Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Menjelang Hari Bahagia


__ADS_3

Sesudah makan bersama, Retno dan suaminya yang lebih dulu pamit dari meja makan.


" Bu, Retno biar disini dulu. Saya akan pulang ambil pakaian buat besok. Sekalian ada keperluan kantor. Nanti malam saya balik lagi ke sini. Tapi besok pagi saya harus ke kantor lagi sebentar. Mungkin agak siang baru bisa ke sini lagi. Jadi nggak bisa ikut bantu-bantu. Maaf bu. Maklum abdi negara. Tidak bisa bebas seperti mas Barata atau Mas Tommy. Saya sudah izin, tapi tetap saja tidak bisa full cuti."


" Iyo..sudah gak usah mikir macem-macem. Ibu paham kok. Yang penting pas acara kamu sudah ada di sini. Acaranya sore kok" jawab ibu .


" Inggih bu. Saya mohon pamit Bu, Mas dan mbak semua. Saya pamit duluan"


" Iya..monggo...silakan mas wabup ..." Palupi menyahut. Dibalas senyuman oleh Retno dan Emil suaminya.


Semua yang di meja makan sudah menyelesaikan makan. Rumi sudah merapikan meja makan dibantu Palupi dan Sasi. Tinggal ibu, Barata , Baskara dan Tommy membicarakan acara lamaran besok.


" Nanti sore sekitar jam lima pihak EO datang bu. Ibu, mbak Sasi dan mas Tommy bisa langsung bicara dengan pihak EO teknis acaranya mau bagaimana. Malamnya Eo bisa langsung dekor ruangan yang mau dipakai . Sekaligus menyiapkan ubo rampi ( peralatan dan tet*ek bengek yang berhubungan dengan acara) buat besok. Ibu nggak usah repot. Tinggal bilang apa saja yang dibutuhkan, EO yang menyediakan." Baskara menjelaskan panjang lebar.


" Terima kasih loh Bas. Ibu jadi tenang kalau begini. Sasiii...Palupii! Kalau sudah selesai cepat ke sini Banyak yang mau dibicarakan" Ibu sedikit berteriak memanggil Sasi dan Palupi.


Sasi dan Palupi segera bergabung di meja untuk membicarakan acara lebih lanjut.


" Jadi mbak Sasi dan mas Tommy kemarin sudah saya pesankan Baju Couple buat besok. Mas Tommy dan mbak Sasi nanti bisa datang ke butiknya. Baju jadi saja soalnya waktunya mepet. Mas Tommy sih kebelet lamaran. Main hantam aja buru-buru..!" Baskara menggerutu.


Semua yang hadir tertawa. " Takut jadi bujang lapuk juga dia.." sambung Baskara membuat tawa semakin menggema di ruang makan itu. Tommy menggeram sambil menyepak kaki Baskara di bawah meja.


" Aduh!" pekik Baskara pelan. Lalu tersenyum mengejek pada kakaknya itu.


"Untuk yang lain bajunya nggak bisa seragam , ya itu tadi masalahnya. Waktunya terlalu mepet. Nggak papa ya..?" Baskara bertanya.


" Wes nggak papa. Nggak terlalu penting juga kok. Yang penting syarat utamanya sudah terpenuhi." ibu yang menjawab. Yang lain cuma mengangguk-angguk setuju saja.


" Kalau begitu saya pamit juga. Ada acara di kampus sebentar. Nanti saya ke sini lagi ketemu EO" pamit Baskara sopan


" Makasih ya Bas.." Sasi dan Tommy tanpa sengaja mengucapkan terima kasih bersamaan.


Langsung saja kembali terdengar riuh tawa menggoda dua sejoli itu.


" Cieee...yang sudah sehatiii..apa-apa barengan...." Baskara meledek sambil segera berdiri menyingkir dari sisi Tommy, karena kakaknya itu sudah bersiap menendang kakinya lagi.


Tommy dan Sasi saling berpandangan lalu tersenyum. Wajah keduanya merona malu. Namun kebahagiaan jelas tersirat disana.


Selepas Baskara pergi, Barata dam Palupi juga pamit dari meja makan.


" Bu, saya juga pamit sekalian. Nanti kalau Lily dan Rose bangun, kita mau pulang juga untuk siap-siap acara besok. Biar Tommy saja yang disini " Barata bicara sambil sesekali melirik Palupi. Istrinya itu mengangguk.

__ADS_1


" Wah iya juga...jadi yang nginap sini nanti cuma Retno sama Emil ya? Ibu lupa kalau Lupi dan Pak Barata besok yang akan melamar ke sini...hahaha..." ibu terkekeh. Yang lain cuma tersenyum-senyum masam. Duhh! Masih saja....


Akhirnya tinggal tiga orang saja di meja makan.


" Tommy dan Sasi ibu mau ngomong khusus sama kalian." titah ibu pelan namun tegas.


" Iya bu!" jawab Tommy dan Sasi bersamaan.


" Selangkah lagi kalian akan jadi satu. Jadi suami istri. Apa kalian siap saling sabar dan mengalah? Sudah siap kaget dan menerima kekurangan masing-masing?" tanya ibu.


Sasi dan Tommy saling berpandangan. Lalu kembali menatap ibu.


" Kunci kebahagiaan dalam menikah itu cuma sabar dan setia. Kalau berani menikah berarti kalian berani berkomitmen bahwa hanya ada satu pria dan satu wanita dalam hidup kalian. Tidak ada keburukan atau kebencian dalam pasangan kalian karena kalian sudah berjanji saling memiliki. Yang berarti saling menerima kelemahan dan kekurangan pasangan kita."


" Harus saling sabar jika salah satu sedang tak sabar, sedang marah atau sedang keluar sifat buruknya , jangan menuntut pasangan berubah, kalian yang harus menyesuaikan diri. Dan setia itu harga mati. Apapun kata orang, apapun yang kalian lihat di luar. Ingatlah ada pasangan kalian yang dengan setia menunggu kalian di rumah. Mencintai dan kalian cintai. "


"Yang terakhir, jangan berkata kasar, apalagi berbuat kasar pada pasangan. Semua orang pasti lebih suka dipeluk dan dicium dari pada dibentak atau dipukul. Betul begitu Tom, Sasi ?" Ibu mengerling menggoda dua dewasa muda di depannya.


Sasi dan Tommy langsung tertunduk malu sambil tersenyum. Apa ibu tadi melihat ciuman kami di ruang tengah?..Sasi dan Tommy merasa tersindir...


"Bicarakan semua baik-baik. Dengan begitu mudah-mudahan kalian akan langgeng selamanya" ibu mengusap sudut matanya.


Sesak tiba-tiba melanda mengingat putri kesayangannya akan segera diambil orang. Tiba-tiba teringat suaminya yang tak sempat melihat Sasi berbahagia menemukan pendamping hidup.


Sasi menggenggam tangan Tommy di bawah meja. Tommy juga membalas menggemggam erat tangan Sasi.


Ibu mengangguk. Menepuk bahu Sasi dan Tommy kemudian melangkah pergi.


" Sasi, ibu ada perlu keluar sebentar. Kalau perlu ibu, telpon saja"


" Iya bu." jawab Sasi.


Tinggal Sasi dan Tommy di meja makan. Keduanya masih saling menggenggam tangan.


" Besok kita undang Davin dan Reza ya mas? Biar mereka tahu dan nggak penasaran lagi." Sasi menatap Tommy dan tersenyum


" Pasti kaget mereka." Tommy tersenyum.


" Tadi Reza sudah curiga. Dia tanya,Kok boss sama Sasi barengan liburnya?" Tommy meraih pinggang Sasi dan mengajaknya keluar,duduk di kursi kayu di teras samping .


" Terus mas bilang apa?"

__ADS_1


" No Question...hahaha...Iam a boss baby..mana berani dia maksa boss jawab..." Tommy tertawa sombong.


" Ck...sombongnya.." Sasi melengos sambil mendecak. Tommy malah terkekeh-kekeh.


Di mobil, ibu menyuruh Kusno mempercepat laju kendaraannya menuju rumah mbah Ageng. Orang tua itu tadi mengirim pesan agar ibu secepatnya datang ke rumahnya. Ada hal penting yang akan disampaikannya secepatnya.


Tak lama mereka sudah tiba di halaman rumah tua yang masih tampak terawat itu.


Si mbok sudah membuka pintu untuk ibu.


" Monggu nyonya.." sambut si mbok mempersilakan ibu menuju tempat mbah ageng sedang duduk bersila.


" Duduklah nduk.."


" Baik mbah" ibu menghenyakkan tubuh pelahan di kursi di depan orang tua itu.


" Besok Tommy melamar Sasi mbah." kata ibu.


" Aku tahu. sebaiknya setelah lamaran segera menikah. Tidak usah menunggu lama-lama biar kita semua tenang" Mbah ageng berujar pelan.


" Inggih mbah" Jawab ibu.


" Setelah lamaran, bawa Tommy pada mbah. Carilah alasan agar dia mau sukarela datang ke sini. Nanti mbah akan garap dia agar Tommy bisa menggunakan ilmu bathin untuk melindungi istrinya. Kamu bisa nduk?" Tanya mbah Ageng.


" Saya akan usahakan mbah. Meski harus sedikit bohong karena anak-anak sekarang memang agak anti hal-hal di luar nalar mbah." Ibu menjawab.


" Ini mendesak nduk. Dia mulai marah dan tak sabaran. Bahkan dia mengancam mbah. Tapi ndak papa. Dengan begini kita tahu bahwa ada yang mengancam kita. Kita jadi lebih waspada."


"Makanya mbah mau Tommy mempelajari dan menggunakan kekuatan yang dimilikinya . Karena mbah tidak bisa selalu mengawasi Sasi. Lagi pula mbah sudah tua." Mbah ageng masih duduk bersila.


" Tommy memangnya bisa ilmu begini mbah?" tanya ibu.


" Tommy itu sudah punya dasar aura dan kekuatan yang hebat. Tinggal mengasah dan melatihnya, dia pasti bisa hebat. Yang jadi masalah kan dia tidak percaya hal-hal yang tak kasat mata?"


"Makanya kamu harus cari cara agar Tommy mau bicara dan ketemu mbah. Belajar ilmu jiwa, ilmu bathin. Kamu harus pintar-pintar bicara dan membujuknya. Kalu dia sudah ada di sini mbah yang akan mengurus selanjutnya."


" Baik mbah saya usahakan, secepatnya Tommy saya bawa ke sini."


" Ya sudah, kamu sedang repot kan? Sudah pulang sana. Anakmu menunggumu." mbah Ageng setengah mengusir ibu.


Tapi ibu malah senang jadi tak sungkan untuk buru-buru pulang. EO sudah menunggu. Sasi baru saja mengiriminya pesan.

__ADS_1


" Mohon pamit mbah. Terima kasih" Ibu membungkuk hormat disambut anggukan mbah Ageng.


Di mobil dalam perjalanan pulang ibu mulai memikirkan bagaimana cara agar Tommy mau berkunjung dan bertemu dengan mbah Ageng untuk mempelajari ilmu perlidungan diri bagi Sasi dan dirinya sendiri.


__ADS_2