Barata suami Lupi menyadarkannya dari kekusyukan doanya sore itu. Panggilan yang membawa ibu ke IGD Rumah sakit..


**********


Readers tersayang, terima kasih buat yang sudah like, komen, dan vote ya...yang belum..ayolah..jangan pelit-pelit, biar author tambah semangat up.

__ADS_1


Tepuk tangan buat yang tebakannya benar.


Happy reading....


__ADS_2