
Sasi turun dari pangkuan suaminya. Merapikan rambutnya kemudian merapikan rambut Tommy yang juga berantakan.
" Lemes banget mas.?.Cepetan makan yuk biar kuat lagi" goda Sasi pada Tommy yang masih kesal, tak terima kesenangannya dijeda .
" Kalau begini sih enak di apartemen sayang...mau nggak keluar kamar seminggu juga ngga akan ada yang gangguin."
" Aaah..mas pasti yang dipikirin itu melulu.Mau apa coba seminggu di kamar..?"Sasi tertawa sambil menarik tangan suaminya berdiri untuk makan malam.
" Mau berduaan terus sama kamu..cuma sama kamu.." jawab Tommy tak tahu malu. Sasi cuma tertawa
" Habis resepsi besok, kita pulang ke apartemen aja yuk yang..." bisik Tommy lagi sambil merangkul pinggang Sasi. Lalu secepat kilat mencuri ciuman di pipi istrinya itu.
Sasi terkejut namun senang mendapatkan ciuman singkat kejutan dari Tommy. " Terserah mas, aku ikut saja... asal kau bahagia.." jawab Sasi juga berbisik. Sengaja menempelkan bibir di telinga suaminya.
Tommy langsung menegang. " Balik ke kamar yuk!" serunya sambil mengendus bahu Sasi.
Lagi-lagi Sasi tertawa dan menarik tangan Tommy sambil melangkah cepat.
Tommy melangkah malas dibelakang Sasi menuju meja makan. Di sana sudah menunggu ibu, Retno dan Emil suami Retno.
" Capek Tom? Mukanya kusut amat?" sapa ibu tersenyum ketika Tommy sampai di meja makan.
" Eh iya sedikit bu" jawab Tommy malu-malu.
Sasi langsung mencibir ke arah Tommy. " Bukan capek bu, tapi kesel karena....humpf" Sasi tak bisa melanjutkan kata-katanya karena Tommy sudah membekap mulutnya dari belakang menggunakan telapak tangannya.
Tommy memeluknya dari belakang sambil berbisik " Kamu mau bikin kita malu?" lirih Tommy di telinga Sasi.
Sasi tertawa" iyaaa...ngga akan bilang kok" jawab Sasi . Tommy melepaskan pelukannya pada Sasi. Ibu , Retno dan Emil cuma terbengong melihat tingkah Tommy dan Sasi.
Kedua pengantin baru itu kemudian duduk di seberang Retno dan Emil. Sasi segera mengambilkan makanan untuk Tommy kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.
Mereka kemudian makan dengan tenang. Sesekali sambil berbincang santai dengan ibu dan Retno serta Emil.
__ADS_1
" Habis ini kalian istirahat. Besok kalian harus hadir di resepsi kalian dengan fit dan segar. Jangan kelelahan ya Tom, kan gak lucu kalau pengantinnya pingsan pas resepsi gara-gara kecapekan ?" ibu menatap Tommy penuh arti.
Tommy hampir tersedak. Sangat mengerti apa yang dimaksud ibu.
" Iya bu....hehehe" menjawab sambil tersenyum salah tingkah. Yang benar saja bu. Masa malam pertama suruh istirahat. Gimana mau istirahat? Ini saja sudah mati-matian nahan dari tadi. Keluh Tommy dalam hati.
Ditatapnya wajah Sasi yang ahh..entahlah..malam ini Sasi tampak sangat menggoda. Wajahnya yang cantik dari tadi tak henti merona. Bibirnya yang merah alami seakan memanggil-manggil untuk disentuh dan di...uhh... Leher jenjangnya yang seputih susu..bahunya yang sehalus sutera. Dan ah...dada istrinya itu ternyata begitu...
" Tom...kok melamun sih. Sudah cepetan makannya...!" ibu menegur Tommy yang terbengong menatapi Sasi. Gadis yang ditatap sedemikian rupa itu cuma tersipu-sipu malu. Membuat Tommy semakin ingin menerkamnya saja.
" Inggih bu." Jawab Tommy malu. Untung saja nggak ada Bastian, bisa habis dia diledek adiknya itu kalau sampai tahu dia begini.
Akhirnya sesi makan malam yang bagi Tommy sangat menyiksa selesai juga. Ibu dan Retno juga suaminya sudah beranjak dari meja makan. Tinggal Sasi dan Tommy yang masih menikmati minuman dan buah segar.
Namun, begitu ibu dan Retno sudah tak nampak, Tommy buru-buru menyambar pinggang Sasi dan mengangkatnya ke udara. Menggedong istrinya itu seperti koala dan membawanya cepat ke kamar. Langkahnya panjang dan cepat seakan dikejar hantu.
Sasi yang terkejut tak sempat mengelak. Hanya sanggup memekik tertahan untuk kemudian mengikuti kegilaan suaminya. Mengalungkan tangan ke leher kokoh Tommy dan melingkarkan kakinya ke pinggang Tommy.
Tak mau menunggu lagi Tommy segera melahap bibir Sasi tanpa ampun. Memagutnya rakus sambil berjalan ke kamar mereka. Tak peduli lagi jika ada yang akan melihat tingkah gilanya.
Saat tiba di kamar Tommy segera menjatuhkan tubuhnya ke ranjang tanpa melepas tautannya. Membiarkan Sasi berada di atas tubuhnya yang sudah membara dibakar hasrat.
" Sasiii...buka sayang.." desah Tommy sambil mengarahkan tangan Sasi untuk membuka pakaian yang dikenakannya.
Sasi membuka satu-persatu kancing baju Tommy hingga terlepas seluruhnya.
" Yang bawah juga sayang..." desis Tommy mengarahkan tangan Sasi yang masih tampak ragu-ragu ke bagian bawah pakaiannlnya.
" Mas..?." Sasi tersenyum malu -malu.
" Buka semua Sayang... Nanti aku yang bukain kamu. Lihat aku...yang ada padaku semua milikmu sayang..." desah Tommy membiarkan Sasi dengan canggung dan sedikit gemetar membuka semua yang dikenakan Tommy.
" Mas...ahh!" Sasi membalikkan badannya ketika semua yang dikenakan Tommy telah dilepaskannya.
__ADS_1
Tommy bangkit dan membalikkan tubuh Sasi.
" Look at me baby...I'm yours" bisik Tommy sambil mulai membuka yang dikenakan Sasi.
Mulai melepas kancing blouse Sasi satu per satu sambil menciumi seluruh bagian wajah istrinya. Lalu turun ke hot pants Sasi dan meloloskannya dari tubuh sintal istrinya. Hingga tertinggal dua potong kain yang menutupi bagian inti Sasi.
" Very beautifull.." Bisik Tommy tanpa melepaskan tatapan memuja pada tubuh istrinya.
Kini tatapan Tommy terkunci pada bagian dada istrinya yang masih tertutup kain berenda berwarna senada dengan segitiga yang menutup bagian bawah Sasi.
Selama ini Tommy tak berani melewati batas menyentuh bagian tubuh istrinya yang tertutup. Yang dilakukannya hanya membayangkan semuanya. Dan kini dia sudah resmi jadi pemilik tubuh indah ini.
" Sasi...sayang..may I? " desahnya lirih, menatap Sasi penuh harap.
Sasi mengangguk. Sambil mencuri-curi pandang pada pahatan indah tubuh Tommy yang terpampang polos di depannya.
Tommy tersenyum melihat tingkah menggemaskan Sasi.
" Jangan malu-malu. Nanti kamu jadi mau-mau.." bisik Tommy menggoda sambil mulai menyentuh Sasi dengan satu tangannya. Sementara tangan yang lain menuntun tangan Sasi untuk membalas menyentuhnya.
Sasi benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Malu, bingung dan sedikit takut namun penasaran berputar-putar di kepalanya.
Sasi membiarkan tangannya dituntun Tommy menyentuh pahatan Tuhan yang indah itu. Pelahan tangannya menyentuh rahang Tommy yang menawan. Menelusuri garis wajah sempurna pria yang kini sudah jadi suaminya.
Tommy mengecup manis jemari Sasi ketika gadis itu menyentuh bibir Tommy. Lembut namun penuh hasrat Tommy meraih tengkuk Sasi dan menariknya mendekat. Ditatapnya penuh cinta wajah cantik yang selalu membuatnya lupa daratan itu.
Sasi memejamkan matanya, merasakan wajah Tommy menyentuhnya lembut. Meraup dan Menyesap bibirnya hangat. Terus menelusuri setiap inci rongga mulutnya. Lidahnya meyapu dan membelitnya penuh gairah. Sasi mabuk kepayang...
Keduanya kini sudah berpelukan saling merayu, saling merengkuh dan memeluk erat tak peduli apapun lagi. Saling memagut dengan rakus.
" Sasi..ah.." desah Tommy, memcumbui istrinya penuh hasrat..Mengungkung dan merengkuh Sasi dalam pelukan dan belitan tubuhnya.
" Mas Tommy..." desis Sasi saat Tommy memberikannya kepuasan hanya dengan permainan lidah dan jemarinya. Sasi.menjambak kasar rambut suaminya saat gelombang nikmat menghampirinya berkali-kali.
__ADS_1
"Kamu sudah basah sayang, sudah siap dengan yang lebih nikmat ? " Tommy mengungkung tubuh polos Sasi dibawahmya.
Sasi hamya menatap sayu Tommy. Masih merasakan sisa gelenyar nikmat yang baru saja didapatkannya lewat sentuhan suaminya itu. Entah apalagi yang akan dilakukan suaminya itu.