
Setelah kejadian babak belur dihajar Tommy itu, Rangga dan Rani tidak lagi saling bertemu. Rani sibuk dengan kegiaan kuliahnya, dan Rangga sibuk dengan pekerjaannya.
Beberapa proyek kerja sama Tommy dan Rangga yang sudah terlanjur berjalan tetap dilanjutkan. Namun tak ada lagi pertemuan antara Rangga dan Tommy seperti dulu. Tommy menyerahkan semua urusan yang berhubungan dengan Rangga kepada Reza. Sementara Rangga menugaskan Bayu untuk semua urusan dengan Perusahaan Tommy.
"Za, jagan bikin kontrak baru lagi dengan Rangga atau anak cabangnya. Selesaikan dulu proyek yang sudah berjalan." Tommy menukas dingin.
" Siap boss, tapi ada apa? Bukannya boss dan pak Rangga bersahabat? Dan proyek kita dengan mereka provitnya bagus loh boss?"
" Sudah jangan banyak tanya. Dia sekarang bulan sahabatku lagi. Kalau sudah nggak ada yang mau dilaporin, sana keluar!" Tommy masih ketus saja.
" Iya..boss, saya baLik ke ruangan dulu" Reza segera pergi dari hadapan bossnya itu. Lagi kesambet dia. Kumat juteknya , rutuk Reza dalam hati. Mending pergi sebelum kena semprot.
Di ruangan Tommy, pria itu sedang menelpon istrinya.
" Yaang..kamu ke kantor gih. Mas lagi butuh mood booster" berbalik dari nada juteknya ketika bicara dengan anak buahnya, suara Tommy terdengar manja saat bicara dengan Sasi.
" Ada apa sayaang, pasti masih masalah Rangga dan Rani lagi.." Sasi menjawab lembut di seberang.
" Iya nih, habis ngomongin proyek kita sama Rangga yang sudah terlanjur jalan. Bikin mood mas hilang." keluh Tommy.
" Oke sayang. Tunggu bentar ya...aku ke kantor sekarang."
" Terima kasih sayang..I love you" seru Tommy senang. Seperti anak kecil mendapatkan permennya.
" Love you more sayang.." jawab Sasi lalu bergegas bersiap ke kantor. Membawa sendiri mobilnya Sasi melesat membelah jalanan.
Tak lama dia sudah sampai di kantor Tommy. Namun saat melewati ruangan Reza yang tembus pandang dari luar Sasi dan Reza tak sengaja saling bertatapan. Keduanya tertawa.
Reza segera keluar dari ruangannya menghadang Sasi, sahabatnya sekaligus istri bosnya. " Cantik, bojomu kesambet( suamimu kerasukan) ya?" Reza menggerutu namun tersenyum pada Sasi.
Wanita cantik itu tertawa. " Kamu ngomong apa sama dia, sampai kumat juteknya?"
" Aku cuma kasih laporan hasil pencapaian proyek yang kita kerjakan dengan perusahaan Pak Rangga. Eh dia malah marah-marah dan bilang suruh nolak kalau ada proyek dari Pak Rangga lagi. Kan sayang Sas, proyeknya banyak dan provitnya gede lho..." Reza mengadukan sikap Tommy pada Sasi.
" Hmm..aku rasa aku tahu apa sebabnya. Sementara kamu turutin aja maunya mas Tommy Za. Mudah-mudahan gak lama. Kita memang lagi ada masalah sama Rangga." Sasi bersandar di meja Reza .
" Masalah besar ya, sampai boss ogah nerusin kerja sama lagi?" Reza penasaran.
" Lumayan..." Jawab Sasi ragu.
Saaat itulah Tommy tiba-tiba masuk ke ruangan Reza dengan muka sebal. Sasi terkejut, jadi kepikiran jangan-jangan suaminya memang punya ilmu terawang. Tahu saja dia sudah datang dan mampir ke ruangan Reza.
" Yang...kamu istri siapa sih?" semprot Tommy
" Lho, ya istrimu sayang..kok masih nanya?" Sasi berusaha bercanda agar suaminya itu tak semakin kesal. Tapi tampaknya tidak berhasil karena Tommy malah mendengus.
Reza sudah ketar-ketir. Wah pasti aku yang akan jadi sasaran dan kambing hitam ini. Diam-diam Reza menyesal mengajak Sasi mengobrol tadi. Harusnya dia biarkan Sasi menemui Tommy dulu. Reza mengkerut, sudah pasrah menerima apapun hukuman dari boss galaknya itu nanti.
" Kok kamu malah ke ruangan Reza dulu bukannya langsung ke ruanganku ha? Tommy meradang bertolak pinggang. Sasi cuma tersenyum lucu melihat tingkah kekanakan suaminya.
Dengan senyuman di bibir, pelahan didekatinya prianya yang tengah dalam mood buruk itu. Memeluk pinggangnya erat lalu mendaratkan kecupan di bibir suaminya sambil berjinjit. Kilatan di mata Tommy langsung meredup seperti bara tersiram air.
Seperti kerbau dicucuk hidung, Tommy menurut begitu saja ketika ibu anak-anaknya itu menuntunnya keluar ruangan Reza sambil memeluk pinggangnya dan masuk ke ruangannya sendiri.
Meninggalkan Reza yang terbengong di tempatnya tanpa sempat berucap. Dasar bucin akut...gumamnya pelan. Menarik nafas lega karena setelah ini Tommy pasti lupa menghukumnya. Hilang amarahnya dan sirna segala juteknya, karena sang pawang cantik, istrinya tercinta telah datang menenangkannya.
Reza jadi pengen pulang, memeluk dan minta cium Siska istrinya, tapi begitu mengingat Siska juga sedang di kantor dan pekerjaannya yang menumpuk, Reza jadi lemas lagi...mungkin aku harus mempertimbangkan permintaan Siska untuk menggantikan posisi direktur di perusahaan Siska, agar bebas ketemu istri seperti Tommy.
__ADS_1
Sementara di ruangan Tommy yang sudah terkunci rapat, sang big boss yang terkenal sedingin kulkas itu sedang merebahkan dirinya di sofa dengan kepala berbantal pangkuan istrinya. Kepalanya disusupkan ke perut istrinya sedangkan tangannya melingkari pinggang ramping itu. Mengendus dan mengusap-usapkan wajahnya menikmati harum tubuh pujaan hatinya yang selalu wangi.
" Yang, kenapa kamu wangi banget sih?" racaunya terpejam. Sasi cuma tertawa geli merasakan usapan wajah Tommy di perutnya. Pelukan erat di pinggangnya seperti lintah melekat sempurna.
" Hmm..hanya kamu yang boleh mencium wangiku sayang.." bisik Sasi bak buluh perindu di telinga Tommy. Hilang sudah kekesalan, kemarahan, gundah dan kegelisahan yang tadi menguasai hatinya.
" Kenapa lagi? Rani kan sudah memutuskan hubungannya dengan Rangga. Dan mereka sudah lost kontak kan? Mas sendiri yang mengawasi Rani. Dia sampai mengeluh ke aku, katanya apa ninja nya ngga kurang banyak ma yang mengawasiku? Memangnya kamu nyewa berapa mata-mata buat ngawasin Rani mas?" Sasi melanjutkan kata-katanya.
Tommy terkekeh. Dia menyewa sepuluh orang mata-mata yang bekerja selama Rani di luar rumah. Dasar mata-mata bodoh disuruh jangan sampai Rani tahu, tetap ketahuan juga.. Atau Rani yang kelewat pintar dan tangguh. Ilmu bela diri dan kejeniusannya membuat gadis itu waspada dan tak mudah dikelabui.
Sasi ikut tergelak mendengarnya. " Kamu gila ya mas. Tentu saja ketahuan, orang satu kampung kamu suruh ngawasin satu orang. Hentikan mas, please. Rani bukan anak pembangkang yang harus dikuntit orang sekampung agar tak kabur. Dia sangat mencintaimu, dia tidak akan melakukan apa yang sudah mas larang dan mas nggak suka. Lepas mas, agar jiwamu juga tenang. Mas pasti masih takut kehilangan Rani kan?"
Tommy mengangguk angguk, membuat perut Sasi serasa disundul-sundul. " Geli yaaang..." Sasi tergelak.
"Apa Rani secinta itu padaku ?" Tommy mendongak menatap Sasi dari bawah. Istrinya mengangguk yakin sambil menatapnya.
" Hmm...bahkan cintanya padaku hanya 50 persen darimu mas...padahal aku yang bawa-bawa dia 9 bulan, ngelahirin dia, dipikir gampang? Sakit tahu, dan dia cuma ngasih aku seuprit cinta. Mas yang cuma kebagian enak-enak malah dapat banyak cinta dari anakmu wedok ( putrimu)." Sasi menggerutu sambil merema*s rambut Tommy lembut.
Tommy tersenyum dalam diam. Hatinya berbunga-bunga mendengar betapa Rani mencintainya. Baiklah sayang, maafkan papa, papa nggak akan mengekangmu lagi.
" Baiklah beaok aku kurangi satu pengawalnya" Tommy tersenyum. Sasi kembali tergelak lalu mencubit hidung Tommy gemas.
" Halah...itu bukan ngurangin sayang..duh ngga ikhlas banget sih yang..?" Sasi tertawa lagi.
" Ya sudah...kurangi dua..." Tommy menawar. Sasi masih tegelak dan menggeleng. Dipikir menawar harga bawang?
" No!! Sisakan satu saja. Boleh juga dua untuk bergantian mengawasi Rani. Plilih yamg paling mumpuni agar tidak ketahuan Rani lagi. Putrimu itu jenius, nggak mudah mengelabuinya"
" Anakku itu!" seru Tommy bangga. Sasi mendengus mendengarnya.
" Iya mas anakmu, tapi kejeniusannya menurun dariku..." Sasi tak mau kalah.
" Sori sayang, 'Kecerdasan seorang anak diturunkan dari Ibunya' , jadi kalau anak anda cerdas, dipastikan ibunya pun tak jauh beda." Sasi menunjukkan artikel berita online tentang kecerdasan. Tommy tak bisa lagi melawan Sasi. Mengibarkan bendera putih.
" Iyaa..iyaa...pokoknya istriku ter the best deh.." Tommy bangkit dari tidurannya. Moodnya sudah lembali ke puncak lagi. " Makasih sayang, kamu selalu tahu mengembalikan rasa percaya diriku."
Tommy memeluk Sasi erat, menciumi wajah istrinya bertubi-tubi dengan gemas. Sasi tertawa-tawa.
" Makan yuk yang...lapar nih" rengek Sasi manja ketika perutnya mulai meronta-ronta. Tommy tersenyum. Diapun belum makan siang. Tapi rapat penting menunggunya .
" Ada rapat satu jam lagi, kita makan di kafe depan saja yuk, biar cepet" Tommy menggandeng tangan Sasi keluar. Sasi menurut, membiarkan suaminya memeluknya sepanjang jalan , di dalam lift hingga sampai ke kafe.
Di tempat lain, sebuah kantor megah puluhan lantai Rangga tengah bersandar di kursi kebesarannya. Matanya sendu menatap laptopnya yang menampilkan slide foto-foto kebersamaannya dengan Rani.
Saat slide berakhir, diulanginya lagi hingga berkali-kali. Begitu terus sampai kadang tertidur menghadap laptopnya. Bayu yang bisa melihat bossnya lewat dinding kaca cuma bisa mendecak dan menggelengkan kepalanya. Dia tahu apa yang dilihat Rangga.
" Boss, meeting lima belas menit lagi" Bayu berdiri di depan Rangga.
" Hmmm...." Rangga mengangguk tanpa melepas pandangannya pada laptopnya.
" Sampai kapan begini boss?" tanya Rangga.
" Entah..." jawab Rangga cuek.
" Jadi ketemu den ayu yang dikenalkan ibunda boss?" Bayu bertanya lagi.
" Iya, atur saja.." jawab Rangga malas.
__ADS_1
" Boss mau makan dimana?"
" Terserah"
" Mau pakai baju apa?"
" Terserah"
" Bawa buket atau hadiah boss?"
" Terserah"
Bayu mendengus kesal. Bos yang kencan aku yang repot. Tapi kalau tidak dipaksa Rangga tak akan berangkat, dan dia yang akan disalahkan ayahanda dan ibunda Rangga.
Bayu mendapat tugas dari istana agar Rangga segera mendapatkan pasangan. Raja bermaksud segera menyerahkan tahta ke Rangga jika putranya itu sudah mempunyai pendamping hidup.
Saat Rangga bersama Rani, Bayu sangat berharap Rani lah yang akan mendampingi Rangga di singgasana kelak. Namun apa mau dikata, semua tak seindah rencana. Rangga malah patah hati karena Rani memutuskannya sepihak akibat tiada restu dari Tommy.
Mungkin Rangga harus kembali mengulang kisah kelam masa lalunya. Menikah lagi dengan orang yang tak dicintainya. Bayu mengesah sedih untuk junjungannya itu. Sang pangeran tampan yang tidak pernah beruntung dalam percintaan.
Saat menghadap ayahanda Rangga , Bayu sempat bertanya," Sinuwun, apakah menjadi raja harus menikah atau punya istri dulu? Kelihatannya kanjeng pangeran tidak berminat menikah lagi" Karena dia cuma mau menikah dengan Rani dan itu tak mungkin. , lanjut Bayu dalam hati.
" Sebenarnya tidak ada persyaratan mutlak. Tapi yo ora wangun ( tidak pantas) kalau raja tak punya permaisuri. Bahkan punya selir pun malah boleh sebenarnya" jawab Raja dengan kening berkerut.
Raja bukannya lupa, bagaimana Rangga menolak lalu terpaksa menikah karena perjodohan. Dan juga kehidupan pernikahan Rangga yang hambar. Tapi sampai kini Rangga tak kunjung menemukan tambatan hatinya, membuat Raja terpaksa mengatur perjodohan lagi. Mengingat usianya sudah uzur dan dia harus segera menyerahkan tahtanya pada Rangga.
Dan malam itu Rangga datang ke pertemuan yang sudah diatur istana dan juga dipersiapkan Bayu.
Seorang gadis cantik dan berdandan elegan memasuki reatoran yang sudah dipesan sebelumnya. Tampak seorang pelayan mengantarkan gadis itu ke ruang VIP tempat Rangga menunggu.
" Saya permisi boss. Den Ayu sudah datang" bisik Bayu lalu meninggalkan Rangga dan gadis itu berdua.
" Silakan duduk . " Rangga menyapanya.
" Terima kasih mas Rangga" gadis itu tersenyum. Rangga mendongak mendengar namanya disebut. Ah ya tentu saja gadis ini sudah tahu siapa aku. Batin Rangga.
" Namamu siapa?" tanya Rangga.
" Prahasti mas" gadis itu mengulurkan tangannya. Rangga menyambutnya dan menyalaminya sekilas lalu segera melepaskannya. Rasanya ada yang salah saat dia menyentuh wanita lain selain Rani. Hatinya berkata bahwa tubuh dan hatinya hanya milik Rani dan hanya Rani saja yang boleh menyentuhnya.
" Silakan kamu pesan makanan dan minuman yang kamu mau" Rangga menunjuk buku menu. Gadis itu mengambil dan membukanya . Pelayan yang sudah bersiap sejak tadi segera mencatat menu yang diinginkan Prahasti. Rangga hanya memesan minuman. Membuat Prahasti sedikit heran.
"Sambil menunggu makanan, kita ngobrol ya Prahasti.." Rangga membuka percakapan.
" Iya mas..."
" Kamu cantik, sekolahmu tinggi dan pekerjaanmu bagus. Kenapa mau dengan duda tua, sudah punya anak satu? Saya yakin banyak yang suka sama kamu"
Prahasti bingung. Tak menyangka Rangga akan to the point menanyakan hal seperti ini. Tentu saja aku mau karena kamu kaya, calon raja, tampan. Tua sedikit tak apa, hidupku akan terjamin dengan kemewahan dan kehormatan sekaligus. Apa aku harus mengatakan alasanku? Prahasti menatap Rangga ragu.
" Emm...bagi saya itu semua tak masalah mas. Yang penting kita saling melengkapi" jawab Prahasti akhirnya.
Hehh...saling melengkapi ya? Batin Rangga. "Bagaimana dengan cinta?" tanya Rangga lagi.
" Ah itu bisa diatur mas. Jalaran tresno soko kulino (cinta bisa tumbuh karena terbiasa)"
Rangga tersenyum mendengar jawaban gadis itu. Begitu mudah dia mengatakannya seakan itu sesuatu yang tak berarti. Tapi bagi Rangga yang sudah pernah gagal berumah tangga jawaban gadis itu cukup untuk membuatnya mengambil keputusan.
__ADS_1
Prahasti bahagia melihat Rangga tersenyum sambil menatapnya, hatinya berharap senyum itu adalah tanda dia diterima pangeran tampan itu sebagai calon istrinya.