Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Camerku Iparku (2)


__ADS_3

" Papa panggil calon mantu kok mbak. Harusnya aku yang panggil mbak.." Baskara tertawa.


Barata cuma bisa tersenyum kecut.


" Maafkan atas kekurang ajaran anak saya bu" kata Barata.


Ibu malah tertawa." Ndak apa-apa pak Barata. Sudahlah tidak usah terlalu memikirkan hal-hal remeh. Yang penting tidak menyalahi norma agama dan adat istiadat. Leres (betul)pak?"


Barata mengangguk. Sementara Tommy dan Baskara menggaruk tengkuk bersamaan. Saat tiga ayah anak itu saling beradu pandang, ketiganya malah saling membuang muka canggung.


Ibu dan Sasi yang melihat tingkah tiga laki-laki sedarah itu tak bisa menahan tawa. Sasi yang duduk di samping Tommy terkikik geli. Tommy di sebelahnya mendengus kesal.


" Berani Ngeledek kamu ? " desis Tommy di telinga Sasi.


" Enggak mas..hihihi..habis kalian lucu sih." Sasi masih tersenyum-senyum.


Kekhawatiran Sasi akan suasana yang canggung akibat saling silang hubungan keluarganya dan keluarga Tommy ternyata tak semenakutkan itu. Malah sekarang Sasi merasa takdirnya begitu unik dan menggelikan.


Ibu yang duduk dekat Baskara juga masih tertawa lirih. Apalagi ketika Baskara nyeletuk.


" Bu, saya nggak mau panggil ibu mbah uti kaya Lily dan Rose meski saya anak papa juga. Orang Ibu masih cantik begini, masa dipanggil mbah?" Baskara cengengesan.


" Baasss....! " Tommy dan Barata menggeram kesal bersamaan mendengar kata-kata Baskara yang mereka anggap tak sopan.


Tapi ibu malah tergelak sambil menepuk-nepuk punggung Baskara. " Kamu jadi anak ibu saja ya, jangan jadi anak papamu...jadi adek Tommy, sama saja adiknya Sasi. Kalau jadi anak papamu, kamu jadi cucuku podho karo (sama dengan) Lily sama Rose...hahaha...bingung to?" Ibu sampai tergelak-gelak.


Sasi ikut tertawa. Baskara juga cengar-cengir sedangkan Barata dan Tommy cuma tersenyum masam.


Entahlah macam apa keruwetan status hubungaun keluargaku nanti. Aku cuma berharap kebahagiaan buatku dan seluruh keluargaku. Sasi berdoa dalam hati.


" Baiklah, semua sudah siap. Administrasi juga sudah beres. Kita pulang sekarang. Terima kasih atas kunjungannya pak Barata. " ibu menyalami Barata.


" Sama-sama bu. Sekali lagi saya mohon maaf atas kekacauan yang sudah terjadi. Mbak Sasi juga, saya mohon maaf" Barata menyalami Ibu dan Sasi.


Baskara menyusul menyalami dan mencium tangan ibu. Kemudian menyalami Sasi. Ketika Baskara akan memeluk Sasi Tommy buru-buru menarik Sasi dan maju ke depan sehingga Baskara malah memeluk Tommy.


" Cih..najis meluk kamu mas!" Baskara segera mundur dan mengibaskan tangannya.


Sasi tertawa. Tommy juga terkekeh geli.


" Tukang modus!" gerutu Tommy


" Pelit, posessif!" balas Baskara kesal lalu bergegas menyusul Barata yang sedang mengobrol dengan ibu di depan pintu .


Barata dan Baskara pamit lebih dulu pulang. Barata akan menyusul Palupi dan dua putrinya untuk kemudian ke rumah Sasi bersama.


Ibu memanggil Kusno untuk membantu mambawa barang-barang Sasi. Kemudian mereka keluar dari rumah sakit bersama-sama untuk pulang ke rumah Sasi.


Tiba di rumah Sasi hari sudah menjelang siang.


" Tom, kamu beneran nggak ke kantor ini?" tanya ibu padaTommy setelah mereka turun dari mobil.


" Iya bu" jawab tommy singkat.


" Ya sudah kalau gitu kamu temani Sasi ya. Ibu mau siapkan makan siang. Nanti Lily dan Rose mau datang. Retno juga datang sama si kembar loh sas..." kata ibu riang.

__ADS_1


" Waahh...Sasi seneng banget bu. Sudah lama nggak kumpul" Sasi langsung bersemangat.


Kejadian yang menimpa Sasi membawa berkat kebahagiaan buat ibu. Hari ini ketiga anaknya akan berkumpul setelah sekian lama.


Memang Retno dan Palupi masih sering berkunjung, tapi jarang bisa bersama ketiga-tiganya seperti saat ini.


Hari ini Sasi, Palupi dan Retno akan berkumpul bersama dengan keluarganya masing-masing. Sasi pun meski belum menikah, namun sudah ada Tommy sebagai calon suaminya. Tidak lagi jomblo seperti selama ini.


Sasi melangkah menuju ruang tengah diikuti Tommy. Sementara ibu ke dapur diikuti Kusno dan Rumi.


" Nanti mas aku kenalin sama Retno dan Palupi. Biar tahu calon iparnya." Sasi menatap Tommy.


Tommy tersenyum." Cieee yang udah ngakuin calon suami."


" Apaan sih mas..." Sasi tersipu malu.


" Kemarin yang gak mau buru-buru nikah siapa?" Tommy masih menggoda Sasi.


" Bukan nggak mau mas, masih ragu. Lagian yang ngeyel melamar terus maksa-maksa pake in cincin kemarin siapa?" Sasi meledek Tommy sambil mencebikkan bibirnya.


Tommy terdiam menatap bibir Sasi. sedetik kemudian ..Cup!


Tommy menyambar kilat bibir Sasi. Menyesap dan mengulumnya sejenak lalu melepaskannya sambil tersenyum puas.


Sasi terbengong menatap Tommy yang sedang tersenyum-senyum.


" Gila kamu mas...kalo ibu lihat gimana?" bisik Sasi kesal.


" Gapapa..paling dikawinin hari ini juga. Malah enak. Hahaha..." Tommy tergelak senang.


" Iya memang maunya aku gitu sayang...emangnya kamu engga pengen tiap hari kita berdua terus gini?" Tommy menatap Sasi mesra.


Sasi jadi salah tingkah.


" Aku sudah minta tolong Baskara hubungi EO untuk lamaran besok. Kamu sama ibu ngga usah repot semua sudah diurus EO." Tommy berbisik ditelinga Sasi.


Sasi melongo. " Mas , ini beneran besok mas mau melamar aku ke ibu?"


" Iya lah..kan sudah bilang ibu kemarin. Masa iya aku bercandain ibu? " Tommy tampak santai. Tapi Sasi yang jadi panik.


" Ibuuu..." teriak Sasi lalu berlari ke dapur mencari ibunya.


Tommy sampai bingung melihat tingkah Sasi. Kok jadi histeris gitu. Emang kalau lamaran besok kenapa? Pikirnya tak mengerti.


" Opo to Sas kok teriak-teriak gitu?" Ibu menepuk tangan Sasi.


" Mas Tommy bilang besok mau datang sama papanya melamar aku. Gimana ini bu?"


" Loh, jadi yang ngomong di telpon kemarin beneran besok to? Ibu pikir ya masih lama" ibu juga kaget lalu buru-buru ke ruang tengah mencari Tommy.


" Tommy ini beneran besok mau melamar. Kok mendadak sekali? " rutuk ibu pada Tommy.


" Lho, saya kan sudah bilang ibu kemarin?" tanya Tommy heran melihat ibu tampak kaget.


" Yaa ibu pikir nggak besok Tom. Mungkin Seminggu atau dua minggu lagi. Waduh!" ibu menepuk keningnya.

__ADS_1


" Kenapa bu? " Tanya Tommy polos.


" Nggak segampang ituTom. Banyak yang harus dipersiapkan." ibu duduk di depan Tommy dan Sasi.


" Ibu nggak usah kuatir. Saya sudah ada EO yang menyiapkan semuanya. Maaf, ibu atau Sasi ingin acara yang seperti apa? Mewah, ramai atau sederhana saja. Nanti tinggal ngomong ke EO nya. Mereka yang atur semuanya." Tommy menenangkan ibu yang tampak sedikit shock.


Sasi dan ibu berpandangan sejenak. " Terserah Sasi saja. Kamu mau yang gimana nduk?" tanya ibu. Dia ingin Sasi berbahagia di hari pentingnya. Merasa nyaman dan menikmati acaranya.


" Sasi nggak mau terlalu ramai bu. Lagipula cuma lamaran saja. Ngga usah ngundang banyak orang. Cukup Keluarga inti saja sama sesepuh keluarga kita bu. Kalau mas Tommy terserah mas saja . Kira-kira yang dibawa ke sini berapa orang agar kita bisa siapkan dengan baik."


" Saya juga cuma bawa Papa sama Baskara saja kok. Sama emmm...istrinya papa" Tommy enggan menyebut nama ibu tirinya itu. "Palingan ada keluarga papa yang dituakan. Itu saja. Budhe dan Pak Dhe. Sudah." Kata Tommy.


" Begitu? Baguslah. Kalian berdua sama-sama ingin acara yang sederhana saja . Kebetulan sekali saudara Sasi hari ini ngumpul semua. Bisa bantu-bantu siapkan acara besok." Akhirnya ibu agak tenang.


"Iya bu" Jawab Tommy.


" Ya sudah ibu ke dapur lagi. Kamu ini Tom..Tom...bisa -bisanya ngelamar kok mendadak begini bikin orang bingung. " ibu masih mengomel panjang lebar sambil melngkah ke dapur.


" Mas...makasih ya.." Sasi memeluk Tommy erat. Hatinya merasa haru dan bahagia. Pacar sekaligua bossnya ini ternyata sangat memperhatikannya. Selalu memberikan yang terbaik bahkan sebelum diminta. Membuat gadis itu makin yakin pada pilihan hatinya.


Tommy membalas pelukan sasi tak kalah erat. Membelai rambut gadis itu sambil berbisik lembut " Apa sih yang enggak buat kamu sayang?"


Sasi tersenyum dipelukan Tommy. Gadis itu menengadahkan wajahnya menatap wajah tampan yang sedang memeluknya. Tommy menunduk membalas tatapan Sasi.


Deg...Deg...


" Uhuk.uhuk....uhuk...ehemmm" suara batuk terus menerus disusul deheman keras membuat Sasi dan Tommy sontak menjauhkan diri melepaskan pelukan mereka.


" Waduuuhh...masih siang sudah nempel-nempel ajaa...ga panas apa?.." Baskara muncul di depan ruang tengah. Entah kapan Rumi lewat dan membukakan pintu untuk Baskara dan Barata beserta keluarganya.


Tommy dan Sasi mendecak jengah. Lalu duduk berdua di sofa seakan-akan tak terjadi apa-apa. Mengabaikan Baskara yang cengar-cengir menggoda mereka.


Tak lama terdengar celoteh riang anak-anak di belakang Baskara. " Mas Baaasss...gendong..gendong..!" suara Lily membuat Baskara menoleh lalu menunduk dan mengangkat adik tirinya itu.


" Princess Llyliiii..." teriak Baskara sambil mengangkat tinggi tubuh Lily. Gadis kecil berpipi tembem itu berteriak-teriak senang . Tangannya memeluk erat leher Baskara.


Di belakang Lily tampak Barata dan Palupi bersama Rose yang sedang digendong Barata.


" Mbak Sasiiii...." Palupi menghambur memeluk Sasi begitu melihat kakaknya duduk di ruang tengah.


" Lupiiii! !"teriak Sasi tak kalah heboh.


Keduanya kemudian berpelukan aambil berputar-putar seperti anak kecil.


Palupi menciumi pipi Sasi berulang-ulang dengan gemas. Seakan mereka sudah puluhan tahun tak bertemu. Padahal mereka juga sering jalan berdua.


Tommy Barata Baskara bahkan Rose sampai terbengong melihat tingkah dua wanita bersaudara itu.


Setelah beberapa saat Palupi melepaskan pelukannya dengan Sasi. Perempuan muda itu langsung salah tingkah saat pandangan matanya bertemu dengan Tommy.


" Emm...eh...hehehe..." akhirnya cuma senyuman canggung yang keluar dari mulut Palupi.


Duh Gusti...aku harus panggil apa sama Tommy ini? Dipanggil nama kok nggak sopan, dia lebih tua dariku . Tapi kalau dipanggil mas..kok ya aneh. Dia kan anaknya mas Barata, anakku juga meskipun anak tiri...Duh..kok kemarin aku nggak mikirin ini sih? Kalau begini aku kan bingung sendiri...Sasi menggumam-gumam sendiri dalam hati.


Tommy tak kalah canggung. Cuma membalas senyum Palupi sekilas. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Palupi setelah gadis itu diperistri papanya.

__ADS_1


Apa aku panggil dia mbak saja seperti Baskara? pikir Tommy . Tapi dia adiknya Sasi dan usianya lebih muda dariku? Batinnya lagi. Haduuuhhh....Tommy akhirnya cuma bisa tersenyum masam. Sasii...kenapa adikmu mau menikahi kakek-kakek itu..? Keluh Tommy frustasi.


__ADS_2