Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Camerku iparku


__ADS_3

Pagi-pagi sekali ibu sudah datang ke Rumah sakit.


Ibu langsung memeluk Sasi. Menciumi wajah Sasi yang masih sembab sehabis bangun tidur dan belum mandi.


" Ibuuu....!" Sasi pun menghambur membalas pelukan ibunya.


" Gimana perasaan kamu nduk?"


" Sasi baik bu. Nggak ada yang kurang. utuh seperti sedia kala"


"Syukurlah nduk. Kamu sudah bikin ibu hampir jantungan tau? Pas ibu datang kamu tuh ditutupi kain putih kaya orang meninggal. Dokter bilang kamu memang sudah meninggal. Bayangin perasaan ibu nduk?"


" Trus tiba-tiba saja kamu bangun terus duduk. Apa gak kaget setengah mati ibumu ini . Untung ibu gak punya riwayat jantung. Siapa yang gak kaget lihat orang sudah gak bernyawa bisa duduk lagi. "


' Iya ibuku sayaaang. Sasi minta maaf ya..." Sasi memeluk ibu. Dia bisa merasakan kekhawatiran ibu.


Kedua ibu anak itu masih berpelukan ketika Tommy keluar dari kamar mandi.


" Ibu sudah datang? Sudah lama bu? " Tommy menyalami ibu.


" Eh calon mantu sudah ganteng aja baru mandi. Itu ibu bawain makanan buat sarapan. Tommy sarapan dulu gih. Sasi biar mandi. Bau, dari kemarin belum mandi kan?"


"Ibuuù....Sasi ngga bau kok. Mas Tommy aja nempel-nempel mulu sama Sasi" Sasi keceplosan lalu buru-buru menutup mulut dan melesat ke kamar mandi.


Ibu terbengong sementara Tommy tertunduk malu. Duh Sasi, mulutnya ga ada rem deh! Tommy kan jadi malu ketahuan mepet-mepet terus sama Sasi...hadeehh....


Tapi ibu pura-pura tidak tahu wajah merona Tommy. Bahkan sengaja mendekati lelaki itu yang sedang duduk di sofa.


" Mau ibu ambilin?" tanya ibu saat Tommy tak juga menyentuh makanan di meja.


Sebenarnya Tommy mau menunggu Sasi saja. Tapi tak kuasa menolak ketika ibu menyodorkan sekotak nasi lengkap dengan lauk pauknya.


" Terima kasih bu" Tommy menerima kotak makan itu. Membuka tutupnya dan mulai makan setelah sejenak berdoa.


Tak berapa lama Sasi keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan wajah segar. Sesaat Tommy menghentikan aktivitas makannya dan menatap Sasi .


Gadis itu tersenyum lalu duduk di sebelah Tommy. Sasi sudah mengganti bajunya dengan baju yang dibawakan ibu. Tampak cantik dan mempesona seperti biasanya.


" Eh...ada dendeng ragi . " seru Sasi sambil melongok kotak nasi di tangan Tommy.


Lelaki itu refleks menyuapkan sesendok nasi dan lauknya ke mulut Sasi. " Aaa ....enak banget loh Sayang..."

__ADS_1


Gadis itupun menyambut suapan Tommy tanpa malu-malu, " Pastinya...dendeng ragi buatan ibu memang the best !" seru Sasi sambil mengacungkan jempolnya.


Begitu Sasi mengucap kata ibu, Tommy tiba -tiba tercekat. Begitupun Sasi langsung terhenyak. Mereka baru sadar ada ibu di ruangan itu. Dan mereka baru saja mempertontonkan adegan suap-suapan tanpa malu-malu.


Aduh!! Bagaimana bisa mereka melupakan keberadaan ibu di sana? Wajah Tommy dan Sasi langsung memerah . Apalagi ketika ibu berdehem dan terbatuk-batuk kecil. Entah pura -pura atau memang bener-bener keselek( tersedak) karena melihat siaran live kemesraan putrinya dengan Tommy.


Tommy tersenyum kikuk lalu menunduk dan meneruskan makannya. Sementara Sasi meringis sambil menatap ibunya yang menggeleng sambil mengangkat telunjuknya seakan berkata " Kena kamu ya..!"


Sasi membuka kotak makannya sendiri dan mulai makan. Masakan ibu yang memang selalu pas di lidah Sasi membuat gadis itu segera melupakan kejadian memalukan yang baru saja terjadi. Gadis itu dengan lahap menghabiskan makanannya.


" Kamu lapar apa kesurupan sayang? Cepet banget makan?" Tommy berbisik meihat Sasi sudah menghabiskn makanannya bersamaan dengan dia juga menghabiskan bagiannya.


Sasi meringis " Habis enak mas...hihi"


" Makasih bu...enak banget makanannya" Tommy tersenyum .


Ibu tersenyum. " Sama-sama..Kamu nggak ke kantor Tom? " Tanya ibu melihat Tommy santai-santai dan tidak mengganti bajunya. Tetap mengenakan t-shirt dan jeans .


" Hari ini saya ambil cuti dulu bu. Biar bisa antar Sasi pulang." Jawab Tommy.


" Eh mas, nggak perlu cuti. Aku sudah gak papa kok. Mas ke kantor aja. Biar aku pulang sama ibu. Nanti pulang kantor mas kan bisa datang lagi?" Sasi merasa tidak enak.


" Mas ada meeting loh" kata Sasi.


" Tenang aja. Kamu lupa ya? Sekarang aku punya wakil di kantor. Biar Reza mulai debutnya hari ini" Tommy mengerling .


" Mas ....wah..wah...memanfaatkan anak buah untuk kepentingan pribadi..."


Tommy terkekeh. " Sekali -sekali ngga papa sayang...hari ini pengen sama kamu" Menatap lembut Sasi. Membuat gadis itu lagi-lagi merona.


" Dilihat ibu." bisik Sasi sambil menyikut pelan pinggang Tommy.


" Enggak! Ibu lagi sibuk beberes barang kamu" Tommy tersenyum nakal. Sasi melotot lucu.


Saat itulah pintu kamar tiba -tiba terbuka dari luar. Dokter dan perawat datang untuk memeriksa Sasi sebelum pulang.


" Wah mbak Sasi kelihatannya sudah benar-benar sehat ya?" sapa Dokter .


Ini adalah dokter yang waktu itu menangani Sasi di IGD. Dokter itu tampak sangat senang melihat Sasi sudah pulih.


" Iya dokter . Sangat sehat dan siap pulang." seru Sasi membuat dokter itu tertawa.

__ADS_1


" Oke. Mbak Sasi mau diperiksa di bed atau disini saja? Tanya dokter.


" Di sini saja dokter. Boleh kan? tanya Sasi.


" Boleh. Mari saya periksa. Tensi dulu ya ..." lanjut sang dokter.


Perawat segera memasang tensimeter ke lengan Sasi. Beberapa saat kemudian dokter memeriksa Sasi dengan seksama , sesekali diselingi obrolan dan candaan ringan.


Tommy tampak memperhatikan dengan intens pemeriksaan yang dilakukan dokter.


" Bagaimana dokter? " Tanya Tommy setelah dokter selesai memeriksa.


" Bagus..bagus...semua normal. Dan ini hasil lab pemeriksaan darah kemarin. Juga normal semua. Jadi mbak Sasi sudah boleh pulang sekarang.."


"Terima kasih Tuhan...syukurlah semua berakhir baik. Terima kasih dokter.." kata ibu gembira.


" Sama-sama. Saya permisi dulu" dokter dan perawat meninggalkan ruangan.


Ibu, Sasi dan Tommy saling berpandangan lega.


Saat itulah pintu kembali terbuka dari luar. Barata datang bersama Baskara. Mereka tampak membawa sebuah box dan keranjang buah-buahan


Dan kecanggungan dimulai...


Barata dan Baskara mnyalami ibu dan Sasi.


" Silakan duduk pak Barata dan nak Baskara. Kok Repot-repot, ini juga sudah mau pulang kok Sasinya. Baru saja diperiksa dokter." ibu balas menyalami kedua tamunya.


Barata duduk di sofa seberang Sasi sementara ibu dan Baskara duduk di bed Sasi yang kosong.


" Maaf mbak sasi, Palupi sebenarnya ingin ikut tadi, tapi saya larang karena anak-anak tidak ada yang jaga. Kami tidak biasa meninggalkan anak-anak sendiri meskipun ada baby sitter. Saya bilang ketemu mbak sasi di rumah saja biar anak-anak bisa ikut."


" Oh iya nggak papa pak Barata. Kasihan juga kalau anak-anak dibawa ke rumah sakit. Saya juga sudah sehat kok. Terima kasih sudah dibesuk. " Sasi menatap Barata dan Baskara.


Mendengar Barata memanggil mbak pada Sasi, Tommy dan Baskara merasa jengah. Aneh. Tapi mesti bagaimana lagi. Sejak menikah dengan Palupi, Barata memang memanggil Sasi dengan sebutan itu. Karena memang dalam urutan keluarga Palupi, Sasi adalah kakak ipar Barata meskipun usianya sebaya dengan anaknya .


******


Maafin ya...biarpun part ini pendek dan gaje banget isinya...tapi kubuat dengan sepenuh hati. Maaf ada keperluan mendadak jadi kepotong ceritanya. Janji part selanjutnya dipanjangin...


So...like komen dan vote nya tetap ditunggu buat dopping semangat author ya...terima kasih..Happy reading...

__ADS_1


__ADS_2