Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Adilaga


__ADS_3

Malam ini Tommy sudah bersiap di rumah mbah Ageng. Orang tua itu sudah duduk di pendopo belakang rumahnya ketika Tommy datang.


" Kamu sudah bawa baju ganti? " Tanya mbah Ageng.


" Sudah mbah" jawab Tommy singkat , menunjuk paper bag yang dibawanya.


" Malam ini mbah akan ajak kamu mandi di curug ( air terjun) . Ndak usah mikir macem-macem. Ini bukan ritual khusus untuk minta tolong jin atau semacamnya. Cuma sekedar simbol pembersihan diri dan jiwamu sendiri. Agar kamu tersugesti bahwa pikiranmu bersih dari niat jahat dan tubuhmu bersih dari kotoran duniawi. Kamu paham Tom?"


" Paham mbah" Tommy mulai menciut nyalinya. Hawa sudah dingin begini, masih disuruh mandi di air terjun. Tadi saja mandi pakai air hangat. Yang benar saja mbah. Batinnya berkata-kata namun tak berani berterus terang.


" Katanya lautan kusebrangi, gunung kudaki, tapi baru disuruh mandi malam-malam sudah keder Tom?" mbah Ageng tersenyum mengejek.


Tommy meringis. Tentu saja mbah Ageng bisa mbaca isi hatinya. Aduh!


" Jangan takut. Sebenarnya semua masalah penyelesaiannya ada pada pikiranmu sendiri. Kamu bisa melihat apa yang tak bisa dilihat orang. Karena apa? Batinmu, pikiranmu, jiwamu yang melakukannya. Seperti itulah pengendalian diri bekerja. Kamu bisa mengatur alam sekitarmu hanya dari pikiranmu. Kalau pikiranmu mengatakan itu dingin. Itu yang kau rasakan, demikian pula sebaliknya. Ngerti Tom?"


Tommy mengangguk. Baru mengerti apa yang dimaksud mbah Ageng. Mind power.


Nyali Tommy kembali bangkit.


" Ayo berangkat Tom" Mbah Ageng mengajak Tommy berangkat menuju air terjun yang dimaksud mbah Ageng.


" Perlu pakai mobil mbah?" tanya Tommy ketika melihat mbah Ageng mulai berjalan menembus kegelapan malam.


" Nggak usah. Dekat kok." jawab mbah Ageng.


Tommy memgangguk lalu mengikuti langkah mbah Ageng menyusuri jalan setapak yang gelap dan dikelilingi rerimbunan pohon. Suara binatang malam dan kerosak dedaunan yang diterpa angin dan kadang dilewati binatang malam menemani langkah mereka.


Beberapa kali mbah Ageng berhenti sejenak seakan menunggu sesuatu yang sedang melintas di depan mereka.


Tommy tahu mbah Ageng mungkin sedang memberi jalan pada makhluk tak kasat mata yang kebetulan melintas di depan mereka. Tommy bisa merasakan kehadiran mereka. Namun Tommy tak berniat ingin melihatnya karena merasa tak berkepentingan. Lelaki muda itu cuma mengikuti gerak langkah mbah Ageng.


Selang setengah jam kemudian, Tommy mulai mendengar suara gemericik air . Makin lama makin keras di telinganya. Dan tak lama matanya sudah bisa menangkap sebuah air terjun di depannya. Jatuh dari ketinggian dan menimpa bebatuan di kedung( telaga ) di bawahnya.


"Berdoalah Tom. Niatkan membersihkan diri dari segala yang jahat dan kotor di dunia ini. Konsentrasi. Tak perlu berlama-lama. Asal kamu sudah merasa jiwa dan tubuhmu bersih. Kamu boleh keluar.


Setelah mengatakan hal itu, mbah Ageng duduk bersila di atas sebuah batu yang tak jauh dari air terjun berada.


Sementara Tommy mulai berkonsentrasi. Berserah diri pada Sang Penguasa Alam Semesta. Tak ada yang dingin, panas, sakit atau luka jika Dia berkehendak. Tak ada yang mustahil, Dia tinggal membolak-balik hati manusia.


Tommy tak lagi merasa dingin. Meski di tubuhnya kini tinggal sehelai celana selutut yang tertinggal. Pria itu berjalan ke bawah air terjun yang jatuh ke atas batu. Lalu dengan tenang duduk di atas batu.

__ADS_1


Membiarkan air yang jatuh menerpa tubuhnya. Matanya terpejam, namun hatinya tunduk berdoa.


Bersyukur atas semua berkat yang sudah diterimanya. Memohon pengampunan sekaligus kekuatan agar bisa menyelamatkan dan melindungi Sasi nya dari semua yang mengganggunya. Memohon pertolongan agar jika mungkin, semua akan berjalan baik-baik saja. Tak ada yang terluka.


Beberapa saat berlalu. Tommy mendengar suara Mbah Ageng di telinganya.


" Cukup Tom, kita pulang!"


Tommy membuka matanya. Air masih mengucur deras menimpa tubuhnya yang setengah telanjang.


Tanpa banyak kata pemuda itu turun daru batu tempatnya duduk. Melangkah ke pinggir kedung dan segera mengenakan pakaian ganti yang sudah disiapkannya.Tubuhnya terasa segar dan ringan.


Tak ada rasa dingin yang semula sangat dikhawatirkannya. Mind power benar-benar bekerja. Lagi-lagi Tommy merasa sangat takjub.


Dunia ini begitu luas dan penuh misteri. Bahkan apa yang ada dalam dirinya sendiri pun ternyata banyak yang dia belum tahu. Apalagi kebenaran di alam semesta? Benar kata mbah Ageng. Kita ini cuma setitik kuman di lautan. Apa yang bisa kita sombongkan?


Sampai di rumah mbah Ageng, orang tua itu kembali duduk bersila di pendopo. Tommy mengikuti duduk di depan orang tua itu.


" Sebenarnya semua manusia punya kekuatan batin, kekuatan pikiran dalam dirinya sendiri. Kamu pernah mendengar kekuatan pikiran kan Tom? Kekuatan yang bisa menggerakkan tubuh atau raga manusia melebihi batasnya. "


"Pasti kamu pernah mendengar sakitnya melahirkan itu diibaratkan sama dengan rasa sakit ketika puluhan tulang kita patah bersamaan. Bayangkan, satu tulang patah saja sakitnya bukan main. Tapi seorang wanita yang kita anggap jauh lebih lemah fisik dari pada lelaki, kuat menahan rasa sakit itu saat melahirkan. Karena apa? Secara psikologis, melahirkan itu membuat wanita merasa bahagia, akan memiliki keturunan yang meneruskan silsilah keluarga. Memberikan kebahagiaan untuk suami dan seluruh anggota keluarga. Kekuatan pikiran itulah yang membuat wanita mampu menahan rasa sakit yang tak terbayangkan."


" Atau bisa juga kamu lihat para atlet yang mampu mengangkat beban berat, mampu berlari melebihi kecepatan rata-rata manusia, mampu melompat tinggi melebihi atlet lainnya, atau mampu berenang melebihi kecepatan ikan."


" Apakah tubuh mereka dari besi? Tidak! Apakah ukuran tubuh mereka melebihi manusia lainnya ? Tidak! Apakah bentuk tubuh mereka lebih istimewa dari manusia lainnya? Tidak! Yang berbeda dari mereka adalah kekuatan pikiran mereka. Mind set kalau kamu bilang. Otak mereka sudah tersugesti bahwa mereka lebih dari orang lain. Mereka mampu melakukan lebih dari orang lain. Mereka mendorong diri mereka sendiri untuk berlatih, untuk mencapai level tertinggi kekuatan mereka.Hasilnya? Mereka benar-benar bisa melakukan lebih dari orang lain. Bahkan memecahkan rekor dunia."


"Jangan bicara masalah takdir atau mukjizat di sini. Karena tanpa kita katakan atau kita akui pun, Sang Maha Kuat tentu saja yang memungkinkan itu semua terjadi. "


" Sampai disini, kamu tahu artinya Tom?" mbah Ageng bertanya.


"Tentang kekuatan pikiran, kekuatan batin, sesungguhnya semua manusia memilikinya dalam dirinya sendiri. Tinggal diri kita sendiri, adakah kemauan untuk menggunakannya? Adakah keinginan untuk membangkitkan kekuatan itu hingga kita mampu mencapai kemampuan tertinggi?. Semua tergantung kemauan kita" Jawab Tommy.


Mbah Ageng mengangguk-angguk.


" Jadi apa kamu siap menggunakan kekuatanmu untuk menolong Sasi Tom? Sedikit bersusah payah berlatih membangkitkan kekuatan dalam dirimu sendiri?"


" Saya siap mbah" Tegas Tommy.


" Semua orang punya kekuatan itu Tom. Tapi tidak semua orang bisa menggunakannya. Kamu harus bersyukur karena Sang Pencipta memberimu kelebihan untuk itu. Mbah yakin kamu bisa melakukannya."


" Terima kasih mbah. Saya akan berusaha" Tommy menjawab.

__ADS_1


Dan malam itu di rumah mbah Ageng tampak pemandangam yang tak biasa. Kilatan cahaya hijau dan keemasan saling menyambar di udara. Ledakan-ledakan kecil dan besar menggema di kegelapan malam.


Tubuh Tommy dan mbah Ageng basah bermandikan keringat. Namun semangat mereka seakan tak habis-habisnya berlatih dan terus berlatih.


Hingga akhirnya mbah Ageng menyudahi pelajaran kanuragan untuk Tommy hari itu.


Mbah Ageng tersenyum samar ketika matanya secara tak sengaja menangkap sekelebat bayangan biru di sela pepohonan di sekitar rumahnya. Rangga...itu namanya rupanya. Mbah Ageng kembali tersenyum.


" Mudah-mudahan unjuk kekuatan kita ini akan membuatnya berpikir seribu kali untuk berkonfrontasi dengan kita Tom. Semoga dia sadar, memilih untuk mengalah dan merelakan Sasi daripada memaksa merebutnya darimu." gumam mbah Ageng pelan.


" Dia ada di sekitar sini mbah?" Tanya Tommy.


" Hmmm...dia sudah pergi." mbah Ageng mengangguk.


" Apa tidak membahayakan Sasi mbah?" Tommy tampak khawatir.


" Tidak. Mbah yakin untuk sementara dia tak akan menampakkan diri. Dia akan berhitung kekuatannya sendiri mulai sekarang. Karena dia sudah melihat kekuatanmu. Dengan mbah seorang diri saja dia belum bisa menang. Apalagi ditambah kekuatanmu. Dia pasti tak mau hancur begitu saja." jawab mbah Ageng.


Tommy mengangguk lega. Mudah-mudahan kita tak perlu bertarung Rangga. Semoga kau segera sadar akan kesalahanmu dan menerima takdirmu dengan legawa (ikhlas). Tommy berdoa dalam hati.


" Cukup untuk hari ini Tom. Beristirahatlah. Semedi untuk mengembalikan kekuatanmu yang terkuras untuk latihan. Sudah bisa kan?" tanya mbah Ageng.


Tommy mengangguk. Beberapa saat berlatih ilmu bathin dengan mbah Agemg, Tommy mulai paham. Bahwa inti semua ilmu kebatinan adalah penyerahan diri kepada Sang pembuat Hidup. Kesadaran diri bahwa manusia sangat kecil dibanding alam semesta. Apalagi jika dibandingkan dengan pencipta alam semesta.


Sesaat Tommy bersikap semedi. Meluruhkan semua penat dan lelah berlatih dalam penyerahan diri.


Mbah Ageng duduk di belakang tubuh Tommy yang tengah bersemedi. Kedua tangannya terangkat ke punggung lelaki gagah itu. Seberkas cahaya keemasan berpendar dari tangannya.


Tommy merasakan kehangatan merasuk ke tubuhnya dari tangan mbah Ageng yang menempel di punggungnya. Terasa nyaman dan menentramkan. Menghapus semua lelah, penat dan sesak akibat memforsir kekuatan batinnya untuk membangkitkan tenaga dalamnya saat berlatih tadi.


Mbah Ageng melepaskan tangannya dari punggung Tommy .


Lelaki tua itu berdiri dan berjalan ke pancuran kecil di samping pendopo unutk membasuh mukanya.


Tommy membuka matanya dan mendekati mbah Ageng.


" Saya pamit mbah. Terima kasih" Diciumnya tangan keriput mbah Ageng penuh hormat.


" Hmm..." mbah Ageng cuma mengangguk lalu berlalu memasuki rumahnya.


Tommy bergegas meninggalkan pendopo dan melangkah ke halaman rumah mbah Ageng. Masuk ke mobil dan mengemudikan mobilnya pelahan menuju apartemennya.

__ADS_1


__ADS_2