Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
# Lamaran..Soon!


__ADS_3

Baskara datang membawa baju ganti untuk Tommy. Juga makanan untuk Sasi yang dipesan Tommy.


Begitu masuk ruangan, Baskara menatap Sasi dalam-dalam lalu tanpa aba-aba menghambur memeluk gadis itu dengan erat.


" Sasiiii...bidadari cantikku benar-benar hidup lagiii" air mata Baskara berlinangan.


Sasi langsung terbengong-bengong melihat tingkah Baskara. Merasa canggung dipeluk lelaki lain di depan Tommy meskipun itu adik Tommy sendiri. Tapi juga terharu melihat ketulusan Baskara yang menangis bahagia untuknya.


Tommy langsung berdiri menjewer telinga adik kesayangannya itu.


" Heh..adik durhakim, seneng sih boleh Sasi sudah sadar, tapi bukan berarti boleh peluk-peluk calon istri orang sembarangan bambaaang..lepas nggak?.!"


Tommy menarik tangan Baskara yang memeluk Sasi. Pemuda itu terpaksa melepas pelukannya.


" Dih pelit banget sih Mas, cuma peluk sebentar juga. Boleh yo Sasiii?" Baskara merengek pada Sasi dan mendekati gadis itu lagi.


Sasi tertawa ketika Tommy kembali menjewer telinga adiknya dan mendudukkannya di sofa.


" Sudahlah mas biarin sekali-sekali, dia kan bakal adikku juga?" Sasi masih tertawa-tawa. Dua kakak beradik ini selalu berdebat dan saling ganggu saat bersama. Membuat suasana jadi ramai. Tingkah Tommy yang posesif dan Baskara yang jahil.


" No! Sayang...biar dia adikku atau papa sekalian, ngga boleh nyentuh-nyentuh kamu sembarangan. Cuma aku yang boleh nyentuh kamu. Ingat itu Bas, no debat !"


" Iyaa..iyaa mas..duh posesif banget sih..mana betah Sasi di ukep ( ditutup rapat pake bumbu khusus..hahaha) begitu?"


" Bas..bas..emang aku ayam diukep...hahaha.." Sasi terbahak-bahak. Lupa sudah rasa sakit dan kecewa. Baskara memang pencerah suasana seperti arti namanya.


Sementara itu Tommy sudah menyiapkan makanan untuk Sasi. Membawa mangkuk berisi nasi lengkap dengan kuah sup iga yang masih nampak mengepulkan asapnya.


Duduk di sisi ranjang, Tommy menyuapi sang pujaan hati dengan sabar. Senyum tak lepas dari wajah tampannya. Wajah sasi pun tak kalah bercahaya penuh sinar cinta. Mendapatkan perhatian istimewa dari kekasih hati.


Baskara sampai melongo dibuatnya. Kedua sejoli itu saling tatap, saling senyum dan saling bercanda berdua seakan cuma mereka yang ada disana. Tak ada orang lain lagi . Baskara merasa seperti angin..tak dianggap dan tak kentara alias tak kasat mata. Keterlaluan.


" Hadoooohh...habis manis sepah dibuang. Udah disuruh-suruh sekarang dicuekin. Dasar Kakak durjana!" Baskara ngomel-ngomel sendiri.


" Dah lah mas, aku pulang aja. Mending di rumah nemenin Lily sama Rose. Daripada di ceng-cengin jadi obat nyamuk disini."


" Eh Bas , mau ke mana ? Kok buru-buru?" Sasi yang sadar saat Baskara hendak membuka pintu dan keluar.


" Mau ke Hongkong..beli pangsit!" Baskara mendengus kesal.


" Baass...ayolah. Jangan marah. Sini!" Sasi melambaikan tangannya. Baskara tersenyum,


Tommy mendengus kesal.


Baskara duduk disiai ranjang. Tommy di sisi yang lain.


" Ceritakan , bagaimana hubunganmu dengan Palupi dan Keponakanku.?"


" Mbak Lupi itu baik dan lembut Sasi...dia sayang sekali padaku. Dia seperti kamu, tapi kamu lebih cantik" Baskara melirik Tommy , kakaknya itu melotot padanya. Baskara tertawa usil.


" Tapi papa ngga pernah cemburu. Ngga kaya pacarmu itu. Beuhh...!!" lagi-lagi Baskara meledek Tommy.


Sasi tergelak..." Aku juga sayang kamu Bas...kamu itu sayangable..baik, lucu, nurut sama mas...layak disayang - sayang.."


"Ck... Sasiii...jangan bikin dia besar kepala!" Tommy mendecak malas.


" Maksudnya sayangable sebagai adik mas..." Baskara tersenyum -senyum. Disayang Sasi sebagai adik pun cukup lah buatnya. Cukup mengobati patah hatinya karena Sasi ternyata telah memilih kakaknya. Padahal dia juga mau jadi pacar Sasi.

__ADS_1


" Kamu ngga tahu saja sayang, dia itu hobbynya ngerentengin cewek. Ceweknya udah kaya daleman, pagi lain sore ganti sehari dua kali..."


Sasi terbahak lagi..." Waduuh...adikku playboy? Oh No! Gak boleh Bas...Kamu punya adik cewek. Emang kamu rela kalau adekmu dijadikan koleksi sama cowok?"


" Jangan sampai Sasii..aku hancurkan yang berani memyakiti adik-adikku." Baskara meradang.


" Kamu juga menyakiti cewek kan?" tuduh Sasi.


" Bukan begitu Sasi..Aku sedang pilih-pilih , cari-cari. Bebas dong, kalau suka dijalanin, kalau di jalan gak cocok ya udah lepasin. Yang penting aku nggak merusak mereka, paling pegangan tangan sama kiss dikit."


Sasi menggelengkan kepala takjub. Beda 180 derajat dengan Tommy. " Waahh bener-bener cassanova"


" Bukan Sasi..orang aku juga ngga kasih janji macem-macem kok. Paling antar jemput, makan, jalan-jalan. Udah! Ngga ada ngomong yang sayang-sayangan atau cinta-cintaan kaya pacarmu itu. Kalau mereka baper ya salah sendiri."


" Jelas baper bambaaang...duh dasar kamu ya! Terus mau sampai kapan kaya gitu hah?" tanya Sasi agak kesal. Rupanya calon iparnya ini memang nakal.


" Sampai ketemu yang kaya kamu Sasii.." bisik Baskara dengan wajah sedih. " Kamu sih...malah pilih mas Tommy. Padahal aku duluan yang suka sama kamu"


Sasi tergelak-gelak. Tommy makin kesal pada Baskara.


" Jangan pulang dulu. Aku mau mandi. Jagain mbakmu sebentar. Mbak..Bas..ingat..mbak Sasi" Tommy mewanti-wanti Baskara.


" Nggak mau mas. Panggil mbaknya nanti saja kalau kalian udah bener-bener kawin. Siapa tahu jadinya malah sama aku...yo Sas..?" Baskara melirik Sasi nakal.


Tommy melotot.." Kurang asem, nyumpahin aku ya...mau kupotong..."


Buru-buru Baskara menyela" Nggak..nggak mas..gak berani. Please ngga mau dipotong jatah bulanan. Hehehe..." tangannya menyembah-nyembah Tommy.


Tommy mendengus lalu masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Bastian yang tertawa jahil dan Sasi yang tergelak lucu.


" Sukurin..jajan aja masih minta sudah berani-berani mau nikung...hahaha..." Sasi masih terbahak.


" Tapi kamu mau kutikung kan Sas? "bisik Baskara nekat.


" Baaass...aku denger ya..?!" seru tommy dari kamar mandi...


Baskara dan Sasi kembali tertawa-tawa.


Selepas pukul 10 malam, Baskara pulang. Tinggal Sasi dan Tommy berdua lagi.


" Kita hubungi ibu ya? " bisik Tommy sambil duduk di pinggir ranjang Sasi.


" Apa nggak besok pagi saja mas? Sudah malam ini." kata Sasi.


" Ngga papa, biar ibu tenang. Beliau pasti masih kepikiran karena kamu belum sadar pas ibu pergi tadi."


Tommy sudah memanggil ibu dengan video call.


" Kok tahu nomor ibu mas?" tanya Sasi.


" Tahu dong..calon mantu kesayangan...tadi ibu sendiri yang kasih.." Tommy tertawa narsis.


" Ck...ge er..." Sasi terkikik geli.


" Haloo..Tommy...ada apa Tom..?" wajah cantik ibu muncul di layar.


Tommy segera mengarahkan kamera ke Sasi. "Yang cantik ini siapa bu? " tanya Tommy. Ibu langsung heboh.

__ADS_1


" Sasiiii...kamu sudah sadar nduk...Terima kasih Tuhan...gimana keadaanmu nduk?" ibu tampak menangis bahagia. Sasi berkaca-kaca.


" Sasi baik bu. Berkat doa ibu. Mas Tommy juga. Makasih bu.." Sasi menangis . Dua ibu anak itu menangis di telpon.


" Kamu sudah makan nduk..pasti lapar pingsan seharian." tanya ibu.


" Sudah makan bu. Dibelikan sup iga sama Baskara..adeknya mas Tommy. Ibu kenal? .Anaknya sudah pulang.." jawab sasi


"Iya..ibu sudah kenalan tadi. Kamu istirahat ya nduk. Ibu ke rumah sakit besok pagi."


" Iya bu, sekalian jemput Sasi pulang. Kata dokter kalau malam ini ngga ada keluhan , besok sudah boleh pulang.." seru Sasi.


Ibu langsung sumringah. Senyuman terbit di wajahnya. " Syukurlah...ibu senang sekali. Ya sudah..kalian istirahat ya. Mana Tommy? tanya ibu.


" Nih!" Sasi mengarahkan kamera ke Tommy yang kini sudah duduk di sebelahnya.


" Tom...makasih ya. Sudah menjaga Sasi, sudah menyelamatkan putri ibu." Ibu mengacungkan jempolnya.


Tommy menggeleng tak mengerti. Menyelamatkan? Entahlah...Tommy cuma mengangguk dan tersenyum pada ibu.


" Duduk sudah nempel-nempel gitu. Pulang langsung kawin ya Sas" Goda ibu pada Sasi dan Tommy.


Tommy dan Sasi tertawa. Lalu agak menjauhkan diri.


" Sudah nggak nempel bu.." Kata Sasi. Wajahnya merona.


" Wes kadung konangan.( Sudah terlanjur ketahuan) Tanggung jawab kamu Tom.." ibu terus saja menggoda dua sejoli itu.


" Siap bu. Besok paling lambat dua hari lagi, saya lamar Sasi..." Kata Tommy serius.


" Woahh...pacarmu bener-bener gentleman loh Sas..kamu siap kan nduk?" Ibu berbunga -bunga. Senyumnya merekah di wajahnya. Eh yang mau dilamar kan sasi, kok jadi ibu yang melting.


Sasi terlolong menatap Tommy.


" Mas, kamu ngomong apa? Jangan main-main sama orang tua.." keluhnya.


" Aku nggak main-main sayang. Besok aku ajak papa ke rumah kamu." tegas Tommy


" Ya sudah. Kalian ngomong yang enak ya..ibu tutup dulu telponnya." ibu menghilang dari layar ponsel.


Ibu bersenandung bahagia. Mbah, Sasi segera bebas dari gangguan jin itu. Tommy akan selalu menjaganya setelah mereka menikah. Segera..mbah..soon. Ibu berkata-kata dalam hati.


Di rumah sakit Sasi masih cemberut. Kesal sekali pada Tommy karena secara sepihak dan mendadak mengatakan mau melamar pada ibu.


" Mas..aku kan belum siap? Aku bilang kita harus pikir-pikir lagi. Kok malah mas ngomong gitu ke ibu.." Sasi hampir menangis.


" Sayang, kalau nunggu siap, kamu ngga akan siap. Tapi aku sudah siap membahagiakanmu. Just trust me dear?" Tommy memohon sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.


" Please marry me Sekar Sasi Nopember..?" Tommy meraih tangan Sasi dan memasangkan sebuah cincin bermata berkilauan ke jari manis Sasi.


" Mas? Aku belum bilang yes, kok asal pasang cincin aja?" Sasi tertawa geli.


" Aku nggak terima penolakan. You must say yes Sasi...!" Tommy tersenyum sambil mengecup jari manis Sasi yang sudah terpasang cincin darinya.


Sasi menggelengkan kepalanya. Tertawa sambil menangis. Lalu memeluk erat tubuh Tommy.


Lelaki itu memekik keras " Yess! I got you ! Makasih sayang..Makasih..." Tommy membalas pelukan Sasi lebih erat namun penuh kelembutan. Air mata kebahagiaan mengalir dari sudut netra keduanya.

__ADS_1


__ADS_2