Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Pertaruhan dan Pertarungan


__ADS_3

Acara midodareni sudah selesai beberapa saat lalu. Rumah masih ramai dengan saudara dan kerabat Sasi yang sengaja menginap di rumah Sasi untuk mengikuti acara pernikahan si sulung rasa bungsu itu esok pagi.


Beberapa saudara yang rumahnya dekat pulang ke rumah masing-masing. Ada juga saudara yang menginap di hotel terdekat dengan rumah Sasi . Semua tampak antusias menyambut pernikahan yang sudah digadang-gadang ini. Semua berbahagia untuk Sasi. Acara mantu ibu Sasi yang terakhir.


Akhirnya setelah perjuangan penuh aral dan gangguan, ketiga putrinya sold out... ( bukan terjual, maksudnya sudah kawin..eh menikah semua..hihihi..) Tentu saja ibu Sasi jadi orang yang paling berbahagia.


Baru saja memasuki kamar untuk membersihkan diri dan mengganti baju,ibu mendapati pesan di ponselnya. Nomor tak dikenal.


"Bu, ini nomor saya, Tommy. Saya mendapat pesan dari mbah Ageng agar disampaikan pada ibu. Tolong malam ini ibu jaga Sasi. Selalu dampingi Sasi hingga esok pagi. Ini berhubungan dengan sosok pengganggu Sasi selama ini."


Ibu tercekat membaca pesan Tommy. Baru sadar dia tidak punya nomor kontak calon menantunya itu. Ibu langsung menelpon Tommy.


" Tommy..ini ibu" seru ibu ketika Tommy menjawab panggilannya.


" Iya bu. Mohon maaf membuat ibu cemas. Tapi harus saya sampaikan demi kebaikan Sasi" Tommy menjawab ibu


" Jadi kamu sudah tahu Tom?" tanya ibu.


" Iya bu. Sebenarnya selama ini saya dan mbah Ageng sudah mengusahakan perdamaian. Meminta baik-baik pada makhluk itu agar meninggalkan Sasi. Tapi ternyata kami gagal. Dia tetap berkeras ingin memiliki Sasi. Jadi mungkin kita terpaksa harus' mengusir dia dengan kekerasan dan kekuatan." Tommy menjelaskan dengan hati-hati agar ibu tidak cemas. Tapi tetap saja Ibu khawatir dan ketakutan.


" Aduh ibu jadi takut Tom..kalau begitu kamu hati-hati ya Tom. Jangan sampai terluka. Besok kamu menikah. Jangan khawatir ibu akan jaga Sasi sepanjang malam ini. Ibu tidak akan meninggalkan Sasi. Semoga semua berjalan baik ya Tom."


" Iya bu. Ibu doakan Tommy dan mbah Ageng ya. Semoga semua bisa berjalan dengan baik. Tidak ada yang terluka."


" Pasti ibu doakan Tom. Jaga diri baik-baik ya...Hati-hati" ibu menutup panggilan setelah Tommy pamit dan mohon doa restu ibu.


Bergegas ibu membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Lalu beranjak ke ruang tengah tempat Sasi tadi berada bersama beberapa saudara.


Ibu panik mendapati ruang tengah sudah kosong. Rupanya semua sudah masuk ke kamar masing-masing. Ibu setengah berlari menuju kamar Sasi. Sedikit menyesal karena tadi mandi dan mengganti baju dulu. Harusnya ibu langsung mencari Sasi.


Sekarang ibu berdiri di depan kamar Sasi yang tertutup.Kekhawatiran mulai membayangi wajahnya.


Ibu mencoba membuka pintu kamar Sasi yang ternyata tak terkunci. Syukurlah, gumam ibu lalu melangkah masuk ke kamar Sasi. Namun tak ada tanda-tanda Sasi ada di kamarnya.


Aduh dimana sih Sasi?..Ibu makin kalut. Dibukanya pintu kamar mandi Sasi, ternyata Sasi pun tak ada di sana.


Ibu keluar dari kamar Sasi dan bergegas ke kamar Retno. Mungkin Sasi dan Retno adiknya sedang mengobrol,seperti biasa jika mereka bertemu.


Ibu mengetuk pintu sambil memanggil nama Retno.


" Retno...kamu sudah tidur?" seru ibu.


Pintu terbuka. Retno dan Emil suaminya berdiri di depan pintu sambil menatap ibu.


" Wonten nopo bu ( Ada apa bu) " tanya Emil sopan. Suami Retno itu sudah memakai piyama tidurnya.


" Maaf mengganggu kalian. Ibu pikir Sasi sama kamu Retno. Sudah kalian lanjutkan istirahat ya.."


Ibu buru-buru meninggalkan Retno dan Emil yang masih terbengong melihat ibu. Tapi keduanya kemudian kembali masuk kamar dan menutup pintu kamar.


" Ibu kenapa ya mas?" tanya Retno.


"Mas Gak tau dek . Sudah kita istirahat saja. Kalau perlu apa-apa ibu pasti bilang. Besok kita gak akan bisa istirahat. Kita harus simpan tenaga untuk mendampingi ibu seharian terima tamu."


Retno mengangguk dan segera menyusul suaminya berbaring di ranjang.


Sementara itu...beberapa saat yang lalu...


Acara midodareni yang berlangsung meriah dan penuh canda sudah berakhir. Tamu dari pihak Tommy sudah meninggalkan rumah beberapa saat lalu.


Sasi masih berbincang dengan Retno, Emil dan ibu serta beberapa saudara yang menginap di rumah. Sampai satu per satu mulai undur diri karena lelah dan mengantuk.


Retno dan suaminya yang pertama pamit karena meninggalkan dua bayi kembar mereka bersama baby sitter.


Disusul ibu yang ingin mandi dan berganti pakaian karena merasa gerah.

__ADS_1


"Kalian temani Sasi sebentar ya . Nanti habis mandi ibu masih mau bicara denganmu Sas." kata ibu . Dibalas anggukan beberapa sepupu dan saudara yang masih ada di ruang tengah. Sasi pun ikut mengangguk. Ibu mau ngomong apa ya?


Tak sampai setengah jam mata Sasi sudah tak bisa diajak kompromi. Bangun terlalu pagi dan kegiatan seharian yang tak henti-henti , membuat tubuhnya serasa remuk. Capek banget. Ingin mandi lalu istirahat. Tapi ibu tadi bilang mau bicara?


" Kalian kalau ngantuk ke kamar aja deh. Aku juga mau ke kamar. Gerah pengen mandi. Nanti biar aku tunggu ibu di kamar saja" Sasi membiarkan para sepupu yang menemaninya pergi ke kamar mereka masing-masing. Sasi melihat mereka pun sudah mengantuk.


" Mbak Sasi nggak papa sendirian? "


" Nggak papa lah. Kalian ini ada-ada saja. Wong biasanya juga aku sendirian kalau nggak ada kalian. Sudah tidur sana. Dari tadi sudah angop ( menguap) terus gitu."


Mereka tertawa. Lalu satu-persatu beranjak meninggalkan Sasi sendiri. Sasi pun segera beranjak ke kamar. Ranjangnya yang empuk sudah menari-nari di mata, memanggilnya untuk tidur.


Sampai di kamar Sasi segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat shower membuatnya segar. Hilang sudah gerah dan penat.


Gadis itu duduk disisi ranjang sambil membuka-buka ponsel yang tiga hari ini sengaja di off kan. Takut tergoda menelpon atau menerima telpon dari kang mas boss ganteng tersayang.


Hatinya berdesir begitu mengingat nama kekasihnya. Nyeri terasa dadanya karena terlalu berat menanggung rindu. "Kamu rindu aku nggak sih mas? Tapi kalau mengingat betapa mesumnya dia saat di dekatku, mustahil dia tak merindukanku."


Dan angan Sasi sudah melayang-layang mengingat saat-saat kebersamaannya dengan Tommy yang selalu penuh gelora. Membuat wajahnya kini memanas. Gerah di dalam...


Wajah tampannya yang selalu menatap sendu karena menginginkan sesuatu, atau tangannya yang tak bisa diam selalu ingin merengkuhnya, dan mulut manisnya yang hanya menggumamkan rindu, sayang, cinta dan pemujaan kepadanya.


"Mass boss...aku kangen berat ini..!" Sasi bergulingan di kasur sambil memeluk guling. Tak sabar menunggu esok. Tak sabar melihat wajah tampan penuh cinta yang selalu menatapnya memuja.


Semingu tak bertemu muka, tiga hari tak bersua sama sekali, bahkan sekedar mendengar suarapun tak bisa. Rasanya seperti udunen( bisulan) . Makin hari rindu makin membengkak dan siap meledak.


Tak ada satu pun pesan atau miss call dari Tommy. Wahh sayangku...apa kamu benar-benar tak merindukanku? Atau sama denganku, berusaha mati-matian menahannya agar saat hari penyatuan cinta kita tiba esok , benar-benar sakral penuh keagungan dan kemuliaan ? Semoga...doanya penuh harap...


Sasi membuka album foto di galeri ponselnya. Meihat-lihat semua foto Tommy membuatnya tersenyum-senyum sendiri.


Tapi tak lama kemudian Sasi merasa seseorang mendatanginya di kamar.


" Sasi kamu harus ikut aku !"


" Rangga...apa yang kau lakukan di kamarku.? Keluarlah!" Sasi mengibaskan tangan Rangga yang memegang lengannya.


" Menurutlah, atau aku akan buat keributan dan kamu akan mendapat malu!" Rangga menyeringai. Sasi mulai menangis ketakutan.


" Oke..oke..aku akan menurut. Apa maumu?" tanya Sasi.


" Aku harus menurut bukan? Setidaknya sampai dia mau keluar dari kamarku. Aku tak mau ada orang melihat lelaki lain masuk kamarku jelang esok pernikahanku. Apa kata dunia. Itu akan membuat malu keluargaku. Jangan sampai terjadi." batin Sasi takut.


Rangga menuntun Sasi keluar dari kamarnya. Rumah sudah sepi. Ya Tuhan..ibuu kenapa ibu lama sekali? Tolong aku buuu...bebaskan aku dari orang gila ini.Rutuk hati Sasi.


Tapi suaranya tak bisa keluar. Sasi cuma bisa berdoa dan berharap ibu mendengar jeritan hatinya dan segera menolongnya.


Rangga membawanya ke taman samping rumahnya. Duduk di bangku sudut taman yang temaram.


Sasi menatap takut-takut mata Rangga. Ya Tuhan siapa sebenarnya orang ini? Wajah putih bersih dan tampan itu tampak sedih. Setengahnya marah dan kecewa. Dia patah hati. Sasi jadi ikut sedih.


" Kamu tampan. Akan ada banyak gadis yang suka padamu. Kenapa harus aku?" tanya Sasi lembut.


" Karena aku mencintaimu"


" Tapi aku tidak" jawab Sasi.


" Menikahlah denganku.."


" Jawabanku tetap tidak , seperti kemarin Rangga. Aku ingin menikah dengan Tommy. Aku mencintainya" kekeh Sasi.


" Jangan menikah dengannya. Tidak boleh" nada suara Rangga mulai meninggi.


" Kenapa kamu marah?" Aku bukan kekasihmu. Aku bebas menikah dengan siapa saja yang kuinginkan" jawab Sasi mulai berani. Rangga ini tak bisa diajak bicara baik-baik.


Rangga bergerak hendak mencengkeram tangan Sasi. Saat itulah mbah Ageng dan Tommy tiba-tiba datang entah dari mana.

__ADS_1


Sasi tercekat. Dia takut Tommy salah paham melihatnya bérdua dengan Rangga. Tapi Sasi merasa lega ketika Tommy tersenyum kepadanya dan kemudian memeluknya erat. Menjauhkannya dari Rangga yang kini menggeram marah.


Rangga merangsek mengejar Sasi, tapi mbah Ageng sigap menghalangi pemuda dari alam lain itu. Menagkap tangannya yang terjulur ke arah Sasi.


Rangga menyeringai. Menarik tagannya yang ditangkap mbah Ageng dan membalikkan serangan pada orang tua itu.


Mbah Ageng pun mendorong kuat tangannya ke depan. Membuat Rangga terdorong ke belakang.


Mbah Ageng terus mendorong Rangga dengan kekuatannya agar semakin menjauh dari tempat itu.


Sementara itu Tommy yang sudah mendapatkan Sasi menuntun gadis itu masuk ke dalam rumah kembali.


" Sayang, kenapa keluar malam-malam?" tanya Tommy lembut. Sasi menatap Tommy, tak mau melepas pelukannya pada Tommy.


" Aku tidak tahu mas, dia memaksaku keluar. Aku takut dia bikin rusuh. Makanya aku menurut ikut dengannya" isak Sasi. Menangis takut namun lega sudah terbebas dari Rangga.


" Jangan pernah mengikutinya lagi sayang. Dia tergila-gila padamu. Dia ingin mencelakaimu. Kamu harus sama ibu terus ya? Jangan pergi sendiri. Ingat pesan mas ini ya.? Agar kamu nggak diganggu Rangga lagi." bisik Tommy ditelinga Sasi.


Sasi mengangguk sambil terus memeluk Tommy.


Di kejauhan tampak ibu berlarian menyambut Sasi.


" Itu ibu. Kamu harus selalu sama ibu ya sayang. Mas akan berusaha mengusir Rangga agar tidak bisa mengganggumu lagi." lagi-lagi Tommy berbisik.


Sasi mengangguk sambil melihat ibu yang tergopoh-gopoh memeluknya.


" Sasi..kamu kemana saja nduk...ayo masuk. Kamu bikin ibu khawatir saja!" ibu menuntun Sasi ke kamarnya.


Sasi menoleh ke kanan dan ke kiri lalu ke belakang ke arah taman.


" Kamu cari apa nduk?" tanya ibu.


" Mas Tommy tadi ke sini bu. Kok sekarang nggak ada?" Sasi merasa bingung.


Ibu ikut melongok mencari-cari. Namun tak ditemukannya seseorang di sana.


" Mana? Nggak ada kok. Ibu dari tadi lihat kamu sendirian kok. Ngelamun kamu paling nduk.." kata ibu sambil kembali menuntun Sasi ke kamar.


Sasi masih kebingungan. Jelas-jelas tadi Tommy datang bersama mbah Ageng. Lalu Tommy mengantarnya masuk rumah. Bagaimana mungkin ibu tidak melihatnya? Benarkah tadi cuma lamunannya saja? Sasi makin bingung dan tambah pusing sekarang.


" Sudah kita istirahat ya. Jangan mikir macem-macem. Kamu pasti kangen sama Tommy sampai kebawa mimpi begitu" goda ibu yang memang merasa tidak melihat siapapun di sana.


Sasi tidak menjawab, namun mengikuti saja langkah ibunya menuju kamarnya.


" Ibu tidur di sini, ibu akan menemanimu tidur untuk terakhir kali. Karena mulai besok kamu sudah punya teman tidur sendiri. Tommy...hihihi..." ibu terkikik menggoda Sasi.


" Ibu apaan sih..?" Sasi merona malu mendengar ledekan ibunya. Tapi kemudian jadi teringat pesan Tommy agar malam ini selalu bersama ibu. Hei! Jadi itu bukan mimpi. Tommy benar-benar datang. Tapi kenapa ibu tak melihatnya?


Sasi membasuh wajahnya di wastafel. Lalu berbaring di samping ibunya. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja dialaminya.


Bertemu Rangga, lalu Tommy dan mbah Ageng. Nyata atau mimpi? Kalau nyata , kenapa ibu tak bisa melihat mereka? Kalau mimpi, kenapa terasa nyata? Entahlah. Karena matanya kini sudah tak bisa bertahan lagi. Sasi terlelap dalam pelukan penuh kasih ibunya.


Di luar rumah Sasi...


Mbah Ageng berhasil mendorong Rangga hingga jauh dari rumah Sasi. Makhluk itu benar-benar nekat. Dia berani mendatangi Sasi di alam nyata. Dia benar-benar tak peduli resiko apapun lagi.


Keduanya masih saling serang. Namun mbah Ageng menyerang sambil terus mendorong Rangga menjauh.


" Siapa kamu sebenarnya?" Tanya mbah Ageng tanpa melepaskan serangan tangannya.


" Aku pemilik rumah itu. Rumah itu rumahku. Kenapa kamu mengusirku?" Rangga menggeram.


Mbah Ageng mengerut. Makhluk ini berkali-kali mengatakan rumah Sasi adalah rumahnya. Apa dulu tempat ini memang istananya?


"Lalu apa maumu?" tanya mbah Ageng.

__ADS_1


" Dengan menikahi Sasi, aku akan tetap bisa tinggal disini" kata Rangga.


" Jadi kamu ingin tetap tinggal disini? Jangan mimpi menikahi Sasi. Jangan menyalahi kodrat!" tegas mbah Ageng lagi.


__ADS_2