Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#PSS Extra Episode 12. Sudah Lama Cinta


__ADS_3

Di mobil yang lain, Tommy dan Sasi diam seribu bahasa. Rani yang duduk sendiri di bangku belakang juga diam tak berani bicara.


Masing-masing masih menata hati atas apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka.


" Ranii...Rani...apa yang kamu lihat dari Rangga Sayang?" Tommy bergumam seperti pada dirinya sendiri. Rasa cintanya yang terlalu pada putrinya itu membuatnya tak mampu sekedar menyalahkan Rani. Apalagi memarahi dan menghardiknya. Tak akan pernah, baginya semua kesalahan ada pada Rangga. Seribu kali Rani berkata bahwa dia pun mencintai Rangga, Tommy tak mau mendengarnya. Rani tak pernah salah.


Sasi cuma bisa diam. Memijit kepalanya sendiri pelan-pelan. Kadang Sasi merasa Tommy terlalu memanjakan Rani. Sampai-sampai suaminya itu tak bisa berpikir dan bertindak objektif jika itu sudah menyangkut Rani. Rani selalu benar dan Rani harus dibela.


" Maaf pa..." Rani cuma bisa menunduk.


" Kamu sudah diapain aja sama Rangga?" gerutu Tommy setengah mengeluh.


Damn! Dia sepertinya sengaja selalu merecoki orang-orang yang aku sayangi. Dulu Sasi dan sekarang Rani putri kesayangannya. Apa ini semacam dendam turunan. Haish!! Kenapa aku jadi melantur begini. Bukankah semua sudah tergambar jelas saat melihat mereka lewat mata batin?


Tommy mengumpat dalam hati. Tak mau berkata kasar di depan dua wanitanya yang berharga. Kekecewaan yang dalam membuatnya belum bisa menerima Rangga seratus persen. Masih ada yang mengganjal di hati bapak tiga anak itu.


" Mas..." Sasi menggeleng pelan sambil menatap Tommy penuh kelembutan. Membuat Tommy mengambil nafas panjang. Mengalah dan menghentikan interogasinya yang membuat Rani malu.


" Percaya aku.." bisik Sasi sambil mengecup pipi Tommy sekilas. Tommy cuma melengos, ciuman Sasi seperti air sejuk yang menyiram bara yang menyala di hatinya.


Sampai di rumah Tommy langsung kembali ke kantor, ada meeting yang tak bisa ditinggalkannya.. Sementara Rani dan Sasi turun. Sebelum turun Sasi masih sempat membisiki suaminya yang wajahnya masih cemberut.


"Nanti malam aku ceritain. Biar aku yang tanya Rani sebagai sesama perempuan, Rani pasti lebih terbuka...hmm?" Sasi tersenyum. Tommy tidak menjawab namun malah menyambar bibir Sasi dan mel*umatnya dengan gemas. Seakan melampiaskan kekesalannya.


Sasi tahu suaminya sedang mencari pelepasan hatinya yang kecewa. Wanita cantik ibunda Rani itu membalas ciuman Tommy yang terasa memburu. Memeluk erat tengkuk suaminya yang kini menariknya ke pangkuan. Membiarkan Timmy melepaskan kegundahan di hatinya.Biarkan kemarahanmu lebur dalam manisnya ciuman kita. Hati Sasi berbisik. Sesekali meremas lembut rambut suaminya.


Tommy menciumi setiap jengkal wajah Sasi setelah keduanya mengakhiri ciuman mereka yang panjang dan penuh hasrat . Menautkan dahi dan hidung mereka berdua sambil saling menatap mesra.


" I love you..." bisik Tommy parau.


" Love you more..." balas Sasi lembut. Mencium bibir Tommy sekilas lalu turun dari pangkuan lelakinya itu. " Sampai ketemu nanti malam sayang.." Sasi mengedipkan sebelah matanya menggoda Tommy. Membuat lelaki itu tertawa sambil menggeleng ...


" Nakal kamu ya...awas nanti!!" Dicubitnya gemas hidung mancung istrinya yang selalu membuatnya bahagia.


" Sudah cepetan balik ke kantor. Reza sudah teriak-teriak tuh!" Sasi cepat-cepat turun dari mobil. Sebelum suaminya menyerangnya lagi dan gagal ke kantor.


Setelah mobil suaminya menghilang dari pandangannya, Sasi bergegas mengejar Rani ke kamarnya.


Sasi membuka pintu kamar Rani yang tak terkunci. Namun ternyata tak ada Rani di sana. Sasi berjalan pelahan ke arah meja belajar besar di pojok kamar yang cukup luas itu. Duduk di kursi yang empuk dan menelisik barang-barang yang ada di meja Rani.


Matanya terpaku pada sebuah buku harian tebal bersampul biru. Itu adalah hadiah ulang tahun Rani ke sepuluh yang di berikannya pada putrinya itu. Sasi tersenyum.kecil,.rupanya buku itu masih dipakai Rani. Tangannya tanpa sadar meraih buku yang gemboknya tampak tak terkunci.


Sasi mulai membaca buku berisi tulisan tangan Rani itu lembar demi lembar. Dan tertegun ketika sampai pada lembar ke sekian yang isinya membuat jantung Sasi seperti terhenti seketika.


Dear diary


Hari ini ada tamu papa. Orangnya sangat tampan. Dia seperti gambar pangeran yang ada di kisah cinderela yang kubaca. Dia menyapaku. Namanya om Rangga. Dia bicara sangat lembut dan manis. Suaranya sangat merdu. Aku mau jadi cinderela kalau dia pangerannya.


Ya ampun Raniii!! Sasi menutup mulutnya dengan tangan. Dilihatnya tanggal di pojok buku. Itu tahun dimana Rani masih berusia sepuluh tahunan.


Jadi yang di maksud Rani sudah lama suka pada Rangga itu sejak dia berusia 10 tahun? Ya Tuhan. Apakah ini mungkin? Putrinya sudah jatuh cinta pada Rangga selama itu?


Sasi melanjutkan membaca catatan harian Rani hari per hari. Sebuah catatan kembali membuatnya menggeleng tak percaya.

__ADS_1


Dear diary


Akhirnya om tampan datang lagi. Pangeranku, aku berharap dia menjemputku dan mengajakku berkuda bersamanya. Aku membayangkan aku adalah sang putri dan dia membawaku terbang dengan unicorn.


Sasi tertawa lirih. Memang bahasa yang tertulis di buku harian itu masih khas anak-anak, namun Sasi melihat kesinambungan antara tulisan Rani dengan tulisan sebelumnya. Rani bukan sekedar suka pada Rangga. Dia bahkan menantikan kehadiran lelaki itu.


Dengan hati berdebar, Sasi melanjutkan membaca diary itu. Dia kemudian menemukan banyak sekali tulisan Rani yang menceritakan perasaannya kepada om tampan yang diyakini Sasi sebagai Rangga. Pujian, kerinduan, kebahagiaan Rani ketika berjumpa, saat menerima hadiah dqri Rangga dan hari-hari ketika gadis itu mulai sering memikirkan sang om tampan.


Sasi merasa sesak. Tenggorokannya mendadak kering dan tercekat. Diambilnya air minum yang ada di nakas sebelah ranjang Rani dan meminumnya cepat. Bagaimana aku bisa mengabaikan semua ini. Rani terlalu pandai menyembunyikan perasaannya. Hingga tak satupun di rumah yang akan membayangkan bahwa gadis itu sudah jatuh cinta pada Rangga sekian lama.


Isi Buku harian Rani yang terbuka di tangannya membuatnya hampir pingsan.


Dear diary


Aku baru sadar bahwa aku mencintainya. Hatiku berdebar melihatnya. Tatapan matanya yang lembut membuat tubuhku terasa hangat. Saat kami bersentuhan aku merasa duniaku runtuh.


Sasi menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Itu terjadi dua tahun lalu. Berarti saat Rani tujuh belas tahun. Ya Tuhan bagaimana kami melewatkan ini?


Tommy dan Sasi memang tak pernah terlalu mencampuri masalah pribadi ketiga putra putrinya. Mereka memberi kebebasan anak-anak berekspresi dan melakukan apa yang jadi kesenangan dan hobbynya. Dan selama ini ketiga anaknya itu tak pernah melakukan perbuatan yang tercela.


Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berbakti dan menghormati orang tuanya. Menjadi anak-anak yang handal dan kompeten dalam pendidikan akademis maupun prestasi seni dan olahraga yang mereka geluti. Jadi Sasi dan Tommy merasa tenang dan yakin dengan cara mendidik mereka selama ini.


Sehingga ketika mendapati Rani ternyata mencintai Rangga dalam rentang waktu lama tanpa sedikitpun mereka sadar, Sasi merasa kecolongan.


" Mama...?" suara Rani mengejutkan Sasi yang larut dalam lamunannya.


Mata Rani langsung terarah ke buku hariannya yang terbuka di tangan Sasi.


"Rani makan ma...lapar.." jawab Rani tanpa dosa. Terlanjur basah pikirnya, mama pasti sudah membaca isi buku hariannya. Biar mama tahu, kangmas tidak sepenuhnya salah.


" Sini duduk sayang, mama mau bicara.." Sasi pindah ke sofa di ujung ranjang Rani. Gadis itu bergegas mendatangi mamanya lalu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Sasi.


"Jadi sejak kapan kamu benar-benar berhubungan sebagai kekasih dengan duda tua itu?" Sasi mencibir


" Mamaaa...." Rani merajuk memeluk tubuh Sasi. Merasa malu namun itu benar. Usia Rangga saat ini 44 tahun. Hampir sama dengan usia mama papanya. Kekasih tampannya itu memang sudah tua jika dibandingkan dengan usianya.


" Ngga usah malu-malu kucing begitu. Baru mama papa yang tahu pacarmu tua. Kalau kamu menikah, semua orang akan tahu suamimu tua. Apa kamu nggak tambah malu? Apa kamu nggak mikir itu waktu bercinta dengan Rangga?" Sasi menggerutu.


" Mamaa..ihh..siapa yang bercinta?" Rani merengek, menyembunyikan wajah merah padam di perut Sasi.


" Ya kamu sama Rangga. Kalian ngapain aja sampai Raja dan Ratu bilang kalian berbuat asusila. "


" Emm...kami cuma berciuman.."


" Bohong!" Sasi lagi-lagi mencibir tak percaya.


" Beneran mama....cuma tadi itu Rani dipangku kangmas..." Rani berbisik lirih, hampir tak terdengar.


Sasi menyandarkan tubuhnya ke sofa. Kepalanya berdenyut .. Rani...Ranii....ya ampun. Dalam posisi di pangku seperti itu, pasti Rangga sudah..ahh...Sasi pusing memikirkan apa yang bisa dilakukan Rangga pada Rani.


" Rangga mencium ini juga kan?" Sasi menyentuh dada Rani. Gadis itu menatap mata mamanya takut-takut lalu mengangguk. Haisshh...Sasi memijit kepalanya yang mendadak pusing. Dulu Tommy saja tak pernah menyentuh area terlarangnya sebelum menikah. Rangga benar-benar kurang ajar.


" Emm...kangmas sempat membuka kancing baju Rani, tapi nggak lama ditutup lagi" Rani melanjutkan dengan polosnya.

__ADS_1


Ya ampun Raniii....Sasi mendecak shock. Ini nggak bisa dibiarkan. Sabaar...Sasi menepuk dadamya sendiri.


"Sudah berapa kali kalian bertemu berdua saja?"


" Dua kali mama. Yang pertama waktu kangmas dipukuli papa itu. Yang ke dua ya tadi. Itupun nggak sengaja gara-gara mobil Rani nabrak pohon." jawab Rani jujur.


" Beneran? Kamu kan suka sama Rangga sudah lama? Jangan-jangan selama ini kamu dan Rangga diam-diam pacaran backstreet"


" Nggak mama, Rani selalu jujur pada mama dan papa. Kami memang baru saling menyatakan cinta sebulan lalu, tepatnya saat ada acara setelah kelar sidang skripsi. Kangmas bilang cinta ke Rani dan Rani menerimanya karena Rani juga cinta sama kangmas"


" Jadi kamu bohong sama papa mama waktu bilang mau pesta sama Lily dan teman kampus kamu?"


" Nggak ma, Waktu itu kami cuma bertemu sebentar. Baru besoknya pertama kali ketemu berdua saja dan pulangnya papa langsung memukuli kangmas.." wajah Rani merebak, mengingat Rangga yang babak belur dihajar Tommy.


" Setelah kejadian itu Rani nggak pernah ketemu lagi sama kangmas. Nggak pernah berhubungan sama sekali, telpon pun tidak. Rani blokir nomor kangmas. Rani nggak mau bikin mama dan papa marah. Rani juga nggak mau kangmas terluka lagi." Rani melanjutkan ceritanya.


Sasi mendesah pelan. Ada kejujuran di setiap ucapan Rani yang didengarnya. Sasi teringat halaman-halaman terakhir diary Rani yang isinya hanya kesedihan dan rintihan hati Rani karena tak bisa lagi berhubungan dengan Rangga. Betapa Rani bertekad kuat melupakan lelaki itu karena lebih mencintai keluarganya meski itu melukai hatinya.


" Besok mama akan bilang ke Ratu, sebaiknya kalian langsung menikah saja. Tidak usah bertunangan segala. Ribet, mama takut kamu sama Rangga malah kebablasan nanti. Rangga itu sudah dewasa, bahkan tua. Pasti ingin segera berumah tangga."


Dalam hati Sasi membayangkan suaminya. Kebutuhan dasar lelaki dewasa semua orang juga tahu. Pasti tak jauh dari urusan ranjang. Apalagi Rangga yang belasan tahun tak tersentuh wanita. Bisa dibayangkan jika berdekatan dengan Rani. Daripada was-was, lebih baik mereka disatukan dalam ikatan yang sah.


" Tapi Rani masih takut menikah mama.." Rani langsung duduk mendengar mamanya.


" Takut apa? Kamu sudah berani ciuman dan pangku-pangkuan dengan Rangga. Ketahuan orang lagi...hadeeeh Rani.." Sasi mengesah.


" Lagipula kamu sudah lulus S1, mama yakin Rangga akan mengijinkan kamu melanjutkan studimu meski kalian sudah menikah. Kalau Rangga melarangmu, biar mama yang maju." Lanjut Sasi.


Rani menunduk. Dia benar-bwnar malu pada mama dan papanya. Tapi semua sudah terjadi, menyesal pun tiada guna lagi.


" Mama, apa Rani harus seperti mama jika nanti menikah?"


" Seperti mama? Maksudmu gimana sayang.." Sasi menatap Rani.


" Ya harus diam di rumah. Mengurus papa dan anak-anak. Trus ke mana-mana harus sama papa, nggak boleh sendirian. Papa marah kalau mama pergi sendiri."


Sasi terkekeh. " Hmm..itu tergantung suamimu sayang. Kalau suamimu seperti papa yang posesif, ya kamu pasti jadi seperti mama."


" Apa mama merasa terkekang oleh papa setelah menikah?" Rani merasa mamanya sangat penurut. Papa tak pernah marah pada mama Mereka sangat manis dan selalu saling menyayangi. Mereka tak segan memperlihatkan kemesraan mereka dimanapun. Terutama papa. Seakan menunjukkan pada dunia bahwa mama hanya miliknya. Padahal semua juga tahu itu.


Sasi tertawa lagi. " Kalau kamu mencintai seseorang dengan tulus dan sepenuh hatimu, kamu tidak akan merasa terkekang atau terbelenggu . Jika kamu merasa begitu, berarti cintamu tak cukup tulus. Kami saling mencintai seperti yang kamu dan orang lain lihat. Apa menurutmu mama terlihat terkekang?."


Rani menggeleng. " Rani hanya melihat cinta dan kebahagiaan di mata mama dan papa."


" Apa sikap mama dan papa di rumah dan di luar rumah berbeda? "


Rani lagi-lagi menggeleng. Di manapun berada papa akan memeluk mama posesif dan mama akan membalas pelukan papa dengan sikapnya yang tak kalah romantis.


" Kalau begitu Rani menurut saja. Terserah mama dan ibunda ratu saja. Rani cuma ingin melanjutkan kuliah Rani meski sudah menikah nanti."


" Bicaralah dengan Rangga nanti. Bicarakan baik-baik keinginanmu. Jika Rangga benar mencintaimu, dia pasti tak akan melarangmu. Bahkan harusnya dia mendukungmu. Tunggu hingga papa memberimu ijin menemui calon suamimu. Jangan coba-coba melanggar aturan lagi sayang. Atau papa akan menarik kembali restu yang sudah diberikan pada kalian.


Rani mengangguk lalu memeluk Sasi erat. "Terima kasih mama" bisiknya tulus. " Mama terbaik, selalu tahu apa yang Rani mau"

__ADS_1


__ADS_2