Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Menghitung waktu


__ADS_3

Masih edisi bucin....


Acara menonton bioskop tidak berlangsung mulus. Sasi bahkan hampir tidak tahu jalan cerita film itu sendiri. Sasi merasa bukan mereka yang menonton film, tapi layar lebar itu yang menonton mereka.


Sepanjang film berlangsung, Tommy selalu saja mengganggunya. Membisikinya dengan kata-kata mesra, merayu dan menggodanya dengan kata-kata setengah vulgar yang membuatnya berkali-kali mencubit pinggang Tommy karena malu dan gemas.


Untunglah mereka hanya berdua saja di deret paling belakang gedung itu. Yah, tentu saja inilah salah satu tujuan Tommy memborong tiket untuk sederet bangku belakang ini bukan? Ahli strategi yang licik. Sasi tersenyum sendiri.


Pria pendiam itu sepertinya sudah berubah jadi pujangga cinta saat di depannya. Tommy bahkan tak malu- malu menirukan adegan romantis di film kepada Sasi. Gadis itu sampai gerah sendiri, namun boss gantengnya itu semakin jahil menggodanya.


Sasi kesal sekali. Satu-satunya cara agar kekasihnya itu diam adalah ...Sasi mere*mas lembut tengkuk Tommy, menariknya dekat ke wajahnya dan mencium bibir lelaki itu yang langsung melotot karena terkejut mendapatkan jack pot dari Sasi.


Tak mau ciuman singkat begitu saja, Tommy langsung memerangkap Sasi , hingga gadis itu tak bisa melepaskan diri. Pria itu membenamkan wajahnya dalam-dalam ke wajah Sasi. Memagutnya penuh hasrat. Lembut dan melenakan.


Sasiii....Tommy mendesah. Bibir gadis itu benar-benar semanis madu, membuatnya tak tahan untuk melahapnya. Harum nafas Sasi bagai angin surga merasuki seluruh udara yang dihirupnya. Pria itu dimabuk asmara.


Tommy begitu menikmati setiap jengkal nafas dan desahan lembut Sasi di kegelapan lampu gedung bioskop yang remang-remang. Sambil menahan diri untuk tak mengeluarkan suara-suara yang akan mengganggu penonton lain. Tak urung erangannya beberapa kali lolos begitu saja dari mulutnya.


Sasi berkali-kali mendorong Tommy untuk menyudahi pagutannya. Tapi pria itu tak peduli. Hingga hap!....Ruangan gedung jadi terang benderang. Film telah usai dan lampu kembali menyala.


Tommy refleks melepaskan tautan bibirnya. Meninggalkan Sasi yang terengah-engah mencari pasokan udara.. Ini sungguh gila. Mesum di gedung bioskop? Sasi menutup mukanya . Tommy memyandarkan kepala di sandaran kursi.


Keduanya bagaikan musafir yang kehausan karena sudah mendaki gunung tinggi yang penuh tantangan. Lelah namun hati terpuaskan.


Tommy dan Sasi keluar dari gedung itu terakhir, setelah semua penonton pergi. Tommy masih saja menempel lekat pada Sasi. Merengkuh pinggang gadis itu erat. Posessif.


Mereka melanjutkan petualangan mereka hari itu dengan berjalan-jalan di mall yang masih selokasi dengan gedung bioskop.


Tommy mengajak Sasi berbelanja barang-barang kebutuhannya, dan membiarkan Sasi memilih dan membeli apa yang diinginkannya.


" Mau ka mana lagi sayang?" tanya Tommy setelah mereka meletakkan barang belanjaan mereka yang memenuhi bagasi mobil dan kursi belakang mobil yang mereka pakai.


" Pulang aja mas. Capek juga muter-muter" keluh Sasi.


" Beneran sudah puas nih? Nanti seminggu kamu gak boleh kemana-mana loh sayang. Ngga boleh ketemu mas juga. Kamu siap?" Tommy menatap gadisnya.


Sasi tersenyum-senyum. " Kayanya mas deh yang gak siap aku dipingit...hahaha...lihat, belum pisah aja mukanya sudah gelap gitu." Sai menggoda Tommy.


Pria itu menggeram, lalu tanpa diduga Sasi, mendorong tubuh Sasi ke balik sebuah pilar besar di basement itu. Mengurungnya dengan kedua tangannya yang bertumpu di pilar beton itu dan menekan tubuhnya hingga menempel dengan Sasi.


" Sasi sayaang...nakal kamu ya...sekarang kamu harus tanggung jawab, selesaikan cicilan terakhir buat bekal pisah seminggu. Harus tuntas, sekarang juga.!" geram Tommy.


Sasi tak menjawab. Menatap kekasihnya yang sudah terbakar gelora, hingga mata keduanya saling bertemu lekat.


Tak lama kemudian dua wajah berbeda itu sudah menyatu. Saling membenamkan diri tanpa jeda dan malu lagi. Mereguk kenikmatan dunia yang hanya mereka yang saling mencinta bisa menikmati.


" Puas kamu mas?" desah Sasi sambil memeluk Tommy.


Pria itu menggeleng. "Belum, masih kurang... Kamu puas Sasi?" lanjutnya kemudian

__ADS_1


Sasi juga menggeleng..Keduanya tertawa. Baru sadar sebanyak apapun mereka melampiaskan rindu dan cinta, itu akan selalu kurang bagi jiwa mereka yang dahaga.


Mereka harus tetap rela berpisah sementara...


Hari-hari segera berlalu dengan cepat. Sasi dan Tommy semakin berdebar menantikan hari bahagia mereka.


Seminggu benar-benar jadi ujian maha berat bagi dua insan yang sedang kasmaran itu. Empat tahun lebih hampir selalu bersama dan berdua setiap hari seakan tak berarti. Namun ketika perpisahan terjadi meski hanya terbilang minggu, terasa bagai hidup di kawah candradimuka.


Tiap detik, menit, jam dan hari adalah siksaan bagi hati keduanya yang tengah dilanda gelora cinta.Jangankan untuk menyentuh dan meluapkan rasa rindu. Memandang pun harus dibatasi jarak dan waktu.


Sesekali keduanya masih mencuri-curi waktu melepas rindu dengan bertemu lewat video call. Namun tak berani lama-lama karena ibu mengawasi Sasi dengan ketat. Ibu ingin semua berjalan baik, mengingat betapa rentan jiwa putri sulungnya itu.


Seperti malam itu, Tommy yang sudah tak kuat lagi menahan rindu dua hari tak bertemu Sasi nekat menghubungi Sasi via video call.


Kebetulan saat itu Sasi sedang berada di kamar setelah selesai melakukan beberapa perawatan tubuh untuk calon pengantin.


Mas Boss calling....


Melihat nama yang tertera di ponsel, jantung Sasi langsung berdetak lebih cepat. Rindu menggebu yang sudah ditahannya dua hari ini membuat tangannya gemetar, secepat kilat menyambar ponselnya.


" Sayang...." bisiknya bergetar, bersamaan dengan Tommy yang mengucapkan kata yang sama.


Keduanya tertawa lirih. Mata mereka yang dipenuhi sesak rindu bertemu saling menatap sendu. Mendengar pujaan hati melantunkan ucapan sayang, rasanya seperti mendengar nyanyian dari surga.


" Kangen..." lagi-lagi keduanya bersamaan mengucapkan ungkapan rindu dari hati terdalam.


" Seminggu ternyata sangat lama sayang...baru dua hari rasanya hampir mati merindukanmu..."


Tommy mendesah. Menyandarkan tubuhnya pada tumpukan bantal di ranjangnya. Menatap dalam pada wajah cantik gadisnya yang terpampang di layar pipih miliknya.


Sasi yang semula tiduran, bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang. Tangannya memeluk guling erat seakan sedang memeluk kekasihnya .


" Aku kan sudah bilang ga usah dipingit segala. Kita ini sudah hidup di jaman modern mas. Itu sama sekali nggak praktis Ribet. Eh mas malah dukung ibu. Salah siapa coba?" Sasi merengut kesal teringat Tommy dan ibu begitu ngeyel memintanya malakukan tradisi pingitan.


"Aku juga menyesal setuju kamu dipingit. Harusnya ngga seminggu, cukup sehari saja. Ahh! Aku pikir seminggu nggak terlalu lama sayang. Ternyata aku tak bisa berpisah denganmu selama itu. Rasanya sehari saja seperti mau mati. Kangeeen..." Tommy merengek seperti anak kecil meminta permen pada ibunya.


" Aku juga kangen mas. Banget. Ternyata aku nggak bisa lama-lama jauh darimu." bisik Sasi manja.


Keduanya terdiam beberapa lama di ponsel. Cuma saling menatap sambil tersenyum penuh arti.


" Melanggar pantangan nggak sih kalau membayangkan meluk dan nyium kamu sekarang sayang..?" tanya Tommy seakan bergumam sendiri. Tanpa sadar menelan ludahnya sendiri.


Sasi tertawa." Nggak usah tanya. Mas sekarang pasti sudah membayangkan , kelihatan mukanya pengen banget gitu.?" Sasi tertawa melihat wajah sayu Tommy. Sasi menggigit sendiri bibir bawahnya. Merasakan tubuhnya meremang melihat Tommy mendegut ludah. Bibir pria itu setengah terbuka.


Pria itu tertawa. Merasa tertangkap basah oleh Sasi. Tapi itu lebih baik jadi Sasi tahu apa yang ada di pikirannya. Jadi dia tidak rindu sendiri. Biar sasi juga merasakan siksaan rindunya ini.


" Sayang please jangan menggodaku. Jangan membuatku makin tersiksa begini" rajuk Tommy blingsatan melihat Sasi menggigit bibirnya.


" Kita ini apa-apaan sih mas..ahh" Sasi membaringkan tubuhnya ke ranjang. Memeluk erat gulingnya. Membenamkan wajahnya pada benda empuk teman tidurnya itu.

__ADS_1


Tommy meremang melihatnya. Seakan tubuhnya yang sedang dipeluk Sasi. Seakan Sasi sedang membenamkan wajah di dadanya. Jantungnya berdetak kencang, sesuatu menegang di bawah sana..Alarm bahaya!


Duh ternyata aku sudah kecanduan pada gadis itu. Tak melihatnya dua hari seperti mabuk kepayang. Membuat pusing dan terbayang-bayang.


" Sasiiii...." keluh Tommy. " Mas tutup v-callnya sayang. Mas nggak kuat. Pengen ke rumah kamu sekarang, tapi ngga boleh kan? Mas mau ngajak Baskara ke bar aja. Biar agak rileks dikit."


" Mas..jangan macem-macem. Ajak Bas main PS aja. Biar nggak kepikiran yang enggak-enggak. Awas jangan pergi ke tempat gak bener begitu. Jaga sikap. Bukan cuma aku yang dipingit, mas juga harus membatasi pikiran dan tingkah laku. Jangan sampai membuat kesalahan yang akan bikin menyesal nantinya. Jangan sampai kesalahan kecil mengganggu rencana pernikahan kita bahkan bisa menggagalkannya. Aku nggak mau itu. Mas janji ya.." Sasi menceramahi Tommy panjang lebar.


Gadis itu takut sesuatu yang buruk terjadi jika Tommy pergi ke bar yang identik dengan kemaksiatan. Meski ia tahu Tommy bukan orang yang mudah tergoda, namun dia tak mau ambil resiko. Apa saja bisa terjadi di luar kehendak kita.


Tommy tersenyum. " Iyaaa sayang..cuma bercanda..duh takut banget mas mabok. Padahal ini mas sudah puyeng gara-gara mabok rindu...ahh!"


"Nanti aku telpon Baskara biar jagain mas. Biar ngga ngelayap kemana-mana" decak Sasi.


" Iyaaa sayaaang...mau diborgol pun mas nurut asal Sasi bahagia..." Tommy terkekeh menggoda gadisnya.


" Sini aku borgol pake borgol cinta...terus aku masukin penjara rindu ..mau mas.?."


" Sasiiii....sekarang pinter menggoda mas ya....?" Tommy menggeram gemas. Sasi tertawa-tawa.


" Sudah puas ngobrol mesranya ? Hmmm...badan dipingit tapi hati melanglang buana?" Suara ibu yang lembut namun terkesan kesal mengagetkan Sasi yang sedang asik bertelepon dengan Tommy sambil bergulingan di ranjang.


Tommy pun ikut mendengar dan langsung terdiam mendengar suara ibu. Waduh ketangkap basah ini namanya...rutuknya dalam hati.


" Ampun bu! Maaf..yang penting kan Sasi ngga keluar rumah. Ngga kemana-mana..hehehe..kasih keringanan dikit lah bu. Biar Sasi ngga stress di rumah terus." Sasi merengek pada ibu. Tapi ibu bergeming.


" Sudah ya Tom. Sasi mau istirahat. Besok masih ada prosesi yang harus dilakukan calon manten wanita. Kamu juga besok masih kerja kan? Lebih baik istirahat . Jaga kesehatan hingga hari H. Jangan malah begadang terus. Nanti kamu sakit" Ibu lalu menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dari Tommy lagi.


Ibu meletakkan ponsel Sasi di nakas dan bergegas keluar kamar Sasi. Sebelum keluar, ibu masih sempat mematikan lampu kamar Sasi.


" Tidur. Sudah hampir pagi ini. Awas kalo telpon lagi, ponselnya ibu sita!" ibu menggerutu.


Sasi terkikik dibalik guling yang dipeluknya. Sudah beberapa kali Sasi ketahuan menelpon Tommy dan ibu selalu mengancam akan menyita ponselnya. Tapi sampai sekarang ibu tak pernah menyita ponselnya.


Ibu...memang paling tahu isi hati anaknya. Anak nakal dan keras kepala yang sebentar lagi akan meninggalkannya untuk hidup bersama seorang lelaki.


Sasi masih tersenyum-senyum membayangkan wajah Tommy. Hingga tak lama nafasnya mulai terdengar halus dan teratur. Sasi tertidur


Di apartemennya Tommy meringkuk di ranjangnya..Video call dengan Sasi yang berujung diputuskan sepihak oleh ibu membuatnya malu sekaligus geli.


Bagaimana dia bisa jadi seseorang yang tak tahu malu saat sudah di depan Sasi. Gadis itu benar-benar membuatnya gila. Dan gadis itu akan segera jadi miliknya beberapa hari lagi. Tommy merasa jadi orang yang sangat beruntung.


Mata Tommy hampir terlelap ketika dadanya merasa sedikit nyeri. Seperti ada yang mengganggunya. Dan ingatannya tiba-tiba melayang pada Sasi.


Tommy segera ke kamar mandi untuk membersihkn diri. Kemudian bermaksud menenangkan diri untuk memulai sesuatu yang belum pernah dicobanya sendiri.


Tommy selama ini selalu melakukannya bersama mbah Ageng. Ya! Tommy ingin memasuki dunia bawah sadar Sasi. Ingin melihat keadaan Sasi. Apakah dia baik-baik saja? Kenapa seperti ada alarm menyala di dadanya ? Ataukah ini hanya persaannya saja?


Tommy harus mengetahuinya untuk meyakinkan apa yang sedang terjadi pada Sasi .

__ADS_1


__ADS_2