Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Tentang Dia


__ADS_3

Sasi menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelahan. Tangannya bertaut dengan tangan Tommy yang menggenggamnya erat. Sasi merasa tenang seakan kehangatan dari tangan kekasihnya itu menepis semua rasa khawatir dan ketakutan dari dalam hatinya.


" Dia menemuiku di taman seperti yang sudah-sudah mas. Tapi anehnya kali ini aku masih bisa mengingat diriku sendiri. Padahal biasanya begitu melihatnya aku langsung seperti orang yang hilang ingatan. Menurut apa saja perkataannya tanpa bisa melawan."


Tommy tersenyum. " Hebat pacarku. Kamu berani melawan dominasinya atas jiwamu di alam bawah sadar. Lanjutkan ceritamu sayang.."


" Dia ternyata punya nama mas. Kalau ngga salah namanya Turangga Seta. Panggilannya Rangga" lanjut Sasi


" Hmm...bagus..bagus..dia benar-benar terikat padamu sayang, bahkan mbah Ageng tak tahu siapa namanya.." gumam Tommy.


" Yang aku heran lagi, aku ingat semua kata-kata yang mas sampaikan padaku. Dan aku menjawabnya sesuai saran Mas. Aneh kan? Mas kok jadi seperti cenayang. Bisa memprediksi mimpiku?" Sasi bergumam dengan nada tanya.


Bukan memprediksi mimpi cintaku, aku tahu dia pasti akan menemuimu lagi ketika dia ingin. Dan tujuannya memang cuma satu yaitu menguasai jiwamu. Tommy berbisik dalam hati. Tak ingin menambah bingung hati kekasihnya.


" Sebenarnya mbah Ageng yang memberitahu mas. Mas cuma menyampaikannya padamu." Tommy pura-pura tak tahu dan menggunakan nama mbah Ageng untuk menjawab pertanyaan Sasi.


"Aku sudah memohon agar dia melupakan dan meninggalkanku seperti yang mas bilang. Dengan lemah lembut juga. Tapi dia ngeyel ( bersikeras) nggak mau mas. Dia malah pergi. Dia kelihatan sedih dan kecewa."


" Sudah aku duga. Dia tak akan pergi semudah itu." Tommy bergumam sendiri. " Dia pasti akan datang lagi Sasi." Ditatapnya wajah cantik Sasi.


" Kamu sih, jadi orang terlalu cantik. Sampai-sampai lelembut pun suka padamu" Tommy membelai lembut rambut Sasi sambil tersenyum masam. Prihatin akan takdir kekasihnya yang harus terhubung dengan paksa ke dunia lain.


"Mas ini memuji atau mengejek sih?" Sasi cemberut. " Maksudnya aku ini idola lelembut gitu?" rajuk Sasi.


Tommy tertawa. " Bisa dibilang begitu. Bayangkan betapa berat perjuangan mas mu ini untuk memilikimu. Bersaing dengan Reza , Davin atau Baskara sih mas yakin menang. Kalau bersaing dengan Bangsa tak kasat mata seperti si Rangga itu, mas bisa apa? "


"Ahh..dia cuma bisa menang dalam mimpi kan mas?" jawab Sasi meremehkan.


" Duh..sayangkuu...bagaimana mas jelasin ke kamu? Begini saja, mas mau tanya, Kamu terganggu nggak kalau terus-terusan mimpi ketemu Rangga?"


" Ya jelas terganggu lah mas, dia bahkan membuatku sakit. Meskipun dia cuma tokoh dalam mimpi."


Tommy mendesah. Sasi masih saja menganggap Rangga sekedar tokoh dalam mimpinya.


" Maka dari itu sayang, kita harus berusaha menyingkirkan Rangga dari mimpimu, dari dalam jiwamu bahkan dari ingatanmu selamanya."


" Bagaimana caranya mas? Aku juga jadi takut karena mimpiku terus berulang." Sasi mengerutkan dahi. Apa yang dianggapnya sekedar mimpi kini mulai membuatnya terganggu.


" Tenanglah sayang. Kamu sudah cukup berani dengan melawannya, tidak lagi menurut kepadanya. Kita akan cari caranya. Untuk sementara, lanjutkan yang sudah kamu lakukan. Sebisa mungkin lawan dia. Kamu bisa kan sayang?"


Sasi mengngguk. Sebenarnya dia masih bingung dengan apa yang dialaminya. Namun dia yakin kekuatan sugesti seperti yang sudah dilakukannya akan menghentikan mimpi yang terus berulang itu.

__ADS_1


" Apa aku harus ke psikiater agar tidak selalu mimpi berulang?" Sasi


" Boleh saja sayang, tapi mungkin nanti setelah kita menikah. Saat ini sepertinya waktunya sudah tidak cukup lagi. Kamu masih baik-baik saja kan? Bisa berpikir jernih? Bisa mengerjakan pekerjaan kantor dengan baik. Mas pikir belum perlu ke Psikiater." jawab Tommy.


Sasi mengangguk setuju. Itu benar. Selama dia masih bisa mengendalikan dirinya di kehidupan nyata, mungkin itu belum perlu.


" Aku sudah lebih tenang sekaramg mas. Kita kembali ke kantor?" Sasi mengajak Tommy.


" Oke. Kamu sudah benar-benar tenang kan? Tanya Tommy.


Sasi mengangguk yakin. " Kan ada penjagaku disini? " Sasi melingkarkan tangannya ke lengan Tommy dan menatap pria itu manja .


Tommy tersenyum.dan mengecup puncak kepala Sasi penuh cinta " Aku akan selalu menjaga dan melindungimu sayang" bisiknya.


Keduanya kemudian kembali ke kantor. Reza sudah menyelesaikan meeting pagi menggantikan Tommy, sehingga Sasi tinggal merekap hasil meeting untuk laporan.


" Thanks ya Za. Kamu benar-benar meringankan pekerjaanku" Sasi meletakkan setoples kecil kue kering ke meja Reza." Ini buatan ibu loh. Dijamin renyah dan uenak..."


Reza langsung membuka toples kue yang diberikan Sasi dan mencobanya.


" Wahh..beneran enak Sas...Ibu memang the best. Bukan cuma masakannya, kuenya juga top markotop. BTW..ini sogokan gitu maksudnya?" Reza mencibir Sasi.


" Apaa..apa yang aku nggak dikasih Sasiii.." lagi-lagi suara berat Tommy yang tiba-tiba saja ada di ruangan Reza mengejutkan dua sahabat itu.


" Eh si boss kaya hantu aja tau-tau muncul ngagetin" Reza bergumam-gumam pelan. Sasi terkikik geli mendengar gumaman Reza. Untung saja boss nggak dengar. Bisa langsung kena skors itu, pasal ngata-ngatain bos sesuka hati...hahahah....


" Eheehee...engga ada kok mas. Yuk..mas aku kasih yang lebih enak dan mas pasti sukaaa...!" Sasi menarik tangan Tommy sambil merayu bossnya itu. Mengajaknya keluar dari ruangan Reza dan masuk ke ruangan Tommy. Sebelum perang dunia di mulai.


Reza cuma bisa terbengong melihat Tommy yang tadinya terlihat marah, menurut begitu saja ditarik-tarik Sasi. Bos buciiin...Tapi Reza bersyukur, dengan begitu dia tak akan kena marah atau sanksi dari bossnya yang pencemburu itu.


Reza kembali membuka toples kue dari Sasi. Menikmatinya sepenuh hati sambil bersandar di kursinya yang empuk. Ahh...ini nikmat sekali...Reza tersenyum-senyum sendiri.


Di ruangannya Tommy sudh mengurung Sasi di balik pintu yang sudah dikuncinya rapat.


" Mana? Aku mau dikasih yang enak-enak!" geram Tommy dekat di wajah Sasi. Bahkan kening dan hidungnya sudah beradu dengan kening dan hidung Sasi.


"Ada di tas mas. Minggir , aku ambilin di ruanganku dulu!" Sasi mendorong tubuh Tommy yang makin menekannya.


Tommy tak bergeming. Masih mengurung tubuh Sasi dengan kedua tangannya bersandar di pintu. Membuat Sasi tak berkutik lagi.


" Nggak usah ambil jauh-jauh. Kamu tahu kan yang paling enak dan mas suka...? " Tommy sudah membenamkan wajahnya ke wajah Sasi. Memagut gadisnya penuh kenikmatan. Merasakan kembali manis madu Sasi yang makin lama makin membuatnya tergila-gila akan gadisnya itu. Membuatnya selalu haus dan rakus tak pernah puas.

__ADS_1


"Mass....shh!" Sasi sudah lupa diri...alih-alih menolak, Sasi malah membalas semua sentuhan Tommy tak kalah menggila. Tangannya sudah melingkari tengkuk Tommy . Sesekali meremas rambut hitam Tommy , menariknya hingga lebih dekat dan dalam menciumnya.


Tommy mendesah berat merasakan re mas an dan tarikan lembut Sasi di kepalanya. Darahnya sudah naik ke ubun-ubun. Diangkatnya tubuh ramping gadis itu . Sasi refleks melingkarkan erat kakinya ke pinggang Tommy.


" Ahh...Sasiii..." Tommy melanjutkan menikmati candunya sambil menggendong Sasi . Menyandarkan punggung Sasi ke pintu. Dan menekan tubuhnya ke tubuh gadis itu.


Keduanya makin terengah-engah , namun tak ingin menyudahinya. Mengambil nafas sejenak lalu kembali melanjutkan mereguk kenikmatan bersama-sama hingga keduanya terkulai tak berdaya.


Sasi bersandar lelah di sofa. Sementara Tommy terbaring lemah di pangkuan Sasi.


Keduanya Tertawa lirih, masih sambil mengatur nafas yang seakan habis tak bersisa.


" Kamu gila mas...hahh..." desah Sasi. Matanya terpejam. Masih merasakan sisa-sisa gelenyar nikmat yang merasuki tubuhnya.


" Aku tergila-gila padamu sayangku...kamu yang membuatku gilaaa" desis Tommy tertawa lirih. Puas rasanya menumpahkan hasratnya pada gadis kesayangannya itu . Hingga seakan tak bersisa.


"Tok..tok...tok.." Ketukan pintu mengejutkan keduanya. Tommy langsung bangkit dari pangkuan Sasi dan bergegas membuka pintu. Sementara Sassi segera melesat ke kamar mandi.


Davin berdiri di depan pintu . Terbengong menatap bossnya yang tampak berantakan. Rambutnya awut-awutan dan kemejanya kusut acak-acakan.


" Kena badai di mana boss?" Tanya Davin sambil tersenyum-senyum.


" Ck..." Tommy mendecak menutupi rasa malunya. Dalam hati merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa lupa merapikan diri dulu sebelum membuka pintu? Damn! Gara-gara Sasi bikin mabok nih! Ahh!!


" Masuk!" ketus Tommy. Mode jutek on. " Ada apa? Ganggu aja kamu"


" Ini mau ajukan proposal penerimaan karyawan baru bagian marketing boss. Biar cepet ada yang gantikan Risma" tutur Davin hati-hati.


" Oke. Taruh saja. Saya periksa dulu. Nanti saya hubungi" Kata Tommy sambil menyisir rambut dengan jari-jarinya.


" Baik pak, saya permisi" Davin keluar dari ruangan.


Tommy buru-buru merapikan kemejanya yang kancingnya hampir terlepas semua.


Sasi keluar dati kamar mandi. Baju dan rambutnya sudah rapi. Lipsticknya juga sudah tidak berantakan lagi. Tommy tersenyum menatapnya.


" Rambutmu mas...sisiran sana..!" seru Sasi sambil mengulum senyum. Bergegas pergi dari ruangan bossnya .


Tommy segera ke kamar mandi "Beuhh...pantesan si Davin mukanya meledek begitu. Ternyata wajah sama rambutku parah gini" Gerutu Tommy. Tampak di cermin wajahnya yang merah padam, dan rambutnya yang kusut masai. Tapi tak lama kemudian senyumnya merekah. Sasiii...sasiii...


Setelah merapikan dirinya, Tommy melanjutkan pekerjaannya dengan penuh semangat. Baru saja menerima asupan gizi di siang hari. Moodnya untuk bekerja keras seakan menyala-nyala.

__ADS_1


__ADS_2