
Ketika mereka sudah minum beberapa gelas,.Rangga dan Tommy mulai melupakan hubungan mereka yang kurang baik. Rangga dan Tommy mulai mengobrol dan berbalas gurauan.
Sasi cuma mendengarkan saja ucapan Rangga dan Tommy. Merasa tak perlu terlalu menanggapi omongan orang mabuk.
"Pak Tommy , saya masih penasaran kenapa.kelihatannya pak Tommy dan Sasi kurang suka sama saya. Padahal kita tidak saling mengenal sebelumnya. Kelihatannya Pak Tommy ada dendam sama saya." Tanya Rangga santai. Memang itulah yang sejak lama ingin ditanyakannya pada Tommy.
Sasi langsung menelan salivanya sendiri mendengar pertanyaan Rangga. Tapi Tommy tampaknya tak terganggu sama sekali. Mungkin efek minuman keras yang diminumnya. Bahkan kemudian Tommy dengan santai menjawab pertanyaan Rangga.
" Wah...soal itu saya minta maaf pak Rangga. Itu nggak akan terulang lagi. Sebenarnya kami pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dengan orang yang nama dan wajahnya sama persis dengan Pak Rangga. Makanya kami cenderung menghindari pak Rangga" Tommy menatap wajah istrinya lekat.
Terbayang kembali perjuangannya menyelamatkan dan melindungi Sasi dari Turangga Seta. Rangga yang lain.
Dan kini Tommy setengah menyesal karena sudah berprasangka buruk pada Rangga hanya karena wajahnya mirip Turangga Seta.
Rangga mengangguk maklum. Jadi itu alasannya mereka seperti melihat hantu saat melihatnya pertama kali. Kebetulan yang aneh.
" Oh begitu ceritanya. Berarti wajah saya ini pasaran banget ya Sasi...hahahah" Rangga malah tertawa dan mengerling ke arah Sasi. Membuat semua yang hadir ikut tertawa.
" Oh..bukan begitu maksudnya pak Rangga...wah gimana menjelaskannya...?" Sasi tertawa.
Bagaimana menjelaskan bahwa wajah Rangga sebenarnya sangat tampan tapi menjadi mengerikan karena dia selalu hadir dalam mimpi dan mengganggunya. Pasti lebih aneh kan kalau dijelaskan alasan sesungguhnya? Bagaimana wajah itu bisa begitu saja muncul di dalam mimpinya.? Sasi menggumam dalam hati.
Rangga
Sasi tersipu-sipu. Dia jadi melihat lagi ke wajah menawan dihadapannya. Rangga yang ada dihadapannya jelas tidak mengerikan seperti yang ada dalam mimpinya.
Tanpa sadar Sasi menatap wajah yang sedang tersenyum dihadapannya. Tommy yang menyadari istrinya menatap Rangga segera saja terbakar cemburu.
Tommy mendekat ke arah Sasi dan mencium pipi Sasi gemas sambil berbisik " Lihat apa?"
" Ehh...!" Sasi terkejut tak menyangka Tommy akan menciumnya di depan Rangga dan Bayu.
" Mas?" matanya memprotes tindakan Tommy. Tapi tampaknya Tommy sengaja ingin menunjukkan kepemilikannya atas Sasi di depan Rangga dan Bayu.
" Makanya jangan lihatin cowok lain. Awas... mas bisa lebih gila.." desis Tommy.
Sasi tertawa dan kemudian malah membalas mencium bibir Tommy sekilas. " I'm yours.." bisiknya lirih. Tommy sampai melongo mendapat balasan tak kalah mengejutkan dari Sasi.
Istrinya itu benar-benar bisa membuatnya mabuk kepayang. Sasi menyatakan cintanya sekaligus menyiram habis api kecemburuan di mata Tommy dengan tindakannya.
Rangga dan Bayu yang menyaksikan semuanya di depan mata mereka jadi salah tingkah sendiri.
Rangga merutuk dalam hati." Kurang ajar dua manusia ini. Jangan senang-senang dulu kalian. Jangan sebut namaku Rangga kalau aku tidak bisa memiliki apa yang kuinginkan." Matanya nyalang, namun dialihkannya dengan kembali meneguk minuman di gelasnya.
Setelah beberapa saat berlalu, Tommy melihat Sasi mulai terkantuk-kantuk.
" Maaf pak Rangga, saya harus pamit. Besok pagi ada tour yang harus kami ikuti. Terima kasih atas traktirannya. Ke depan kami yang akan menjamu pak Rangga." Tommy akhirnya mengakhiri acara minum-minumnya dengan Rangga.
" Oh..Oke. Terima kasih sudah menemani kami. Sampai ketemu lagi. Saya tunggu kedatangan Pak Tommy ke tempat saya" Rangga tersenyum menjawab Tommy namun matanya lekat menatap Sasi.
Tommy bukannya tidak tahu. Tapi dia tak ingin mencari masalah. Apalagi mereka baru saja mencairkan hubungan mereka yang kaku sejak pertama bertemu.
__ADS_1
Dengan lembut Tommy meraih pinggang Sasi dan membawanya pergi dari ruangan itu.
Sasi melingkarkan tangan ke lengan Tommy dan menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya itu.
"Ahh..ternyata punya istri cantik itu nggak enak banget!" Tommy menggumam ketika mereka sudah sampai di lift yang menuju ke kamar mereka. Suaranya pelan namun Sasi bisa mendengarnya dengan jelas.
" Mas..? Siapa yang cantik?" Sasi malah mengulum senyum menggoda Tommy, padahal wajahnya sudah merona mendengar keluhan yang lebih terdengar sebagai pujian dari suaminya.
" Istri aku lah! Tapi ...."
" Nggak ada tapi-tapi lagi. I'm just your wife, I'm yours..hubby.." Sasi mengalungkan tangannya ke leher Tommy dan menyentuhkan wajahnya ke paras tampan suaminya.
" Ahh...kapan aku bisa marah sama kamu kalau begini caranya?" Tommy tersenyum disela ciumannya membalas pagutan Sasi yang merayunya. Menerbangkan kemarahan dan egonya ke langit dan menggantinya dengan perasaan bahagia membuncah dari dalam hatinya.
Semoga aku selalu bisa menjagamu sayang..bisik Tommy dalam hati. Entah mengapa hatinya dirundung gelisah. Seakan ada hal yang menantinya yang akan membuatnya kehilangan Sasi.
Namun semua ditepisnya kala melihat rona penuh cinta di wajah istri cantiknya itu. Kamu dan aku akan selalu bersama selamanya. Kita kuat dan kita tak akan pernah terpisah. Tommy kembali bergumam dalam hati.
Ketika ciuman itu berubah makin panas dan menuntut, Tommy melepaskannya sambil tertawa.
" Lanjutin di kamar yuk..!" serunya sambil mengangkat tubuh Sasi seperti koala si depan dada. Sasi melompat memeluk erat tubuh gagah suaminya itu.
Membiarkan hasrat mereka menuntun keduanya masuk lebih dalam ke taman cinta yang terbentang di depan mereka. Tak ada gunanya melawan karena mereka berdua menginginkannya.
" Sayang,sekarang katakan kamu milik siapa?" tanya Tommy sambil menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. " Tell me" Matanya menatap Sasi lekat. Kabut hasrat sudah memenuhi wajah dan tatapan matanya.
" Aku punya kamu sayang. Sasi hanya milik Tommy..." Sasi berbisik lirih di telinga suaminya itu.Bibirnya menyusuri telinga Tomny lalu turun menyasar leher Tommy . Membuat pria itu mengerang terbakar gairah.
Namun Sasi tak hendak memberontak, malah menatap Tommy memohon penuh hasrat untuk menyentuhnya sehingga membuat suaminya itu tak tahan lagi dan menerkamnya buas.
" Semua yang ada padaku hanya milikmu sayang..." desah Sasi menghempas keraguan dan cemburu dari hati Tommy.
Menyesapi segala yang ada di tubuh istrinya itu tanpa ampun. Menggigit gemas bagian-bagian yang kini jadi candunya yang tak bisa dilewatkannya dan selalu dinginkannya setiap saat.
" Ini milikku...Sasi ini juga milikku...Yang ini semua milikku." Tommy menunjuk semua bagian tubuh Sasi yang disentuhnya. Rasa takut kehilangan yang dirasakannya membuat Tommy menggila menikmati setiap jengkal keindahan lekuk tubuh istrinya itu.
Sasi menyambut suaminya penuh cinta. Seakan ingin mengatakan betapa dia sangat mencintai suaminya itu dan tak ada lagi lelaki lain di dunia selain Tommy.
" Miliki aku sayang...semua untukmu..!" Sasi meracau diantara geraman dan hentakan Tommy yang memburu.
Keduanya saling menghentak melepaskan semua rasa yang bergejolak dalam tubuh mereka. Menghangatkan malam yang dingin menjadi lautan api asmara yang membara.
" Sasiii....cintaku....." Tommy memanggil nama kekasih hatinya parau ketika hasratnya tak terbendung lagi meminta dilepaskan.
" Iiy..ya....sa...yang..." Sasi terbata ditengah nafasnya yang tersengal. Menikmati buaian kenikmatan yang disuguhkan Tommy. Melenakannya ke awan hingga rasanya tak ingin kembali.
" Sasiii...ahh..sayang....I' m coming....terima aku sayaang..." Tommy bereriak memberikan hentakan terakhirnya yang penuh tenaga.
Keduanya berpelukan dengan rasa yang membuncah. Hilang sudah segala penat dan lelah pikiran. Berganti rasa nyaman yang menimbulkan gelenyar nikmat di sekujur tubuh.
Melepaskan resah gelisah yang mendera sehingga keduanya lelap dalam mimpi indah sambil saling berpelukan.
Matahari telah tinggi ketika sepasang pengantin baru itu bersamaan menggeliat dari tidur panjang mereka.
__ADS_1
" Wah sudah siang mas. Suamiku yang tampan, bangun yuk. Ini kita ketinggalan mobil tour nggak ya?" Sasi bergumam sendiri sambil bangkit dari tidurnya. Namun tangan kokoh Tommy menahan pinggangnya erat.
"Yaaang...Pengen..."
Tommy memeluk tubuh polos istrinya erat . Kini wajahnya sudah menyusup ke dada istrinya yang hangat.
" Aaah ...!Sasi mengerang pelan merasakan puncak bukit kembarnya dihisap dan di sentuh lembut secara bersamaan.
Dan dibawah sana bagian tubuh Tommy yang lain sudah siap tegak menantang untuk bersemayam di dalam peraduannya.
Sasi mengerang lirih ketika Tommy menyentuhnya . Menyatukan jiwa dan raga mereka sambil menatap sayu wajah istrinya yang juga berkabut hasrat.
" Mas...aku nggak tahan lagi." Racau Sasi ketika Tommy makin dalam membuainya, mengayun dan menyentuh titik kenikmatannya.
" Lepaskan sayang..." bisik Tommy sambil terus memacu dirinya. Tubuhnya seakan selalu penuh tenaga manakala menatap wajah cantik dan tubuh indah istrinya yang terpampang di hadapannnya.
" Maass...ahh....! Tubuh Sasi menegang untuk kemudian luruh dalam pelukan suaminya. Bersamaan dengan Tommy melepaskan seluruh cintanya ke kedalaman cinta Sasi.
Tommy tersenyum puas, merasa jadi lelaki sejati yang sanggup memuaskan dahaga istrinya. Keduanya berpelukan berbagi peluh dan kenikmatan tiada tara .
" Emhh...diajak belanja malah ngajak yang lain. Pasti telat kita maass..gak bisa ikut tour ini." Sasi menggerutu sambil meringkuk dalam dekapan suaminya. Sudah malas bangun karena dipastikan mobil tour hotel sudah berangkat dari tadi.
Tommy yang mendengar gerutuan istrinya malah terkekeh dan makin erat mendekap Sasi.
" Tenang saja sayang. Nanti kita tour sendiri. Kita belanja sendiri. Kita bisa sewa mobil sendiri. " Bisik Tommy sambil menyurukkan wajah di ceruk leher Sasi.Membuat Sasi menggeliat geli.
" Males ah! Kalau cuma berduaan saja pasti ngga jadi pergi, malah balik ke hotel atau mampir ke hotel lain yang dilewati. Aku wes ngerti modusmu mas boooss.." Sasi mengerucutkan bibirnya.
Tommy makin keras tertawa dan dengan gemas menciumi seluruh wajah Sasi. " Nggak-nggak yaaang...kali ini mas akan antar kamu belanja kemanapun kamu mau..mas nggak akan tergoda, kecuali kamu yang maksa...hahahha..."
Sasi mencubiti tubuh Tommy tanpa ampun, tapi Tommy malah makin tertawa-tawa dan memeluk erat tubuh Sasi. Keduanya bergumul dalam selimut sampai mereka lelah dan berhenti tertawa karena kelaparan dan kehausan.
"Mas...lapar..." rengek Sasi manja.
Lagi-lagi Tommy tertawa. Baru sadar bahwa pikirannya sekarang hanya dipenuhi Sasi. Sampai-sampai melupakan kebutuhan pokok manusia.
" Maafin mas sayang. Saking asik makan kamu, jadi lupa makan yang lain...ck" Tommy mendecak lirih.
Pulau Dewata jadi saksi kebahagiaan Tommy dan Sasi menikmati madu cinta pengantin baru. Tak ada lagi yang mereka lakukan selain menyenangkan kekasih hati belahan jiwa.
Memuaskan dahaga dan kerinduan mereka akan buaian dan lantunan kasih sayang yang mereka curahkan dalam setiap sentuhan, perjalanan dan petualangan cinta keduanya.
Berpetualang berdua dalam taman cinta penuh kebahagiaan. Seakan dunia hanya untuk mereka berdua dengan segala kemanjaan dan keceriaan yang manis.
Hingga tanpa terasa waktu berlalu dan mereka harus kembali ke kota mereka. Kembali ke kehidupan nyata yang penuh tantangan untuk masa depan mereka.
" Besok kita pulang sayang. Kamu masih ada tempat yang ingin kamu kunjungi disini? Mumpung belum pulang. Hari ini aku sengaja nggak ikut tour hotel. Biar kamu bisa istirahat.." Tommy berbisik sambil menciumi tengkuk dan bahu Sasi dari belakang. Sementara tangannya memeluk erat pinggang ramping Sasi.
Sasi menggeleng. " Semua tempat sudah kita kunjungi mas. Eh...tapi kalau cuma di kamar..yang ada malah nggak bisa istirahat. Pasti mas pengen-pengen terus..." Sasi mencibir.
Tommy tertawa. " Gimana nggak pengen terus kalau istrinya kaya gini.." Tommy menelusuri leher , bahu dan lengan Sasi yang halus bak pualam dengan jemarinya. Dan Sasi benar karena sekarang Tommy sudah ingin menerkam.Sasi lagi...
.
__ADS_1