
Tommy membuka pintu saat makanan yang mereka pesan datang.
" Yang...ayo makan, terus nanti katanya mau jalan-jalan?" Tanya Tommy sengaja menggoda Sasi. Istrinya itu meringkuk di ranjang sambil memejamkan matanya. Entah tidur atau pura-pura tidur.
Tak disangka Sasi menjawab dengan suara lemas" Telat mas, wes bedhug( sudah tengah hari). Gosong nanti aku."
Tommy tertawa lalu menghampiri istrinya di ranjang. Sasi masih mengenakan bathrobe . Belum sempat mengganti pakaiannya setelah mereka berpetualang di kamar mandi tadi.
Tanpa aba-aba Tommy melompat ke ranjang dan menggulung tubuh istrinya, memeluknya erat sambil menciumi wajah cantik yang kini tampak kelelahan bahkan sedikit pucat. Kamu sih over dosis Tomm....ck...
Sasi membiarkan saja Tommy berbuat semaunya. Ia sudah terlalu lemas untuk menghindar atau menolak serangan Tommy yang seakan tak ada lelahnya.
" Hm...ayo bangun...makan dulu nanti jalan-jalannya diganti berselancar di ranjang saja...Mau?" bisikTommy lirih sambil menjilati telinga Sasi.
Sasi langsung membelalakkan matanya dan bangkit dari tidurnya mendengar kata-kata mesum suaminya itu. Tommy melorot ke pangkuan Sasi sambil tertawa-tawa melihat reaksi istrinya.
" Maass...pegel.( capek)..!" rengek Sasi.
" Halah tadi katanya enak...?" Tommy memeluk pinggang istrinya.
" Kapan aku ngomong gitu?.." Sasi mengacak-acak rambut Tommy. Lelaki itu tertawa tergelak.
" Ehh pura-pura lupa..tapi memang kalau lagi keenakan , mulut suka kelepasan ngomong kok.." balas Tommy..Sasi makin mengacak-acak rambut suaminya sambil tertawa gemas.
" Emboh mas...terserah kamu...!" Sasi menyandarkan tubuh ke kepala ranjang.
Tommy bangun dari pangkuan istrinya lalu duduk sambil memeluk Sasi. Mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak dan hampir menyentuh wajah Sasi. Hidung mereka bersentuhan.
Sasi menatap sayu wajah suaminya dan membuka bibirnya. Meraih tengkuk Tommy dan membawanya menyentuh wajahnya dalam-dalam.
Tommy menyambut pagutan Sasi lembut. Tangannya meraih pinggang dan mengusap pelahan punggung istrinya itu. Keduanya larut dalam ciuman hangat yang melenakan. Saling menikmati manisnya rasa dan tautan bibir dan lidah mereka.
Merayu, menggoda, mengayun dan memerangkap mereka dalam kubangan asmara, hingga nafas mereka hampir habis dan terpaksa melepaskan tautan mereka.
Tommy menatap mesra istrinya yang masih sama-sama terengah mencari oksigen...mengecup singkat bibir Sasi lalu memeluk lembut istrinya .
" Makan yuk, nanti keburu pingsan.." bisik Tommy disambut cubitan pedas Sasi di perutnya. Aww! Tommy mengaduh tapi wajahnya tersenyum.
" Dulang ( suapin)..." rengek Sasi manja.
Tommy tersenyum dan mengangguk " Yuk! Mas suapin. Apa sih yang enggak buat bidadariku ini? Mau suapin pakai sendok atau atau pake ini?" Tommy menunjuk bibirnya menggoda Sasi.
" Maass..." Sasi lagi-lagi merajuk manja. Tommy makin bersemangat. Entah mengapa suara Sasi yang manja malah membuatnya semakin bergairah dan merasa bahagia. Sisi lain Sasi yang selama ini hampir tak pernah ditunjukkannya. Sasi hanya manja padanya, itu membuat dadanya berdesir.....Merasa istimewa dan dicintai...
Dan sesi suap'-menyuapi sambil kecup sana-sini , sambil raba kanan kiri dan colek atas bawah depan belakang membuat keduanya kenyaang lahir bathin...hehehe...
"Tok-tok tok...paket...!"
Suara ketukan pintu menjeda sejenak kegiatan mereka. Tommy segera membuka pintu dan mendapati seorang kurir membawa sebuket besar bunga mawar merah. Sangat besar hingga wajah dan sebagian tubuh si kurir sepèrti hilang di balik buket.
" Paket buat ibu Sasi pak.." suara kurir sambil menyerahkan buket itu.
" Oh iya . Dari mana nih?" tanya Tommy
" Wah saya cuma kurir pak,kurang tahu pengirimnya. Silakan tanda terima di sini pak" Si kurir menyerahkan buku untuk ditanda tangani Tommy.
" Oke." Tommy menerima buket dan menandatangani tanda terima . Lalu kembali masuk kamar dan menutup pintu.
" Yang, kamu punya penggemar rahasia ya? Nih dapat buket gede banget" Tommy menyerahkan buket besar itu pada istrinya.
Dahi Sasi berkerut. Diperiksanya buket itu untuk mencari kartu atau sesuatu yang bisa jadi petunjuk pengirimnya.
Akhirnya didapatinya sebuah kartu kecil yang wangi bertuliskan sebuah kalimat singkat
__ADS_1
"Untuk wanita tercantik"
*R*
Sasi tercekat. Entah mengapa pikirannya langsung melayang pada Rangga. Mungkinkah dari pria itu? Ah tidak.mungkin, mereka tak saling kenal, mereka bahkan baru sekali bertemu.
Lalu siapa pengirim rahasia berinisial R ini? Reza? Ah itu mustahil. Sasi tahu meski Reza pernah memendam raşa padanya, sekarang,hati Reza jelas sudah mulai berpindah pada Siska. Lagipula Sasi sangat percaya Reza tak akan berbuat konyol mengirim bunga lambang cinta padanya di hari pernikahannya.
Reza sangat menghormati Tommy dan menghargai Sasi sahabatnya. Bahkan terlihat ikut bahagia melihatnya bersanding dengan Tommy.
Sasi mendesah pelan. Digenggamnya kartu kecil itu kuat-kuat hingga membentuk gulungan kecil. Lalu ketika Tommy ke kamar mandi, Sasi membuang kartu yang sudah lecek itu ke tempat sampah. Hati Sasi mengesah. Kesal dan marah.
Apa maksudnya mengirim buket mawar merah yang jelas-jelas menggambarkan perasaan cinta yang membara padanya? Pada seorang perempuan yang jelas-jelas sudah menikah. Apa dia mau mengganggu rumah tanggaku yang baru berjalan dalam hitungan jam ini?
Rahang Sasi mengeras..Menahan rasa kesal sekaligus penasaran pada pengirim buket rahasia itu.
Tommy keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian. Dilihatnya Sasi tengah melamun. Buket mawar merah diletakkannya di meja dengan asal.
Bahkan Sasi tak menyadari ketika Tommy sudah duduk di sampingnya . Sasi baru sadar dan terkejut ketika Tommy mengecup pipinya lembut.
" Dih dapat buket langsung ngelamun. Dari mantan ya?" goda Tommy .
" Buang saja. Perasaanku kok nggak enak tentang bunga itu ya mas...lagian yang kirim main rahasia-rahasia. Maksudnya apa coba.?" Sasi menggerutu. Lalu menyerahkan buket itu pada Tommy.
Tommy tersenyum. " Ya sudah kalau kamu nggak nyaman dibuang saja." Tommy mengambil buket yang diulurkan Sasi dan membawanya keluar kamar.
Kebetulan saat itu lewat seorang room girl di depan kamar mereka.
" Mbak tolong dibuang yang jauh ya. Istri saya nggak suka." kata Tommy sambil menyerahkan buket besar itu
" Wah sayang banget dibuang pak. Cantik banget bunganya. Boleh saya ambil pak? " tanya room girl itu penuh harap.
" Silakan. Asal jangan kelihatan istri saya lagi" jawab Tommy.
Tommy cuma tersenyum samar. Lalu kembali masuk ke kamar.
Sasi masih duduk di sofa sambil memainkan remote televisi. Tommy langsung duduk di sebelah Sasi. Istrinya itu tersenyum lalu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Tommy.
" Mas , aku jadi ingat sama Rangga, kolega papa yang tadi malam datang ke resepsi. Mas kenal dia nggak? Maksudku sebagai sesama pengusaha." Sasi menatap Tommy.
Tommy menunduk, membelai rambut Sasi. "Mungkin aku pernah mendengar namanya, tapi nggak pernah ketemu langsung atau berhubungan dengannya sebelum tadi malam." Jawab Tommy. Tangannya kini menelusuri pipi Sasi.
Tapi Rangga yang mendatangimu dalam mimpi, aku mengenalnya dengan baik. Aku bahkan bermusuhan dengannya dan sudah mengirimnya ke alam baka lewat pertarungan hidup dan mati. Tommy bergumam dalam hati.
Dalam pikirannya kini berkecamuk hal-hal lain yang masih tidak dimengertinya. Apakah mungkin Rangga hidup kembali dan jadi manusia? Itu sangat mustahil.
Ingin rasanya Tommy berteleportasi ke rumah mbah Ageng saat ini juga untuk menanyakan kemungkinan yang terjadi sehubungan dengan hadirnya Rangga , sahabat papa yang meresahkan ini.
Namun rasanya tak mungkin meninggalkan istrinya yang saat ini sedang resah sendirian di sini. Tommy mendesah lirih, takut Sasi mengetahui kegundahannya yang berusaha disembunyikannya agar Sasi tak makin khawatir.
Sebenarnya Tommy pun merasa terusik dengan kehadiran orang bernama panggilan dan berwajah sama dengan Turangga Seta itu. Namun masih ditahannya sambil berharap itu hanya kebetulan belaka.
Selain itu Tommy juga merasa sungkan dan tak enak hati pada Mbah Ageng jika merepotkan orang tua itu lagi dengan permasalahannya.. Dia merasa meninggalkan dan melupakan mbah Ageng begitu saja, padahal orang itu tua itu sangat berjasa dalam hubungannya dengan Sasi.
Namun bagaimana lagi? Orangtua itu menolak mentah-mentah undangannya untuk menghadiri acara sumpah pernikahannya maupun resepsi pernikahannya.
" Mbah nggak bisa hadir Bastomi. Mbah ini sudah tua. Nanti malah merepotkan" jawab mbah Ageng waktu Tommy menemuinya untuk mengundangnya secra langsung.
" Tidak ada yang direpotkan mbah. Setidaknya mbah beri kesempatan saya untuk menjamu mbah di rumah.. Melayani dan menuruti perintah mbah sebagai ungkapan terima kasih saya yang tak terhingga atas segala bantuan mbah pada saya dan Sasi."
" Wes ora usah dipikir." (jangan dipikirkan). Mbah sudah tidak butuh semua itu Tom . Kamu juga harus maklumi mbah yang sudah tak nyaman lagi dengan hiruk pikuk dunia. Mungkin waktu mbah di sini juga sudah tak lama lagi. Mbah cuma ingin lebih mendekatkan diri pada Sang Empunya Hidup." Mbah Ageng tersenyum. Namun senyum itu malah membuat Tommy bersedih.
Mbah Ageng seakan mengisyaratkan sudah siap muksa, pamit dari dunia ini dengan tenang. Sesuai apa yang sudah lama diinginkannya. Sementara Tommy merasa masih banyak yang harus dipelajarinya dari pria tua yang linuwih itu. ( punya kelebihan khusus)
__ADS_1
Tommy sadar dari lamunannya, ketika kembali didengarnya suara Sasi.
" Mas, aku kok agak takut. Ya mungkin ketakutanku tidak beralasan. Dia itu, wajah si Rangga itu sama persis dengan Rangga yang aku ceritakan pada mas. Wajah yang selalu menghantui mimpi-mimpiku. Perbedaannya mungkin hanya pada pakaiannya."
"Wah mas jadi curiga juga sama Si Rangga itu. Jangan-jangan dia memang sudah menyukai dan mengincarmu sejak lama.." Tommy mencubit lembut hidung Sasi.
" Nggak mungkin mas. Dimana dia kenal aku? Dia bukan kolega mas, jadi nggak mungkin ketemu di kantor. Aku ingat-ingat dia juga bukan teman sekolahku atau teman kampusku. Aku tak pernah melihatnya di sekitarku kecuali dalam mimpiku." Sasi kekeh menyangkal pernah mengenal Rangga.
" Sudahlah sayaang... Kamu tenang saja. Nggak usah mikir macam-mcam selama dia tidak membahayakanmu. Nanti mas akan cari informasi tentang Rangga itu. Kalau perlu mas tanya papa biar jelas. Tapi mas minta kamu waspada saja. Kalu mau pergi, usahakan harus ada yang menemani. Mas juga akan lebih jagain kamu. Hmmm? Jangan cemas ya..?" Tommy membelai wajah istrinya.
Sasi mengangguk dan tersenyum.
Hari sudah menjelang sore saat ini. Sasi mengangkat kepalanya dari pangkuan Tommy lalu duduk di samping suaminya itu. Tangan Tommy sudah refleks memeluk pinggang istrinya itu.
" Kita jalan sekarang yuk mas. Sudah mulai sore. Sudah nggak panas lagi." Sasi menggamit lengan suaminya .
" Ayoo...mumpung masih disini puas-puasin. Besok kita berangkat ke Bali." Bisik Tommy.
Keduanya kemudian berjalan berdua keluar dari area resort. Menyusuri garis pantai sekitar resort yang landai dihiasi pasir putih.
Sasi dan Tommy saling berangkulan. Tak terpisahkan. Memandangi ombak yang berkejaran di pantai sambil saling memeluk erat .
" Sebentar lagi sunset mas. Cari tempat yang enak yuk..!" seru Sasi sambil berlari-lari. Tommy mengikutinya dengan langkah lebar di belakangnya.
Mereka kemudian naik ke atas sebuah bukit yang ada di dekat pantai. Duduk berdua di atas tanah tanpa alas sambil tetap berangkulan. Menunggu sunset terindah dalam hidup mereka karena bisa melihatnya bersama kekasih tercinta yang sudah jadi milik selamanya.
Tengah asik menikmati indahnya semburat jingga di ufuk barat sambil meresapi kebahagiaan bisa bersanding dengan yang tercinta, mata Sasi menangkap sekelebat bayangan di kejauhan.
Rangga! Batin Sasi bergetar. Ada apa dengan orang itu. Apa dia gila? Kenapa dia menguntitku?
Sasi melihat Tommy, kelihatannya suaminya itu tak melihat keberadaan Rangga. Syukurlah! Sasi tak ingin kebahagiaannya terganggu dengan hal-hal seperti ini.
Sasi kembali menoleh ke arah dia tadi melihat Rangga. Namun ternyata orang itu sudah tak ada lagi. Atau memang dia tadi sekedar berhalusinasi? Mudah-mudahan begitu. Batin Sasi kembali bergumam pelan.
" Sayang indah banget sunsetnya.Foto yuk!" ajak Sasi lalu mengarahkan kamera ke wajah mereka berdua. Mengambil beberapa pose berdua.
Tommy tersenyum. Meakipun tidak terlalu suka foto , namun dia tak kuasa menolak permintaan istri cantiknya itu .
Mereka kemudian berfoto ria dengan latar belakang sunset pinggir pantai yang indah. Hingga tak terasa malam menjelang dan mereka kembali ke resort.
Sepanjang perjalanan Sasi memeluk erat Tommy seakan takut jika pelukannya terlepas.
" Kamu kenapa sayang?" Tommy melihat wajah istriya memucat.
" Aku melihatnya mas...dia mengikutiku. Dia tadi berdirii di sana tapi sekarang sudah nggak ada.".Mata Tommy mengikuti telunjuk Sasi yang menuju ke suatu arah. Tapi tidak ada apa-apa di sana.
Tommy mendekap erat rubuh Sasi. "Sst...tenang sayang.. Ada mas, jangan takut. Dia nggak akan berani ganggu kamu." bisik Tommy sabil membelai rambut Sasi.
Sasi mengangguk , mengeratkan pelukannya pada suaminya.
Tomy mendesah dalam hati. Ini harus segera diselesaikan. Agar tidak mennjadi durii dalam pernikahan mereka.
Sementara itu....
Di sebuah sudut di balik bebatuan karang yang menjulang, sesosok lelaki berwajah tampan sedang menatap tajam ke arah sepasang pengantin baru itu.
Matanya menerawang jauh. Hatinya gelisah. Antara mengikuti dorongan gila untuk terus berusaha mendapatkan wanita itu, atau mengikuti pikiran warasnya untuk pergi dan melupakan wanita itu.
Rangga berjalan gontai meninggalkan pantai itu. " Besok aku harus menemui psikolog, jangan-jangan aku sudah gila .." keluhnya tertawa sendiri.
Rangga mengambil jalan berputar yang berbeda dengan jalan yang ditempuh Tommy dan Sasi. Saat ini ia sadar bahwa perbuatannya menguntit Sasi dan Tommy adalah kesalahan besar.
Rangga merasakan hal berbeda saat berangkat tadi , Rangga merasa dirinya menjadi dua orang berbeda dalam satu waktu.
__ADS_1