Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Selamat Tinggal Jiwa yang Penasaran...


__ADS_3

Siang itu Sasi mendapati sebuah kartu undangan berwarna gold yang terkesan klasik dan mewah atas nama Tommy dan pasangan saat menyortir surat -surat yang datang ke kantor mereka. Itu undangan penobatan Rangga sebagai putra mahkota.


Sebenarnya Sasi ingin sekali hadir dalam acara itu. Dia sangat penasaran dengan prosesi penobatan yang menurut buku yang pernah dibacanya sangat megah dan penuh makna . Esensi dari pelaksanaan adat dan budaya luhur yang sangat langka bisa disaksikan lagi di jaman modern seperti sekarang ini, dimana kerajaan dan segala keindahan yang ada di dalamnya kini hanya tinggal cerita.


Namun mengingat Rangga yang begitu terobsesii padanya bahkan terang-terangan menggodanya di depan Tommy, Sasi mengurungkan niatnya. Jika Tommy sampai tak bisa menahan kekesalan dan kemarahannya dalam acara besar itu, kacaulah segalanya. Acara itu dan juga kontrak kerja mereka yang sudah mulai dilaksanakan .


Sasi berjalan ke ruangan suaminya sambil membawa undangan itu dan beberapa dokumen penting. Seperti biasa, Tommy sudah siap di mejanya dengan senyum termanis saat dia membuka pintu tanpa mengetuk lagi. Sasi kadang heran. Apa Tommy selalu melihat CCTV sehingga langsung tau dia yang datang.?


" Honey...." sapanya sambil refleks menekan lock pada remote pintu. Senyum mesum sudah tersungging di bibirnya. Sasi merasa siap menjadi mangsa saat ini..


Sejak menikah dengan Tommy, Sasi jarang sekali duduk di kursi atau sofa ruangan Tommy. Tempat duduknya kini adalah di pangkuan suami mesumnya itu. Sasi duduk menyamping di pangkuan Tommy, tapi pria itu mengangkat pinggangnya dan membuatnya duduk menghadap ke arahnya, hingga Tommy dengan nyaman bisa bersandar di dada istrinya.


" Lama-lama pahamu tepos (kempes) mas. Gak guna beli kursi dan sofa." bisik Sasi mengerang ketika Tommy sudah menyusupkan wajah ke belahan dadanya. Kenapa pria ini tak bosan-bosan mencumbuinya di mana saja?


" Tak apa, aku rela mati memangkumu sayang" gombalannya mulai keluar. Mulutnya mesum, namun manis sekali.


" Itu ada udangan dari Rangga. Kamu jadi hadir mas?" tanya Sasi sambil mengusap lembut rambut Tommy, mencium puncak kepala suaminya yang sedang bermain-main dengan benda favorit di dadanya .


" Itu juga bisa kempes kalau terus-terusan dimainin" keluh Sasi


" Mana ada, yang ada makin ngembang... hahhaa..." Tommy tergelak.


" Mesum...!" Sasi menjambak pelan rambut Tommy hingga wajah suaminya menjauh dari dadanya. Lalu dengan cepat diciumnya bibir suaminya penuh hasrat. Dibalas tak kalah rakus oleh Tommy. Seakan ingin memangsa habis bibir istlriinya itu


" Kamu juga...mesum!" Tommy memeluk erat tubuh Sasi setelah melepas ciuman panjangnya. . Keduanya tertawa saling berpelukan.


" Aku ngga usah ikut ya mas? Nanti ada yang cemburu, bisa kacau". Sasi menatap Tommy.


Lelaki itu terkekeh, merasa tersindir. Tapi memang sebaiknya Sasi tidak ikut. Tommy khawatir saat mengusir jiwa Turangga Seta terjadi hal-hal yang bisa membahayakan jiwa Sasi.


" Kamu memang paling mengerti isi hati masmu ini sayang, sebaiknya memang begitu." Tommy mencium pipi Sasi.


Dan hari penobatan Rangga pun tiba. Hari itu mbah Ageng meminta Tommy mensucikan diri dan berpuasa. Agar ritual pengusiran jiwa yang akan mereka lakukan berhasil dengan baik.


Dari apartemen Tommy, mbah Ageng sudah mulai melakukan penyatuan jiwanya dengan murid kesayangannya itu.


Sasi sudah pergi ke kantor sejak pagi dengan diantar Jono. Tommy sengaja mengajukan cuti pagi itu dan menyerahkan semua urusan kantor pada istrinya dan Reza. Dia akan memfokuskan pikirannya pada pembersihan jiwa Rangga dan pengusiran ruh Turangga Seta dari diri pemuda itu.


Sasi sama sekali tak tahu tentang apa yang akan dilakukan Tommy dan mbah Ageng. Yang dia tahu Tommy cuti untuk menghadiri acara penobatan Rangga, dan Sasi tak boleh ikut karena Tommy cemburu.


Sebagai istri yang baik Sasi menurut saja, meskipun dia ingin ikut tapi dia lebih menghargai perasaan Tommy yang tak nyaman saat Sasi bertemu Rangga.


Di apartemen, Tommy sudah bersiap. Memulai prosesi penyatuan jiwanya dengan jiwa guru spiritualnya. Ini sudah ke dua kali mereka melakukannya, namun masih saja membuat Tommy was-was dam khawatir.


" Tom, kalau kamu masih khawatir, ini tidak akan berhasil. Kamu harus ikhlas, tenang dan percaya diri. Serahkan semua pada Sang Pencipta. Ingat niatkan untuk menyelamatkan jiwa Rangga dan Sasi istrimu. Hilangkan dendam dan kebencian dari hatimu.

__ADS_1


" Inggih mbah, maaf..." Tommy menyadari hatinya dipenuhi kemarahan. Dan dengan peringatan dari mbah Agemg Tommy mulai membersihkan hatinya dari semua pikiran jahat dan keji. Semua karena cinta. Semua karena kasih sayangnya pada istrinya. Semua untuk keselamatannya semata.


Wahai Sang Pencipta, semua hanya dapat terjadi atas perkenan dariMu, jadilah apa yang terbaik bagi kami semua hambaMu.


Tommy mulai merasakan tubuhnya bergejolak. Seakan beratus-ratus pusaran berputar dalam darahnya. Kepala dan tubuhnya seakan jungkir balik. Tommy mengerang menahannya. Mual dan pusing tak tertahan.


Tak lama Tommy melihat ruh Mbah Ageng dalam wujud tubuh transparan dengan cahaya keemasan menyatukan tangan ke tangannya. Makin menempel hingga tubuh mereka seakan menyatu.


Tommy merasa tubuhnya penuh. Seperti wadah kosong yang terisi. Pusaran yang berputar pelahan reda, tinggal pusing di kepalanya membuat Tommy bernafas berat. Namun dia segera mengambil nafas dalam dan memusatkan pikiran kembali , hingga akhirnya jiwanya merasa tenang kembali, dan rasa pusingnya pelahan menghilang.


"Kamu baik-baik saja Tom? " suara mbah Ageng bergema di kepalanya.


" Baik mbah, apa kita berangkat sekarang?" balas Tommy. Dia melihat mbah Ageng mengangguk. Tubuh Tommy yang telah dirasuki jiwa mbah Ageng itu segera beranjak menuju tempat penobatan Rangga.


Tiba di istana yang megah, Tommy segera menuju tempat yang sudah ditentukan. Di sana dia melihat Barata dan Palupi sudah hadir. Pembawa acara sudah memulai acara demi acara. Hingga tiba acara ruwatan.


Saat semua mata tertuju pada Rangga yang tengah didoakan di tengah-tengah panggung, Tommy diam menundukkan kepalanya.


" Kita mulai Tom." suara mbah Ageng bergema. Tommy tidak menjawabnya, hanya menyatukan dua tangan di depan dadanya. Pelahan diangkatnya kepalanya menatap Rangga. Matanya menghujam tubuh pemuda berbalut kain sutra indah itu. Hingga dia merasa menembus tubuh pemuda itu ke kedalaman jiwanya. Mencari seberkas cahaya biru yang bersembunyi disudut gelap.


Rangga merasakan sesuatu menabraknya. Namun tak ada sesuatupun dilihatnya. Saat matanya diedarkan, dia melihat Tommy sedang duduk menatapnya. Pria itu duduk sendiri . Sial! Dia tak mengajak Sasi. Rupanya Tommy benar- benar cemburu hingga tak membiarkan Sasi bertemu dirinya.


Saat seorang sesepuh istana mulai mendoakannya, Rangga merasa dadanya sakit. Sial, jiwa Turangga Seta dalam diri Rangga yang merasa terusik mengumpat pelan. Mereka mau mengusirku. Dan apa ini? Seseorang sedang memasuki Rangga. Turangga Seta melihat musuh lamanya, Mbah Ageng dan Tommy yang meleburkan diri.


Turangga Seta terhenyak ketika Tommy dan mbah Ageng mengurungnya, mengikatnya dengan temali bersilangan cahaya hijau dan emas.


Tiga warna cahaya berbeda tampak keluar dari tubuh Rangga yang tengah didoakan. Namun hanya beberapa orang yang meyadarinya. Orang istimewa yang mengenal.alam tak kasat mata.


Tiga cahaya itu kemudian melesat menjauhi istana menuju tepian pantai yang sepi. Tommy dan mbah Ageng berdiri berhadapan dan saling menarik tali cahaya yang mengikat Turangga ditangan mereka. Keduanya kemudian mengangkat tangan hingga keluar bola besar cahaya dari tangan mereka menggulung jiwa Turangga hingga hanya tersisa asap putih yang pelahan hilang tersapu angin pantai


" Maaf karena kami terpaksa melakukan hal ini. Kembalilah dengan tenang ke alammu. Kekuatanmu sudah kami hancurkan sehingga energimu tak mungkin lagi kuat bertahan di alam kami. Pergilah dengan tenang."


Mbah Ageng dan Tommy menurunkan tangan mereka. Kedua jiwa manusia itu kemudian duduk.


" Kita kembali Tom. Mbah langsung ke rumah, kamu harus kembali ke wadakmu (tubuhmu). Semua sudah berakhir. Puji Syukur ke hadirat Yang Esa kita berhasil, mengembalikan Turangga ke alam yang seharusnya"


" Baik mbah, matur nuwun. Jasa mbah tidak akan pernah saya lupakan"


Kedua jiwa itu berpisah menuju tubuh mereka masing-masing. Tommy melihat dirinya sendiri masih duduk di samping Barata. Dengan cepat Tommy melesat memasuki tubuhnya.


Acara pembersihan jiwa telah selesai. Tommy melihat Rangga sudah berubah. Wajahnya yang selama ini selalu keruh dengan seringai kejam dan licik sudah sirna. Wajah tampan yang selalu membuatnya cemburu itu tampak cerah dan bersinar. Jiwa gelap yang mengganggu telah pergi darinya. Akhirnya perjuangam ini selesai sudah. Tommy menghela nafasnya.


" Kamu kenapa Tom, wajahmu pucat?" tanya Barata saat mendemgar Tommy mengesah.


" Nggak ada pa, lagi capek saja." jawab Tommy santai.

__ADS_1


" Kenapa mbak Sasi tidak diajak?" Palupi ikut bertanya.


" Kantor kami sedang banyak pekerjaan." Tommy membuat alasan.


" Ohh, padahal mbak Sasi sudah lama ingin melihat acara ini. Bagaimana kalau kita panggil dia sekarang?" Palupi ingin mengajak Sasi.


" Baiklah, biar Jono menjemput Sasi" Tommy menyetujui Palupi. Semua sudah aman, sepertinya aman juga mengajak Sasi ke istana ini, kasihan dia jika impiannya melihat acara ini tak kesampaian . Belum tentu di masa datang mereka bisa melihatnya.. Palupi tampak gembira sekali.


Setengah jam kemudian Sasi datang berkebaya modern dengan lengan se siku berwarna maroon. Tommy sampai terlolong melihat kecantikan Sasi yang memukau. Bukan hanya Tommy, kehadiran Sasi mampu mengalihkan sejenak perhatian beberapa pria yang ada di balairung istana yang megah itu.


Buru-buru Tommy menarik Sasi duduk di sisinya. " Dandan cantik banget sih, nanti banyak yang naksir" Tommy merengut. Tak nyaman karena banyak mata tampak mengagumi kecantikan istrinya.


Sasi berbisik" Dandan cuma buat kamu yang, biar gak cemburu lagi, boleh nggak aku cium kamu disini?"


Tommy langsung menoleh sambil mendecak. "Jangan gila kamu yang. Ini istana, adat ketimuran sangat dijaga. Apa kata orang kalau kita ciuman disini.?"


" Habis gimana lagi, biar suamiku yang ganteng gak cemburu?" Tommy lagi-lagi mendecak, lalu dengan posesif memeluk pinggang istrinya. Sasi merapatkan diri dan bersandar di bahu bidang suaminya. Sebisa mungkin meyakinkan Tommy bahwa dia sangat mencintai pria itu dan tak mungkin berpaling lagi.


Acara demi acara berlangsung khidmad. Seringkalin tamu undangan dibuat takjub dengan keindahan budaya istana yang luhur. Seperti Sasi yang sepanjang acara berdecak kagum dan penuh perhatian.


Sementara Tommy juga sibuk mengagumi kecantikan wanita cantik di sebelahnya. Mereka sudah hampir sebulan menikah. Namun Tommy seakan selalu menemukan hal baru dalam diri Sasi yang membuatnya makin menggilai istrinya itu.


" Mas lihat apa sih?"


" Lihat kamu, siapa yang dandanin kamu?"


" Ibu, kenapa mas, cantik kan istrimu?" goda Sasi.


" Terlalu cantik. Lain kali ngga usah dandan kalau lagi acara begini. Bikin mata laki-laki jelalatan!" Sasi menggeleng jengah.


" Orang lain bangga istrinya cantik, suamiku malah nggak suka. Ish!" Sasi menggerutu.


" Cantiknya di depan aku saja, atau di kamar..hm..?" Tommy berbisik.


Sasi tertawa lirih" Suka-suka kamu lah mas, aku ini milikmu." Balas Sasi manja. Sudah senang saja suaminya itu mendengarnya. Begitu caranya agar Tommy tak makin merajuk karena cemburu.


Saat acara selesai dan dilanjutkan sesi makan siang, tanpa diduga Rangga mendatangi meja mereka. Tommy dan Barata beserta istri-istri mereka refleks berdiri. Bagaimanapun Rangga adalah sang empunya acara.


" Ahh...jangan sungkan. Silakan dilanjutkan. Sasi apa kabar? Baru datang ya, tadi saya tidak melihat Sasi?" Rangga tersenyum.menatap Sasi.


Tommy Barata dan Palupi terbengong. Malah Sasi yang disapa pangeran tampan itu. Sasi terlihat salah tingkah. Bagaimana dia tahu? Dia memperhatikanku di tengah acara penobatannya? Pipi Sasi merona, menambah cantik wajahnya yang siang ini begitu jelita.


Tommy mengesah, Ah, kenapa setelah jiwa Turangga Seta pergi dari tubuhnya Rangga malah kelihatan semakin tampan. Wajahnya tampak segar bersinar. Atau efek perawatan? Sialan sekali anak muda ini. Dan kenapa dia tetap tertarik pada Sasi? Jadi memang Rangga juga tertarik pada Sasi? Bukan karena pengaruh jiwa Turangga? Tommy mengepalkan tangan erat, ingin rasanya segera menggendong Sasi pergi dari tempat ini...


*******

__ADS_1


Hai-hai reader terlove...author ada novel baru berjudul Ganteng-Ganteng Hantu, Author bikin buat ikutan lomba...kalau kalian suka yang sedikit bikin merinding boleh mampir, kasih like komen dan hadiah juga boleh thank you banget...ditunggu...


Happy reading....


__ADS_2