
Ibu yang ada di meja terdepan dekat mereka , tidak begitu mendengar apa yang mereka berempat tertawakan. Tapi ibu sudah menduga, pasti ada hubungannnya dengan silang sengkalit hubungan kekerabatan mereka yang memang rumit.
Akhirnya ibu meminta MC agar segera melanjutkan acara. Hingga acara selesai dengan lancar tanpa gangguan berarti.
Sementara Barata, Palupi, Tommy dan Sasi kini sudah duduk di kursi yang bersebelahan dengan ibu.
Acara telah usai. Tamu-tamu juga sudah meninggalkan rumah Sasi. Tersisa keluarga inti saja yang masih tinggal . Baskara, Retno dan Emil pun ikut bergabung.
Mereka duduk memutari meja paling besar sambil sesekali makan hidangan yang tersedia di meja.
" Kalian ini, tadi kok malah cengengesan di depan. Gimana to? Dilihat orang ndak pantes! " Ibu menggerutu. Menatap Barata, Palupi, Tommy dan Sasi bergantian. Sementara yang lain malah ikut cengar-cengir.
".Mbak Sasi itu lo Bu. Memang mantu nglamak( kurang ajar, tidak sopan). Masa nggak mau cium tangan sama mama mertua, malah aku disuruh nyium tangan dia..edan opo? Apa kata orang coba bu?" Palupi juga menggerutu tapi ada nada lucu dan canda dalam kata-katanya.
" Kamu yang kemaruk. Ngelunjak minta disungkemi ( disembah, hormat). Lha kamu dulu yang mandiin aku kok.." Sasi tak mau kalah.
Sekarang ibu dan tiga anak perempuannya , menantu sekaligus besan dan calon menantunya itu malah tergelak bersama.
" Maaf loh pak barata. Mantunya ndak sopan." ibu menatap canggung Barata.
Tapi Barata malah terkekeh. " Nggak apa-apa bu. Senyamannya Sasi saja . Tapi kalau bisa sih saya pengen dipanggil papa sama Sasi ,sama seperti Tommy panggil saya.. Biar berasa kalau saya sudah punya menantu. Hehehe..." Barata menjawab santai
" Iya pak...saya mau kok panggil papa, tapi maaf saya nggak bisa panggil Lupi mama.." Sasi langsung menjawab calon mertuanya sambil mendengus kesal ke arah Lupi.
" Lah...siapa juga yang mau punya anak mantu kaya kamu mbak? Wes nglamak, ora iso ( tak bisa) masak. Mas Tommy kok mau sih sama dia?" rutuk Palupi.
Tommy akhirnya ikut tertawa mendengar pertanyaan Palupi. " Nggak bisa masak? Ah itu sih gampang, banyak warung dan resto online. Tinggal pesan. Nanti belajar ya sayang...pelan-pelan aja.." Tommy mengusap lembut tangan Sasi.
Sasi mengangguk dan tersenyum sambil menatap Tommy mesra .
" Ck...yang OTW kawin...bucin..bucin...kumat tuh lebaynya " Baskara mendecak
" Iri bilang boss! "Tommy meledek Baskara..
Kembali tawa riuh menggema di pendopo rumah Sasi.
" Oh iya...mumpung masih kumpul semua, sekalian ibu mau sampaikan ke kalian semua, pernikahan Tommy dan Sasi, sesuai kesepakatan keluarga dan sesepuh kedua belah pihak, akan dilaksanakan sebulan dari sekarang. Jadi mengingat ibu perempuan dan sendirian. Mohon bantuan kalian semua ya?"
" Siap bu. Baskara siap membantu. Kalau perlu Saya tinggal di sini saja. Jadi kalau ada perlu ibu gampang tinggal bilang." Baskara langsung menyahut.
" Wahh..Baskara memang anak ibu yang paling baik. Makasih ya Bas.." Ibu menepuk-nepuk bahu bidang pemuda itu.
__ADS_1
Baskara cengar-cengir senang dipuji ibu . Tapi Tommy malah melotot kesal.
" Nggak...nggak ada tinggal disini apaan. Kamu nanti malah ngerepotin ibu." cegah Tommy.
" Iya Bas..nggak perlu itu. Semua juga mau bantu ibu kok. Ibu jangan kuatir" Barata buka suara. Disambut anggukan setuju semua yang hadir. Kecuali Baskara yang langsung cemberut.
Ibu tersenyum lalu merengkuh Bahu Baskara sambil membisikkan sesuatu ke telinga pemuda itu.
" Bener bu?" tanya Baskara riang. Dijawab anggukan ibu. Entah apa yang dibicarakan ibu dan Baskara.
Tommy yang melihat keakraban ibu dan Baskara mendecak kesal.
" Ini yang mantunya siapa sih..!" gerutunya pada Sasi. Membuat gadis itu tertawa.
" Bisanya cemburu sama adek sendiri!"
" Dia itu selalu pengen ngerebut perhatian orang. Heran aku" Tommy masih kesal.
" Memang watak dia begitu mas. Penakluk wanita. Makanya banyak gadis yang baper. Ibu aja langsung lengket kaya sama anak sendiri lho..."
" Kamu nggak baper sama dia kan? Awas aja!" Tommy menatap Sasi.
Sasi Tertawa." Ya enggaklah. You are the one and only nya Sasi. Believe me" Sasi berbisik di telinga Tommy, membuat senyum langsung merekah dibibir lelaki itu. Wajahnya bahkan merona bahagia mendengar rayuan kekasih hati.
" Hadooooh...calon manten ( pengantin) bisik-bisik teruuss..." Baskara kembali usil melihat kakaknya tersipu-sipu saling berbisik dengan Sasi.
Dan suasana makin akrab diselingi canda tawa dan obrolan ringan dua keluarga. Hingga malam kian larut dan satu per satu mulai undur diri pamit pada ibu.
Retno dan Emil yang pertama pamit mengingat mereka membawa dua bayi yang masih kecil. Disusul Barata , Palupi dan Baskara.
Saat Tommy akan ikut pulang dengan keluarganya ibu mencegahnya.
" Tommy jangan pulang dulu ya. Ibu ada yang mau dibicarakan"
" Baik bu" Tommy mengangguk dan kembali duduk setelah mengantar keluarganya ke depan.
" Kita pindah ke dalam saja. Biar EOnya leluasa bersih-bersih" ajak ibu sambil berjalan ke dalam rumah diikuti Sasi dan Tommy.
Mereka duduk di ruang keluarga yang kembali sepi setelah dua hari ini ramai oleh kehadiran saudara Sasi.
" Tommy dan Sasi, kalian mungkin tidak percaya mitos atau adat-istiadat orang jaman dulu. Apalagi sekarang jaman internet ya? Semua bisa diakses lewat ponsel dan laptop. Tapi sebagai orang tua ibu ingin kalian tetap menghormati adat leluhur kita. Kalian bisa?" tanya ibu.
__ADS_1
" Bisa bu!" jawab Tommy dan Sasi bersamaan.
" Jadi sebelum menikah, ibu minta Tommy bersedia melakukan ritual untuk calon pengantin laki-laki. Nanti ibu akan kenalkan Tommy pada guru spriritual keluarga kami. Beliau yang akan mengajari Tommy tentang kawruh kejawen. Pengetahuan tentang budaya Jawa yang akan sangat berguna untuk Tommy dan keluargamu nanti."
" Hal ini karena menurut adat Jawa, Sasi termasuk perempuan yang istimewa. Kenapa? Nanti Tommy akan mendapat jawabannya setelah mengikuti kawruh kejawen yang ibu maksud . Tommy pun menurut pandangan kami, juga termasuk laki-laki yang punya aura luar biasa. Ini juga bisa Tommy tanyakan nanti pada saatnya. Bagaimana? Tommy siap?"
Tommy menatap ibu dalam-dalam. Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul mendengar penjelasan ibu. Batinnya merasa ada kekuatan tak kasat mata yang membuatnya merinding kala mendengar kata-kata ibu. Instingnya yang kuat menangkap sesuatu yang ganjil disembunyikan ibu dibalik kata-katanya.
" Harus ya bu? Kok saya merasa tidak enak tentang ini? Saya tidak pernah belajar atau mencari tahu hal-hal begini bu." Tommy menunduk.
" Harus Tom. Maaf agak memaksa. Tapi ibu harap Tommy bersedia menjalani. Ini semua demi kebaikan keluarga kalian. Jangan kuatir. Ini tidak seseram yang kamu pikir kok. Nanti kalau sudah ketemu guru spiritual kami, ibu yakin kamu tidak akan gamang lagi. Ya Tom? " ibu bertanya lagi. Lembut namun terdengar mendesak.
" Baiklah Bu. Saya akan coba ikuti. Tapi kalau saya tidak nyaman, boleh berhenti ya bu?" Tanya Tommy.
" Iya Tom. Ibu paham. Kalian pasti anti hal-hal seperti ini. Kamu tahu? Sasi ini langsung mual-mual kalau ibu sudah bicara masalah diluar nalar dan berbau supranatural. Ibu sadar jaman sudah berubah. Tapi ternyata ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan dengan akal pikiran saja. Itu yang akan Tommy pelajari nanti" jelas Ibu.
" Tapi, bukan yang aneh-aneh kan bu?" tanya Tommy lagi
" Aneh gimana sih..hahaha...kamu ini pasti keseringan lihat film horor Indonesia. Ngga ada itu Sudahlah. Lakukan dulu. Ikuti kata-kata ibu. Jangan kebanyakan mikir yang enggak-enggak. Oke? " Ibu menepuk-nepuk punggung Tommy.
" Baiklah bu. Demi Sasi..." Tommy mengerling ke arah pujaan hatinya. Sasi tersenyum manis. Duuhh...apapun untukmu sayang...batin Tommy.
" Syukurlah. Ibu senang kalau anak ibu menurut begini. Menantu idaman" ibu memuji Tommy untuk membesarkan hati pemuda itu yang masih tampak ragu-ragu.
Tommy tersenyum malu-malu mendapat pujian dari calon mertua.
" Mulai besok sepulang kerja, kamu ikut ibu. Nanti ibu antarkan kamu ke tempat gurumu.
" Sasi enggak bu?" tanya Sasi.
" Nggak usah. Kamu nanti di belakang Tommy saja. Jadi istri yang baik. Ikut dan nurut sama suamimu."
Tommy dan Sasi saling berpandangan dan tersenyum.
Di rumah mbah Ageng...
Lelaki tua itu duduk terpekur di kursi kebesarannya. Bibirnya menyunggingkan senyum. Di depannya tampak wajah Tommy dan Sasi yang sedang tersenyum.
Malam ini tampak tenang. Tak ada tanda-tanda pemuda beraura biru itu mendatangi Sasi. Mungkin dia sedang mengumpulkan kekuatan setelah sempat diusir mbah Ageng kemarin. Atau malah menunggu waktu untuk membuat kejutan?
Mbah Ageng kembali memusatkan perhatian pada penyembuhan luka dalamnya.. Meskipun tidak parah, namun pertarungan sesaat dengan makhluk astral itu cukup menguras tenaga tuanya.
__ADS_1
Tapi saat ini mbah Ageng cukup merasa tenang, karena tampaknya ibu Sasi berhasil membujuk Tommy untuk mau mempelajari ilmu perlindungan diri yang memang sangat diperlukannya.